Sunday, October 2, 2011

Amerika Tunggang Langgang

Krisis ekonomi memukul negara-negara di Zona Eropa, juga Amerika. Getarannya terasa hingga di negara-negara di kawasan Asia, juga Indonesia.

Di Amerika Serikat, negara adidaya yang pasca-Perang Dunia II muncul sebagai polisi dunia, krisis lanjutan ini memperparah krisis yang mereka hadapi setelah ambruknya lembaga-lembaga raksasa keuangan dunia di Bursa Saham Wall Street 2008 lalu.

Krisis ini melahirkan pertanyaan dan kebimbangan tentang formula tunggal penyelamatan dunia yang dipercayai AS selama bertahun-tahun. Resep demokrasi dan kebijakan ekonomi AS digugat, justru dari dalam negaranya sendiri.


Sepanjang bulan September, berita utama (headline) majalah-majalah ekonomi terkemuka cukup pedas menuding. Fortune edisi 5 September mengangkat berita utama “American Idiots”, Bloomberg Businessweek edisi 19-25 September menulis “America isn’t Working” dengan gambar sampul antrean panjang para pencari pekerjaan.

Meskipun berita utama Newsweek edisi 19 September bersuara moderat “Let's Just Fix It”, ini sebenarnya juga menunjukkan ada yang “salah” dengan sistem AS.

Jumlah penganggur di AS memang meningkat drastis. Setidaknya 14 juta penduduk di AS kini tanpa pekerjaan. Riset terbaru yang dipublikasikan Huffington Post pekan lalu menyebut 25 persen balita di AS hidup dalam kemiskinan.

Studi yang dilakukan para peneliti dari Carsey Institute di University of New Hampshire ini menunjukkan jumlah anak AS di bawah usia enam tahun yang hidup dalam kondisi miskin meningkat dari 5,7 juta di tahun 2009 menjadi 5,9 juta di 2010. Jumlah anak AS yang dalam kemiskinan telah membengkak 2,6 juta sejak krisis ekonomi mulai.

Riset berbeda yang dimotori Annie E Casey Foundation yang dipublikasikan sebulan sebelumnya menyebut jumlah anak yang hidup dalam kemiskinan melonjak di 38 negara bagian selama 10 tahun terakhir.

Meningkatnya jumlah anak miskin ini seiring dengan membengkaknya angka pengangguran di AS dan makin tak seiringnya peningkatan upah pekerja dengan laju inflasi. Badan Sensus AS pertengahan September lalu mengumumkan 46,2 juta penduduk AS hidup dalam kondisi miskin.

Di New York, tempat di mana Wall Street bermarkas, 2,5 juta penduduknya dalam rentang waktu 2008-2010 tak cukup pangan. Sebuah temuan mengejutkan yang diluncurkan Kementerian Pertanian AS (USDA) pekan lalu.

Tunggang Langgang

AS hari-hari ini benar-benar berada dalam situasi yang digambarkan oleh sosiolog Anthony Giddens sebagai “runaway”, tunggang langgang. “…..gelisah, terluka, dan merasa berada dalam cengkeraman yang sulit dikendalikan.”

Giddens membuat istilah “Runaway World” untuk fenomena globalisasi di mana kemajuan Teknologi Informasi akan membuat manusia “berlari” dalam sebuah sistem ekonomi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski mengkhawatirkan dampak globalisasi, Giddens saat meluncurkan analisisnya di tahun 2002 percaya bahwa dunia bisa mengatasinya. Giddens agaknya lupa memperhitungkan bahwa new riskiness to risk dari globalisasi bukan semata dampak buruk teknologi terhadap manusia, tapi juga spekulasi.

Spekulasilah yang membuat ekonomi AS terguncang. Jatuhnya Lehman Brothers dan lembaga keuangan raksasa lainnya di tahun 2008 menjadi awal dari krisis berkepanjangan saat ini. Upaya pemerintah untuk “menyelamatkan” pasar dan dampak yang ditimbulkannya berujung pada utang negara yang membengkak menjadi US$ 14,4 triliun per 15 Juni 2011.

Kapitalisme liberal yang mensyaratkan deregulasi pasar menjadi biang kerok hiruk pikuk di Wall Street. Sejak era Ronald Reagen, AS menolak sistem ekonomi terpusat karena itu identik dengan sosialisme, sistem yang dipakai oleh negara-negara komunis yang menjadi musuh terbesar AS di masa perang dingin.

Namun, nyatanya liberalisme ini tak membawa keselamatan apa-apa. Globalisasi yang diancangkan untuk menjadikan liberalisme menjadi plafon tunggal sistem ekonomi dunia, tak lebih dari penyebaran “business model” Amerika Serikat yang “cacat”.

J Phillip Thompson, Associate Professor of Urban Politics dari Massachusetts Institute of Technology dalam kuliah singkatnya di depan para peserta program IDEAS 3.0 yang diselenggarakan MIT Sloan Management dan United In Diversity di Cambridge, Massachusetts, pertengahan September lalu, mengatakan bahwa “Amerika Serikat survive karena bersandar pada ongkos buruh yang murah dengan mengabaikan hak-hak mereka.

” Buruh-buruh murah ini didapatkan dari negara-negara berkembang, mulai dari Vietnam, Taiwan, India, Indonesia hingga China.

Semua barang produksi, dari sepatu, tekstil, produk elektronik, hingga miniatur patung Liberty diproduksi oleh buruh negara berkembang. Dengan demikianlah mereka bisa berkompetisi di pasar bebas.

Sementara itu di dalam negeri, mereka mengiming-iming penduduk dengan “uang plastik”, kredit tak terbatas, dan segala kemudahan untuk menggenjot konsumsi, tanpa memperhitungkan daya beli sesungguhnya dari penduduk.

Saat kredit tak terbayar, dan kredit-kredit macet dijual sebagai surat berharga, kedigdayaan Wall Street runtuh seperti rumah kertas.

Protes pun marak di AS, dari Wisconsin hingga New York. Di New York, aksi yang berlangsung awal pekan ini di depan markas Wall Street berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi.

Aksi-aksi massa yang berlangsung di AS saat ini mengingatkan pada unjuk rasa menuntut penghentian perang di Vietnam. Pemerintah, saat itu, menghentikan perang. Bukan oleh desakan luar negeri, tapi lebih karena tekanan dalam negeri.

Sistem Baru

Kolumnis New York Times Thomas L Friedman bersama rekannya Michael Mandelbaum baru-baru ini meluncurkan buku That Used to Be Us yang menyebut AS membutuhkan sistem baru.

Amerika, menurut Friedman, saat ini berada dalam kondisi yang tidak sehat, secara politik maupun ekonomi. Sejumlah kemajuan yang mestinya bisa dicapai AS, dari jaringan kereta api terluas, hingga superkomputer tercanggih, malah dicapai oleh kekuatan yang 30 tahun lalu tak diperhitungkan dan diposisikan sebagai pariah: China!

Friedman dan sejumlah ahli lainnya menyimpulkan bahwa sistem yang dipakai AS ini sudah aus, bangkrut, tak layak pakai. AS membutuhkan sistem baru. Tapi kemudian pertanyaannya, apa sistem baru itu?

Friedman menawarkan bukan China dan bukan AS yang saat ini. Bukan semata-mata mengandalkan pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap semua masalah yang ada, seperti diperlihatkan oleh Partai Demokrat saat ini, juga bukan sepenuh-penuhnya mempercayai bahwa pemerintah adalah biang kerok masalah karena tak memberi kepercayaan besar kepada pasar, seperti ditunjukkan oleh Partai Republik.

Friedman menawarkan sebuah jalan tengah. Sebuah sistem politik yang tetap sama, tapi difungsikan secara tepat, dan mendorong aksi kolektif dalam skala besar untuk kepentingan nasional.

Jika usulan Friedman ini terlihat akrab, barangkali karena itu mengingatkan kita pada Deng Xiaoping. “Fatwa” terkenalnya: “Tak peduli kucing hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus” dinilai berhasil “menyelamatkan” China hingga saat ini.

Namun, seperti halnya Friedman yang bersikukuh bahwa “penyelamatan” AS harus dimulai dari pencarian “akar” sistem politik yang melahirkannya (baca: demokrasi), China pun survive karena mereka tak pernah melupakan “akar” politiknya (baca: kolektivisme) saat Deng “berfatwa” tentang kucing.

Memahami kembali ”akar” pembentukan negara-bangsa inilah yang agaknya diperlukan, juga oleh Indonesia, agar tak terseret dalam dunia yang tunggang langgang.


Sinar Harapan, 28 September 2011

Read More......

Thursday, January 27, 2011

Akhir Perjalanan Mia Bustam

JAKARTA – Di kampung kandang, pemakaman asri yang entah kenapa menggunakan bunga plastik sebagai aksesori di atas pusara, se­orang perempuan usia 90 tahun dimakamkan, Senin, 3 Januari lalu.

“Ia juru taman yang hebat. Kawan sealumni saya,” ujar seorang perempuan setengah baya berbaju hitam, menunjuk pada peti yang mulai diturunkan. Seorang frater muda memanjatkan doa, mengantar jiwa menuju kekekalan. Di sebelahnya, terpancang di atas gundukan tanah yang baru digali, bersandar salib kayu baru dengan gurat cat putih di atasnya: Fransiska Emanuela Sasmiati, Lahir 04-06-1920, Meninggal 02-01-2011. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai Mia Bustam.

Mujiati, perempuan berbaju hitam yang berbisik ke saya, tak bercanda saat menyebut Mia sebagai juru taman. Ia hanya mengungkap kenangan tentang “peran” Mia saat berada di Plantungan, penjara perempuan di Cilacap Jawa Tengah, tempat ratusan perempuan yang dituding sebagai kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia –pasca insiden Gerakan 30 September 1965–ditempatkan belasan tahun, tanpa pernah diadili. Mujiati dan Mia adalah bagian dari mereka, sehingga Mujiati menyebut Mia sebagai kawan satu alumni dari Plantungan.

“Ia dipercaya menata taman (saat di Plantungan). Dan taman yang ia tata selalu tampak terawat dan bagus,” kenang Mujiati.

Mia mencecap dinginnya Penjara Pelantungan, hanya karena keaktifannya di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi budaya ounderbow PKI.

Ia ditangkap dan ditahan di Polres Sleman pada 23 November 1965, persis pada hari ulang tahun anaknya yang ke-3. Sebuah truk tentara datang menjemputnya. Dari Polres Sleman, ia dipindahkan ke Benteng Vredenburg pada pertengahan 1966, lalu menghuni Penjara Wirogunan sampai tahun 1971. Setelah itu berpindah-pindah dari Penjara Pelantungan, Weleri, Kendal, dan terakhir di Penjara Perempuan Bulu, Semarang. Setelah 13 tahun hidup dari penjara ke penjara, Mia dibebaskan pada 27 Juli 1978.

Sasmiyarsi Sasmoyo, istri wartawan senior Aristides Katoppo, berkisah bagaimana anak-anak Mia harus berpindah pengasuhan antarkerabat karena kepergian sang ibu. Anak sulung Mia, Tedja Bayu, ikut jadi pesakitan dan berakhir dengan dibuang ke Pulau Buru akibat aktivitasnya saat itu di Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Sementara itu, tujuh anak lainnya, sempat diasuh oleh ibu Sasmiyarsi.
“Ibu kemudian meminta saya untuk merawat anak nomor tiga dan empat,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Mimis ini.

Mimis adalah saudara tiri Mia. Keduanya sama-sama memiliki darah Raden Ngabehi Sasmojo, namun lahir dari rahim ibu yang berbeda.

Mimis mengenang bagaimana keluarga besar Keraton Mangkunegaran menentang hubungan Mia dengan Sudjojono, pelukis kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, yang kelak dikenal sebagai “bapak pelukis modern Indonesia.”

Darah biru keraton sulit menerima Mia berhubungan dengan seorang lelaki yang hidup di lingkungan keluarga bohemian, komunitas kuli kontrak yang sarat dunia keras dan tak peduli lembaga perkawinan.


Terpikat Sudjojono

Tidak direstuinya hubu­ng­an Mia dan Sudjojono oleh pihak keluarga juga di­kisahkan oleh Hersri, aktivis Lekra, yang turut terlibat dalam pengerjaan buku memoar Mia, Sudjojono dan Aku (Pustaka Utan Kayu, 2006).

Namun Mia yang memiliki nama kecil Sasmiya Sasmoyo ini, bukan perempuan yang pantang menyerah. Pertemuannya dengan pelukis berambut gondrong yang pernah terang-terangan memuji kecantikannya di depan sang ayah ini, benar-benar membuatnya jatuh cinta. Di usianya yang ke-23, tak lama setelah perjumpaanya dengan Sudjojono, keduanya pun memutuskan menikah di Solo.

Sudjono sangat dikenal dalam kumpulan aktivis seniman. Ia motor penggerak Seniman Indonesia Muda (SIM) dan Lekra.

Tahun 1955, Sudjojono duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, ketika duduk sebagai wakil rakyat inilah Sudjojono justru mengkhianati cinta Mia saat menjalin hubungan dengan penyanyi seriosa Rose Pandanwangi. Ia meminta kebesaran hati Mia untuk dimadu. Namun Mia menolak, terlebih saat kampanye pemilunya, Sudjojono menjanjikan perjuangan hak-hak perempuan, termasuk menentang poligami.
Akibat petualangan cintanya, Sudjojono kemudian tak hanya kehilangan cinta Mia, tetapi juga dipecat dari PKI. Tahun 1959, keduanya resmi berpisah.

Pada tahun yang sama, Mia disahkan menjadi anggota Lekra dalam Kongres di Solo. Ia kemudian memutuskan menggunakan nama Mia Bustam, bukan lagi Sasmiya Sasmojo. Bustam adalah moyang dari garis ibunya atau ayah dari pelukis besar Sarief Bustaman (Raden Saleh).

Pada tahun 1964, dalam catatan Hersri Memoar Pulau Buru, Mia pernah memamerkan karyanya bersama perempuan pelukis lainnya, yakni S Ruliyati, Kartika Effendi, dan istri Edy Sunarso.

Namun, menurut FX Rudy Gunawan, penyunting untuk memoar Mia Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan (VHR dan Spasi, 2008); Mia lebih identik sebagai inspirator aktivis perempuan yang tangguh, ketimbang seorang perupa. “Sikap politiknya sangat jelas,” ungkap Rudy.

Ketanggguhan Mia memang tiada banding. Ketika pertama kali bertemu lagi de­ngan Tedja Bayu, anak sulungnya, yang baru dibebaskan dari penjara, Mia hanya berujar ringan, “Inilah hidup!”

Pengalaman telah menempanya sedemikian rupa menjadi pribadi yang sangat kuat. Kemarin, saat jasad ibu dari delapan anak, eyang dari 20 cucu, dan eyang buyut dari 11 cicit itu diturunkan ke liang lahat, Tedja Bayu mengucapkan salam perpisahan yang indah. “Selamat Jalan Ibu. Tugas sejarah Ibu sudah selesai. Kami yang akan meneruskannya.”

Sinar Harapan, 4 Januari 2011

Read More......

Monday, August 16, 2010

Sastra Tionghoa dan Imaji Sebuah Bangsa

“Nabi-nabi selalu dihormati oleh semua orang, kecuali masyarakat kampung halamannya.” Pernyataan yang diucapkan oleh Isa Al Masih atau Yesus Kristus saat ditolak di Nazareth, kampung halamannya sendiri, barangkali tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan sastra Tionghoa di Indonesia.

Orde Baru dalam kaca mata sinolog Leo Suryadinata, agaknya paling bertanggung jawab dalam menciptakan jarak antara komunitas Tionghoa dengan Indonesia sebagai entitas se­buah bangsa. Meskipun Belan­da, dalam pandangan sastra­wan Jacob Soemardjo, juga turut terlibat meng­ekal­kan jurang pengotak-ngotakan ini.

Namun, di masa kepe­mimpinan Soehartolah, tiga soko guru atau pilar utama budaya Tionghoa dihancurkan dengan semena-mena. Pem­berangusan dan pelarangan sekolah, organisasi, serta media Tionghoa menjadikan perkembangan pemikiran soal Tionghoa mandek. Juga menjadikan komunitas Tionghoa–di luar para taipan bisnis—selalu berada di pinggir derap dinamika sebuah bangsa bernama Indonesia.

Leo Suryadinata, dalam sebuah diskusi tentang sastra Tionghoa di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, akhir pekan lalu, bercerita tentang Huang Dongping atau Oei Tong Pin.

Huang adalah seorang lelaki Tionghoa totok kelahiran Kalimantan tahun 1923 yang karya-karya sastranya cukup populer di luar negeri. Trilogi novelnya, Di Lautan Tiongkok Selatan, Di Atas Khatulistiwa, dan Di Bawah Panas Terik Matahari, berkisah tentang perkembangan Tiongkok totok di Indonesia. Trilogi yang dikenal sebagai Trilogi Lagu Perantau ini uniknya dicetak dan didistribusikan di Singapura dan Hong Kong serta lebih banyak dibaca komunitas Tionghoa di luar negeri, dibanding di Indonesia.

Ditulis dalam bahasa Man­da­rin, karya-karya sastra Yin­hua seperti milik Huang, me­mang kecil pembaca di Indo­nesia. Namun, dalam penilaian Leo Suryadinata, semestinya sastra jenis ini–yang ditulis oleh warga Indo­nesia—diakui juga sebagai sastra Indonesia. Demikian halnya dengan sastra Melayu Tionghoa, karya sastra berbahasa Melayu yang ditulis oleh pengarang Tiong­hoa (mayoritas peranakan).

Sampai saat ini, sastra Indonesia identik dengan sastra nasional Indonesia, yakni karya sastra yang ditulis dengan bahasa Indonesia oleh–dalam istilah Leo—pribumi. Sementara jenis karya sastra lain yang ditulis dalam bahasa lokal atau etnis—Sunda, Jawa, dan lan-lain—dikategorikan sebagai sastra daerah. Sastra Melayu Tionghoa, apalagi sastra Yinhua, belum dikategorikan di mana pun.

Meninjau Ulang Konsep Bangsa

Konsep bangsa Indonesia yang ditetapkan di masa lalu agaknya punya andil dalam penafian peran komunitas Tionghoa dari proses bangun sejarah bangsa, termasuk dalam hal sastra.

Konsep bangsa Indonesia di masa lalu hanya memasukkan bangsa—dalam istilah Leo—pribumi, bukan bangsa yang “bhineka”. “Kalau bukan pribumi, bukan bagian integral dari nation Indonesia,” ujarnya.

Cara pikir ini mulai berubah saat Soeharto tumbang. Namun tampaknya jejaknya masih terasa sampai sekarang. Masih ada kecurigaan antarkomunitas.
Sebutan pribumi dan nonpribumi yang mungkin diucapkan tanpa prasangka oleh Leo, rasanya tetap aneh di telinga generasi muda Indonesia yang hidup ketika doktrin segregasi Soeharto sudah memudar.

Barangkali kita, sebagai yang pribumi atau nonpribumi, sebagai yang Tionghoa atau non-Tionghoa, agaknya perlu memaknai ulang konsep sebagai bangsa.
Pemikir Tionghoa, Siauw Tiong Djin, dalam ulasannya pernah menyebut bagaimana tokoh-tokoh Tionghoa di masa lalu, seperti Liem Koen Hian, Tan Ling Djie, dan Tjoa Sik Ien yang mendirikan Partai Tionghoa Indonesia di tahun 1932, serta Badan Permusyawaratan Kewarganeraan Indonesia (Baperki), punya peran cukup besar dalam membangun nation Indonesia.

Mereka melawan arus utama di kalangan komunitas Tionghoa yang cenderung berkiblat ke Tiongkok atau ke Belanda. Mereka beranggapan bahwa komunitas Tionghoa yang sudah bergenerasi di Indonesia harus menerima Indonesia sebagai tanah airnya dan menjadi bagian nation Indonesia.

Cara mengukur loyalitas pada nation ini kemudian tak semata hanya “meminta” negara (state) untuk “menerima” eksistensi mereka, tapi juga terlibat dalam denyut pembangunan bangsa.

PTI di masa lalu, melalui harian Matahari dan Sin Tit Po menyebarluaskan dukungan terhadap nasionalisme dan gerakan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Baperki membikin formula kebijakan ekonomi untuk membuat semua modal domestik dikerahkan guna kepentingan pembangunan ekonomi nasional.

Indonesia merindukan orang-orang dengan keyakinan teguh seperti itu. Nation atau bangsa pada akhirnya, dalam istilah Soekarno, adalah sesuatu yang nyata dan konkret. “Lebih konkret dari kehadiran pasukan, lebih konkret dari kota-kota, lebih konkret dari pertambangan-pertambangan. Ia lebih konkret dari kita karena sudah hadir di zaman ayah kita dan akan terus hadir di zaman anak-anak kita. Ia adalah sebuah ide, sebuah imajinasi, sebuah semangat, dan sebuah seni,” demikian Soekarno mengatakannya di tahun 1956.

Sinar Harapan, 10 Agustus 2010

Read More......

Thursday, July 15, 2010

Polisi, Korupsi, dan Negara yang Bimbang

MAJALAH Tempo edisi pekan terakhir Juni 2010 hilang dari pasaran. Setidaknya itu terjadi di kawasan Lenteng Agung pada Senin (28/6) lalu. Sang penjual mengatakan majalah itu habis diborong. Tak disebut siapa yang memborongnya.

Sementara itu, sore harinya, turun berita bahwa polisi ber­pakaian preman memborong lebih dari 2.000 eksemplar majalah tersebut di tiga agen distribusi di kawas­an Harmoni. Di Pasar Minggu, minimnya stok majalah membuat pengecer berani me­naik­kan harga dari Rp 27.000 menjadi Rp 40.000.

Pihak Tempo kemudian memutuskan untuk mencetak ulang majalah yang laporan utamanya mengangkat aliran dana mencurigakan yang mengalir dalam pundi-pundi rekening para perwira tinggi kepolisian itu.

Sejumlah data yang dipaparkan mengingatkan kita pa­da Wen Qiang. Seorang mantan Wakil Kepala Polisi di Chongqing, China. Ia dituding menerima suap hingga 16 juta yuan atau sekitar Rp 21 miliar dari anggota mafia yang dibe­rikan perlindungan hukum saat Wen menjabat sebagai direktur di Biro Kehakiman Daerah Istimewa Chongqing.

Sebuah vila mewah di kawasan Wulong senilai 30 juta yuan atau sekitar Rp 40 miliar dimiliki Wen dari pemberian seorang pejabat lokal dan seorang pengembang.

Pengadilan kemudian membuktikan Wen bersalah, mes­ki­pun selama persidangan Wen membela diri bahwa sebagian besar uang yang ia terima ada­lah bingkisan Hari Raya Tahun Baru dan hadiah ulang tahun untuknya. April 2010, lelaki usia 55 tahun yang juga terbukti melakukan pemer­ko­sa­an mahasiswi di tahun 2007 dan 2008 itu, akhirnya divonis mati.

Wen bukan satu-satunya. Penyuapan di jajaran kepolisian melibatkan banyak personel, dari pangkat terendah hingga perwira tinggi. Dua bulan sebelumnya, mantan Kepala Kepolisian Peng Changjian dihukum penjara seumur hidup. Dia didakwa melindungi kelompok-kelompok ”bergaya mafia” di Kota Chongqing.

Lebih dari 3.300 orang telah ditangkap sebagai bagian dari kampanye yang dipimpin ketua partai komunis setempat, Bo Xilai, untuk menumpas organisasi kriminal dan korupsi.

Pemerintah setempat ke­mudian memutuskan melaku­kan perombakan besar-besar­an dalam jajaran kepolisian mereka. Pertengahan Maret lalu, sekitar 3.000 perwira polisi di Chongqing diharuskan melamar kembali jika masih ingin bertugas.

Fakta tentang Chongqing dan data tentang aliran dana tak jelas di rekening para perwira polisi di Tanah Air menunjukkan bahwa “penyuapan” merupakan fenomena yang jamak. Tak hanya di Indonesia dan China, tetapi juga di berbagai belahan dunia, terutama di negeri-negeri yang pertumbuhan ekonominya menjadi satu-satunya target yang ingin diraih.

Hasil survei Transparency International tahun 2007 menunjukkan: satu dari 10 orang di seluruh dunia harus membayar suap untuk mendapatkan pelayanan publik. Praktik suap secara khusus menyebar dalam interaksi dengan polisi, lembaga peradilan, dan lembaga pelayanan perizinan. Publik percaya bahwa partai politik, parlemen, polisi, dan lembaga peradilan adalah institusi paling korup dalam negaranya.

Laporan itu juga menyebutkan: satu dari empat ang­gota masyarakat di dunia yang pernah berhubungan langsung dengan polisi di­mintai uang pelicin, dan satu dari enam orang mengaku pada akhirnya mereka membayar suap.

Tunduk pada Modal

Fenomena korupsi dan suap ini jelas bukan semata urusan moralitas. Deregulasi liberalisasi modal yang gencar dilakukan Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir punya peran besar dalam membiakkan fenomena tersebut.

Target pertumbuhan ekonomi yang masif membuat negara bersikap sangat kompromistis dan hampir semua lembaga negara dibuat lumpuh dan tunduk pada kekuasaan pemilik modal.
Kekuasan modal punya kekuatan besar untuk mendikte aparatur negara dan menyebabkan penegakan hukum menjadi mandul.

China juga tanpa pengecualian untuk hal ini. Meski sejarah korupsi di Negeri Tirai Bambu tersebut berlangsung sejak zaman Dinasti Zhou (1027-771 SM), namun awal reformasi ekonomi tahun 1979 membuka peluang jenis korupsi baru yang lebih masif saat pertumbuhan ekonomi menjadi target dan negara (baca: partai) memberi keleluasaan setiap orang untuk menjadi kaya.

Bedanya kemudian, resep pertumbuhan ekonomi dari mantra Washington Consensus yang dirujuk habis-habisan oleh Indonesia sejak tahun 1968 tak dilakukan oleh China.
China punya resep sendiri yang membuatnya bisa berkelit untuk tak terseret dalam pusaran balik dari gelombang yang menargetkan pertumbuhan ekonomi semata.

Ini juga yang membuatnya bertahan dari badai korupsi yang bisa menggerus dan menghancurkan pencapaian pertumbuhan yang terjadi selama ini. Joshua Cooper Ramo, seorang analis asal Amerika Serikat, menyebutkan resep “khusus” itu sebagai Beijing Consensus.

Itu merupakan sebuah resep di mana pemerataan menjadi langkah segera yang mesti dilakukan begitu pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan hasil. Akan tetapi, yang pasti, “sebuah tangan besi” yang berani menolak dikte juga diperlukan untuk menjaga ritme ini.
Di Chongqing mereka memiliki Bo Xilai, mantan Menteri Perdagangan yang tahu persis bagaimana memanfaatkan kampanye anti-korupsi untuk melapangkan proyek pemerataan dari pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan negara tersebut.

Sementara itu, di Beijing, mereka memiliki Hu Jintao yang bertangan dingin saat membersihkan klik Shanghai di awal pemerintahannya, segera setelah menggantikan posisi Jiang Zemin.

Beberapa waktu yang lalu, orang nomor satu di Partai Komunis China ini menyerukan para kadernya untuk menghindari untuk main perempuan guna menghindari “gairah” korupsi. Ini lebih karena kesadaran bahwa korupsi adalah penyakit yang bisa menggerogoti ideologi.

Ini merupakan kesadaran bahwa kesempatan menjadi kaya yang diberikan di awal reformasi ekonomi mesti disertai dengan upaya untuk mengerem diri agar tak menjadi bumerang yang meluluhlantakkan pencapaian yang telah terjadi.

Sayangnya, Indonesia masih jauh dari kesadaran ini. Alih-alih melihat apa yang sebenarnya terjadi, pemerintah sibuk berganti peran untuk menyenangkan semua pihak dan membiarkan negara makin lama makin tak punya nyali untuk membela kedaulatannya sendiri.


Dimuat di Sinar Harapan, 30 Juni 2010

Read More......

Tuesday, May 18, 2010

Lelaki Beraroma Wangi

AKU menemukan jejak masa lalu, di kota dengan langit berwarna ungu. Malam itu, dalam acara pesta selamat datang, aku mengenal seseorang dengan kemiripan sesempurna dirimu.

Sosok itu datang ketika acara berlangsung setengah jalan. Tak ada yang istimewa, kecuali ia memaksakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Seorang mahasiswa pascasarjana yang terpesona dengan proses demokrasi di Indonesia.

Aku duduk di depannya, menikmati bahasa Indonesianya yang terbata dan gaya santunnya saat mendengar lawan bicara. Sesekali, seperti menyesali, ia melafalkan bahasa Inggris untuk deret kalimat yang sulit ia maknai. ”Padahal sudah satu tahun, saya di Indonesia,” ujarnya dengan nada minta maaf.

Ia memiliki sosokmu, tubuh kurus dan wajah tirus. Sementara kacamata yang bertengger di wajah itu, benar-benar membuatnya serupa denganmu. Namun bukan itu yang membuatku terkesima. Gaya bicaranya, ya gaya bicaranya adalah khas milikmu. Caranya membuat jeda pembicaraan, antusiasmenya saat melontarkan wacana, dan kibasan tangan saat mencoba mempengaruhi lawan bicara. Satu-satunya yang membedakan ia denganmu adalah ia tidak merokok.

Seandainya ia melakukan kebiasaan yang merusak paru-paru itu, aku yakin ia akan memiliki gaya merokokmu, terlebih bila ia menyukai kopi.

”Kau mengingatkanku pada seorang kawan lama,” ucapku sedikit bergumam, membuat mata itu berpijar sekilas. Aku benar-benar tak bisa menahan debar di dada kiriku yang mendadak memompa darahku lebih cepat ke segenap pembuluh.

Laksmi dan Pandu yang sejak tadi asyik ngobrol dengannya sontak berhenti dengan omonganku. ”Siapa?” tanya Pandu dengan sorot penuh selidik. Aku enggan menjawab dan kurasa tak perlu, meski aku tahu Pandu dan Laksmi mengenalmu dengan baik.
Laksmi memegang lenganku sekilas, mencoba memahami jalan pikiranku, tapi aku tahu upayanya ini tidak berhasil. Aku betul-betul ingin menyimpan sendirian kenangan tentangmu.

”Mau ke laut?” mendadak Krisna menepuk bahuku dari belakang. Sebagai nyonya rumah, keramahan perempuan India ini menyentuhku.

”Malam-malam begini?”

”Malam di sini lebih menyenangkan. Kalian akan hirup udara laut luar biasa di waktu malam. Hanya saja, kau perlu jaket double karena di luar dingin sekali,” ujarnya kembali menepuk bahuku. ”Tapi ini ajakan khusus untuk perempuan,” ujarnya sambil mengerling ke suaminya, Bennedict, tuan rumah yang menekuni studi politik Indonesia sejak 30 tahun lalu.

Krisna sendiri hanya empat tahun tinggal di Yogyakarta untuk mengikuti suaminya yang berdarah Yahudi itu, tapi lafal Indonesia Krisna nyaris sempurna.

Udara dingin di luar benar-benar membuatku tak ingin beranjak dari ruang yang sudah mulai hangat ini, terlebih dengan sekaleng bir yang berhasil menghangatkan badanku, setelah melahap nasi kare, masakan khas India yang lebih legit dari kare Indonesia.

Namun ajakan Krisna yang sedikit memaksa ini, tak bisa kami tolak. Enam perempuan, termasuk Krisna, yang berada di ruangan itu langsung beranjak dari kursi dan mengikuti ajakan Krisna. ”Ok, guys, that’s ladies night. We’ll leave you for a while,” teriak Krisna sambil berjalan ke arah pintu.

Raut muka Pandu langsung cerah begitu Laksmi dan aku beranjak darinya. Dia seolah lega karena bisa meneruskan obrolan politiknya, tanpa terinterupsi oleh aku atau Laksmi yang kerap menganggap analisis Pandu terlalu parsial.

Namun wajah tirus itu, sosok yang nyaris memiliki semua kemiripanmu, melemparkan pandang kehilangan yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Pandangan sama yang pernah kau arahkan padaku, delapan tahun lalu. Teriakan Krisna seperti mengambang di pintu keluar, sementara jaket kedua yang kuambil dari balik pintu seperti butuh waktu berjam-jam untuk mengenakannya.

Sorot mata itu, aku yakin hanya tertuju padaku saat kukenakan jaket kedua itu, membelakangi pintu, membuatku menatap pandang kehilangannya dalam hitungan sepersekian detik.

Ia menengok ke arah pintu dari balik bahunya dan pandangan itu menyisakan debar tak berkesudahan saat aku sudah berada di dalam mobil, saat Krisna mendongeng soal nasi padang yang bisa ditemui di sepanjang Fremantle, bahkan saat kami menyaksikan seorang laki-laki mandi di laut di bawah sinar bulan dalam suhu 4 derajat Celcius.

”Cinta itu muncul melalui proses, bukan lewat pandangan pertama kayak roman-roman kaum borjuis,” ujarmu saat itu. Dan aku mengamininya karena tidak ingin berdebat panjang denganmu.

Dan aku memang mencintaimu lewat proses. Melewati ribuan jam dan ratusan hari, sebelum mendadak kusadari semua gerak tubuhmu membuatku terpukau. Bahkan wangi tubuhmu yang tersisa di bantal kursi duduk pun membuat jantungku berdegup lebih keras.

Sejak itu, setiap pertemuan denganmu adalah rasa demam di seluruh badan dan degup jantung ekspres yang memerahkan pipi. Setelah delapan tahun kepergianmu, aku masih ingat semua detail tentangmu. Tak pernah kusimpan fotomu, tak juga notulensi yang mencatat idemu, bahkan kuhilangkan seluruh coretan kegelisahanmu yang sering kau sisipkan di bukuku.

Setelah badai yang memporakporandakan itu, sedikit pun tak ingin kusimpan jejakmu. Namun ironisnya, kau seperti hantu yang bisa muncul dalam berbagai wujud. Senyummu muncul pada masinis kereta yang setiap pagi nekad membukakan pintu kabin untukku di stasiun yang seharusnya ia tak boleh berhenti. Gaya bicaramu menular pada seorang aktivis LSM lingkungan yang entah mengapa selalu mengundangku, meski aku tak lagi menangani desk lingkungan.

Dan tatap matamu muncul pada seorang kawan yang tak pernah bosan mengajakku minum kopi setiap sore dan berpikir aku mencintainya dengan mencoba memaknai binar mataku setiap kali bersiborok pandang dengannya.

Hari ini, setelah delapan tahun kepergianmu, sosokmu kembali muncul pada Nick, lelaki bule itu. Kali ini, ia mempresentasikan seluruh sosokmu, kecuali darah yang mengalir di tubuhnya dan ras yang dimilikinya.

***
LANGIT itu berwarna ungu, betul-betul ungu, seperti sapuan kuas yang dibuat tergesa. Aku masih memandangi dengan takjub, meski rasa dingin mulai menembus jaket parasut. Di depanku, Laksmi menjepretkan kameranya berulang-ulang. Ia bahkan semakin asyik saat warna ungu itu berubah merah.

Jepretan itu berhenti saat cahaya yang terpancar terlalu lemah tertangkap kamera. Seolah tak terima dengan keadaan itu, ia masih terpaku di tepi danau itu lama-lama. Cahaya lampu yang memancar dari gedung pencakar langit di seberang danau adalah keindahan pengganti. Sayang, Laksmi menggunakan film ber-ASA rendah. Kesal dengan kondisi itu, ia berjalan menghampiriku.

”Mau jalan-jalan sebentar ke dermaga?” tanyanya.

Kusambut ajakan Laksmi, setelah kumatikan api rokok dan menaikkan penutup kepala. Hembusan angin betul-betul membuat tubuh menggigil.

”Kau sudah bilang Nick, kalau pulang besok?” tanya Laksmi sambil menyeruput capuccino yang disajikan kafe dekat dermaga.

Kugelengkan kepalaku. Aku tak cukup kuat untuk menatap pandang kehilangan Nick, meski aku tahu kepergianku tanpa pamit akan mengecewakannya.

Hampir enam bulan aku di Perth, ikut pendidikan singkat jurnalistik yang digelar sebuah Universitas terkemuka di sini. Dari Indonesia, ada tiga jurnalis yang ikut, aku, Pandu dan Laksmi.

Selama rentang itu pula, komunikasiku dengan Nick juga intens. Proses membawaku dekat dengannya. Semua karena jejakmu yang kutemukan padanya. Aku hampir membangun komitmen dengannya saat mendadak The Age memuat fotomu di halaman depan, sebuah kabar dari Jakarta: kau telah ditemukan.

Telepon di apartemenku pun berdering puluhan kali, dari Jakarta, dari Yogya. Semua tentang beritamu. Ada yang bertanya, ada yang mengucapkan proficiat seolah aku adalah orang pertama yang kau jumpai setelah kemunculan itu. Tapi aku sama sekali tak menerima telepon darimu. Email-ku pun kebanjiran pesan, semua tentang hal yang sama.

Kuhubungi Jakarta hari itu juga, 30 menit setelah kubaca The Age, namun kabar di Jakarta masih simpang siur. Kuulang lagi telepon hingga empat kali ke Jakarta hari itu, kabar tak juga pasti. Tak sabar kutunggu pagi dan akhirnya kudapat informasi pasti, kau telah kembali.

Aku bingung harus bersikap apa. Aku tak tahu harus bersedih atau bahagia. Setelah delapan tahun, bagaimana aku harus bersikap terhadapmu. Seharian itu, kuliah Krisna sama sekali tak masuk ke otakku, analisisnya yang kerap menggelitik hanya mengapung di udara. Ajakan Nick untuk motret di pelabuhan tua Fremantle tidak kutanggapi.

”Aku tak tahan melihat kesedihanmu,” ucap Nick di atas ferry, sepulang dari kampus. Ah, Nick. Perhatian kecilnya itu yang membedakan ia denganmu.

Dulu, saat detak jantungmu menemukanku, kau bahkan enggan menunjukkannya. Kau tak pernah menatap mataku lebih dari tujuh detik, kau ambil jarak agak jauh denganku setiap kali kawan-kawan memergoki kita sedang ngobrol berdua. Sesekali, saat kawan-kawan tak peduli dengan keberadaan kita, kau akan menanyakan hal remeh padaku.

Ingatkah kau saat aksi damai kita digebuk tentara? Sandalku terinjak tentara dan tercecer di jalanan saat sang komandan memerintahkan pembubaran aksi. Kita lari tunggang langgang ke dalam kampus. Dan saat aku masih panik menghitung berapa kawan yang tertangkap, kau malah menanyakan kacamataku.

”Aku sengaja tak memakainya,” ujarku sedikit gemas dengan perhatianmu yang tak tepat waktu itu. Sementara saat aksi kejar-mengejar itu selesai dan kawan-kawan duduk di atas rumput sambil menyeruput es teh yang dipesan berombongan dari kantin kampus, kau malah sengaja duduk jauh-jauh dari aku. Ah, kau. Bagaimana mungkin perasaan itu kau pikir bisa kau simpan sendirian. Kau menyimpannya sendiri, hingga kau pergi.

Tapi kawan-kawan bukannya tak tahu hal ini. Mereka cukup tahu diri untuk tak mengulang kisah tentangmu di depanku setelah hura-hura yang menghilangkanmu itu. Mereka juga yang menyimpan tangisku semalaman saat menemukan kacamatamu tertinggal di kamar kost dengan retak bekas pukulan. Ah, kau.

Sementara Nick membanjiriku dengan seluruh perhatian yang jarang kuterima dirimu. Dia menyebutku sebagai soulmate di bulan pertama perkenalan kami. Ia berani menatap mataku lebih dari sepuluh detik. Ia menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang kebetulan jatuh di bulan ketigaku di sini. Ia juga yang menghadiahiku buku yang kusebut selintas saat perjalanan kami ke bursa buku di Subiaco.

Dan esok, aku harus meninggalkan seluruh perhatian itu. Menurut jadwal, kursus singkat ini baru akan berakhir pekan depan. Namun aku diizinkan pulang sepekan lebih awal, setelah kepada Ben dan Krisna, aku ceritakan apa yang terjadi. Aku tak tahu apakah Nick tahu hal ini, juga dengan majunya jadwal pulangku.

”Aku tadi ke Subiaco. Sebenarnya aku tak berniat ke sana. Aku mau ke Fremantle, ada beberapa bangunan tua yang ingin kupotret. Tapi preman di atas bus mengagetkanku dan aku lari turun di Subiaco,” kataku pada Laksmi.

Subiaco adalah tempat di mana Nick tinggal. Entah mengapa, setelah turun di halte itu, aku tak berniat melanjutkan perjalanan ke Fremantle. Aku menyusuri jalan hingga ke Subiaco Square. Box telepon membuatku berniat menghubungi Nick. Tapi kemudian niat itu kuurungkan. Biarlah, kusisakan kenangan di kota dengan langit warna ungu ini, seperti monumen yang dibangun di setiap persimpangan.

***

Kau masih seperti dulu, delapan tahun setelah kepergianmu. Hanya kini kau tampak lebih rapi dan wangi. Cara bicaramu juga merupakan sisa masa lalu, hanya kini kau tak lagi meledak-ledak. Kau bahkan bertutur seperti seorang pengamat, bukan lagi pelaku politik. Deretan teori yang kau lontarkan, hasil comotan dari para akademikus, membuat argumenmu tampak sulit dipahami.

Ingatkah kau, saat mengkhawatirkanku menjadi eklitis gara-gara kubaca buku dari semua aliran? Aku marah saat itu karena menganggap kekhawatiranmu berlebihan dan bentuk pengekangan kebebasan berpikir. Namun kesabaranmu menjelaskan kekhawatiranmu mampu meluluhkanku. Kau menjelaskannya dengan duduk bersila, di rumah yang tak pernah menyediakan kursi dan ditemani secangkir kopi.

Kini, di depanku, kau duduk bersama pembicara dalam ruang diskusi dengan baju rapi dan beraroma wangi. Aku tak tahu apakah aku masih kau kenali, saat matamu menatapku sepersekian detik di pintu masuk.

Aku gagalkan rencana menemuimu begitu pulang dari Perth, setelah kudengar cerita dari beberapa kawan bahwa kau berkompromi dengan para politisi. Penyiksaan di kamp penculikan meluluhkan nyalimu. Kau sepakati pergi ke luar negeri untuk menjadi peneliti. Buku dan studi adalah hal yang paling kau sukai. Dan kemudian kau pulang dengan gelar akademisi, padahal bertahun-tahun kami menganggapmu hilang dan mati. Hampir setiap tahun kami melakukan aksi advokasi.

Para ibu kami berjalan di Bundaran HI, mengadakan aksi menggugat para politisi karena yang hilang dan mati di negeri ini jumlahnya banyak sekali. Namun kau melenggang ke luar negeri tanpa mengabari kami dan kini pulang berkotbah soal demokrasi.

Namun hari ini, aku terpaksa menemuimu karena kolom di koranku membutuhkan sosokmu.

”Apa kabar, Padma?” sapamu tanpa emosi.

”Baik. Kau kini wangi sekali,” ujarku singkat. Kemudian kusodorkan recorder, merekam kotbah demokrasimu sambil merasakan debar itu menyusut pelahan. Jantungku berdetak dalam hitungan normal dan tak satu pun kenangan tentangmu melintas dalam kepala.

Besok, koranku terbit pagi dengan headline: Aktivis Prodemokrasi Setuju Rekonsiliasi. Di atasnya, upper deck bertuliskan: Peristiwa Penculikan Dapat Dipahami.

Dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 25 September 2004

Read More......

Ia Tak Pernah Kembali

AKU menikahi perempuan itu setahun setelah pacarnya hilang. Tak satu pun orang tahu ke mana laki-laki itu pergi. Beberapa kawan bilang, ia diculik setelah aksi demo buruh, beberapa yang lain bilang ia lenyap setelah menorehkan grafiti di halte bus dekat pos polisi, tapi segelintir yang lain mengatakan sempat melihat ia diseret ke pos tentara, digebukin dan kemudian tanpa kabar. Sebulan setelah ia pergi, surat kabar mengabarkan ia disembunyikan oleh kawan-kawannya sendiri.

Aku, suami dari perempuan yang pernah menjadi pacarnya, hanya tahu bahwa kepergiannya membuatku mesti terjaga sepanjang malam–hampir selama satu tahun— menenangkan isak tangis yang menggema lirih, tertahan, terkadang meledak menjadi sedu sedan di ruang depan sebuah rumah yang dijadikan markas kami setelah sejumlah kawan hilang.

Surat kabar yang selalu memberi corong pada polisi, tentara, cukong, dan pejabat mengatakan markas kami sebagai markas gerakan bawah tanah yang ingin menggulingkan kekuasaaan yang sah. Mendapat dana miliaran rupiah dari luar negeri sehingga kami selalu bisa muncul di kota berbeda dengan waktu cepat, karena punya dana untuk mengendarai pesawat terbang supercepat.

Padahal kenyataannya, kami mesti merampok seorang kawan yang baru mengemis 20 ribu rupiah dari ibunya agar memberi kami makan. Dengan uang itu, belasan perut kelaparan bisa terisi. Kami tersenyum kecut saat ia mengucapkan sumpah serapah, menyadari bahwa itu adalah uang terakhir yang ada dalam kantongnya. Meski sumpah serapah itu terdengar kasar, tapi kami tahu ia tak serius. Aroma solidaritas masih bisa kucium dari ruap tubuhnya, bercampur keringat karena ia tak mandi dua hari.

Jadi, jika kau percaya bahwa kami berpesta pora dengan uang miliaran, hingga bisa menghadiri demo di berbagai ujung kota dengan menumpang pesawat, pasti jalur logika berpikirmu sudah perlu dibenahi. Setidaknya kau butuh rumah sakit jiwa untuk mereparasi otakmu. Sayangnya, sejumlah dokter di rumah sakit tersebut juga memiliki logika sama bobrok. Jadilah, setiap hari, aku mesti menyaksikan gerombolan orang sakit jiwa yang pernyataan mereka dikutip besar-besar oleh wartawan menjadi headline semua media massa, bunyinya : ”Tangkap Para Provokator!”

Stempel ”provokator” ini membuat kami akhirnya tidak beda jauh dengan selebriti. Bedanya, popularitas yang kami terima menjadikan kami membuang energi di jalanan sebagai buronan. Tampang beberapa kawan bahkan kerap nongol di majalah, surat kabar dan layar kaca, disertai narasi tentang aktivitas mereka yang dianggap makar.

Sederet narasi ini kemudian dibubuhi dengan statement pengamat, pakar atau aparat bahwa generasi muda tidak boleh mengikuti jejak mereka, bahwa masyarakat harus membantu petugas menemukan mereka, bahwa hukum akan memperlakukan mereka secara adil.

Sayang, pengalaman bertahun-tahun mengajari kami bahwa semua statement tersebut hanya sandiwara. Kami tahu persis, jika kami menyerahkan diri maka keadilan hukum hanya omong kosong. Pukulan, tendangan, dan setrum listrik adalah upacara kecil yang bakal kami terima dari aparat. Teror fisik dan mental. Jika beruntung, kami bisa keluar dari penjara dalam tempo satu hingga empat tahun. Tapi jika sial, apalagi jika penangkapan itu tak diketahui media, maka nama kami hanya akan tinggal kenangan.

Jadi, begitu ada wajah salah satu kawan yang terpampang di media massa, kami segera mengatur strategi menyembunyikan mereka. Berapa lama persembunyian itu tergantung situasi lapangan. Bisa sebulan, setahun, lima tahun atau lebih lama lagi.

Selama satu sampai tiga bulan pertama persembunyian, kami benar-benar hanya akan berada dalam ruangan tertutup. Tak boleh ada yang menghubungi kami, bahkan orang tua sekalipun. Jika mesti berhubungan dengan dunia luar, kami mesti melakukannya melalui kurir.

Bagi tipe penyendiri seperti aku, masa persembunyian kerap menyenangkan. Aku bisa membaca sepuasku hingga perut terasa mual, menonton film-film bagus berjam-jam dari tumpukan VCD bajakan, menulis sebuah analisis serius atau sekadar hal remeh temeh tentang cinta.

Namun, tentu saja, tidak semua orang adalah tipe penyendiri. Sejumlah kawan tak betah berada dalam ruangan tertutup bahkan hanya untuk waktu satu hari. Tipe kawan seperti inilah yang kerap menguras energi kami. Kami harus melakukan pengawasan ekstra. Lengah sedikit, maka kami hanya akan mengenang namanya.

Pacar istriku adalah jenis seperti ini. Ia sama sekali tak memiliki disiplin. Saat seharusnya ia berada dalam persembunyian, ia malah menelepon kawan lain dan mengemis-ngemis agar bisa bertemu pacarnya, ya istriku itu. Alasannya, sudah tak kuat menanggung rindu. Alasan model begini sering membuatku naik darah karena sama sekali tak rasional dan dibuat-buat.

Asal kau tahu, aku sebenarnya tak mempercayai cinta. Cinta bagiku hanyalah persoalan transformasi kepentingan yang sepenuhnya bisa dikontrol oleh rasionalitas. Jadi, jika rasionalitas pacar istriku itu sedikit saja mau berhitung, maka ia tak perlu melakukan tindakan bodoh itu. Namun toh, ia melakukannya. Dan cerita selanjutnya, aku tak tahu persis. Yang pasti, istriku tak bertemu dengannya usai rengekan itu.

Kawan tersebut lenyap sebelum bisa merealisasikan rengekannya. Setahun setelah itu, aku meminang pacarnya sebagai istriku karena aku tak tahan mendengar isak kehilangan sepanjang malam.

***

”Bagaimana kalau tiba-tiba Tarang kembali?,” tanyaku mendadak pada istriku saat ia tengah mengetik artikel tentang orang hilang. Jemari di atas keyboard komputer itu langsung berhenti dan mata di balik kaca itu menatapku tajam.
”Apa maksudmu?”

”Ya, kalau ternyata memang ia tidak dibunuh, tapi hanya disiksa, kemudian disembunyikan, lalu dilepaskan setelah ditekan untuk tidak mengatakan siapa yang menculiknya.”

”Bagus. Kita beri waktu dia untuk memulihkan fisik dan mentalnya. Setelah itu, pelan-pelan kita ajak bicara hingga si penculik bisa kita seret ke meja hijau dan kondisi kawan-kawan hilang lainnya dapat kita ketahui,” sahut istriku tanpa ekspresi, seolah ia sedang membicarakan seseorang yang tak pernah ia kenal.

Aku tak melanjutkan pertanyaan. Istriku pun seolah ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan itu agar bisa melanjutkan artikel yang akan ia kirim ke koran nasional esok hari.

Aku memang tak mempercayai cinta, tapi ekspresi yang diperlihatkan istriku sempat membuatku bergidik. Bagaimana jika aku menjadi target penculikan berikutnya dan istriku sama sekali tak merasa kehilangan?

Obrolan yang muncul dari keisenganku itu sempat mengendap dalam batok kepalaku selama beberapa hari. Namun kesibukan menyelesaikan tulisan biografi seorang aktivis, sebuah proyek kecil yang mengepulkan asap dapurku, membuat obrolan itu segera terlupakan.

Sampai kemudian seorang kawan mendatangiku suatu senja di bulan Maret, enam tahun setelah kepergian Tarang.

”Tarang kembali Bung, sendirian. Tiga kawan kita lainnya dipastikan mati. Dua dibuang ke kali, satunya dikubur di belakang penjara.”

Pemberitahuan itu benar-benar mengagetkanku. Bukan karena membayangkan siksaan tragis yang mereka terima sebelum mati, tapi karena Tarang muncul lagi dalam kehidupanku, setelah enam tahun.

Aku tak berani membayangkan apa reaksi istriku jika mendengar berita ini. Aku juga tak tahu, apa reaksiku jika berhadapan dengan Tarang. Kuputuskan untuk menemui Tarang sendirian. Aku tak sanggup menemuinya sambil menggandeng bekas pacarnya yang kini menjadi istriku.

Namun sebelum keputusan itu kulakukan, Tarang telah mengetuk pintu rumahku suatu malam, dua pekan setelah pemberitahuan itu.

”Apa kabar, Bung?” sapanya saat kubuka pintu.

Sosok berambut ikal tak banyak berubah. Hanya tampak agak kurus. Mata di balik kaca minus itu masih mewakili kecerdasan intelektual yang memang menjadi daya tariknya. Hanya saja, ia tak lagi memakai kaca mata bulat tanpa bingkai yang dulu sesekali dilepasnya saat kami asyik berdebat. Kini, ia mengenakan kaca mata berbingkai tebal dengan bentuk persegi, membuat wajahnya tampak semakin tirus, namun justru menjadikannya terlihat dewasa dan matang.

Kupeluk sosok itu tanpa mengatakan apa-apa. Perpisahan ini terlalu panjang, sehingga kami kehilangan bahasa untuk mengurai kisah.

Aku menyilakannya duduk di ruang tamu sebelum kuracik dua cangkir kopi. Setidaknya, kopi bisa membunuh kegamangan kami sebelum ia bertemu dengan istriku yang pernah menjadi pacarnya.

Aku tak yakin istriku tak tahu kepulangan Tarang karena ia terlibat penuh selama enam tahun ini dalam advokasi korban penculikan. Namun, ia tak pernah mengatakan apa-apa.

Aku tengah menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi, ketika sedu sedan yang kerap kudengar enam tahun lalu menggema lirih di ruang tamu.

”Maaf, Bung,” ujar Tarang canggung saat melihatku membawa dua cangkir kopi, menatap punggung istriku yang lekat dalam pelukannya. Istriku pasti tak menyangka menemukan Tarang di ruang tamu sekembalinya ia dari rumah orang tuanya.

Aku mengangguk ke arah Tarang. Kuletakkan kedua cangkir itu di meja. Kuambil recehan dari atas televisi di ruang tengah.

”Aku beli rokok sebentar,” kutepuk bahu Tarang dan kuusap rambut istriku. Dadaku sesak, tapi tak ingin kuurai pelukan itu.

***

”Picisan,” umpat istriku persis di belakang telingaku, begitu kuselesaikan baris terakhir cerita pendek itu.

”Aku nggak yakin kau akan berbesar hati seperti itu jika Tarang benar-benar kembali,” ucapnya sambil mengambil sebatang rokok milikku, memutarnya, mencium aromanya dan meletakkannya. Sudah empat tahun ia menghentikan kebiasaan merokok.

Dua tahun setelah kepergian Tarang, ia merelakan paru-parunya digerogoti oleh asap adiktif itu. Tahun ketiga, ia merasa aktivitas itu sia-sia dan begitu saja ia menghentikannya, tanpa kusuruh. Aku sendiri berniat menghentikan kebiasaan buruk ini, tapi selalu gagal. Setiap kali aku merasa otakku mampat, kuambil sebatang sigaret. Menghisapnya, benar-benar membuatku merasa lebih nyaman.

”Bagaimana kalau Tarang benar-benar kembali?” tanyaku mengulang pertanyaan yang kulontarkan dalam cerita pendekku, sebuah pertanyaan yang bercokol terus-menerus di batok kepalaku sejak kunikahi perempuan itu.

”Aku nggak tahu. Tapi sejak kudengar ia hilang enam tahun lalu, aku yakin ia tak akan kembali,” ucapnya lirih. Ditandaskannya sisa kopi dalam cangkir, dibenahinya berkas-berkas advokasi orang hilang.

”Aku tidur duluan, besok pagi harus temani orang ke LBH. Ada laporan orang hilang lagi,” ucap istriku sambil mencium bibirku sekilas.

Dimuat di Sinar Harapan, 18 Mei 2003

Read More......

Memoar yang Mengusik China

Buku ini, membantu kita memahami mengapa China tetap bertahan hingga saat ini, bahkan disebut-sebut sebagai “penyelamat kapitalisme”, saat sistem politiknya sendiri tetap bertahan di bawah kepimpinan partai komunis.

