AKU menikahi perempuan itu setahun setelah pacarnya hilang. Tak satu pun orang tahu ke mana laki-laki itu pergi. Beberapa kawan bilang, ia diculik setelah aksi demo buruh, beberapa yang lain bilang ia lenyap setelah menorehkan grafiti di halte bus dekat pos polisi, tapi segelintir yang lain mengatakan sempat melihat ia diseret ke pos tentara, digebukin dan kemudian tanpa kabar. Sebulan setelah ia pergi, surat kabar mengabarkan ia disembunyikan oleh kawan-kawannya sendiri.
Aku, suami dari perempuan yang pernah menjadi pacarnya, hanya tahu bahwa kepergiannya membuatku mesti terjaga sepanjang malam–hampir selama satu tahun— menenangkan isak tangis yang menggema lirih, tertahan, terkadang meledak menjadi sedu sedan di ruang depan sebuah rumah yang dijadikan markas kami setelah sejumlah kawan hilang.
Surat kabar yang selalu memberi corong pada polisi, tentara, cukong, dan pejabat mengatakan markas kami sebagai markas gerakan bawah tanah yang ingin menggulingkan kekuasaaan yang sah. Mendapat dana miliaran rupiah dari luar negeri sehingga kami selalu bisa muncul di kota berbeda dengan waktu cepat, karena punya dana untuk mengendarai pesawat terbang supercepat.
Padahal kenyataannya, kami mesti merampok seorang kawan yang baru mengemis 20 ribu rupiah dari ibunya agar memberi kami makan. Dengan uang itu, belasan perut kelaparan bisa terisi. Kami tersenyum kecut saat ia mengucapkan sumpah serapah, menyadari bahwa itu adalah uang terakhir yang ada dalam kantongnya. Meski sumpah serapah itu terdengar kasar, tapi kami tahu ia tak serius. Aroma solidaritas masih bisa kucium dari ruap tubuhnya, bercampur keringat karena ia tak mandi dua hari.
Jadi, jika kau percaya bahwa kami berpesta pora dengan uang miliaran, hingga bisa menghadiri demo di berbagai ujung kota dengan menumpang pesawat, pasti jalur logika berpikirmu sudah perlu dibenahi. Setidaknya kau butuh rumah sakit jiwa untuk mereparasi otakmu. Sayangnya, sejumlah dokter di rumah sakit tersebut juga memiliki logika sama bobrok. Jadilah, setiap hari, aku mesti menyaksikan gerombolan orang sakit jiwa yang pernyataan mereka dikutip besar-besar oleh wartawan menjadi headline semua media massa, bunyinya : ”Tangkap Para Provokator!”
Stempel ”provokator” ini membuat kami akhirnya tidak beda jauh dengan selebriti. Bedanya, popularitas yang kami terima menjadikan kami membuang energi di jalanan sebagai buronan. Tampang beberapa kawan bahkan kerap nongol di majalah, surat kabar dan layar kaca, disertai narasi tentang aktivitas mereka yang dianggap makar.
Sederet narasi ini kemudian dibubuhi dengan statement pengamat, pakar atau aparat bahwa generasi muda tidak boleh mengikuti jejak mereka, bahwa masyarakat harus membantu petugas menemukan mereka, bahwa hukum akan memperlakukan mereka secara adil.
Sayang, pengalaman bertahun-tahun mengajari kami bahwa semua statement tersebut hanya sandiwara. Kami tahu persis, jika kami menyerahkan diri maka keadilan hukum hanya omong kosong. Pukulan, tendangan, dan setrum listrik adalah upacara kecil yang bakal kami terima dari aparat. Teror fisik dan mental. Jika beruntung, kami bisa keluar dari penjara dalam tempo satu hingga empat tahun. Tapi jika sial, apalagi jika penangkapan itu tak diketahui media, maka nama kami hanya akan tinggal kenangan.
Jadi, begitu ada wajah salah satu kawan yang terpampang di media massa, kami segera mengatur strategi menyembunyikan mereka. Berapa lama persembunyian itu tergantung situasi lapangan. Bisa sebulan, setahun, lima tahun atau lebih lama lagi.
Selama satu sampai tiga bulan pertama persembunyian, kami benar-benar hanya akan berada dalam ruangan tertutup. Tak boleh ada yang menghubungi kami, bahkan orang tua sekalipun. Jika mesti berhubungan dengan dunia luar, kami mesti melakukannya melalui kurir.
Bagi tipe penyendiri seperti aku, masa persembunyian kerap menyenangkan. Aku bisa membaca sepuasku hingga perut terasa mual, menonton film-film bagus berjam-jam dari tumpukan VCD bajakan, menulis sebuah analisis serius atau sekadar hal remeh temeh tentang cinta.
Namun, tentu saja, tidak semua orang adalah tipe penyendiri. Sejumlah kawan tak betah berada dalam ruangan tertutup bahkan hanya untuk waktu satu hari. Tipe kawan seperti inilah yang kerap menguras energi kami. Kami harus melakukan pengawasan ekstra. Lengah sedikit, maka kami hanya akan mengenang namanya.
Pacar istriku adalah jenis seperti ini. Ia sama sekali tak memiliki disiplin. Saat seharusnya ia berada dalam persembunyian, ia malah menelepon kawan lain dan mengemis-ngemis agar bisa bertemu pacarnya, ya istriku itu. Alasannya, sudah tak kuat menanggung rindu. Alasan model begini sering membuatku naik darah karena sama sekali tak rasional dan dibuat-buat.
Asal kau tahu, aku sebenarnya tak mempercayai cinta. Cinta bagiku hanyalah persoalan transformasi kepentingan yang sepenuhnya bisa dikontrol oleh rasionalitas. Jadi, jika rasionalitas pacar istriku itu sedikit saja mau berhitung, maka ia tak perlu melakukan tindakan bodoh itu. Namun toh, ia melakukannya. Dan cerita selanjutnya, aku tak tahu persis. Yang pasti, istriku tak bertemu dengannya usai rengekan itu.
Kawan tersebut lenyap sebelum bisa merealisasikan rengekannya. Setahun setelah itu, aku meminang pacarnya sebagai istriku karena aku tak tahan mendengar isak kehilangan sepanjang malam.
***
”Bagaimana kalau tiba-tiba Tarang kembali?,” tanyaku mendadak pada istriku saat ia tengah mengetik artikel tentang orang hilang. Jemari di atas keyboard komputer itu langsung berhenti dan mata di balik kaca itu menatapku tajam.
”Apa maksudmu?”
”Ya, kalau ternyata memang ia tidak dibunuh, tapi hanya disiksa, kemudian disembunyikan, lalu dilepaskan setelah ditekan untuk tidak mengatakan siapa yang menculiknya.”
”Bagus. Kita beri waktu dia untuk memulihkan fisik dan mentalnya. Setelah itu, pelan-pelan kita ajak bicara hingga si penculik bisa kita seret ke meja hijau dan kondisi kawan-kawan hilang lainnya dapat kita ketahui,” sahut istriku tanpa ekspresi, seolah ia sedang membicarakan seseorang yang tak pernah ia kenal.
Aku tak melanjutkan pertanyaan. Istriku pun seolah ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan itu agar bisa melanjutkan artikel yang akan ia kirim ke koran nasional esok hari.
Aku memang tak mempercayai cinta, tapi ekspresi yang diperlihatkan istriku sempat membuatku bergidik. Bagaimana jika aku menjadi target penculikan berikutnya dan istriku sama sekali tak merasa kehilangan?
Obrolan yang muncul dari keisenganku itu sempat mengendap dalam batok kepalaku selama beberapa hari. Namun kesibukan menyelesaikan tulisan biografi seorang aktivis, sebuah proyek kecil yang mengepulkan asap dapurku, membuat obrolan itu segera terlupakan.
Sampai kemudian seorang kawan mendatangiku suatu senja di bulan Maret, enam tahun setelah kepergian Tarang.
”Tarang kembali Bung, sendirian. Tiga kawan kita lainnya dipastikan mati. Dua dibuang ke kali, satunya dikubur di belakang penjara.”
Pemberitahuan itu benar-benar mengagetkanku. Bukan karena membayangkan siksaan tragis yang mereka terima sebelum mati, tapi karena Tarang muncul lagi dalam kehidupanku, setelah enam tahun.