PERINGATAN 20 tahun insiden di Tiananmen, 4 Juni (2009) lalu, berlangsung khidmat di Hong Kong. Aksi penyalaan lilin di lapangan Victoria Park, yang dilakukan hampir tiap tahun sejak 1990, tahun ini disebut-sebut melibatkan massa terbesar.

Diperkirakan sekitar 150.000 orang hadir dalam peringatan tersebut, termasuk salah satu mantan pimpinan aktivis Tiananmen, Xiong Yan, yang datang jauh-jauh dari Alabama, Amerika Serikat.

Xiong adalah satu 21 aktivis Tiananmen yang masuk dalam daftar black-list Beijing. Ia sempat ditahan 2 tahun pasca insiden Tiananmen tahun 1989, sebelum kemudian terbang ke AS melalui Hong Kong.

Membludaknya massa yang menghadiri acara peringatan 20 tahun insiden Tiananmen ini sudah diperkirakan sebelumnya. Selain karena “kesleo” lidah Chief Executive Hong Kong Donald Tsang di depan parlemen, diluncurkannya memoar mantan Perdana Menteri dan juga Sekjen Partai Komunis China Zhao Ziyang, dua pekan sebelum peringatan 4 Juni, barangkali menjadi salah satu pemicunya. Di malam peringatan 4 Juni, foto Zhao Ziyang turut dipasang di Victoria Park.

Buku memoar yang terbit pertama kali dalam bahasa Inggris itu sebenarnya merupakan transkrip dari rekaman suara Zhao yang membacakan catatannya dalam durasi 30 jam. Zhao merekam ini saat menjadi tahanan rumah, setelah partai mencopot semua jabatannya, pada Mei 1989. Zhao sendiri meninggal pada tahun 2005.

Di buku ini terungkap bahwa keputusan memberlakukan Martial Law dan menindak keras aksi mahasiswa Tiananmen sebenarnya tak diambil dengan suara bulat oleh PKC. Lima orang yang duduk dalam Dewan Harian Politbiro PKC, menurut Zhao, tak dalam satu suara. Dua mendukung, dua menolak, dan satu abstain. Salah satu yang menolak tersebut adalah Zhao Ziyang.

Namun, menurut Zhao, keputusan ini kemudian seolah menjadi mayoritas ketika Deng Xiaoping dan Yang Shangkun –keduanya bukan termasuk dewan harian politbiro-berada di belakang mereka yang setuju.

Di buku ini juga terungkap bahwa editorial People’s Daily, menurut Zhao, merupakan “pemicu” dari membesarnya aksi massa di lapangan Tiananmen dan meluasnya simpati massa non-mahasiswa. Editorial yang ditulis berdasarkan pernyataaan Deng tersebut menyebut bahwa aksi yang dipelopori mahasiswa itu telah menjurus pada makar.

Li Peng, salah satu dari Dewan Harian Politbiro, dituding Zhao sebagai aktor di belakang keluarnya editorial tersebut.


Demokrasi Barat

Selain insiden Tiananmen, yang menarik dari buku ini adalah perdebatan soal arah ekonomi dan politik China setelah Plenum ke-3 dari pertemuan Sentral Komite PKC ke-11 tahun 1979 memutuskan bahwa negeri dengan 1,3 miliar penduduk itu akan menempuh jalan reformasi ekonomi.

Zhao menyebut dirinya sebagai pendukung reformasi bersama Deng Xiaoping dan Hu Yuobang. Sementara Chen Yun dan Lin Xiannian (keduanya menjabat sebagai Dewan harian Politibiro di tahun 1980-an), dinilai Zhao, mewakili kaum “konservatif”.

Zhao beranggapan bahwa China harus tak ragu “memeluk”mekanisme pasar. Membuka diri terhadap investasi asing, menggenjot produksi barang orientasi ekspor, dan menstabilkan keuangan negara dengan bantuan utang.

Namun Chen Yun sangat berhati-hati dengan ini. Chen Yun lebih condong pada model ekonomi “sarang burung”. Menurutnya, jika seekor burung dipegang terlalu erat maka ia akan mati lemas. Namun jika dibiarkan terbang bebas maka ia tak akan kembali. Jadi yang terbaik adalah “menernakkan” mereka di dalam sarang.

Dan di tengah sikap tarik menarik ini, Deng ternyata tak mencoba memaksakan kehendak. Dalam pengakuan Zhao, Deng tetap mencoba untuk memfasilitasi keduanya.

Namun soal sikap politik, Deng jelas berada di kubu “konservatif” atau “garis keras. Di sinilah agaknya Zhao mesti bersebrangan dengan Deng dan sejumlah pimpinan PKC, dan membuatnya terdepak dari lingkaran partai.

Menurut Zhao, ketika basis ekonomi berubah maka sistem politik juga perlu direformasi. Ini juga yang membuatnya mengusulkan agar anggota partai di luar PKC berhak untuk masuk jajaran pejabat negara atas nama partai mereka. Ini akan memungkinkan terjadinya mekanisme check-balance dan penyakit korupsi yang berjangkit mengiringi pertumbuhan ekonomi bisa dipangkas. Dalam perenungannya kemudian –saat menjadi tahanan rumah- Zhao bahkan menyebut formula demokrasi barat merupakan yang terbaik untuk China.

Namun Deng menolak usul ini. Meski Deng berulang-ulang menyebut soal reformasi politik dalam setiap kali pidatonya, tapi konsep reformasi yang ia maksudkan berbeda.

Deng menolak liberalisasi politik, tak sepakat dengan sistem multipartai yang dianut Barat, juga pemisahan lembaga yudikatif, eksekutif, dan legislative. Reformasi politik yang dipahami Deng adalah sebatas pembenahan organisasi, pemangkasan birokrasi, dan tertib administrasi. PKC akan tetap menjadi satu-satunya partai yang menkonsolidasikan seluruh tatanan. Segala bentuk reformasi yang mencoba memperlemah posisi PKC akan ditolak.

Buku ini, membantu kita memahami mengapa China tetap bertahan hingga saat ini, bahkan disebut-sebut sebagai “penyelamat kapitalisme”, saat sistem politiknya sendiri tetap bertahan di bawah kepimpinan partai komunis.


Versi Panjang Sebelum Dipangkas di Koran Jakarta (13 Juni 2009)

Read More......

Friday, May 14, 2010

Kemarahan dari India

DEMOKRASI gagal menyelamatkan India. Ia gagal membuat negeri yang lepas dari Inggris di tahun 1947 itu menjadi lebih baik. Bahkan tak sanggup menyamai China, negeri tetangga, yang jelas-jelas menolak sistem demokrasi parlementer dan memilih bertahan dengan kepemimpinan tunggal Partai Komunis.

Setidaknya itu yang digambarkan White Tiger, sebuah novel pemenang penghargaan Man Booker Prize 2008, yang “kemurungannya” mengingatkan kita pada Midnight’s Children-nya Salman Rusdhie.

Aravind Adiga, sang novelis, mengakui terus terang bahwa ia terinspirasi Midnight’s Children saat menulis novel pertamanya tersebut.

Berkisah tentang carut marut India sebagai negeri berkembang yang gagap menghadapi laju modernitas, novel ini dibuka dengan sebuah surat “curhat” yang dikirim oleh seorang pengusaha angkutan taksi yang sukses di Bangalore kepada Perdana Menteri China Wen Jiabao yang berencana akan datang ke India.

Ia bertutur tentang masa lalunya. Mulai dari nasib sebagai bocah dari kasta pembuat gula-gula (Halwai) yang mesti keluar sekolah karena keluarganya tak sanggup membayar mahar penikahan untuk sepupu perempuannya, kematian ayahnya –seorang penarik rickshaw yang terkena TBC- yang mengenaskan di rumah sakit pemerintah, tuan tanah yang memberinya kerja sebagai sopir bagi anak lelakinya yang baru pulang dari Amerika Serikat, hingga keputusannya untuk menggorok leher majikannya sampai tewas.

Balram Halwai, song tokoh cerita, menyebut dirinya “orang India setengah matang”. Ini jenis orang yang banyak ditemukan di India. Mereka adalah jenis orang-orang yang gagal melanjutkan sekolah karena berbagai alasan, tapi melakukan berbagai cara secara otodidak untuk bisa memahami apa yang bergerak di lingkungannya. Mulai dari belajar bahasa Inggris –juga situasi politik- dengan menguping percakapan majikannya, hingga membujuk lelaki tua di pasar buku loak untuk berkisah tentang penyair Islam terbesar abad-13 Jallaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal.

Namun jangan berharap bahwa cerita ini akan memiliki alur atau berakhir seperti Slumdog Millionaire, film peraih Oscar yang menceritakan kisah bocah dari kawasan kumuh di Mumbai.

Balram dalam White Tiger justru muncul sebagai sosok anti-hero. Ia memang dianggap beda dari komunitas miskin di desa yang ia sebut sebagai desa ”Kegelapan”. Ia punya kecerdasan di atas rata-rata dan ia sebenarnya punya peluang untuk melanjutkan sekolah. Tapi hidup dalam masyarakat dengan jalinan kekerabatan yang kental (ia menyebutnya “Kandang Ayam”), Balram harus bersolider terhadap keluarga, saudara, kerabat kalau tak ingin semuanya menjadi porak-poranda.

Ia mau melakukan apa saja, termasuk menjadi sopir dan babu yang patuh dan jujur, demi untuk menyelamatkan keluarga. Dan semua orang di India melakukan itu, loyalitas tanpa pertanyaan, bukan karena moralitas, tapi lebih karena mereka tak punya pilihan.

Hingga kemudian, pada sebuah hari yang baru, Balram memutuskan menjadi seorang pembunuh. Meskipun ia tahu persis bahwa tindakan yang dilakukannya akan membahayakan nyawa keluarga besarnya. Semua ia lakukan karena rasa marah atas perlakuan tak adil.
Usai pembunuhan itu, ia pergi ke tempat lain, mengganti nama, dan meraih sukses dengan jalan yang mirip dengan bekas majikannya: menyuap pejabat negara.

Korupsi yang menggurita di birokrasi India, membuat sukses tak cukup diraih dengan kerja keras. Dan Balram, sebagai generasi India “setengah matang” memilih untuk berada di jalur yang sama karena itu satu-satunya cara untuk menjadi entrepreneur yang sukses.

White Tiger adalah novel debutan dari Aravind Adiga, alumni Oxford yang juga mantan koresponden Majalah Time. Menyorot sisi gelap India, novel ini jelas kampanye buruk bagi dunia turisme India. Namun barangkali ini justru akan menjadi upaya koreksi diri India sebagai sebuah bangsa.

Membaca White Tiger, kita seperti melihat Indonesia dari jarak dekat. Saat Balram menggambarkan hanya ada dua kasta di India (kasta perut buncit dan kasta perut rata) dan bahwa korupsi menggurita di birokrasi, serta sistem feodal yang tak mati-mati; kita akan menemukan bahwa situasi ini sama sekali tak asing dengan kita.

Read More......

Mantra Baru dari Shanghai

OLIMPIADE Beijing 2008 mengundang decak kagum. Pesta pembukaan dan penutupan yang meriah, turis yang banjir seperti air bah, popularitas China yang mendadak terdengar hingga lokasi terujung dunia, dan nasionalisme yang meletup tiba-tiba, membuat Olimpiade 2008 be­nar-benar jadi ha­jat­an yang membuat ke­percayaan diri bangsa berpenduduk 1,4 mi­liar itu menggembung tak terkira.

Tapi, itu ternyata belum apa-apa jika dibandingkan Shanghai World Expo 2010 yang bakal digelar dari 1 Mei-31 Oktober mendatang. Seorang analis menyebut bahwa dibanding Shanghai Expo, Olimpiade Beijing hanya akan tampak seperti “pesta minum teh”. Berlebihan atau tidaknya prediksi tersebut memang perlu dibuktikan.

Dalam uji coba pembukaan Expo yang digelar Selasa (20/4) lalu, puluhan ribu pengunjung membuat panitia kewalahan. Padahal diperkirakan 70 juta pengunjung, mayoritas warga lokal, akan memadati area ini dalam kurun waktu enam bulan.

Indonesia merogoh kocek US$ 10 juta untuk membangun paviliunnya di area ini. Di atas lahan seluas 4000 meter persegi, Indonesia mempercayai Cityneon–perusahaan dari Singapura- untuk mengerjakan desain paviliun dengan tema “Biodiversity” tersebut.

Promosi perdagangan, pariwisata, dan investasi antara Indonesia dan China, di samping menanamkan kebanggaan nasional dalam meraih pengakuan internasional, disebut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebagai motif keikutsertaan Indonesia.

Sementara India menghabiskan dana US$ 50 juta untuk membangun paviliunnya dan berencana mendatangkan 50 bintang Bollywood untuk tampil di Shanghai, dan membawa 2000 artis untuk tour di 40 kota di China.

Amerika Serikat (AS), meski sempat mengalami kesulitan pendanaan, berjuang menyelesaikan paviliunnya dengan anggaran sekitar US$ 61 juta. Sementara Jepang dan Arab Saudi, menghabiskan dana masing-masing US$ 140 juta dan US$ 146 juta untuk mendirikan paviliun mereka.

Namun, dana terbesar tentu saja dikeluarkan China untuk urusan paviliun ini. Dengan dana 2 miliar yuan atau sekitar US$ 292 juta, China ingin menampilkan paviliun yang menonjolkan kebudayaan China dan bangkitnya kepercayaan diri negara tersebut.

Tim yang dipimpin He Jingtang, direktur Arsitektur dan Teknik Sipil dari South China University of Technology, serta tim dari Tsinghua University memenangkan tender yang diikuti 344 arsitek dari seluruh dunia, untuk menggarap desain paviliun China dengan luas lantai sekitar 160.000 meter persegi tersebut. Dibutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan area paviliun China itu sendiri.

Dalam Negeri
Mirip dengan Olimpiade Beijing, Shanghai Expo tak digarap semata untuk mengundang decak kagum dunia, tapi terutama demi menaikkan kepercayaan diri rakyat China sendiri. Dari 70 juta pengunjung yang diperkirakan hadir, mayoritas adalah warga dalam negeri.

China agaknya punya motif untuk menggenjot daya beli rakyatnya, guna menstabilkan pertumbuhan ekonominya. Sudah sejak beberapa waktu lalu, pemerintah gencar menggelontorkan subsidi untuk meningkatkan daya beli rakyat.

China tak mau mempertaruhkan stabilitas ekonominya ketika krisis global saat ini berpengaruh terhadap anjloknya permintaan dari luar negeri.

Hasil rapat ekonomi tahunan Desember 2009 lalu memutuskan bahwa China akan mengubah pola pengembangan ekonomi mereka dan memperbesar permintaan domestik dengan cara menambah konsumsi warga.

Implementasinya adalah dengan menaikkan penghasilan warga dan mendorong urbanisasi. Argumennya, mobilisasi kaum tani secara besar-besaran ke kota akan menyediakan ruang pertumbuhan konsumsi yang relatif besar dan memecahkan kesenjangan antara kota dan desa yang muncul akibat orientasi pertumbuhan ekonomi yang dikejar di tahun-tahun awal modernisasi China.

Joshua Cooper Ramo, Managing Director Kissinger Associates, dalam papernya yang legendaris “Beijing Consensus” menyebut bahwa salah satu “kekuatan” ekonomi China adalah karena mereka tak cukup puas dengan mengukur keberhasilan pertumbuhan Produk Nasional Bruto. Mereka fokus pada kesinambungan dan peningkatan mutu.

Dalam bahasa “Marxian”, mungkin inilah yang dimaksudkan dengan prinsip lompatan, yakni perubahan dari kuantitas ke kualitas.

Kesinambungan ini pula yang membuat kita mestinya tak heran saat di tahun 2008, China mengubah Aturan Perburuhannya dan membuat sejumlah perusahaan multinasional beramai-ramai hengkang. Ini gara-gara aturan tersebut menyebut larangan kerja kontrak–hal yang paling suka dilakukan oleh perusahaan multinasional untuk mengirit ongkos produksi-dan menaikkan gaji standar minimum untuk buruh, serta mewajibkan perusahaan untuk mengizinkan pendirian serikat buruh.

Kesinambungan ini pula yang membuat China agaknya mulai memikirkan “warna kucing” penangkap tikus saat Hu Jintao sebagai orang nomor satu di Partai Komunis China dan panglima tertinggi Tentara Pembebasan Rakyat menginstruksikan kadernya untuk kembali mempelajari sosialisme, melarang mereka main perempuan karena akan memicu lahirnya korupsi, dan menginstruksikan mereka terjun di garda depan saat bencana alam terjadi di mana-mana.

China, dalam istilah Ramo dalam ulasan panjangnya di Times terbaru, adalah negeri yang berjalan dalam kontradiksi. Namun, kontradiksi inilah yang justru membuat China bergerak maju.

Lompatan yang dicapai China adalah karena mereka sepenuhnya percaya bahwa kontradiksi atau dialektika internal-lah yang akan menjadi penentu gerak maju atau mundurnya sebuah bangsa. Sementara itu, kekuatan luar hanya akan menjadi penyelaras.
Keyakinan itu tak berubah sejak tahun 1920-an saat China di bawah PKC menolak rekomendasi Komunisme Internasional; tahun 1970-an saat menetapkan komunike bersama dengan AS; dan awal 1990-an saat dunia terpesona dengan mantra “Washington Consensus.”

Baru-baru ini, dalam pertemuan empat mata dengan Obama, Hu Jintao tegas mengatakan bahwa keputusan soal revaluasi yuan akan ditetapkan berdasarkan kebutuhan ekonomi dan sosial China. Ia juga menekankan bahwa nilai yuan yang kuat tidak akan mengatasi kemelut yang mempengaruhi perekonomian AS yang terbesar di dunia itu.

China, merujuk istilah Ramo, sudah menjadi lawan catur yang seimbang buat AS. Dan daripada sibuk menuding-nuding China sebagai “kambing hitam”, AS agaknya harus mencari strategi lain untuk menyelamatkan ekonominya.

Xi Jinping, mantan orang nomor satu PKC di Shanghai yang juga calon kuat kandidat Presiden China di tahun 2012, dalam lawatannya di Meksiko 2009 lalu, jelas-jelas menyindir kelakuan AS ini.

“Kelihatannya ada orang-orang asing yang perutnya buncit dan tak punya kerjaan lain selain mengacungkan telunjuk,” ujarnya.

Xi Jinping mengatakan, “Pertama, China tak pernah mengekspor revolusi. Kedua, kami tak mengekspor kelaparan atau kemiskinan. Dan ketiga, kami tak pernah menyebabkan kesulitan untuk Anda.”

Kegemasan Xi Jinping agaknya beralasan. Dan kalaupun ada yang diekspor, setelah Shanghai, China akan mengekspor sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan membuat mantra “Washington Consensus” benar-benar harus tutup buku.


Dimuat di Sinar Harapan, 27 April 2010

Read More......