Aku tak berani membayangkan apa reaksi istriku jika mendengar berita ini. Aku juga tak tahu, apa reaksiku jika berhadapan dengan Tarang. Kuputuskan untuk menemui Tarang sendirian. Aku tak sanggup menemuinya sambil menggandeng bekas pacarnya yang kini menjadi istriku.
Namun sebelum keputusan itu kulakukan, Tarang telah mengetuk pintu rumahku suatu malam, dua pekan setelah pemberitahuan itu.
”Apa kabar, Bung?” sapanya saat kubuka pintu.
Sosok berambut ikal tak banyak berubah. Hanya tampak agak kurus. Mata di balik kaca minus itu masih mewakili kecerdasan intelektual yang memang menjadi daya tariknya. Hanya saja, ia tak lagi memakai kaca mata bulat tanpa bingkai yang dulu sesekali dilepasnya saat kami asyik berdebat. Kini, ia mengenakan kaca mata berbingkai tebal dengan bentuk persegi, membuat wajahnya tampak semakin tirus, namun justru menjadikannya terlihat dewasa dan matang.
Kupeluk sosok itu tanpa mengatakan apa-apa. Perpisahan ini terlalu panjang, sehingga kami kehilangan bahasa untuk mengurai kisah.
Aku menyilakannya duduk di ruang tamu sebelum kuracik dua cangkir kopi. Setidaknya, kopi bisa membunuh kegamangan kami sebelum ia bertemu dengan istriku yang pernah menjadi pacarnya.
Aku tak yakin istriku tak tahu kepulangan Tarang karena ia terlibat penuh selama enam tahun ini dalam advokasi korban penculikan. Namun, ia tak pernah mengatakan apa-apa.
Aku tengah menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi, ketika sedu sedan yang kerap kudengar enam tahun lalu menggema lirih di ruang tamu.
”Maaf, Bung,” ujar Tarang canggung saat melihatku membawa dua cangkir kopi, menatap punggung istriku yang lekat dalam pelukannya. Istriku pasti tak menyangka menemukan Tarang di ruang tamu sekembalinya ia dari rumah orang tuanya.
Aku mengangguk ke arah Tarang. Kuletakkan kedua cangkir itu di meja. Kuambil recehan dari atas televisi di ruang tengah.
”Aku beli rokok sebentar,” kutepuk bahu Tarang dan kuusap rambut istriku. Dadaku sesak, tapi tak ingin kuurai pelukan itu.
***
”Picisan,” umpat istriku persis di belakang telingaku, begitu kuselesaikan baris terakhir cerita pendek itu.
”Aku nggak yakin kau akan berbesar hati seperti itu jika Tarang benar-benar kembali,” ucapnya sambil mengambil sebatang rokok milikku, memutarnya, mencium aromanya dan meletakkannya. Sudah empat tahun ia menghentikan kebiasaan merokok.
Dua tahun setelah kepergian Tarang, ia merelakan paru-parunya digerogoti oleh asap adiktif itu. Tahun ketiga, ia merasa aktivitas itu sia-sia dan begitu saja ia menghentikannya, tanpa kusuruh. Aku sendiri berniat menghentikan kebiasaan buruk ini, tapi selalu gagal. Setiap kali aku merasa otakku mampat, kuambil sebatang sigaret. Menghisapnya, benar-benar membuatku merasa lebih nyaman.
”Bagaimana kalau Tarang benar-benar kembali?” tanyaku mengulang pertanyaan yang kulontarkan dalam cerita pendekku, sebuah pertanyaan yang bercokol terus-menerus di batok kepalaku sejak kunikahi perempuan itu.
”Aku nggak tahu. Tapi sejak kudengar ia hilang enam tahun lalu, aku yakin ia tak akan kembali,” ucapnya lirih. Ditandaskannya sisa kopi dalam cangkir, dibenahinya berkas-berkas advokasi orang hilang.
”Aku tidur duluan, besok pagi harus temani orang ke LBH. Ada laporan orang hilang lagi,” ucap istriku sambil mencium bibirku sekilas.
Dimuat di Sinar Harapan, 18 Mei 2003
Tuesday, May 18, 2010
Ia Tak Pernah Kembali
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment