<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106</id><updated>2012-02-09T14:53:40.162+08:00</updated><category term='Ulasan'/><category term='Analisis'/><category term='Catatan Perjalanan'/><category term='Marx'/><category term='Film'/><category term='Buku'/><category term='Feature'/><category term='Cerpen'/><category term='BMI'/><category term='Kembang Genjer'/><category term='China'/><title type='text'>Fransisca Ria Susanti</title><subtitle type='html'>The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting (Milan Kundera)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>72</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4125188609643385974</id><published>2011-10-02T00:06:00.003+08:00</published><updated>2011-10-02T00:23:28.152+08:00</updated><title type='text'>Amerika Tunggang Langgang</title><content type='html'>Krisis ekonomi memukul negara-negara di Zona Eropa, juga Amerika. Getarannya terasa hingga di negara-negara di kawasan Asia, juga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, negara adidaya yang pasca-Perang Dunia II muncul sebagai polisi dunia, krisis lanjutan ini memperparah krisis yang mereka hadapi setelah ambruknya lembaga-lembaga raksasa keuangan dunia di Bursa Saham Wall Street 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ini melahirkan pertanyaan dan kebimbangan tentang formula tunggal penyelamatan dunia yang dipercayai AS selama bertahun-tahun. Resep demokrasi dan kebijakan ekonomi AS digugat, justru dari dalam negaranya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang bulan September, berita utama (headline) majalah-majalah ekonomi terkemuka cukup pedas menuding. Fortune edisi 5 September mengangkat berita utama “American Idiots”, Bloomberg Businessweek edisi 19-25 September menulis “America isn’t Working” dengan gambar sampul antrean panjang para pencari pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun berita utama Newsweek edisi 19 September bersuara moderat “Let's Just Fix It”, ini sebenarnya juga menunjukkan ada yang “salah” dengan sistem AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penganggur di AS memang meningkat drastis. Setidaknya 14 juta penduduk di AS kini tanpa pekerjaan. Riset terbaru yang dipublikasikan Huffington Post pekan lalu menyebut 25 persen balita di AS hidup dalam kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi yang dilakukan para peneliti dari Carsey Institute di University of New Hampshire ini menunjukkan jumlah anak AS di bawah usia enam tahun yang hidup dalam kondisi miskin meningkat dari 5,7 juta di tahun 2009 menjadi 5,9 juta di 2010. Jumlah anak AS yang dalam kemiskinan telah membengkak 2,6 juta sejak krisis ekonomi mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset berbeda yang dimotori Annie E Casey Foundation yang dipublikasikan sebulan sebelumnya menyebut jumlah anak yang hidup dalam kemiskinan melonjak di 38 negara bagian selama 10 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya jumlah anak miskin ini seiring dengan membengkaknya angka pengangguran di AS dan makin tak seiringnya peningkatan upah pekerja dengan laju inflasi. Badan Sensus AS pertengahan September lalu mengumumkan 46,2 juta penduduk AS hidup dalam kondisi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di New York, tempat di mana Wall Street bermarkas, 2,5 juta penduduknya dalam rentang waktu 2008-2010 tak cukup pangan. Sebuah temuan mengejutkan yang diluncurkan Kementerian Pertanian AS (USDA) pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggang Langgang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS hari-hari ini benar-benar berada dalam situasi yang digambarkan oleh sosiolog Anthony Giddens sebagai “runaway”, tunggang langgang. “…..gelisah, terluka, dan merasa berada dalam cengkeraman yang sulit dikendalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giddens membuat istilah “Runaway World” untuk fenomena globalisasi di mana kemajuan Teknologi Informasi akan membuat manusia “berlari” dalam sebuah sistem ekonomi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengkhawatirkan dampak globalisasi, Giddens saat meluncurkan analisisnya di tahun 2002 percaya bahwa dunia bisa mengatasinya. Giddens agaknya lupa memperhitungkan bahwa new riskiness to risk dari globalisasi bukan semata dampak buruk teknologi terhadap manusia, tapi juga spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spekulasilah yang membuat ekonomi AS terguncang. Jatuhnya Lehman Brothers dan lembaga keuangan raksasa lainnya di tahun 2008 menjadi awal dari krisis berkepanjangan saat ini. Upaya pemerintah untuk “menyelamatkan” pasar dan dampak yang ditimbulkannya berujung pada utang negara yang membengkak menjadi US$ 14,4 triliun per 15 Juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme liberal yang mensyaratkan deregulasi pasar menjadi biang kerok hiruk pikuk di Wall Street. Sejak era Ronald Reagen, AS menolak sistem ekonomi terpusat karena itu identik dengan sosialisme, sistem yang dipakai oleh negara-negara komunis yang menjadi musuh terbesar AS di masa perang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, nyatanya liberalisme ini tak membawa keselamatan apa-apa. Globalisasi yang diancangkan untuk menjadikan liberalisme menjadi plafon tunggal sistem ekonomi dunia, tak lebih dari penyebaran “business model” Amerika Serikat yang “cacat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J Phillip Thompson, Associate Professor of Urban Politics dari Massachusetts Institute of Technology dalam kuliah singkatnya di depan para peserta program IDEAS 3.0 yang diselenggarakan MIT Sloan Management dan United In Diversity di Cambridge, Massachusetts, pertengahan September lalu, mengatakan bahwa “Amerika Serikat survive karena bersandar pada ongkos buruh yang murah dengan mengabaikan hak-hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Buruh-buruh murah ini didapatkan dari negara-negara berkembang, mulai dari Vietnam, Taiwan, India, Indonesia hingga China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua barang produksi, dari sepatu, tekstil, produk elektronik, hingga miniatur patung Liberty diproduksi oleh buruh negara berkembang. Dengan demikianlah mereka bisa berkompetisi di pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di dalam negeri, mereka mengiming-iming penduduk dengan “uang plastik”, kredit tak terbatas, dan segala kemudahan untuk menggenjot konsumsi, tanpa memperhitungkan daya beli sesungguhnya dari penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kredit tak terbayar, dan kredit-kredit macet dijual sebagai surat berharga, kedigdayaan Wall Street runtuh seperti rumah kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes pun marak di AS, dari Wisconsin hingga New York. Di New York, aksi yang berlangsung awal pekan ini di depan markas Wall Street berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi massa yang berlangsung di AS saat ini mengingatkan pada unjuk rasa menuntut penghentian perang di Vietnam. Pemerintah, saat itu, menghentikan perang. Bukan oleh desakan luar negeri, tapi lebih karena tekanan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolumnis New York Times Thomas L Friedman bersama rekannya Michael Mandelbaum baru-baru ini meluncurkan buku That Used to Be Us yang menyebut AS membutuhkan sistem baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika, menurut Friedman, saat ini berada dalam kondisi yang tidak sehat, secara politik maupun ekonomi. Sejumlah kemajuan yang mestinya bisa dicapai AS, dari jaringan kereta api terluas, hingga superkomputer tercanggih, malah dicapai oleh kekuatan yang 30 tahun lalu tak diperhitungkan dan diposisikan sebagai pariah: China!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedman dan sejumlah ahli lainnya menyimpulkan bahwa sistem yang dipakai AS ini sudah aus, bangkrut, tak layak pakai. AS membutuhkan sistem baru. Tapi kemudian pertanyaannya, apa sistem baru itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedman menawarkan bukan China dan bukan AS yang saat ini. Bukan semata-mata mengandalkan pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap semua masalah yang ada, seperti diperlihatkan oleh Partai Demokrat saat ini, juga bukan sepenuh-penuhnya mempercayai bahwa pemerintah adalah biang kerok masalah karena tak memberi kepercayaan besar kepada pasar, seperti ditunjukkan oleh Partai Republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedman menawarkan sebuah jalan tengah. Sebuah sistem politik yang tetap sama, tapi difungsikan secara tepat, dan mendorong aksi kolektif dalam skala besar untuk kepentingan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika usulan Friedman ini terlihat akrab, barangkali karena itu mengingatkan kita pada Deng Xiaoping. “Fatwa” terkenalnya: “Tak peduli kucing hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus” dinilai berhasil “menyelamatkan” China hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti halnya Friedman yang bersikukuh bahwa “penyelamatan” AS harus dimulai dari pencarian “akar” sistem politik yang melahirkannya (baca: demokrasi), China pun survive karena mereka tak pernah melupakan “akar” politiknya (baca: kolektivisme) saat Deng “berfatwa” tentang kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami kembali ”akar” pembentukan negara-bangsa inilah yang agaknya diperlukan, juga oleh Indonesia, agar tak terseret dalam dunia yang tunggang langgang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sinar Harapan, 28 September 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4125188609643385974?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4125188609643385974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4125188609643385974' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4125188609643385974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4125188609643385974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2011/10/krisis-ekonomi-memukul-negara-negara-di.html' title='Amerika Tunggang Langgang'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-7624727166665058790</id><published>2011-01-27T15:54:00.002+08:00</published><updated>2011-01-27T15:58:26.978+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Akhir Perjalanan Mia Bustam</title><content type='html'>JAKARTA – Di kampung kandang, pemakaman asri yang entah kenapa menggunakan bunga plastik sebagai aksesori di atas pusara, se­orang perempuan usia 90 tahun dimakamkan, Senin, 3 Januari lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia juru taman yang hebat. Kawan sealumni saya,” ujar seorang perempuan setengah baya berbaju hitam, menunjuk pada peti yang mulai diturunkan. Seorang frater muda memanjatkan doa, mengantar jiwa menuju kekekalan. Di sebelahnya, terpancang di atas gundukan tanah yang baru digali, bersandar salib kayu baru dengan gurat cat putih di atasnya: Fransiska Emanuela Sasmiati, Lahir 04-06-1920, Meninggal 02-01-2011. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai Mia Bustam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujiati, perempuan berbaju hitam yang berbisik ke saya, tak bercanda saat menyebut Mia sebagai juru taman. Ia hanya mengungkap kenangan tentang “peran” Mia saat berada di Plantungan, penjara perempuan di Cilacap Jawa Tengah, tempat ratusan perempuan yang dituding sebagai kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia –pasca insiden Gerakan 30 September 1965–ditempatkan belasan tahun, tanpa pernah diadili. Mujiati dan Mia adalah bagian dari mereka, sehingga Mujiati menyebut Mia sebagai kawan satu alumni dari Plantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia dipercaya menata taman (saat di Plantungan). Dan taman yang ia tata selalu tampak terawat dan bagus,” kenang Mujiati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mia mencecap dinginnya Penjara Pelantungan, hanya karena keaktifannya di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi budaya ounderbow PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ditangkap dan ditahan di Polres Sleman pada 23 November  1965, persis pada hari ulang tahun anaknya yang ke-3. Sebuah truk tentara datang menjemputnya. Dari Polres Sleman, ia dipindahkan ke Benteng Vredenburg pada pertengahan 1966, lalu menghuni Penjara Wirogunan sampai tahun 1971. Setelah itu berpindah-pindah dari Penjara Pelantungan, Weleri, Kendal, dan terakhir di Penjara Perempuan Bulu, Semarang. Setelah 13 tahun hidup dari penjara ke penjara, Mia dibebaskan pada 27 Juli 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasmiyarsi Sasmoyo, istri wartawan senior Aristides Katoppo, berkisah bagaimana anak-anak Mia harus berpindah pengasuhan antarkerabat karena kepergian sang ibu. Anak sulung Mia, Tedja Bayu, ikut jadi pesakitan dan berakhir dengan dibuang ke Pulau Buru akibat aktivitasnya saat itu di Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Sementara itu, tujuh anak lainnya, sempat diasuh oleh ibu Sasmiyarsi.&lt;br /&gt;“Ibu kemudian meminta saya untuk merawat anak nomor tiga dan empat,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Mimis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimis adalah saudara tiri Mia. Keduanya sama-sama memiliki darah Raden Ngabehi Sasmojo,  namun lahir dari rahim ibu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimis mengenang bagaimana keluarga besar Keraton Mangkunegaran menentang hubungan Mia dengan Sudjojono, pelukis kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, yang kelak dikenal sebagai “bapak pelukis modern Indonesia.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah biru keraton sulit menerima Mia berhubungan dengan seorang lelaki yang hidup di lingkungan keluarga bohemian, komunitas kuli kontrak yang sarat dunia keras dan tak peduli lembaga perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Terpikat Sudjojono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak direstuinya hubu­ng­an Mia dan Sudjojono oleh pihak keluarga juga di­kisahkan oleh Hersri, aktivis Lekra, yang turut terlibat dalam pengerjaan buku memoar Mia, Sudjojono dan Aku (Pustaka Utan Kayu, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mia yang memiliki nama kecil Sasmiya Sasmoyo ini, bukan perempuan yang pantang menyerah. Pertemuannya dengan pelukis berambut gondrong yang pernah terang-terangan memuji kecantikannya di depan sang ayah ini, benar-benar membuatnya jatuh cinta. Di usianya yang ke-23, tak lama setelah perjumpaanya dengan Sudjojono, keduanya pun memutuskan menikah di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjono sangat dikenal dalam kumpulan aktivis seniman. Ia motor penggerak Seniman Indonesia Muda (SIM) dan Lekra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1955, Sudjojono duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, ketika duduk sebagai wakil rakyat inilah Sudjojono justru mengkhianati cinta Mia saat menjalin hubungan dengan penyanyi seriosa Rose Pandanwangi. Ia meminta kebesaran hati Mia untuk dimadu. Namun Mia menolak, terlebih saat kampanye pemilunya, Sudjojono menjanjikan perjuangan hak-hak perempuan, termasuk menentang poligami.&lt;br /&gt;Akibat petualangan cintanya, Sudjojono kemudian tak hanya kehilangan cinta Mia, tetapi juga dipecat dari PKI. Tahun 1959, keduanya resmi berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Mia disahkan menjadi anggota Lekra dalam Kongres di Solo.     Ia kemudian memutuskan menggunakan nama Mia Bustam, bukan lagi Sasmiya Sasmojo. Bustam adalah moyang dari garis ibunya atau ayah dari pelukis besar Sarief Bustaman (Raden Saleh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1964, dalam catatan Hersri Memoar Pulau Buru, Mia pernah memamerkan karyanya bersama perempuan pelukis lainnya, yakni S Ruliyati, Kartika Effendi, dan istri Edy Sunarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut FX Rudy Gunawan, penyunting untuk memoar Mia Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan (VHR dan Spasi, 2008); Mia lebih identik sebagai inspirator aktivis perempuan yang tangguh, ketimbang seorang perupa. “Sikap politiknya  sangat jelas,” ungkap Rudy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketanggguhan Mia memang tiada banding. Ketika pertama kali bertemu lagi de­ngan Tedja Bayu, anak sulungnya, yang baru dibebaskan dari  penjara, Mia hanya berujar  ringan, “Inilah hidup!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman telah menempanya sedemikian rupa menjadi pribadi yang sangat kuat. Kemarin,  saat jasad ibu dari delapan anak, eyang dari 20 cucu, dan eyang buyut dari 11 cicit itu diturunkan ke liang lahat, Tedja Bayu mengucapkan salam perpisahan yang indah. “Selamat Jalan Ibu. Tugas sejarah Ibu sudah selesai. Kami yang akan meneruskannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sinar Harapan, 4 Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-7624727166665058790?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/7624727166665058790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=7624727166665058790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7624727166665058790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7624727166665058790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2011/01/akhir-perjalanan-mia-bustam.html' title='Akhir Perjalanan Mia Bustam'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1949151900954673680</id><published>2010-08-16T20:32:00.003+08:00</published><updated>2010-08-16T20:38:47.949+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Sastra Tionghoa dan Imaji Sebuah Bangsa</title><content type='html'>“Nabi-nabi selalu dihormati oleh semua orang, kecuali masyarakat kampung halamannya.” Pernyataan yang diucapkan oleh Isa Al Masih atau Yesus Kristus saat ditolak di Nazareth, kampung halamannya sendiri, barangkali tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan sastra Tionghoa di Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orde Baru dalam kaca mata sinolog Leo Suryadinata, agaknya paling bertanggung jawab dalam menciptakan jarak antara komunitas Tionghoa dengan Indonesia sebagai entitas se­buah bangsa. Meskipun Belan­da, dalam pandangan sastra­wan Jacob Soemardjo, juga turut terlibat meng­ekal­kan jurang pengotak-ngotakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di masa kepe­mimpinan Soehartolah, tiga soko guru atau pilar utama budaya Tionghoa dihancurkan dengan semena-mena. Pem­berangusan dan pelarangan sekolah, organisasi, serta media Tionghoa menjadikan perkembangan pemikiran soal Tionghoa mandek. Juga menjadikan komunitas Tionghoa–di luar para taipan bisnis—selalu berada di pinggir derap dinamika sebuah bangsa bernama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo Suryadinata, dalam sebuah diskusi tentang sastra Tionghoa di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, akhir pekan lalu, bercerita tentang Huang Dongping atau Oei Tong Pin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huang adalah seorang lelaki Tionghoa totok kelahiran Kalimantan tahun 1923 yang karya-karya sastranya cukup populer di luar negeri. Trilogi novelnya, Di Lautan Tiongkok Selatan, Di Atas Khatulistiwa, dan Di Bawah Panas Terik Matahari, berkisah tentang perkembangan Tiongkok totok di Indonesia. Trilogi yang dikenal sebagai Trilogi Lagu Perantau ini uniknya dicetak dan didistribusikan di Singapura dan Hong Kong serta lebih banyak dibaca komunitas Tionghoa di luar negeri, dibanding di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis dalam bahasa Man­da­rin, karya-karya sastra Yin­hua seperti milik Huang, me­mang kecil pembaca di Indo­nesia. Namun, dalam penilaian Leo Suryadinata, semestinya sastra jenis ini–yang ditulis oleh warga Indo­nesia—diakui juga sebagai sastra Indonesia. Demikian halnya dengan sastra Melayu Tionghoa, karya sastra berbahasa Melayu yang ditulis oleh pengarang Tiong­hoa (mayoritas peranakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, sastra Indonesia identik dengan sastra nasional Indonesia, yakni karya sastra yang ditulis dengan bahasa Indonesia oleh–dalam istilah Leo—pribumi. Sementara jenis karya sastra lain yang ditulis dalam bahasa lokal atau etnis—Sunda, Jawa, dan lan-lain—dikategorikan sebagai sastra daerah. Sastra Melayu Tionghoa, apalagi sastra Yinhua, belum dikategorikan di mana pun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Meninjau Ulang Konsep Bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsep bangsa Indonesia yang ditetapkan di masa lalu agaknya punya andil dalam penafian peran komunitas Tionghoa dari proses bangun sejarah bangsa, termasuk dalam hal sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep bangsa Indonesia di masa lalu hanya memasukkan bangsa—dalam istilah Leo—pribumi, bukan bangsa yang “bhineka”. “Kalau bukan pribumi, bukan bagian integral dari nation Indonesia,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pikir ini mulai berubah saat Soeharto tumbang. Namun tampaknya jejaknya masih terasa sampai sekarang. Masih ada kecurigaan antarkomunitas.&lt;br /&gt;Sebutan pribumi dan nonpribumi yang mungkin diucapkan tanpa prasangka oleh Leo, rasanya tetap aneh di telinga generasi muda Indonesia yang hidup ketika doktrin segregasi Soeharto sudah memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita, sebagai yang pribumi atau nonpribumi, sebagai yang Tionghoa atau non-Tionghoa, agaknya perlu memaknai ulang konsep sebagai bangsa.&lt;br /&gt;Pemikir Tionghoa, Siauw Tiong Djin, dalam ulasannya pernah  menyebut bagaimana tokoh-tokoh Tionghoa di masa lalu, seperti Liem Koen Hian, Tan Ling Djie, dan Tjoa Sik Ien yang mendirikan Partai Tionghoa Indonesia di tahun 1932, serta  Badan Permusyawaratan Kewarganeraan Indonesia (Baperki), punya peran cukup besar dalam membangun nation Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melawan arus utama di kalangan komunitas Tionghoa yang cenderung berkiblat ke Tiongkok atau ke Belanda. Mereka beranggapan bahwa komunitas Tionghoa yang sudah bergenerasi di Indonesia harus menerima Indonesia sebagai tanah airnya dan menjadi bagian nation Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengukur loyalitas pada nation ini kemudian tak semata hanya “meminta” negara (state) untuk “menerima” eksistensi mereka, tapi juga terlibat dalam denyut pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PTI di masa lalu, melalui harian Matahari dan Sin Tit Po menyebarluaskan dukungan terhadap nasionalisme dan gerakan kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Baperki membikin formula kebijakan ekonomi untuk membuat semua modal domestik dikerahkan guna kepentingan pembangunan ekonomi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merindukan orang-orang dengan keyakinan teguh seperti itu. Nation atau bangsa pada akhirnya, dalam istilah Soekarno, adalah  sesuatu yang nyata dan konkret. “Lebih konkret dari kehadiran pasukan, lebih konkret dari kota-kota, lebih konkret dari pertambangan-pertambangan.  Ia lebih konkret dari kita karena sudah hadir di zaman ayah kita dan akan terus hadir di zaman anak-anak kita. Ia adalah sebuah ide, sebuah imajinasi, sebuah semangat, dan sebuah seni,” demikian Soekarno mengatakannya di tahun 1956.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sinar Harapan, 10 Agustus 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1949151900954673680?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1949151900954673680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1949151900954673680' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1949151900954673680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1949151900954673680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/08/sastra-tionghoa-dan-imaji-sebuah-bangsa.html' title='Sastra Tionghoa dan Imaji Sebuah Bangsa'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-915320866759777400</id><published>2010-07-15T22:39:00.004+08:00</published><updated>2010-07-15T22:48:38.928+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Polisi, Korupsi, dan Negara yang Bimbang</title><content type='html'>MAJALAH Tempo edisi pekan terakhir Juni 2010 hilang dari pasaran. Setidaknya itu terjadi di kawasan Lenteng Agung pada Senin (28/6) lalu. Sang penjual mengatakan majalah itu habis diborong. Tak disebut siapa yang memborongnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sore harinya, turun berita bahwa polisi ber­pakaian preman memborong lebih dari 2.000 eksemplar majalah tersebut di tiga agen distribusi di kawas­an Harmoni. Di Pasar Minggu, minimnya stok majalah membuat pengecer berani me­naik­kan harga dari Rp 27.000 menjadi Rp 40.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Tempo kemudian memutuskan untuk mencetak ulang majalah yang laporan utamanya mengangkat aliran dana mencurigakan yang mengalir dalam pundi-pundi rekening para perwira tinggi kepolisian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah data yang dipaparkan mengingatkan kita pa­da Wen Qiang. Seorang mantan Wakil Kepala Polisi di Chongqing, China. Ia dituding menerima suap hingga 16 juta yuan atau sekitar Rp 21 miliar dari anggota mafia yang dibe­rikan perlindungan hukum saat Wen menjabat sebagai direktur di Biro Kehakiman Daerah Istimewa Chongqing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah vila mewah di kawasan Wulong senilai 30 juta yuan atau sekitar Rp 40 miliar dimiliki Wen dari pemberian seorang pejabat lokal dan seorang pengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadilan kemudian membuktikan Wen bersalah, mes­ki­pun selama persidangan Wen membela diri bahwa sebagian besar uang yang ia terima ada­lah bingkisan Hari Raya Tahun Baru dan hadiah ulang tahun untuknya. April 2010, lelaki usia 55 tahun yang juga terbukti melakukan pemer­ko­sa­an mahasiswi di tahun 2007 dan 2008 itu, akhirnya divonis mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wen bukan satu-satunya. Penyuapan di jajaran kepolisian melibatkan banyak personel, dari pangkat terendah hingga perwira tinggi. Dua bulan sebelumnya, mantan Kepala Kepolisian Peng Changjian dihukum penjara seumur hidup. Dia didakwa melindungi kelompok-kelompok ”bergaya mafia” di Kota Chongqing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 3.300 orang telah ditangkap sebagai bagian dari kampanye yang dipimpin ketua partai komunis setempat, Bo Xilai, untuk menumpas organisasi kriminal dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah setempat ke­mudian memutuskan melaku­kan perombakan besar-besar­an dalam jajaran kepolisian mereka. Pertengahan Maret lalu, sekitar 3.000 perwira polisi di Chongqing diharuskan melamar kembali jika masih ingin bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta tentang Chongqing dan data tentang aliran dana tak jelas di rekening para perwira polisi di Tanah Air menunjukkan bahwa “penyuapan” merupakan fenomena yang jamak. Tak hanya di Indonesia dan China, tetapi juga di berbagai belahan dunia, terutama di negeri-negeri yang pertumbuhan ekonominya menjadi satu-satunya target yang ingin diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei Transparency International tahun 2007 menunjukkan: satu dari 10 orang di seluruh dunia harus membayar suap untuk mendapatkan pelayanan publik. Praktik suap secara khusus menyebar dalam interaksi dengan polisi, lembaga peradilan, dan lembaga pelayanan perizinan. Publik percaya bahwa partai politik, parlemen, polisi, dan lembaga peradilan adalah institusi paling korup dalam negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan itu juga menyebutkan: satu dari empat ang­gota masyarakat di dunia yang pernah berhubungan langsung dengan polisi di­mintai uang pelicin, dan satu dari enam orang mengaku pada akhirnya mereka membayar suap.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tunduk pada Modal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomena korupsi dan suap ini jelas bukan semata urusan moralitas. Deregulasi liberalisasi modal yang gencar dilakukan Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir punya peran besar dalam membiakkan fenomena tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target pertumbuhan ekonomi yang masif membuat negara bersikap sangat kompromistis dan hampir semua lembaga negara dibuat lumpuh dan tunduk pada kekuasaan pemilik modal.&lt;br /&gt;Kekuasan modal punya kekuatan besar untuk mendikte aparatur negara dan menyebabkan penegakan hukum menjadi mandul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China juga tanpa pengecualian untuk hal ini. Meski sejarah korupsi di Negeri Tirai Bambu tersebut berlangsung sejak zaman Dinasti Zhou (1027-771 SM), namun awal reformasi ekonomi tahun 1979 membuka peluang jenis korupsi baru yang lebih masif saat pertumbuhan ekonomi menjadi target dan negara (baca: partai) memberi keleluasaan setiap orang untuk menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya kemudian, resep pertumbuhan ekonomi dari mantra Washington Consensus yang dirujuk habis-habisan oleh Indonesia sejak tahun 1968 tak dilakukan oleh China.&lt;br /&gt;China punya resep sendiri yang membuatnya bisa berkelit untuk tak terseret dalam pusaran balik dari gelombang yang menargetkan pertumbuhan ekonomi semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuatnya bertahan dari badai korupsi yang bisa menggerus dan menghancurkan pencapaian pertumbuhan yang terjadi selama ini. Joshua Cooper Ramo, seorang analis asal Amerika Serikat, menyebutkan resep “khusus” itu sebagai Beijing Consensus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan sebuah resep di mana pemerataan menjadi langkah segera yang mesti dilakukan begitu pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan hasil. Akan tetapi, yang pasti, “sebuah tangan besi” yang berani menolak dikte juga diperlukan untuk menjaga ritme ini.&lt;br /&gt;Di Chongqing mereka memiliki Bo Xilai, mantan Menteri Perdagangan yang tahu persis bagaimana memanfaatkan kampanye anti-korupsi untuk melapangkan proyek pemerataan dari pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Beijing, mereka memiliki Hu Jintao yang bertangan dingin saat membersihkan klik Shanghai di awal pemerintahannya, segera setelah menggantikan posisi Jiang Zemin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, orang nomor satu di Partai Komunis China ini menyerukan para kadernya untuk menghindari untuk main perempuan guna menghindari “gairah” korupsi. Ini lebih karena kesadaran bahwa korupsi adalah penyakit yang bisa menggerogoti ideologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini merupakan kesadaran bahwa  kesempatan menjadi kaya yang diberikan di awal reformasi ekonomi mesti disertai dengan upaya untuk mengerem diri agar tak menjadi bumerang yang meluluhlantakkan pencapaian yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Indonesia masih jauh dari kesadaran ini. Alih-alih melihat apa yang sebenarnya terjadi, pemerintah sibuk berganti peran untuk menyenangkan semua pihak dan membiarkan negara makin lama makin tak punya nyali untuk membela kedaulatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 30 Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-915320866759777400?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/915320866759777400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=915320866759777400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/915320866759777400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/915320866759777400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/07/polisi-korupsi-dan-negara-yang-bimbang.html' title='Polisi, Korupsi, dan Negara yang Bimbang'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2318323090438412579</id><published>2010-05-18T17:20:00.001+08:00</published><updated>2010-05-18T17:25:08.224+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki Beraroma Wangi</title><content type='html'>AKU menemukan jejak masa lalu, di kota dengan langit berwarna ungu. Malam itu, dalam acara pesta selamat datang, aku mengenal seseorang dengan kemiripan sesempurna dirimu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu datang ketika acara berlangsung setengah jalan. Tak ada yang istimewa, kecuali ia memaksakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Seorang mahasiswa pascasarjana yang terpesona dengan proses demokrasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di depannya, menikmati bahasa Indonesianya yang terbata dan gaya santunnya saat mendengar lawan bicara. Sesekali, seperti menyesali, ia melafalkan bahasa Inggris untuk deret kalimat yang sulit ia maknai. ”Padahal sudah satu tahun, saya di Indonesia,” ujarnya dengan nada minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memiliki sosokmu, tubuh kurus dan wajah tirus. Sementara kacamata yang bertengger di wajah itu, benar-benar membuatnya serupa denganmu. Namun bukan itu yang membuatku terkesima. Gaya bicaranya, ya gaya bicaranya adalah khas milikmu. Caranya membuat jeda pembicaraan, antusiasmenya saat melontarkan wacana, dan kibasan tangan saat mencoba mempengaruhi lawan bicara. Satu-satunya yang membedakan ia denganmu adalah ia tidak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ia melakukan kebiasaan yang merusak paru-paru itu, aku yakin ia akan memiliki gaya merokokmu, terlebih bila ia menyukai kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau mengingatkanku pada seorang kawan lama,” ucapku sedikit bergumam, membuat mata itu berpijar sekilas. Aku benar-benar tak bisa menahan debar di dada kiriku yang mendadak memompa darahku lebih cepat ke segenap pembuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksmi dan Pandu yang sejak tadi asyik ngobrol dengannya sontak berhenti dengan omonganku. ”Siapa?” tanya Pandu dengan sorot penuh selidik. Aku enggan menjawab dan kurasa tak perlu, meski aku tahu Pandu dan Laksmi mengenalmu dengan baik.&lt;br /&gt;Laksmi memegang lenganku sekilas, mencoba memahami jalan pikiranku, tapi aku tahu upayanya ini tidak berhasil. Aku betul-betul ingin menyimpan sendirian kenangan tentangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau ke laut?” mendadak Krisna menepuk bahuku dari belakang. Sebagai nyonya rumah, keramahan perempuan India ini menyentuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Malam-malam begini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Malam di sini lebih menyenangkan. Kalian akan hirup udara laut luar biasa di waktu malam. Hanya saja, kau perlu jaket double karena di luar dingin sekali,” ujarnya kembali menepuk bahuku. ”Tapi ini ajakan khusus untuk perempuan,” ujarnya sambil mengerling ke suaminya, Bennedict, tuan rumah yang menekuni studi politik Indonesia sejak 30 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisna sendiri hanya empat tahun tinggal di Yogyakarta untuk mengikuti suaminya yang berdarah Yahudi itu, tapi lafal Indonesia Krisna nyaris sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin di luar benar-benar membuatku tak ingin beranjak dari ruang yang sudah mulai hangat ini, terlebih dengan sekaleng bir yang berhasil menghangatkan badanku, setelah melahap nasi kare, masakan khas India yang lebih legit dari kare Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ajakan Krisna yang sedikit memaksa ini, tak bisa kami tolak. Enam perempuan, termasuk Krisna, yang berada di ruangan itu langsung beranjak dari kursi dan mengikuti ajakan Krisna. ”Ok, guys, that’s ladies night. We’ll leave you for a while,” teriak Krisna sambil berjalan ke arah pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut muka Pandu langsung cerah begitu Laksmi dan aku beranjak darinya. Dia seolah lega karena bisa meneruskan obrolan politiknya, tanpa terinterupsi oleh aku atau Laksmi yang kerap menganggap analisis Pandu terlalu parsial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun wajah tirus itu, sosok yang nyaris memiliki semua kemiripanmu, melemparkan pandang kehilangan yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Pandangan sama yang pernah kau arahkan padaku, delapan tahun lalu. Teriakan Krisna seperti mengambang di pintu keluar, sementara jaket kedua yang kuambil dari balik pintu seperti butuh waktu berjam-jam untuk mengenakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata itu, aku yakin hanya tertuju padaku saat kukenakan jaket kedua itu, membelakangi pintu, membuatku menatap pandang kehilangannya dalam hitungan sepersekian detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menengok ke arah pintu dari balik bahunya dan pandangan itu menyisakan debar tak berkesudahan saat aku sudah berada di dalam mobil, saat Krisna mendongeng soal nasi padang yang bisa ditemui di sepanjang Fremantle, bahkan saat kami menyaksikan seorang laki-laki mandi di laut di bawah sinar bulan dalam suhu 4 derajat Celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cinta itu muncul melalui proses, bukan lewat pandangan pertama kayak roman-roman kaum borjuis,” ujarmu saat itu. Dan aku mengamininya karena tidak ingin berdebat panjang denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku memang mencintaimu lewat proses. Melewati ribuan jam dan ratusan hari, sebelum mendadak kusadari semua gerak tubuhmu membuatku terpukau. Bahkan wangi tubuhmu yang tersisa di bantal kursi duduk pun membuat jantungku berdegup lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, setiap pertemuan denganmu adalah rasa demam di seluruh badan dan degup jantung ekspres yang memerahkan pipi. Setelah delapan tahun kepergianmu, aku masih ingat semua detail tentangmu. Tak pernah kusimpan fotomu, tak juga notulensi yang mencatat idemu, bahkan kuhilangkan seluruh coretan kegelisahanmu yang sering kau sisipkan di bukuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah badai yang memporakporandakan itu, sedikit pun tak ingin kusimpan jejakmu. Namun ironisnya, kau seperti hantu yang bisa muncul dalam berbagai wujud. Senyummu muncul pada masinis kereta yang setiap pagi nekad membukakan pintu kabin untukku di stasiun yang seharusnya ia tak boleh berhenti. Gaya bicaramu menular pada seorang aktivis LSM lingkungan yang entah mengapa selalu mengundangku, meski aku tak lagi menangani desk lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tatap matamu muncul pada seorang kawan yang tak pernah bosan mengajakku minum kopi setiap sore dan berpikir aku mencintainya dengan mencoba memaknai binar mataku setiap kali bersiborok pandang dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, setelah delapan tahun kepergianmu, sosokmu kembali muncul pada Nick, lelaki bule itu. Kali ini, ia mempresentasikan seluruh sosokmu, kecuali darah yang mengalir di tubuhnya dan ras yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;LANGIT itu berwarna ungu, betul-betul ungu, seperti sapuan kuas yang dibuat tergesa. Aku masih memandangi dengan takjub, meski rasa dingin mulai menembus jaket parasut. Di depanku, Laksmi menjepretkan kameranya berulang-ulang. Ia bahkan semakin asyik saat warna ungu itu berubah merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepretan itu berhenti saat cahaya yang terpancar terlalu lemah tertangkap kamera. Seolah tak terima dengan keadaan itu, ia masih terpaku di tepi danau itu lama-lama. Cahaya lampu yang memancar dari gedung pencakar langit di seberang danau adalah keindahan pengganti. Sayang, Laksmi menggunakan film ber-ASA rendah. Kesal dengan kondisi itu, ia berjalan menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau jalan-jalan sebentar ke dermaga?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusambut ajakan Laksmi, setelah kumatikan api rokok dan menaikkan penutup kepala. Hembusan angin betul-betul membuat tubuh menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau sudah bilang Nick, kalau pulang besok?” tanya Laksmi sambil menyeruput capuccino yang disajikan kafe dekat dermaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugelengkan kepalaku. Aku tak cukup kuat untuk menatap pandang kehilangan Nick, meski aku tahu kepergianku tanpa pamit akan mengecewakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir enam bulan aku di Perth, ikut pendidikan singkat jurnalistik yang digelar sebuah Universitas terkemuka di sini. Dari Indonesia, ada tiga jurnalis yang ikut, aku, Pandu dan Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama rentang itu pula, komunikasiku dengan Nick juga intens. Proses membawaku dekat dengannya. Semua karena jejakmu yang kutemukan padanya. Aku hampir membangun komitmen dengannya saat mendadak The Age memuat fotomu di halaman depan, sebuah kabar dari Jakarta: kau telah ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon di apartemenku pun berdering puluhan kali, dari Jakarta, dari Yogya. Semua tentang beritamu. Ada yang bertanya, ada yang mengucapkan proficiat seolah aku adalah orang pertama yang kau jumpai setelah kemunculan itu. Tapi aku sama sekali tak menerima telepon darimu. Email-ku pun kebanjiran pesan, semua tentang hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhubungi Jakarta hari itu juga, 30 menit setelah kubaca The Age, namun kabar di Jakarta masih simpang siur. Kuulang lagi telepon hingga empat kali ke Jakarta hari itu, kabar tak juga pasti. Tak sabar kutunggu pagi dan akhirnya kudapat informasi pasti, kau telah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung harus bersikap apa. Aku tak tahu harus bersedih atau bahagia. Setelah delapan tahun, bagaimana aku harus bersikap terhadapmu. Seharian itu, kuliah Krisna sama sekali tak masuk ke otakku, analisisnya yang kerap menggelitik hanya mengapung di udara. Ajakan Nick untuk motret di pelabuhan tua Fremantle tidak kutanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tak tahan melihat kesedihanmu,” ucap Nick di atas ferry, sepulang dari kampus. Ah, Nick. Perhatian kecilnya itu yang membedakan ia denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat detak jantungmu menemukanku, kau bahkan enggan menunjukkannya. Kau tak pernah menatap mataku lebih dari tujuh detik, kau ambil jarak agak jauh denganku setiap kali kawan-kawan memergoki kita sedang ngobrol berdua. Sesekali, saat kawan-kawan tak peduli dengan keberadaan kita, kau akan menanyakan hal remeh padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah kau saat aksi damai kita digebuk tentara? Sandalku terinjak tentara dan tercecer di jalanan saat sang komandan memerintahkan pembubaran aksi. Kita lari tunggang langgang ke dalam kampus. Dan saat aku masih panik menghitung berapa kawan yang tertangkap, kau malah menanyakan kacamataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sengaja tak memakainya,” ujarku sedikit gemas dengan perhatianmu yang tak tepat waktu itu. Sementara saat aksi kejar-mengejar itu selesai dan kawan-kawan duduk di atas rumput sambil menyeruput es teh yang dipesan berombongan dari kantin kampus, kau malah sengaja duduk jauh-jauh dari aku. Ah, kau. Bagaimana mungkin perasaan itu kau pikir bisa kau simpan sendirian. Kau menyimpannya sendiri, hingga kau pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kawan-kawan bukannya tak tahu hal ini. Mereka cukup tahu diri untuk tak mengulang kisah tentangmu di depanku setelah hura-hura yang menghilangkanmu itu. Mereka juga yang menyimpan tangisku semalaman saat menemukan kacamatamu tertinggal di kamar kost dengan retak bekas pukulan. Ah, kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Nick membanjiriku dengan seluruh perhatian yang jarang kuterima dirimu. Dia menyebutku sebagai soulmate di bulan pertama perkenalan kami. Ia berani menatap mataku lebih dari sepuluh detik. Ia menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang kebetulan jatuh di bulan ketigaku di sini. Ia juga yang menghadiahiku buku yang kusebut selintas saat perjalanan kami ke bursa buku di Subiaco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan esok, aku harus meninggalkan seluruh perhatian itu. Menurut jadwal, kursus singkat ini baru akan berakhir pekan depan. Namun aku diizinkan pulang sepekan lebih awal, setelah kepada Ben dan Krisna, aku ceritakan apa yang terjadi. Aku tak tahu apakah Nick tahu hal ini, juga dengan majunya jadwal pulangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tadi ke Subiaco. Sebenarnya aku tak berniat ke sana. Aku mau ke Fremantle, ada beberapa bangunan tua yang ingin kupotret. Tapi preman di atas bus mengagetkanku dan aku lari turun di Subiaco,” kataku pada Laksmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subiaco adalah tempat di mana Nick tinggal. Entah mengapa, setelah turun di halte itu, aku tak berniat melanjutkan perjalanan ke Fremantle. Aku menyusuri jalan hingga ke Subiaco Square. Box telepon membuatku berniat menghubungi Nick. Tapi kemudian niat itu kuurungkan. Biarlah, kusisakan kenangan di kota dengan langit warna ungu ini, seperti monumen yang dibangun di setiap persimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih seperti dulu, delapan tahun setelah kepergianmu. Hanya kini kau tampak lebih rapi dan wangi. Cara bicaramu juga merupakan sisa masa lalu, hanya kini kau tak lagi meledak-ledak. Kau bahkan bertutur seperti seorang pengamat, bukan lagi pelaku politik. Deretan teori yang kau lontarkan, hasil comotan dari para akademikus, membuat argumenmu tampak sulit dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah kau, saat mengkhawatirkanku menjadi eklitis gara-gara kubaca buku dari semua aliran? Aku marah saat itu karena menganggap kekhawatiranmu berlebihan dan bentuk pengekangan kebebasan berpikir. Namun kesabaranmu menjelaskan kekhawatiranmu mampu meluluhkanku. Kau menjelaskannya dengan duduk bersila, di rumah yang tak pernah menyediakan kursi dan ditemani secangkir kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di depanku, kau duduk bersama pembicara dalam ruang diskusi dengan baju rapi dan beraroma wangi. Aku tak tahu apakah aku masih kau kenali, saat matamu menatapku sepersekian detik di pintu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gagalkan rencana menemuimu begitu pulang dari Perth, setelah kudengar cerita dari beberapa kawan bahwa kau berkompromi dengan para politisi. Penyiksaan di kamp penculikan meluluhkan nyalimu. Kau sepakati pergi ke luar negeri untuk menjadi peneliti. Buku dan studi adalah hal yang paling kau sukai. Dan kemudian kau pulang dengan gelar akademisi, padahal bertahun-tahun kami menganggapmu hilang dan mati. Hampir setiap tahun kami melakukan aksi advokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ibu kami berjalan di Bundaran HI, mengadakan aksi menggugat para politisi karena yang hilang dan mati di negeri ini jumlahnya banyak sekali. Namun kau melenggang ke luar negeri tanpa mengabari kami dan kini pulang berkotbah soal demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari ini, aku terpaksa menemuimu karena kolom di koranku membutuhkan sosokmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa kabar, Padma?” sapamu tanpa emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik. Kau kini wangi sekali,” ujarku singkat. Kemudian kusodorkan recorder, merekam kotbah demokrasimu sambil merasakan debar itu menyusut pelahan. Jantungku berdetak dalam hitungan normal dan tak satu pun kenangan tentangmu melintas dalam kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok, koranku terbit pagi dengan headline: Aktivis Prodemokrasi Setuju Rekonsiliasi. Di atasnya, upper deck bertuliskan: Peristiwa Penculikan Dapat Dipahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 25 September 2004&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2318323090438412579?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2318323090438412579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2318323090438412579' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2318323090438412579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2318323090438412579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/05/lelaki-beraroma-wangi.html' title='Lelaki Beraroma Wangi'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5694210442759177927</id><published>2010-05-18T17:14:00.002+08:00</published><updated>2010-05-18T17:17:18.254+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ia Tak Pernah Kembali</title><content type='html'>AKU menikahi perempuan itu setahun setelah pacarnya hilang. Tak satu pun orang tahu ke mana laki-laki itu pergi. Beberapa kawan bilang, ia diculik setelah aksi demo buruh, beberapa yang lain bilang ia lenyap setelah menorehkan grafiti di halte bus dekat pos polisi, tapi segelintir yang lain mengatakan sempat melihat ia diseret ke pos tentara, digebukin dan kemudian tanpa kabar. Sebulan setelah ia pergi, surat kabar mengabarkan ia disembunyikan oleh kawan-kawannya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, suami dari perempuan yang pernah menjadi pacarnya, hanya tahu bahwa kepergiannya membuatku mesti terjaga sepanjang malam–hampir selama satu tahun— menenangkan isak tangis yang menggema lirih, tertahan, terkadang meledak menjadi sedu sedan di ruang depan sebuah rumah yang dijadikan markas kami setelah sejumlah kawan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar yang selalu memberi corong pada polisi, tentara, cukong, dan pejabat mengatakan markas kami sebagai markas gerakan bawah tanah yang ingin menggulingkan kekuasaaan yang sah. Mendapat dana miliaran rupiah dari luar negeri sehingga kami selalu bisa muncul di kota berbeda dengan waktu cepat, karena punya dana untuk mengendarai pesawat terbang supercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kenyataannya, kami mesti merampok seorang kawan yang baru mengemis 20 ribu rupiah dari ibunya agar memberi kami makan. Dengan uang itu, belasan perut kelaparan bisa terisi. Kami tersenyum kecut saat ia mengucapkan sumpah serapah, menyadari bahwa itu adalah uang terakhir yang ada dalam kantongnya. Meski sumpah serapah itu terdengar kasar, tapi kami tahu ia tak serius. Aroma solidaritas masih bisa kucium dari ruap tubuhnya, bercampur keringat karena ia tak mandi dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika kau percaya bahwa kami berpesta pora dengan uang miliaran, hingga bisa menghadiri demo di berbagai ujung kota dengan menumpang pesawat, pasti jalur logika berpikirmu sudah perlu dibenahi. Setidaknya kau butuh rumah sakit jiwa untuk mereparasi otakmu. Sayangnya, sejumlah dokter di rumah sakit tersebut juga memiliki logika sama bobrok. Jadilah, setiap hari, aku mesti menyaksikan gerombolan orang sakit jiwa yang pernyataan mereka dikutip besar-besar oleh wartawan menjadi headline semua media massa, bunyinya : ”Tangkap Para Provokator!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stempel ”provokator” ini membuat kami akhirnya tidak beda jauh dengan selebriti. Bedanya, popularitas yang kami terima menjadikan kami membuang energi di jalanan sebagai buronan. Tampang beberapa kawan bahkan kerap nongol di majalah, surat kabar dan layar kaca, disertai narasi tentang aktivitas mereka yang dianggap makar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet narasi ini kemudian dibubuhi dengan statement pengamat, pakar atau aparat bahwa generasi muda tidak boleh mengikuti jejak mereka, bahwa masyarakat harus membantu petugas menemukan mereka, bahwa hukum akan memperlakukan mereka secara adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pengalaman bertahun-tahun mengajari kami bahwa semua statement tersebut hanya sandiwara. Kami tahu persis, jika kami menyerahkan diri maka keadilan hukum hanya omong kosong. Pukulan, tendangan, dan setrum listrik adalah upacara kecil yang bakal kami terima dari aparat. Teror fisik dan mental. Jika beruntung, kami bisa keluar dari penjara dalam tempo satu hingga empat tahun. Tapi jika sial, apalagi jika penangkapan itu tak diketahui media, maka nama kami hanya akan tinggal kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begitu ada wajah salah satu kawan yang terpampang di media massa, kami segera mengatur strategi menyembunyikan mereka. Berapa lama persembunyian itu tergantung situasi lapangan. Bisa sebulan, setahun, lima tahun atau lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu sampai tiga bulan pertama persembunyian, kami benar-benar hanya akan berada dalam ruangan tertutup. Tak boleh ada yang menghubungi kami, bahkan orang tua sekalipun. Jika mesti berhubungan dengan dunia luar, kami mesti melakukannya melalui kurir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi tipe penyendiri seperti aku, masa persembunyian kerap menyenangkan. Aku bisa membaca sepuasku hingga perut terasa mual, menonton film-film bagus berjam-jam dari tumpukan VCD bajakan, menulis sebuah analisis serius atau sekadar hal remeh temeh tentang cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tentu saja, tidak semua orang adalah tipe penyendiri. Sejumlah kawan tak betah berada dalam ruangan tertutup bahkan hanya untuk waktu satu hari. Tipe kawan seperti inilah yang kerap menguras energi kami. Kami harus melakukan pengawasan ekstra. Lengah sedikit, maka kami hanya akan mengenang namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar istriku adalah jenis seperti ini. Ia sama sekali tak memiliki disiplin. Saat seharusnya ia berada dalam persembunyian, ia malah menelepon kawan lain dan mengemis-ngemis agar bisa bertemu pacarnya, ya istriku itu. Alasannya, sudah tak kuat menanggung rindu. Alasan model begini sering membuatku naik darah karena sama sekali tak rasional dan dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kau tahu, aku sebenarnya tak mempercayai cinta. Cinta bagiku hanyalah persoalan transformasi kepentingan yang sepenuhnya bisa dikontrol oleh rasionalitas. Jadi, jika rasionalitas pacar istriku itu sedikit saja mau berhitung, maka ia tak perlu melakukan tindakan bodoh itu. Namun toh, ia melakukannya. Dan cerita selanjutnya, aku tak tahu persis. Yang pasti, istriku tak bertemu dengannya usai rengekan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan tersebut lenyap sebelum bisa merealisasikan rengekannya. Setahun setelah itu, aku meminang pacarnya sebagai istriku karena aku tak tahan mendengar isak kehilangan sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana kalau tiba-tiba Tarang kembali?,” tanyaku mendadak pada istriku saat ia tengah mengetik artikel tentang orang hilang. Jemari di atas keyboard komputer itu langsung berhenti dan mata di balik kaca itu menatapku tajam.&lt;br /&gt;”Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, kalau ternyata memang ia tidak dibunuh, tapi hanya disiksa, kemudian disembunyikan, lalu dilepaskan setelah ditekan untuk tidak mengatakan siapa yang menculiknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagus. Kita beri waktu dia untuk memulihkan fisik dan mentalnya. Setelah itu, pelan-pelan kita ajak bicara hingga si penculik bisa kita seret ke meja hijau dan kondisi kawan-kawan hilang lainnya dapat kita ketahui,” sahut istriku tanpa ekspresi, seolah ia sedang membicarakan seseorang yang tak pernah ia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak melanjutkan pertanyaan. Istriku pun seolah ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan itu agar bisa melanjutkan artikel yang akan ia kirim ke koran nasional esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tak mempercayai cinta, tapi ekspresi yang diperlihatkan istriku sempat membuatku bergidik. Bagaimana jika aku menjadi target penculikan berikutnya dan istriku sama sekali tak merasa kehilangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan yang muncul dari keisenganku itu sempat mengendap dalam batok kepalaku selama beberapa hari. Namun kesibukan menyelesaikan tulisan biografi seorang aktivis, sebuah proyek kecil yang mengepulkan asap dapurku, membuat obrolan itu segera terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian seorang kawan mendatangiku suatu senja di bulan Maret, enam tahun setelah kepergian Tarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tarang kembali Bung, sendirian. Tiga kawan kita lainnya dipastikan mati. Dua dibuang ke kali, satunya dikubur di belakang penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitahuan itu benar-benar mengagetkanku. Bukan karena membayangkan siksaan tragis yang mereka terima sebelum mati, tapi karena Tarang muncul lagi dalam kehidupanku, setelah enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berani membayangkan apa reaksi istriku jika mendengar berita ini. Aku juga tak tahu, apa reaksiku jika berhadapan dengan Tarang. Kuputuskan untuk menemui Tarang sendirian. Aku tak sanggup menemuinya sambil menggandeng bekas pacarnya yang kini menjadi istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum keputusan itu kulakukan, Tarang telah mengetuk pintu rumahku suatu malam, dua pekan setelah pemberitahuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa kabar, Bung?” sapanya saat kubuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok berambut ikal tak banyak berubah. Hanya tampak agak kurus. Mata di balik kaca minus itu masih mewakili kecerdasan intelektual yang memang menjadi daya tariknya. Hanya saja, ia tak lagi memakai kaca mata bulat tanpa bingkai yang dulu sesekali dilepasnya saat kami asyik berdebat. Kini, ia mengenakan kaca mata berbingkai tebal dengan bentuk persegi, membuat wajahnya tampak semakin tirus, namun justru menjadikannya terlihat dewasa dan matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupeluk sosok itu tanpa mengatakan apa-apa. Perpisahan ini terlalu panjang, sehingga kami kehilangan bahasa untuk mengurai kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyilakannya duduk di ruang tamu sebelum kuracik dua cangkir kopi. Setidaknya, kopi bisa membunuh kegamangan kami sebelum ia bertemu dengan istriku yang pernah menjadi pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak yakin istriku tak tahu kepulangan Tarang karena ia terlibat penuh selama enam tahun ini dalam advokasi korban penculikan. Namun, ia tak pernah mengatakan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengah menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi, ketika sedu sedan yang kerap kudengar enam tahun lalu menggema lirih di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf, Bung,” ujar Tarang canggung saat melihatku membawa dua cangkir kopi, menatap punggung istriku yang lekat dalam pelukannya. Istriku pasti tak menyangka menemukan Tarang di ruang tamu sekembalinya ia dari rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk ke arah Tarang. Kuletakkan kedua cangkir itu di meja. Kuambil recehan dari atas televisi di ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku beli rokok sebentar,” kutepuk bahu Tarang dan kuusap rambut istriku. Dadaku sesak, tapi tak ingin kuurai pelukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Picisan,” umpat istriku persis di belakang telingaku, begitu kuselesaikan baris terakhir cerita pendek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku nggak yakin kau akan berbesar hati seperti itu jika Tarang benar-benar kembali,” ucapnya sambil mengambil sebatang rokok milikku, memutarnya, mencium aromanya dan meletakkannya. Sudah empat tahun ia menghentikan kebiasaan merokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah kepergian Tarang, ia merelakan paru-parunya digerogoti oleh asap adiktif itu. Tahun ketiga, ia merasa aktivitas itu sia-sia dan begitu saja ia menghentikannya, tanpa kusuruh. Aku sendiri berniat menghentikan kebiasaan buruk ini, tapi selalu gagal. Setiap kali aku merasa otakku mampat, kuambil sebatang sigaret. Menghisapnya, benar-benar membuatku merasa lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana kalau Tarang benar-benar kembali?” tanyaku mengulang pertanyaan yang kulontarkan dalam cerita pendekku, sebuah pertanyaan yang bercokol terus-menerus di batok kepalaku sejak kunikahi perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku nggak tahu. Tapi sejak kudengar ia hilang enam tahun lalu, aku yakin ia tak akan kembali,” ucapnya lirih. Ditandaskannya sisa kopi dalam cangkir, dibenahinya berkas-berkas advokasi orang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidur duluan, besok pagi harus temani orang ke LBH. Ada laporan orang hilang lagi,” ucap istriku sambil mencium bibirku sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 18 Mei 2003&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5694210442759177927?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5694210442759177927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5694210442759177927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5694210442759177927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5694210442759177927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/05/ia-tak-pernah-kembali.html' title='Ia Tak Pernah Kembali'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4333598021594040604</id><published>2010-05-18T16:05:00.006+08:00</published><updated>2010-05-18T16:14:22.773+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Memoar yang Mengusik China</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S_JLr35NbAI/AAAAAAAAAU0/1VR2NDMg9i4/s1600/Prisoner.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S_JLr35NbAI/AAAAAAAAAU0/1VR2NDMg9i4/s200/Prisoner.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472519714318937090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buku ini, membantu kita memahami mengapa China tetap bertahan hingga saat ini, bahkan disebut-sebut sebagai “penyelamat kapitalisme”, saat sistem politiknya sendiri tetap bertahan di bawah kepimpinan partai komunis.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGATAN 20 tahun insiden di Tiananmen, 4 Juni (2009) lalu, berlangsung khidmat di Hong Kong. Aksi penyalaan lilin di lapangan Victoria Park, yang dilakukan hampir tiap tahun sejak 1990, tahun ini disebut-sebut melibatkan massa terbesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan sekitar 150.000 orang hadir dalam peringatan tersebut, termasuk salah satu mantan pimpinan aktivis Tiananmen, Xiong Yan, yang datang jauh-jauh dari Alabama, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xiong adalah satu 21 aktivis Tiananmen yang masuk dalam daftar black-list Beijing. Ia sempat ditahan 2 tahun pasca insiden Tiananmen tahun 1989, sebelum kemudian terbang ke AS melalui Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membludaknya massa yang menghadiri acara peringatan 20 tahun insiden Tiananmen ini sudah diperkirakan sebelumnya. Selain karena “kesleo” lidah Chief Executive Hong Kong Donald Tsang di depan parlemen, diluncurkannya memoar mantan Perdana Menteri dan juga Sekjen Partai Komunis China Zhao Ziyang, dua pekan sebelum peringatan 4 Juni, barangkali menjadi salah satu pemicunya. Di malam peringatan 4 Juni, foto Zhao Ziyang turut dipasang di Victoria Park. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku memoar yang terbit pertama kali dalam bahasa Inggris itu sebenarnya merupakan transkrip dari rekaman suara Zhao yang membacakan catatannya dalam durasi 30 jam. Zhao merekam ini saat menjadi tahanan rumah, setelah partai mencopot semua jabatannya, pada Mei 1989.  Zhao sendiri meninggal pada tahun 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini terungkap bahwa keputusan memberlakukan Martial Law dan menindak keras aksi mahasiswa Tiananmen sebenarnya tak diambil dengan suara bulat oleh PKC. Lima orang yang duduk dalam Dewan Harian Politbiro PKC, menurut Zhao, tak dalam satu suara. Dua mendukung, dua menolak, dan satu abstain. Salah satu yang menolak tersebut adalah Zhao Ziyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut Zhao, keputusan ini kemudian seolah menjadi mayoritas ketika Deng Xiaoping dan Yang Shangkun –keduanya bukan termasuk dewan harian politbiro-berada di belakang mereka yang setuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini juga terungkap bahwa editorial People’s Daily, menurut Zhao, merupakan “pemicu” dari membesarnya aksi massa di lapangan Tiananmen dan meluasnya simpati massa non-mahasiswa. Editorial yang ditulis berdasarkan pernyataaan Deng tersebut menyebut bahwa aksi yang dipelopori mahasiswa itu telah menjurus pada makar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Li Peng, salah satu dari Dewan Harian Politbiro, dituding Zhao sebagai aktor di belakang keluarnya editorial tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi Barat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain insiden Tiananmen, yang menarik dari buku ini adalah perdebatan soal arah ekonomi dan politik China setelah Plenum ke-3 dari pertemuan Sentral Komite PKC ke-11 tahun 1979 memutuskan bahwa negeri dengan 1,3 miliar penduduk itu akan  menempuh jalan reformasi ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhao menyebut dirinya sebagai pendukung reformasi bersama Deng Xiaoping dan Hu Yuobang. Sementara Chen Yun dan Lin Xiannian (keduanya menjabat sebagai Dewan harian Politibiro di tahun 1980-an), dinilai Zhao, mewakili kaum “konservatif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhao beranggapan bahwa China harus tak ragu “memeluk”mekanisme pasar. Membuka diri terhadap investasi asing, menggenjot produksi barang orientasi ekspor, dan menstabilkan keuangan negara dengan bantuan utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Chen Yun sangat berhati-hati dengan ini. Chen Yun lebih condong pada model ekonomi “sarang burung”. Menurutnya, jika seekor burung dipegang terlalu erat maka ia akan mati lemas. Namun jika dibiarkan terbang bebas maka ia tak akan kembali. Jadi yang terbaik adalah “menernakkan” mereka di dalam sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di tengah sikap tarik menarik  ini, Deng  ternyata tak mencoba memaksakan kehendak. Dalam pengakuan Zhao, Deng tetap mencoba untuk memfasilitasi keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun soal sikap politik, Deng  jelas berada di kubu “konservatif” atau “garis keras. Di sinilah agaknya Zhao mesti bersebrangan dengan Deng dan sejumlah pimpinan PKC, dan membuatnya terdepak dari lingkaran partai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zhao, ketika basis ekonomi berubah maka sistem politik juga perlu direformasi. Ini juga yang membuatnya mengusulkan agar anggota partai di luar PKC berhak untuk masuk jajaran pejabat negara atas nama partai mereka. Ini akan memungkinkan terjadinya mekanisme check-balance dan penyakit korupsi yang berjangkit mengiringi pertumbuhan ekonomi bisa dipangkas. Dalam perenungannya kemudian –saat menjadi tahanan rumah- Zhao bahkan menyebut formula demokrasi barat merupakan yang terbaik untuk China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Deng menolak usul ini. Meski Deng berulang-ulang menyebut soal reformasi politik dalam setiap kali pidatonya, tapi konsep reformasi yang ia maksudkan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deng menolak liberalisasi politik, tak sepakat dengan sistem multipartai yang dianut Barat, juga pemisahan lembaga yudikatif, eksekutif, dan legislative. Reformasi politik yang dipahami Deng adalah sebatas pembenahan organisasi, pemangkasan birokrasi, dan tertib administrasi. PKC akan tetap menjadi satu-satunya partai yang menkonsolidasikan seluruh tatanan. Segala bentuk reformasi yang mencoba memperlemah posisi PKC akan ditolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, membantu kita memahami mengapa China tetap bertahan hingga saat ini, bahkan disebut-sebut sebagai “penyelamat kapitalisme”, saat sistem politiknya sendiri tetap bertahan di bawah kepimpinan partai komunis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Versi Panjang Sebelum Dipangkas di Koran Jakarta (13 Juni 2009)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4333598021594040604?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4333598021594040604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4333598021594040604' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4333598021594040604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4333598021594040604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/05/memoar-yang-mengusik-china.html' title='Memoar yang Mengusik China'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S_JLr35NbAI/AAAAAAAAAU0/1VR2NDMg9i4/s72-c/Prisoner.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5625704996086538578</id><published>2010-05-14T16:37:00.004+08:00</published><updated>2010-05-18T16:14:38.884+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Kemarahan dari India</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S-0MhhwmBzI/AAAAAAAAAUs/IRzU1xdobAg/s1600/white+tiger.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S-0MhhwmBzI/AAAAAAAAAUs/IRzU1xdobAg/s200/white+tiger.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471042892462425906" /&gt;&lt;/a&gt;DEMOKRASI gagal menyelamatkan India. Ia gagal membuat negeri yang lepas  dari Inggris di tahun 1947 itu menjadi lebih baik. Bahkan tak sanggup menyamai China, negeri tetangga, yang jelas-jelas menolak sistem demokrasi parlementer dan memilih bertahan dengan kepemimpinan tunggal Partai Komunis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itu yang digambarkan White Tiger, sebuah novel pemenang penghargaan Man Booker Prize 2008, yang “kemurungannya” mengingatkan kita pada Midnight’s Children-nya Salman Rusdhie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aravind Adiga, sang novelis, mengakui terus terang bahwa ia terinspirasi Midnight’s Children saat menulis novel pertamanya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang carut marut India sebagai negeri berkembang yang gagap menghadapi laju modernitas, novel ini dibuka dengan sebuah surat “curhat” yang dikirim oleh seorang pengusaha angkutan taksi yang sukses di Bangalore kepada Perdana Menteri China Wen Jiabao yang berencana akan datang ke India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bertutur tentang masa lalunya. Mulai dari nasib sebagai bocah dari kasta pembuat gula-gula (Halwai) yang mesti keluar sekolah karena keluarganya tak sanggup membayar mahar penikahan untuk sepupu perempuannya, kematian ayahnya –seorang penarik rickshaw yang terkena TBC- yang mengenaskan di rumah sakit pemerintah, tuan tanah yang memberinya kerja sebagai sopir bagi anak lelakinya yang baru pulang dari Amerika Serikat, hingga keputusannya untuk menggorok leher majikannya sampai tewas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balram Halwai, song tokoh cerita, menyebut dirinya “orang India setengah matang”. Ini jenis orang yang banyak ditemukan di India. Mereka adalah jenis orang-orang yang gagal melanjutkan sekolah karena berbagai alasan, tapi melakukan berbagai cara secara otodidak untuk bisa memahami apa yang bergerak di lingkungannya. Mulai dari belajar bahasa Inggris –juga situasi politik- dengan menguping percakapan majikannya, hingga membujuk lelaki tua di pasar buku loak untuk berkisah tentang penyair Islam terbesar abad-13 Jallaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jangan berharap bahwa cerita ini akan memiliki alur atau berakhir seperti Slumdog Millionaire, film peraih Oscar yang menceritakan kisah bocah dari kawasan kumuh di Mumbai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balram dalam White Tiger justru muncul sebagai sosok anti-hero. Ia memang dianggap beda dari komunitas miskin di desa yang ia sebut sebagai desa ”Kegelapan”. Ia punya kecerdasan di atas rata-rata dan ia sebenarnya punya peluang untuk melanjutkan sekolah. Tapi hidup dalam masyarakat dengan jalinan kekerabatan yang kental (ia menyebutnya “Kandang Ayam”),  Balram harus bersolider terhadap keluarga, saudara, kerabat kalau tak ingin semuanya menjadi porak-poranda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mau melakukan apa saja, termasuk menjadi sopir dan babu yang patuh dan jujur, demi untuk menyelamatkan keluarga. Dan semua orang di India melakukan itu, loyalitas tanpa pertanyaan, bukan karena moralitas, tapi lebih karena mereka tak punya pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian, pada sebuah hari yang baru, Balram memutuskan menjadi seorang pembunuh. Meskipun ia tahu persis bahwa tindakan yang dilakukannya akan membahayakan nyawa keluarga besarnya. Semua ia lakukan karena rasa marah atas perlakuan tak adil.&lt;br /&gt;Usai pembunuhan itu, ia pergi ke tempat lain, mengganti nama, dan meraih sukses dengan jalan yang mirip dengan bekas majikannya: menyuap pejabat negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi yang menggurita di birokrasi India, membuat sukses tak cukup diraih dengan  kerja keras.   Dan Balram, sebagai generasi India “setengah matang” memilih untuk berada di jalur yang sama karena itu satu-satunya cara untuk menjadi entrepreneur yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;White Tiger adalah novel debutan dari Aravind Adiga, alumni Oxford yang juga mantan koresponden Majalah Time. Menyorot sisi gelap India, novel ini jelas kampanye buruk bagi dunia turisme India. Namun barangkali ini justru akan menjadi upaya koreksi diri India sebagai sebuah bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca White Tiger,  kita seperti melihat Indonesia dari jarak dekat. Saat Balram  menggambarkan hanya ada dua kasta  di India (kasta perut buncit dan kasta perut rata) dan bahwa korupsi menggurita di birokrasi, serta sistem feodal yang tak mati-mati; kita akan  menemukan bahwa situasi ini sama sekali tak asing dengan kita. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5625704996086538578?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5625704996086538578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5625704996086538578' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5625704996086538578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5625704996086538578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/05/kemarahan-dari-india.html' title='Kemarahan dari India'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/S-0MhhwmBzI/AAAAAAAAAUs/IRzU1xdobAg/s72-c/white+tiger.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1464422894081558556</id><published>2010-05-14T16:33:00.001+08:00</published><updated>2010-05-14T16:37:00.561+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Mantra Baru dari Shanghai</title><content type='html'>OLIMPIADE Beijing 2008 mengundang decak kagum. Pesta pembukaan dan penutupan yang meriah, turis yang banjir seperti air bah, popularitas China yang mendadak terdengar hingga lokasi terujung dunia, dan nasionalisme yang meletup tiba-tiba, membuat Olimpiade 2008 be­nar-benar jadi ha­jat­an yang membuat ke­percayaan diri bangsa berpenduduk 1,4 mi­liar itu menggembung tak terkira.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu ternyata belum apa-apa jika dibandingkan Shanghai World Expo 2010 yang bakal digelar dari 1 Mei-31 Oktober mendatang. Seorang analis menyebut bahwa dibanding Shanghai Expo, Olimpiade Beijing hanya akan tampak seperti “pesta minum teh”. Berlebihan atau tidaknya prediksi tersebut memang perlu dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uji coba pembukaan Expo yang digelar Selasa (20/4) lalu, puluhan ribu  pengunjung membuat panitia kewalahan. Padahal diperkirakan 70 juta pengunjung, mayoritas warga lokal, akan memadati area ini dalam kurun waktu enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merogoh kocek US$ 10 juta untuk membangun paviliunnya di area ini. Di atas lahan seluas 4000 meter persegi, Indonesia mempercayai Cityneon–perusahaan dari Singapura- untuk mengerjakan desain paviliun dengan tema “Biodiversity” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promosi perdagangan, pariwisata, dan investasi antara Indonesia dan China, di samping menanamkan kebanggaan nasional dalam meraih pengakuan internasional, disebut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebagai motif keikutsertaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara India menghabiskan dana US$ 50 juta untuk membangun paviliunnya dan berencana mendatangkan 50 bintang Bollywood untuk tampil di Shanghai, dan membawa 2000 artis untuk tour di 40 kota di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat (AS), meski sempat mengalami kesulitan pendanaan, berjuang menyelesaikan paviliunnya dengan anggaran sekitar US$ 61 juta. Sementara Jepang dan Arab Saudi, menghabiskan dana masing-masing US$ 140 juta dan US$ 146 juta untuk mendirikan paviliun mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dana terbesar tentu saja dikeluarkan China untuk urusan paviliun ini. Dengan dana 2 miliar yuan atau sekitar US$ 292 juta, China ingin menampilkan paviliun yang menonjolkan kebudayaan China dan bangkitnya kepercayaan diri negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim yang dipimpin He Jingtang, direktur Arsitektur dan Teknik Sipil dari South China University of Technology, serta tim dari Tsinghua University memenangkan tender yang diikuti 344 arsitek dari seluruh dunia, untuk menggarap desain paviliun China dengan luas lantai sekitar 160.000 meter persegi tersebut. Dibutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan area paviliun China itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam Negeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan Olimpiade Beijing, Shanghai Expo tak digarap semata untuk mengundang decak kagum dunia, tapi terutama demi menaikkan kepercayaan diri rakyat China sendiri. Dari 70 juta pengunjung yang diperkirakan hadir, mayoritas adalah warga dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China agaknya punya motif untuk menggenjot daya beli rakyatnya, guna menstabilkan pertumbuhan ekonominya. Sudah sejak beberapa waktu lalu, pemerintah gencar menggelontorkan subsidi untuk meningkatkan daya beli rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China tak mau mempertaruhkan stabilitas ekonominya ketika krisis global saat ini berpengaruh terhadap anjloknya permintaan dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil rapat ekonomi tahunan Desember 2009 lalu memutuskan bahwa China akan mengubah pola pengembangan ekonomi mereka dan memperbesar permintaan domestik dengan cara menambah konsumsi warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasinya adalah dengan menaikkan penghasilan warga dan mendorong urbanisasi. Argumennya, mobilisasi kaum tani secara besar-besaran ke kota akan menyediakan ruang pertumbuhan konsumsi yang relatif besar dan memecahkan kesenjangan antara kota dan desa yang muncul akibat orientasi pertumbuhan ekonomi yang dikejar di tahun-tahun awal modernisasi China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joshua Cooper Ramo, Managing Director Kissinger Associates, dalam papernya yang legendaris “Beijing Consensus” menyebut bahwa salah satu “kekuatan” ekonomi China adalah karena mereka tak cukup puas dengan mengukur keberhasilan pertumbuhan Produk Nasional Bruto. Mereka fokus pada kesinambungan dan peningkatan mutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa “Marxian”, mungkin inilah yang dimaksudkan dengan prinsip lompatan, yakni perubahan dari kuantitas ke kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesinambungan ini pula yang membuat kita mestinya tak heran saat di tahun 2008, China mengubah Aturan Perburuhannya dan membuat sejumlah perusahaan multinasional beramai-ramai hengkang. Ini gara-gara aturan tersebut menyebut larangan kerja kontrak–hal yang paling suka dilakukan oleh perusahaan multinasional untuk mengirit ongkos produksi-dan menaikkan gaji standar minimum untuk buruh, serta mewajibkan perusahaan untuk mengizinkan  pendirian serikat buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesinambungan ini pula yang membuat China agaknya mulai memikirkan “warna kucing” penangkap tikus saat Hu Jintao sebagai orang nomor satu di Partai Komunis China dan panglima tertinggi Tentara Pembebasan Rakyat menginstruksikan kadernya untuk kembali mempelajari sosialisme, melarang mereka main perempuan karena akan memicu lahirnya korupsi, dan menginstruksikan mereka terjun di garda depan saat bencana alam terjadi di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China, dalam istilah Ramo dalam ulasan panjangnya di Times terbaru, adalah negeri yang berjalan dalam kontradiksi. Namun, kontradiksi inilah yang justru membuat China bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan yang dicapai China adalah karena mereka sepenuhnya percaya bahwa kontradiksi atau dialektika internal-lah yang akan menjadi penentu gerak maju atau mundurnya sebuah bangsa. Sementara itu, kekuatan luar hanya akan menjadi penyelaras.&lt;br /&gt;Keyakinan itu tak berubah sejak tahun 1920-an saat China di bawah PKC menolak rekomendasi Komunisme Internasional; tahun 1970-an saat menetapkan komunike bersama dengan AS; dan awal 1990-an saat dunia terpesona dengan mantra “Washington Consensus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, dalam pertemuan empat mata dengan Obama, Hu Jintao tegas  mengatakan bahwa keputusan soal revaluasi yuan akan ditetapkan berdasarkan kebutuhan ekonomi dan sosial China. Ia juga menekankan bahwa nilai yuan yang kuat tidak akan mengatasi kemelut yang mempengaruhi perekonomian AS yang terbesar di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China, merujuk  istilah Ramo, sudah menjadi lawan catur yang seimbang buat AS. Dan daripada sibuk menuding-nuding China sebagai “kambing hitam”, AS agaknya harus mencari strategi lain untuk menyelamatkan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xi Jinping, mantan orang nomor satu PKC di Shanghai yang juga calon kuat kandidat Presiden China di tahun 2012, dalam lawatannya di Meksiko 2009 lalu, jelas-jelas menyindir kelakuan AS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya ada orang-orang asing yang perutnya buncit dan tak punya kerjaan lain selain mengacungkan telunjuk,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xi Jinping mengatakan, “Pertama, China tak pernah mengekspor revolusi. Kedua, kami tak mengekspor kelaparan atau kemiskinan. Dan ketiga, kami tak pernah menyebabkan kesulitan untuk Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemasan Xi Jinping agaknya beralasan. Dan kalaupun ada yang diekspor, setelah Shanghai, China akan mengekspor sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan membuat mantra “Washington Consensus” benar-benar harus tutup buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 27 April 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1464422894081558556?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1464422894081558556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1464422894081558556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1464422894081558556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1464422894081558556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/05/mantra-baru-dari-shanghai.html' title='Mantra Baru dari Shanghai'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-837976272700867316</id><published>2010-02-08T10:58:00.002+08:00</published><updated>2010-02-08T11:02:15.959+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Daulat Ekonomi, Daulat Politik (Proyek Ambisius Supertanker China )</title><content type='html'>AKHIR Januari lalu, kapal tanker buatan China yang disebut-sebut punya kapasitas angkut terbesar di dunia mulai berlayar ke Timur Tengah, melewati Teluk Aden.  Dalam 20 hari, kapal berkecepatan 15, 7 knot atau 30 km/jam milik China Shipping Group Company tersebut diperkirakan akan tiba di Timur Tengah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xin Buyang, supertanker yang dirancang dan dibangun oleh Guangzhou Longxue Shipbuilding Co.,Ltd. dan Marine Design and Research Institute of China tersebut memiliki panjang 333 meter dan lebar 60 meter, serta berkapasitas angkut &lt;br /&gt;308 ribu ton minyak mentah atau setara dengan 350 ribu ton air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respon terhadap meningkatnya ancaman pembajak Somalia di Teluk Aden, kapal ini dilengkapi meriam air bertekanan tinggi untuk menangkis serangan perompak. Ia  juga dilengkapi sistem navigasi satelit, radar, dan sistem monitoring keamanan. Dalam kondisi genting, sistem keamanan tersebut bisa langsung mengirimkan informasi dari kapal ke operator lepas pantai dalam tempo 35 detik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xin Buyang menjadi pencapaian awal dari proyek ambisius supertanker China yang mulai dirancang sejak  akhir tahun 1990-an.  Ditargetkan, setidaknya separuh dari kebutuhan impor minyak China  bisa dibawa oleh kapal milik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, sekitar 80 persen kapal yang membawa minyak impor untuk China masih merupakan kapal sewa milik asing. Mayoritas adalah kapal yang dimiliki atau dikontrol oleh perusahaan milik AS dan sekutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek ini dimulai karena China sadar betul bahwa sebagai importir minyak terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, pihaknya tak bisa bersandar pada kapal sewaan. Situasi geopolitik saat ini menjadi pertimbangan utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China tak mau ambil risiko aliran impor minyaknya terhenti, jika suatu saat hubungan China-AS memanas. Reaksi China terhadap penjualan senjata AS ke Taiwan dan juga sikap AS terhadap kasus Google dan Dalai Lama baru-baru ini, menunjukkan bahwa tanda-tanda memanasnya  hubungan kedua negara sudah mulai terjadi. Juga paper terbaru yang dikeluarkan  Pentagon yang mempertanyakan modernisasi sistem militer China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum soal kekhawatiran China jika konflik meledak di Timur Tengah terkait sikap AS terhadap Iran dan juga ancaman meningkatnya pembajakan di laut, seperti yang akhir-akhir ini memuncak di Teluk Aden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam urusan minyak, baik AS maupun  China, mengandalkan impor dari lahan minyak dunia, terutama dari negara-negara di Timur Tengah dan Afrika dimana lalu lintas angkutnya mengandalkan jalur laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk China, sekitar 45 persen supply minyak mereka berasal dari negara-negara Timur Tengah. Selebihnya adalah dari  Afrika dan Rusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi China yang menakjubkan saat ini membuat tingkat kebutuhan energi di negeri berpenduduk 1,4 miliar tersebut meningkat dari hari ke hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minyak menjadi salah satu sumber utama dari pencukupan kebutuhan itu, selain listrik, batu bara dan gas. Khusus untuk minyak, para analis memperkirakan kebutuhan minyak China akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melonjaknya kebutuhan energi ini, China tak mau berspekulasi kehilangan supply di tengah jalan. Sebuah lembaga superbody, National Energy Commission (NEC),  yang membawahi sejumlah kementerian bahkan dibentuk pada 27 Januari dengan dikepalai oleh Perdana Menteri China Wen Jiabao. Komisi yang beranggotakan 21 menteri dan direktur berbagai departemen serta bank sentral ini, akan bertanggung jawab untuk mempelajari dan memformulasikan strategi pembangunan energi nasional, termasuk memastikan keamanan supply energi dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Terencana&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;China tampaknya memang benar-benar membikin persiapan matang untuk memastikan kebutuhan energinya. Tak hanya urusan tanker,  China juga giat mengerjakan  jalur-jalur pipa untuk pasokan gas dari Rusia dan Asia Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhanibek Saurbek, seorang analis yang membuat tulisan tentang relasi energi antara China-Kazakhtan di tahun 2008, menyebut bahwa China sebenarnya bukan peserta aktif dalam industri energi internasional hingga awal tahun 1990-an. Situasi ini berubah sejak tahun 1997 ketika perusahaan nasional China, Chinese National Petroleum Company (CNPC) membuat komitmen signifikan untuk sektor minyak di Kazakhstan.  Sejak itu sejumlah kesepakatan dan kontrak dibikin China dengan berbagai negara, dari Timur Tengah, Asia, Eropa Timur hingga Amerika Latin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saurbek, semua ini dilakukan China bukan  hanya untuk keuntungan ekonomi semata, tapi upaya untuk menjadi pemain energi global.  Sebuah proses yang memiliki dampak geopolitik yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saurbek barangkali tak berlebihan. Siapa yang menguasai sumber daya energi, maka dialah yang punya kekuatan untuk menentukan arah dunia. Dan China tampaknya tahu persis hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepastian supply energi akan  membuat China bisa  memastikan laju pertumbuhan ekonominya. Dan dengan demikian memastikan tahapan pencapaian dan pembangunan ekonomi sesuai rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dengan perencaan dan pencapaian ekonomi yang tepat, maka China akan punya pengaruh, langsung atau tidak langsung,  dalam penentuan arah politik dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek pembangunan supertanker, misalnya, akan menjadi pintu masuk bagi China untuk memperluas pengaruhnya di tingkat global. Dengan kapal berbendera China, maka China punya kesempatan untuk mengontrol armadanya. Juga memastikan stabilitas aliran supply energi ke negaranya. China menolak jatuh pada kesimpulan bahwa “di era pasar bebas, uang bisa mengatur segalanya”. China tetap meyakini bahwa kedaulatan nasional, dalam hal ini disokong dengan kemandirian ekonomi dan kematangan sistem politik, menjadi senjata untuk bertahan dari badai spekulatif pasar besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka panjang, ambisi supertanker ini tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, tapi juga luar negeri. Melewati posisi Jepang dan Korea Selatan yang saat ini merupakan dua negara terbesar yang memproduksi supertanker. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam logika China, kesinambungan energi yang menjadi penyokong kekuatan ekonomi mereka pada akhirnya akan menjadi sandaran kedaulatan politik. Dan dengan demikianlah langgam pembangunan China, cepat atau lambat, akan memiliki pengaruh di tingkat global.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sinar Harapan, 5 Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-837976272700867316?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/837976272700867316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=837976272700867316' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/837976272700867316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/837976272700867316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2010/02/daulat-ekonomi-daulat-politik-proyek.html' title='Daulat Ekonomi, Daulat Politik (Proyek Ambisius Supertanker China )'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2371210721139334597</id><published>2009-12-15T14:45:00.000+08:00</published><updated>2009-12-15T14:48:20.734+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Petani dengan Uang Pensiun (Haiyan-2)</title><content type='html'>TAN A Moy bercerita tentang Gentong. Sebuah desa kecil di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Lelaki usia 60-an ini melewatkan masa kecil di situ sebelum kemudian sebuah peraturan yang dikeluarkan pemerintah di tahun 1959 membuatnya ikut hijrah ke China. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah yang ditandatangani Menteri Perdagangan Rachmat Mujomisero  itu berisi larangan orang asing berdagang eceran di tingkat kabupaten ke bawah dan wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan ini berimbas pada maraknya gerakan anti-Tionghoa di Indonesia dan memicu eksodus besar-besaran komunitas Tionghoa dari Indonesia ke China. Sementara dari China dikabarkan bahwa tanah “leluhur” menanti mereka dan siap menyediakan pekerjaan untuk mereka. A Moy adalah salah satunya yang kemudian memutuskan “pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya temui di kampung perantauannya di Haiyan, sebuah desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Jiangmen, China, A Moy menceritakan masa-masa berat di awal kedatangannya ke China. Bekerja keras membuka lahan, baju compang-camping, dan kurang makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, 48 tahun berlalu, A Moy mengaku tak pernah menyesal menginjak tanah China. Bersama istrinya, juga dua anaknya yang sudah berkeluarga dengan masing-masing telah memberiny satu cucu, A Moy merasa bahwa hidupnya cukup sejahtera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita tentang rumah dua lantai seluas 102 meter persegi yang baru saja ia beli dari pemerintah. Rumah seharga 130.000 yuan itu bisa ia beli hanya dengan harga 115.000 yuan. “Ada subsidi dari pemerintah untuk perantau seperti kami,” ujarnya. Sementara untuk penduduk China asli, tak ada diskon yang diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, A Moy juga sudah membeli rumah seharga 9000 yuan. Tapi rumah itu kini ditempati anaknya, sehingga ia kemudian mengambil lagi rumah untuk ia dan istrinya. Keduanya kini sudah pensiun sebagai petani. “Istri saya lebih dulu pensiun dan saya pensiun tahun 2003,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, pemerintah memberi dana pensiun untuknya. “Petani di sini (China-red) memang dapat tunjangan uang pensiun,” terangnya. Ia menyebut 2000 yuan  perbulan ia terima sebagai tunjangan pensiun. Ini hitungan perkepala bukan perkeluarga. Jadi, sang istri yang sudah pensiun juga menerima tunjangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahing, perantau Tionghoa asal Bandung, yang mengantar saya ke Haiyan, menyebut bahwa pemerintah China memang punya kebijakan soal pensiun bagi petani. Namun ia mengatakan bahwa jumlahnya tak sampai 2000 yuan. “Sekitar 600-1000 yuan , tergantung lokasinya,” ujarnya. Uang sejumlah itu, menurut Ahing, sangat cukup untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari di desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara soal pendidikan dan layanan kesehatan, menurut A Moy dan Ahing, juga bisa diakses semua orang karena tak terlalu mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan khusus untuk warga berpenghasilan rendah, pemerintah membebaskan biaya pendidikan dasar sembilan tahun. Di tahun 1986, guna menggenjot melek huruf di China, pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang yang melarang perusahaan merekrut pekerja yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun tersebut. &lt;br /&gt;Hal lain yang menarik, hampir seluruh petani dan penduduk di kawasan tersebut memiliki tanah dan lahan garapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meneken perjanjian kontrak dengan pemerintah. Biasanya selama rentang waktu 50 tahun. Tanah tersebut bisa ditinggali atau digarap, bahkan kini –kebijakan terbaru- mereka bisa menyewakan lahan tersebut ke orang lain. Namun mereka tak punya hak untuk menjualnya. “Setelah kontrak selesai, kami bisa memperpanjangnya,” ujar A Moy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, menurut Ahing,  ada pajak yang mesti dibayarkan warga ke pemerintah untuk tanah garapan, tapi kini pajak itu dihilangkan. “Gaji guru juga terus dinaikkan oleh pemerintah,” jelas Ahing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebut nama Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Presiden China Hu Jintao dengan mengangkat jempolnya ke atas. “Mereka tak mengizinkan anak-anaknya pegang usaha dagang,” ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pasangan suami-istri asal Semarang yang sudah menetap di Haiyan selama 48 tahun, juga mengaku bahwa mereka tak merasa menyesal pulang ke China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya pendapatnya tentang Indonesia, keduanya hanya bilang bahwa semua tergantung pada sejauh mana penguasa bisa membuat rakyat sejahtera. “Di sini, penguasa tak lupa membagi (kesejahteraan) ketika negara sudah sejahtera,” ungkap Kwik Tian Chow, lelaki yang membawa istri dan ketiga anaknya menginjak tanah China di tahun 1961. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2371210721139334597?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2371210721139334597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2371210721139334597' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2371210721139334597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2371210721139334597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/12/petani-dengan-uang-pensiun-haiyan-2.html' title='Petani dengan Uang Pensiun (Haiyan-2)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5573776147748285469</id><published>2009-12-15T14:39:00.001+08:00</published><updated>2009-12-15T14:44:26.966+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Mereka yang Dipaksa Pergi dari Tanah Lahir  (Haiyan-1)</title><content type='html'>MATAHARI sudah tak lagi tinggi di atas kepala saat bus memasuki kawasan Haiyan, sebuah desa di Kecamatan Taishan yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari dermaga Jiangmen, China. Ladang tebu terhampar  di kanan-kiri jalan menuju  kawasan tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahing, seorang Tionghoa perantauan asal Bandung, yang menemani perjalanan ke Haiyan menyebut bahwa mayoritas warga Haiyan bekerja di ladang-ladang tebu tersebut, juga pabrik penggilingan tebu yang ada di dalam desa. “Ini milik perkebunan,” ujar lelaki yang merantau ke China sejak 43 tahun lampau itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menginjakkan kaki di  Haiyan, seorang lelaki yang tak bisa berbahasa Indonesia menyambut kami. Menurut Ahing, ia adalah kepala desa di lingkungan itu. Seorang kader Partai Komunis China yang orang tuanya berasal dari Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawa kami ke saung, dimana telah menunggu sejumlah warga desa, keturunan kedua dan ketiga dari para perantau Indonesia yang datang ke kawasan itu di tahun 1960-an. &lt;br /&gt;Sejumlah remaja dan pemuda dengan dandanan cantik mengucap salam dalam bahasa China dengan dialek setempat. Mereka tak bisa lagi berbahasa Indonesia. Namun mereka  mengundang takjub saat tampil memukau dengan tarian asal Indonesia yang sudah dimodifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sebuah kebetulan mengejutkan saya. Seorang lelaki yang mengenalkan diri dengan nama Tan A Moy ternyata berasal dari kota tempat saya lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia berkisah tentang perjalanan yang membuatnya sampai ke China. Ia dan juga sejumlah orang  Indonesia etnis Tionghoa yang saya temui di kawasan itu menyebut kata “pulang” untuk mengatakan kedatanganya ke tanah China di awal tahun 1960-an. &lt;br /&gt;“Setelah PP 10 itu, kami pulang ke sini,” ujar A Moy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PP 10 yang ia maksud adalah Peraturan Pemerintah No.10 yang dikeluarkan tahun 1959 yang berisi tentang larangan orang asing berdagang eceran di tingkat kabupaten ke bawah dan wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat PP ini, terjadi eksodus besar-besaran komunitas Tionghoa ke China. Komunitas Tionghoa-Indonesia yang kini tinggal dan menetap di Haiyan adalah bagian dari itu. &lt;br /&gt;A Moy mengaku masih berumur 16 tahun ketika ia menumpang kapal dari Tanjung Perak menuju pelabuhan di Guangzhou di tahun 1961. “Butuh waktu seminggu untuk sampai ke sini,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kapal itu pula, A Moy bertemu calon istrinya. Seorang perempuan asal Lamongan yang juga terpaksa pergi ke China karena keadaan. Sampai di China, mereka ditempatkan di area pertanian. “Kerjaannya ya tani, macul,” ujar A Moy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ahing, para perantau yang datang secara bergelombang ke tanah China tersebut, biasanya ditanya apa yang bisa mereka kerjakan. Jika mereka bisa kerja pabrik maka akan ditempatkan di perkotaan, tapi jika tidak, mereka akan ditempatkan di pedesaan. Di masa itu, semua pekerjaan tampak begitu sulit dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan asal Semarang yang mendarat di China di tahun 1961 saat usianya menginjak 31 tahun, mengingat hari-hari berat tersebut. “Saat kapal hendak mendarat, sedih sekali hati saya melihat orang-orang yang berdiri di dermaga. Kurus-kurus dan bajunya penuh tambalan,” kenang perempuan yang akrab dipanggil dengan nama Cik In ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia datang bersama suami dan tiga anaknya. “Yang paling besar masih umur 5 tahun,” kisahnya. Namun Cik In, juga A Moy dan ratusan perantau Indonesia lainnya, merasakan hari-hari terberat mereka saat dipindahkan ke Haiyan. Desa yang saya datangi pada akhir Oktober lalu. Mereka harus membuka rawa-rawa untuk dijadikan lahan pertanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat kami datang, air rawanya masih segini,” ujar Kwik Tian Chow, suami Cik In, yang kini sudah berusia 87 tahun, sambil meletakkan tangannya di bawah leher.  Mereka harus memikul bergunduk-gunduk tanah dan juga air. Tak peduli lelaki atau perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cik In mengenang beratnya masa-masa itu. Makan dan baju dijatah oleh pemerintah. “Baju sampai tambal-tambalan dan perut kami harus diikat (untuk menahan lapar),” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ingin Meninggal di China  &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Namun mereka tak pernah menyesali “kepulangan” mereka ke tanah China. “Pekerjaan kami memang berat saat itu, tapi kini kami menikmati hasilnya,” jelas Cik In. Ia juga menyebut bahwa dengan anak tiga yang masih kecil saat itu, pemerintah  menjamin kehidupan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami semua memang harus bekerja, tapi disesuaikan dengan kemampuan tenaga kami. Tak pernah dipaksa kalau memang tak kuat,” jelas Cik In.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada dikatakan A Moy.  Ia kini tak pernah punya keinginan balik ke Indonesia. Yang terjadi justru ia berharap kawan-kawannya yang masih tinggal di Indonesia untuk “pulang” ke tanah China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang menduga kami menderita di sini. Tapi itu anggapan salah. Kesejahteraan kami di tahun 1960-an memang kurang baik. Tapi sejak tahun 1970-an mulai baik, tahun 1980-an baik, dan tahun 1990-an ke sini semakin baik,” terang A Moy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anak A Moy kini telah berkeluarga dan masing-masing memberi seorang cucu padanya. “Nggak boleh lebih dari satu,” ujarnya merujuk pada kebijakan pemerintah China soal satu anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun depan, ia bersama istri dan anak sulungnya berencana berlibur ke Indonesia. Mengunjungi sanak saudara serta kerabat yang masih ada. Ini kunjungannya ketiga ke Indonesia sejak tahun 1961. Sebelumnya, bersama istrinya, sudah menjejak Indonesia di tahun 1997 dan 2001. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cik In juga mengaku sudah ke Indonesia di tahun 2001. “Tapi uang tiket, saudara yang beliin,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2013 nanti, pernikahan Cik In dan suaminya genap berusia 60 tahun. Mereka berharap diberi usia panjang hingga perayaan itu. Cik In dan suaminya ingin meninggal di China dan meminta anak-anak membakar jasad mereka serta menaburkan abu mereka di atas laut China Selatan. “Semoga  abu kami mengalir sampai ke Indonesia,” lamunnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5573776147748285469?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5573776147748285469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5573776147748285469' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5573776147748285469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5573776147748285469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/12/mereka-yang-dipaksa-pergi-dari-tanah.html' title='Mereka yang Dipaksa Pergi dari Tanah Lahir  (Haiyan-1)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1073250242873595895</id><published>2009-09-30T13:39:00.002+08:00</published><updated>2009-09-30T13:47:15.223+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Jalan Panjang Mengurus Bangsa (60 Tahun RRC)</title><content type='html'>SEPEKAN sebelum China memperingati 60 tahun berdirinya republik rakyat, koran South China Morning Post yang terbit di Hong Kong, mendadak mengungkap bahwa Mao Tse Tung ternyata tak pernah mengucapkan slogan “The Chinese people have stood up”. Tidak saat proklamasi RRC di depan gerbang Tiananmen pada 1 Oktober 1949, tidak dalam Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC) pada 21 September 1949, dan tidak di manapun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Xinhua Li Pu dan penyiar China National Radio Ding Yilan menyebut bahwa mereka memang tak pernah mendengar Mao mengucapkan slogan itu di Lapangan Tiananmen. Tapi keduanya mengatakan bahwa kemungkinan Mao mengatakan itu dalam pidato  pembukaan CPPCC pada 21 September 1949 karena teks pidato yang dibacakan Mao menggunakan judul dengan slogan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun uniknya, Professor Guan Huailun  dari komite partai kota Nanjing, dalam papernya yang diterbitkan dalam jurnal akademik  “Party History and Organization Study” di tahun 2007,  mengatakan bahwa Mao tak pernah mengucapkan slogan tersebut di pertemuan CPPCC. Mao, menurut Guan, hanya mengatakan “The Chinese have stood up”. Kata “people” dalam judul ditambahkan oleh editor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guan mengatakan bahwa meski hanya hilang satu kata (people), maknanya sama sekali lain. Chinese people merujuk pada kelas sekawan yang diakui Partai Komunis China (PKC), yakni buruh, petani, borjuis kecil, dan borjuis patriotik. Sementara Chinese (tanpa people) lebih merujuk pada setiap orang China, setiap penduduk yang menjadi bagian dari bangsa yang populasinya kini menempati urutan pertama di dunia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar demikian yang dimaksudkan Mao, maka tahapan yang dilalui China saat ini menjadi tampak masuk akal. Meskipun sebenarnya, tanpa mengulik soal slogan tersebut, sejarah mencatat bahwa nasionalisme-lah yang melandasi kebangkitan China, dan menjadi penguat untuk sosialisme berkarakter China. Yang terakhir ini, Wakil Presiden China yang juga anggota Politbiro PKC, Xi Jinping, membuat uraian panjang lebar usai Kongres ke-17 PKC yang digelar 2007 lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, China memiliki karakteristik sosialismenya sendiri. Jika Mao telah berhasil memberikan pondasi  bagi sosialisme China, maka gerak maju negeri berpenduduk 1,3 miliar itu juga harus memperhitungkan perkembangan situasi. Di sinilah kemudian Marxisme dan “Pikiran Mao” tak lagi menjadi satu-satunya acuan, tapi juga mendapat tambahan dengan Teori Deng Xiaoping tentang modernisasi, pikiran “Tiga Perwakilan” dari Jiang Zemin yang merangkul kelas pemilik modal, dan pikiran strategis tentang pandangan ilmiah yang ditelorkan Hu Jintao. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kompromi Ekonomi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan rahasia lagi bahwa saat Uni Soviet hancur dan tembok Berlin runtuh, banyak yang meramalkan China akan mengikuti kejatuhan itu. Namun ramalan itu tak terbukti. Alih-alih kolaps, negeri itu malah membuat loncatan ekonomi yang mencengangkan. &lt;br /&gt;Xi Jinping dengan terang mengatakan bahwa apa yang dicapai China saat ini karena China tak pernah menerapkan Marxisme secara dogmatis, tapi bersamaan dengan itu tegas menolak pencampakan sistem dasar sosialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1956, Mao mengkoreksi semua kesalahan yang muncul akibat menjiplak mentah-mentah model Uni Soviet, dan mencari jalan keluar berdasarkan situasi China. Di tahun yang sama, ia merumuskan garis pembangunan sosialisme dengan karakter China, dan setahun berikutnya mengeluarkan catatan tentang bagaimana mengurus kontradiksi secara tepat di kalangan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mao, gerak maju sebuah masyarakat tergantung pada kontradiksi di dalam masyarakat itu sendiri. Sementara kontradiksi di luar hanya membantu mempercepatnya.&lt;br /&gt;Saat Deng memegang kepemimpinan, sejumlah “PR” yang gagal atau belum dikerjakan Mao. Salah satunya adalah menciptakan ekonomi pasar sosialis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naïf jika melihat bahwa apa yang dilakukan Deng ini akan ditentang oleh Mao jika Mao masih hidup. China di bawah kepemimpinan duet Mao dan Zhou Enlai di masa lalu  sangat kompromis dalam berbagai urusan yang menyangkut upaya memberi makan rakyatnya yang jumlahnya melonjak tiap tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “my enemy’s enemy is my friend” benar-benar berlaku di China saat Uni Soviet terlalu menekan. Melalui diplomasi ping-pong yang terkenal itu, China berhasil melakukan normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat di tahun 1972. Padahal jelas AS saat itu dikutuk dengan propaganda sebagai negeri imperialis yang rakus. &lt;br /&gt;Ketika Deng memimpin, “kompromi ekonomi”  kembali dilakukan dengan menggenjot modernisasi. Diteruskan di era Jiang Zemin sebagai pemimpin generasi ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  modernisasi nembawa dampak buruk dalam bentuk korupsi yang merajalela, jurang kaya-miskin yang lebar, dan krisis lingkungan yang akut, Hu Jintao, sebagai generasi pemimpin ke-4, mencoba menyelamatkan situasi ini dengan konsep harmoni sosialnya. &lt;br /&gt;Memfokuskan pembangunan di kawasan pedesaan, memberi perhatian lebih pada kondisi pekerja migran, mencurahkan perhatian setius terhadap konflik antaretnis (sesuatu yang pernah diperingatkan Mao terkait dengan kecenderungan chauvinis suku Han yang merupakan etnis mayoritas di China), namun bersamaan dengan itu tegas menentang intervensi asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluwesan China dalam soal ekonomi, berbanding terbalik dengan sikapnya terkait politik. Soal terakhir ini, China –sejak era Mao- tak pernah berubah menjadi seekor bebek yang patuh. &lt;br /&gt;Dalam pernyataannya di tahun 1979, Deng menyebut China tak akan mungkin memeluk kapitalisme. Jika pun empat modernisasi yang diterapkan membuat China terbuka terhadap investasi asing, bukan berarti bahwa China akan mengambil jalan kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa kami belajar dari kapitalisme, tidak berarti bahwa akan mengubah struktur sosialisme atau membawa China kembali ke kapitalisme,” demikian Deng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (1/10) nanti, memperingati 60 tahun RRC, di lapangan Tiananmen, sebuah parade militer akan digelar. Sebuah pertunjukan “kepercayaan diri” bahwa China kini sudah bisa mengurus dirinya. Pertanyaannya kemudian, apakah China akan ikut “mengurus” dunia, setelah urusan memberi makan 1,3 miliar rakyatnya teratasi atau selesai dengan dirinya sendiri? Jawaban atas hal ini akan menunjukkan seberapa jauh komitmen China terhadap sosialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 29 September 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1073250242873595895?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1073250242873595895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1073250242873595895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1073250242873595895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1073250242873595895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/09/jalan-panjang-megurus-bangsa-60-tahun.html' title='Jalan Panjang Mengurus Bangsa (60 Tahun RRC)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-7592935810651266100</id><published>2009-08-07T17:02:00.005+08:00</published><updated>2010-05-18T17:10:38.181+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Mengantar Rendra</title><content type='html'>MEMBACA berita kepergian WS. Rendra semalam (Kamis, 6 Agustus), Nyanyian Angsa mendadak melintas di kepala. Banyak puisi dia yang kusuka. Tapi tak tahu kenapa, justru Nyanyian Angsa yang pertama kali melintas. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurku masih belasan saat pertama kali menemukan puisi itu. Tak jelas juga kutemukan di mana bait-bait sajak itu. Apakah di bangku sekolah atau keisengan “jalanan”-ku. Yang pasti, di asrama sekolah, kubaca bait itu keras-keras. Kuulang-ulang tanpa pernah merasa bosan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deretan kalimat di puisi itu, seperti “senjata” yang bisa kupakai untuk mengejek segala jenis “kemapanan”, meng-kick out orang-orang latah yang mengatasnamakan agama dan norma sosial, tapi laku solidaritasnya NOL BESAR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku remaja belasan tahun, yang belum cukup punya nyali untuk bilang TIDAK pada laku orang-orang dewasa, merasa menemukan “senjata” pada puisi Rendra. Coba lihat pilihan kata ini, saat Rendra melukiskan pertemuan Maria Zaitun –sang pelacur itu- dengan pastor di gereja: &lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kamu telah tergoda dosa.”&lt;br /&gt;“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”&lt;br /&gt;“Kamu telah terbujuk setan.”&lt;br /&gt;“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.&lt;br /&gt;Dan gagal mencari kerja.”&lt;br /&gt;“Santo Petrus!”&lt;br /&gt;“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.&lt;br /&gt;Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.&lt;br /&gt;Yang nyata hidup saya sudah gagal.&lt;br /&gt;Jiwa saya kalut.&lt;br /&gt;Dan saya mau mati.&lt;br /&gt;Sekarang saya takut sekali.&lt;br /&gt;Saya perlu Tuhan atau apa saja&lt;br /&gt;untuk menemani saya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di akhir Nyanyian Angsa, Rendra punya penutup yang membuat tenggorokan tercekat. Tak akan pernah kulupakan indahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.&lt;br /&gt;Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.&lt;br /&gt;“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.&lt;br /&gt;“Mempelai,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Lihatlah. Engkau melucu.”&lt;br /&gt;Dan sambil berkata begitu&lt;br /&gt;Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia terhenti.&lt;br /&gt;Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.&lt;br /&gt;Di lambung kiri.&lt;br /&gt;Di dua tapak tangan.&lt;br /&gt;Di dua tapak kaki.&lt;br /&gt;Maria Zaitun pelan berkata:&lt;br /&gt;“Aku tahu siapa kamu.”&lt;br /&gt;Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.&lt;br /&gt;Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Nyanyian Angsa, aku mulai terseret mencintainya. Mulai mencari setiap buku yang bertulis namanya, menekuri setiap pilihan katanya, dan mengubahnya menjadi senjata dalam laku usiaku kelak. Dari Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Sajak Anak Muda, Orang-orang Miskin, Sajak Pertemuan Mahasiswa, hingga Sajak Sebatang Lisong. Dan saat seorang mahasiswa  memberiku majalah stensilan buruk rupa yang berisi naskah drama “Kisah Perjuangan Suku Naga”, girangku tak alang kepalang.  Aku masih duduk di bangku SMA saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang membuatku mendadak punya cita-cita super ajaib adalah saat seorang kawan (sial, aku tak ingat lagi siapa dan bagaimana caranya) memberi (atau meminjami?) ku kaset yang berisi suara Rendra saat membaca sajak Orang-orang Miskin. Mendadak dalam sekejap, aku punya cita-cita untuk menjadi penyair. Bahkan memberiku keberanian (atau kenekadan) ikut lomba puisi antarpelajar se-SMA yang digelar di aula RRI-Yogya.  Semua hanya karena aku terkesima dengan suara Rendra yang serak, dengan diselingi bunyi batuk dan tertawa sinisnya –dalam puisi itu. Sampai detik ini, masih kuingat ‘cengkok’ suaranya saat membacakan bait di bawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang-orang miskin di jalan,&lt;br /&gt;yang tinggal di dalam selokan,&lt;br /&gt;yang kalah di dalam pergulatan,&lt;br /&gt;yang diledek oleh impian,&lt;br /&gt;janganlah mereka ditinggalkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan kamu bilang negara ini kaya&lt;br /&gt;karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.&lt;br /&gt;Jangan kamu bilang dirimu kaya&lt;br /&gt;bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.&lt;br /&gt;Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.&lt;br /&gt;Dan perlu diusulkan&lt;br /&gt;agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.&lt;br /&gt;Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.&lt;br /&gt;…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gagal jadi penyair, tentu saja. Tapi kata-kata Rendra telah "memprovokasiku" untuk hal yang lain. Untuk berani menyatakan TIDAK, tak hanya melalui pikiran. Untuk mengatakan STOP terhadap segala upaya yang mengebiri nalar kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun uniknya, aku mulai belajar “memusuhi” Rendra di tahun-tahun yang sama. Saat kisah romansanya membuatku jengah. Saat kutemukan ia begitu pandai menciptakan dalih untuk  pilihan yang diambilnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bertahun-tahun kemudian, “permusuhan”-ku dengannya mencair, saat seorang jurnalis menyorongkan ponselnya padaku, memaksaku bicara langsung dengan Sang Burung Merak. Di seberang telepon, Rendra –penyair yang kucintai dan kubenci pada saat bersamaan itu-  dengan suara serak khas miliknya, bicara tentang Indonesia, tentang nasib sebuah bangsa, dan tentang kemanusiaan dengan “M” besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini,  saat sosoknya benar-benar pergi, aku hanya ingin mengenang apa yang pernah “kucintai” darinya, dan bukan apa yang “kubenci”. Setidaknya ia pernah menjadi inspirasi untuk episode yang pernah melintas dalam hidupku. Kata-kata yang pernah ia torehkan telah  menetap, dan tak akan pernah menguap. Dulu, kini, dan semoga kelak, kata itu akan punya daya untuk menjadi senjata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kesadaran adalah matahari&lt;br /&gt;Kesabaran adalah bumi&lt;br /&gt;Keberanian menjadi cakrawala&lt;br /&gt;dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (Paman Doblang-WS. Rendra)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hong Kong, 7 Agustus 2009&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-7592935810651266100?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/7592935810651266100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=7592935810651266100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7592935810651266100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7592935810651266100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/08/mengantar-rendra.html' title='Mengantar Rendra'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-8563298085694548013</id><published>2009-06-03T15:02:00.005+08:00</published><updated>2009-08-07T17:08:01.971+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>20 Tahun Peristiwa Tiananmen#2 (Bertahan dengan Ekonomi "Sarang Burung")</title><content type='html'>BEBERAPA kalangan mengatakan bahwa kemajuan ekonomi yang dicapai China saat ini sebenarnya tak lepas dari Peristiwa Tiananmen 1989. Setidaknya setelah protes ratusan ribu mahasiswa di lapangan Tiananmen April-Juni 1989 yang berakhir dengan insiden berdarah, para pemimpin China lebih serius mengurus reformasi ekonominya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Deng Xiaoping ke selatan yang terkenal itu dilakukan tahun 1992, tiga tahun setelah insiden Tiananmen. Dan perjalanan inilah, di mata para pengamat ekonomi, yang mengilhami Deng dan mendorong percepatan modernisasi di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika membaca pengakuan Zhao Ziyang, mantan Perdana menteri China dan Sekjen Partai Komunis China, dalam “Prisoner of The State”, percepatan ekonomi China sebenarnya memang sudah dirancang sejak Sidang Pleno ke-3 Komite Sentral PKC ke-11 tahun 1978 saat diputuskan China menempuh jalan reformasi ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik justru terjadinya tarik-menarik antara kubu “konservatif” atau “garis keras” yang masih mencurigai efektifitas pasar dan kubu “reformis” yang meyakini kedigdayaan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhao, yang diturunkan dari jabatan dan jadi tahanan rumah sejak Juni 1989,  menempatkan dirinya sebagai “reformis” bersama Deng Xiaoping dan Hu Yuobang. Sementara Chen Yun dan Li Xiannian (keduanya menjabat sebagai Dewan harian Politibiro di tahun 1980-an) dianggap mewakili kaum “konservatif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhao beranggapan bahwa China harus tak ragu “memeluk”mekanisme pasar. Membuka diri terhadap investasi asing, menggenjot produksi barang orientasi ekspor, dan menstabilkan keuangan negara dengan bantuan utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Chen Yun mencurigai setiap motif di balik investasi asing dan juga kucuran utang. Ia tak mau China terjebak dalam dikte asing. Pernyataanya yang terkenal adalah “ekonomi terencana sebagai yang utama, penyesuaian pasar sebagai alat bantu”.&lt;br /&gt;Chen Yun lebih condong pada model ekonomi “sarang burung”. Menurutnya, jika seekor burung dipegang terlalu erat maka ia akan mati lemas. Namun jika dibiarkan terbang bebas maka ia tak akan kembali. Jadi yang terbaik adalah “menernakkan” mereka di dalam sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deng, menariknya, dalam perdebatan seperti ini selalu menjadi “penengah”.  Meski ia getol mengampanyekan reformasi ekonomi, ia tak abai dengan kekhawatiran yang disampaikan orang seperti Chen Yun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini yang membuat tahap perkembangan ekonomi China berjalan mulus. Pengalaman buruk Chen di bawah ambisi ekonomi Mao di tahun 1950-an menjadi pelajaran bahwa kemajuan ekonomi tak bisa dicapai dengan cara instan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara keterkaitan kemajuan ekonomi dengan stabilitas politik, Deng sepenuhnya tak ragu untuk bersandar pada kubu “para konservatif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah agaknya Zhao mesti bersebrangan dengan Deng dan sejumlah pimpinan PKC, dan membuatnya terdepak dari lingkaran partai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sistem Politik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zhao, ketika basis ekonomi berubah maka sistem politik juga perlu direformasi. Ini juga yang membuatnya mengusulkan agar anggota partai di luar PKC berhak untuk masuk jajaran pejabat negara atas nama partai mereka. Ini akan memungkinkan terjadinya mekanisme check-balance dan penyakit korupsi yang berjangkit mengiringi pertumbuhan ekonomi bisa dipangkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Zhao salah “membaca” situasi. Deng, dalam sejumlah pidatonya, memang menyebut soal reformasi politik, tapi ini sama sekali tak terkait dengan reformasi yang dibayangkan Zhao. “Mereka hanya boleh bergabung di pemerintahan dalam kapasitas personal, bukan wakil partai,” ungap Deng menanggapi usulan Zhao saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deng menolak liberalisasi politik, tak sepakat dengan sistem multipartai yang dianut Barat, juga pemisahan lembaga yudikatif, eksekutif, dan legislative.  Reformasi politik yang dipahami Deng adalah sebatas pembenahan organisasi, pemangkasan birokrasi, dan tertib administrasi. PKC akan tetap menjadi satu-satunya partai yang menkonsolidasikan seluruh  tatanan. Segala bentuk reformasi  yang mencoba memperlemah posisi PKC akan ditolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1987, saat bicara dengan delegasi dari Yugoslavia, Deng mengkritik demokrasi a la Barat. “Demokrasi borjuis dalam kenyataannya adalah demokrasi untuk mereka yang memonopoli kapital,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan inilah agaknya insiden Tiananmen 1989 “terpaksa” terjadi. Deng melihat bahwa aksi protes mahasiswa tersebut masih bisa ditolerir saat mengkritik korupsi lembaga negara, inflasi yang tinggi, dan sejenisnya. Namun ketika mulai ada pertanyaan soal efektifitas PKC, tuntutan perluasan demokrasi dengan rujukan Barat, maka Deng harus memilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuat China, hingga hari ini, tak pernah mengeluarkan pernyataan maaf atas insiden Tiananmen. Beberapa tuntutan yang diteriakkan mahasiswa di lapangan Tiananmen 20 tahun lalu, telah mereka dengar dan sejumlah perbaikan dilakukan, dari pemberantasan korupsi, pemerataan pembangunan ekonomi hingga ke desa, hingga kebebasan mendirikan Organisasi Nonpemerintah (Ornop). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pemilihan langsung untuk tingkatan desa telah dilakukan sejak tahun 1988. Sedangkan untuk tingkatan nasional, Deng dalam pidatonya tahun 1987, mengatakan bahwa China akan siap melakukan itu sekitar 50 tahun lagi. Itu artinya sekitar tahun 2037. Sementara untuk Hong Kong, China menetapkan pemilihan langsung untuk Chief Executive akan digelar tahun 2017. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China, diakui atau tidak, mau belajar dari kesalahan. Termasuk memperbaiki jurang kaya-miskin yang membentang saat pembangunan ekonomi di masa lalu hanya fokus di area pesisir, sesuatu yang pernah dikhawatirkan Chen Yun akan melahirkan para “bandit” ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah Hu Jintao saat ini, China mulai fokus untuk memperhatikan kawasan pedalaman. Seorang buruh migran asal Hunan yang bekerja di Shenzhen mengatakan bahwa ia tak meragukan keseriusan pemerintah pusat dalam mengatasi persoalan. “Namun kadang-kadang yang sering nakal itu pemerintah lokal,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, banyak “PR” yang harus dilakukan China untuk menertibkan birokrasinya dan memperhatikan 1,3 miliar warganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika dunia saat ini mengecam mereka soal urusan demokrasi, maka itu hanya akan jadi sesuatu yang tak sungguh mengusik China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Rabu 3 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-8563298085694548013?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/8563298085694548013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=8563298085694548013' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8563298085694548013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8563298085694548013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/06/20-tahun-peristiwa-tiananmen2-bertahan.html' title='20 Tahun Peristiwa Tiananmen#2 (Bertahan dengan Ekonomi &quot;Sarang Burung&quot;)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1514202069772844877</id><published>2009-06-03T14:56:00.003+08:00</published><updated>2009-06-03T15:06:10.970+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>20 Tahun Peristiwa Tiananmen#1 (Mengulang Tuntutan Reformasi Politik)</title><content type='html'>“WHOEVER suppressed student movement is gonna have a bad ending”. Tulisan itu melekat pada kaos yang dikenakan tiga  mahasiswa di lapangan Victoria Park, Minggu (31/5) lalu. Sebuah gambar kepala Mao Tse Tung berada di samping tulisan itu, dan di bawahnya tertulis: …quotations from Chairman Mao. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul (19), salah seorang mahasiswa yang mengenakan kaos tersebut, mengatakan bahwa ia dan kawan-kawannya sengaja mendesain kaos itu untuk menekankan bahwa apa yang dilakukan pemerintah China terhadap gerakan mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada bulan Juni, 20 tahun lalu, sama sekali tak bisa dibenarkan, bahkan Mao pun –seandainya masih hidup- tak akan membiarkan hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keputusan Partai Komunis untuk menindak gerakan di Tiananmen itu adalah hal yang salah,” ujar Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, peringatan 20 tahun peristiwa Tiananmen mulai digelar sejak akhir pekan hingga 4 Juni mendatang. Minggu (31/5), kelompok pro demokrasi di Hong Kong menggelar aksi peringatan di lapangan Victoria Park dan kemudian dilanjutkan rally ke kantor pemerintah Hong Kong yang berjarak sekitar 4 kilometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut rencana, puncak peringatan akan digelar pada Kamis (4/6) malam di Victoria Park dengan menggelar renungan lewat aksi penyalaan lilin, seperti tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menarik dalam peringatan tahun ini adalah munculnya sejumlah “kebetulan” yang memanaskan situasi politik di Hong Kong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu “kebetulan” itu adalah pernyataan Chief Executif Hong Kong Donald Tsang dalam dengar pendapat dengan anggota parlemen pada 13 Mei lalu. Ia mengatakan dirinya bisa memahami bahwa warga Hong Kong akan memiliki pandangan sendiri tentang peringatan peristiwa Tiananmen. Namun melihat pencapaian ekonomi dan sejumlah kemajuan lain yang dicapai China selama 20 tahun terakhir, menurut Tsang, ia percaya bahwa Hong Kong akan memiliki pandangan yang lebih objektif terhadap China. &lt;br /&gt;Tapi masalah kemudian muncul saat Tsang menambahkan bahwa apa yang ia sampaikan tersebut merupakan pandangan mayoritas warga Hong Kong saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan pernyatan ini memicu protes anggota parlemen dari kubu demokratik. Sebanyak 20 anggota parlemen dari kubu demokratik saat itu juga “walk out” dan menggelar konferensi pers, mendesak Tsang mencabut pernyataannya dan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsang, hari itu juga, menyampaikan permintaan maaf dan mengatakan bahwa ia kesleo lidah. Ia tak bermaksud mengatakan bahwa pernyataannya mewakili mayoritas warga Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun efek dari pernyataan Tsang telanjur bergulir. Esoknya, harian berbahasa Inggris terbesar di Hong Kong, South China Morning Post, menjadikan peristiwa itu sebagai headline mereka, berdampingan dengan sebuah “kebetulan” yang lain: buku memoar mantan Perdana Menteri dan juga Sekjen Partai Komunis China, Zhao Ziyang.&lt;br /&gt;Buku tersebut terbit pertama dalam bahasa Inggris. Sebuah pengakuan dari “orang dalam” PKC tentang apa sebenarnya yang terjadi menjelang 4 Juni 1989. Buku tersebut merupakan hasil transkrip dari  rekaman kaset berdurasi 30 jam yang ia buat saat jadi tahanan rumah, setelah partai menudingnya sebagai sosok kontra-revolusi yang bisa membahayakan eksistensi PKC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beredar resmi di Hong Kong pada 19 Mei dan kemudian disusul versi bahasa China yang mulai beredar di pasar pada 29 Mei, buku ini laris bak kacang goreng. &lt;br /&gt;Diperkirakan 14.000 buku versi bahasa China yang beredar di Hong Kong ludes dalam satu hari dan stok berikutnya baru akan datang tanggal 10 Juni nanti. Hal sama terjadi pada versi bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah mahasiswa yang mengikuti aksi peringatan di Victoria Park, Minggu (31/5) lalu, mengaku sulit mendapatkan buku tersebut. “Saya berharap versi China-nya bisa masuk ke mainland,” ujar Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Natalie Wong (20), mahasiswi dari Hong Kong Baptist University, mengatakan bahwa ia percaya buku tersebut bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Tiananmen saat itu. “Generasi muda harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sendiri bersama kawan-kawannya dari jurusan jurnalistik menerbitkan buku berisi wawancara dengan sejumlah saksi mata peristiwa Tiananmen, termasuk para aktivis mahasiswa yang berhasil lolos, keluarga korban, wartawan yang meliput saat itu, dan juga sejumlah aktivis dan politisi di Hong Kong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak anak muda, seperti saya, mulai kehilangan ‘ikatan emosi’ dengan peristiwa Tiananmen. Sementara informasi tentang peristiwa itu sendiri sangat minim. Karena itu kami merasa punya tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi ini ke publik. Karena jika di Hong Kong tak ada lagi yang bersuara soal Tiananmen, maka peristiwa itu akan hilang dari ingatan dunia,” ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Victoria Park, foto Zhao Ziyang dipasang di banner, berdampingan dengan foto aksi Tiananmen yang berakhir ricuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Reformasi Politik&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Selain pernyataan Donald Tsang dan buku Zhao Ziyang, “kebetulan” lain yang muncul menjelang peringatan Tiananmen adalah diungkapnya rencana pembunuhan terhadap mantan ketua Democratic Party di Hong Kong, Martin Lee Chu-ming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percobaan pembunuhan ini terjadi saat kampanye calon legislative council tahun lalu. Upaya ini terungkap saat polisi menangkap orang asal China daratan yang menyelundupkan pistol dan amunisi di perbatasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kepada wartawan, Martin Lee mengatakan PKC tak mungkin berada di belakang rencana pembunuhan ini, tak urung spekulasi itu sempat muncul ke permukaan. Ia hanya mengatakan bahwa ia rela jika darahnya tumpah untuk demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan demokrasi itulah yang kini gencar disuarakan di Hong Kong, juga reformasi politik untuk China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota parlemen Hong Kong, Lee Cheuk-yan, mengatakan bahwa China harus sampai pada tahapan itu. “Sebelum 1949 (deklarasi Republik Rakyat China-red), Mao menjanjikan ada demokrasi di China. Untuk itu, one man one vote bagaimanapun harus terealisasi,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu berarti bahwa sistem politik China harus meniru sistem demokrasi a la Barat, Lee Cheuk-yan enggan menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri China Wen Jiabao dalam wawancara dengan CNN akhir 2008 lalu, mengatakan bahwa setelah kemajuan ekonomi yang dicapai, China membutuhkan reformasi politik. Tapi apakah reformasi politik yang dimaksud oleh Wen sama dengan pemahaman Barat, tampaknya harus dilihat ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang muda seperti Natalie Wong mengatakan bahwa kalaupun ada reformasi demokratik di China maka itu seharusnya tak “membebek” pada formula Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Selasa 2 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1514202069772844877?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1514202069772844877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1514202069772844877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1514202069772844877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1514202069772844877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/06/20-tahun-peristiwa-tiananmen1-mengulang.html' title='20 Tahun Peristiwa Tiananmen#1 (Mengulang Tuntutan Reformasi Politik)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-7911755938689500619</id><published>2009-06-03T14:46:00.002+08:00</published><updated>2009-06-03T14:53:48.288+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Marx'/><title type='text'>Menuding Marx, Membodohi Sejarah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan lama, memperingati 188 tahun Karl Marx. Jadi ingat tulisan ini, saat hiruk pikuk soal Neoliberalisme di Tanah Air mulai tampak tak masuk akal. Sementara di sisi lain ada orang yang menahbiskan diri  menjadi sang pemimpin garda depan “ekonomi kerakyatan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KEHIDUPAN Marxisme di Nusantara ini adalah kehidupan topeng. Hakikat sebenarnya tak pernah dikenali, tapi biaya yang harus dibayar terlalu besar.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini disampaikan pengamat soial Emanuel Subangun dalam diskusi memperingati 188 tahun Karl Marx di kantor Institut for Global Justice (IGJ), Jakarta, Jumat (5 Mei 2006). Hadir juga dalam diskusi tersebut, pengamat sosial Thamrin Amal Tamagola dan Wakil Sekjen Partai Rakyat Demokratik (PRD) Daniel Indra Kusumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emanuel merujuk Indonesia tahun 1965 (ribuan orang mati dan jutaan lainnya berada dalam bui tanpa pernah diadili) dan tahun-tahun sesudahnya yang harus dialami oleh para pengikut, simpatisan, bahkan anak-cucu dari mereka yang dituding pernah berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun onderbouw-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah mengekalkan kutukan ini, Indonesia di bawah Soeharto mengeluarkan Tap MPRS No XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan larangan penyebaran ajaran Komunisme/Marxisme dan Leninisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, PKI dan segala atributnya, juga komunisme, Marxisme, Leninisme, Maoisme dan apa pun yang berkaitan dengan itu menjadi momok bagi rakyat Indonesia. Bahkan karya seorang pemikir, budayawan, atau bahkan sastrawan yang dicurigai punya simpati dengan PKI, telah disulap menjadi barang haram di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca pun bersikap seperti maling karena harus menikmati karya ini dengan sembunyi-sembunyi, di kamar kost yang sempit, di rumah kontrakan yang selalu diselidiki, dan menyampul cover buku dengan kertas bungkus kado atau poster kalender, hanya untuk mengantisipasi agar tak jadi pesakitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh tahun berlalu sejak dikeluarkannya Tap MPRS No XXV/1966, namun tak ada yang berubah dengan negeri ini. PKI tetap terlarang dan Marxisme/Leninisme tetap tak boleh diajarkan. Hanya saja, buku-buku Marx, Lenin, Mao Tse Tung, juga kisah para tokoh PKI dan Gerwani – dari DN Aidit, Sudisman, Untung, hingga Sulami - berjejer di rak toko buku, orang bisa membelinya dan membacanya di akhir pekan tanpa takut dijebloskan ke penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emanuel Subangun bisa jadi benar. Harga yang harus dibayar bangsa ini cukup besar untuk sebuah ideologi yang tak sepenuhnya dipahami, bahkan oleh penganutnya sendiri. Menurutnya, di bawah kepemimpinan DN Aidit, pemahaman para kader PKI terhadap Marxisme justru berada pada level yang memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memahami Marx &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan di Trier, Prussia pada 5 Mei 1818, Karl Heinrich Marx diakui dunia sebagai seorang filsuf dan pemikir ekonomi-politik yang cukup maju. Pernyataannya yang paling terkenal adalah bahwa “tugas seorang filsuf bukan sekadar mendefinisikan dunia, tapi bagaimana mengubahnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx sempat mencecap Fakultas Hukum di Bonn, selepas dari sekolah menengah. Namun cuma satu semester dia bertahan, sebelum melompat ke Universitas Berlin dan sibuk dengan filsafat. Marx terlibat dalam kelompok diskusi populer di kampusnya yang selalu menggunakan Filsafat Hegel untuk menyerang kekolotan Prussia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kampus ini, Marx menjadi penulis di Koran Reinische Zeitung Moses Hess. Tulisan-tulisannya sangat tajam dalam mengecam kebijakan Prussia, membela kaum buruh dan bahkan mengusulkan pembentukan serikat buruh. Teorinya tentang nilai lebih membuat Kaisar Prussia  marah dan meminta koran tersebut dibreidel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi penganggur setelah korannya diberedel, Marx menikah dengan Jenny (putri mentor masa kecilnya Ludwig von Westphalen) dan sibuk meringkas buku-buku filsafat politik. Tahun 1843, Marx pindah ke Prancis dimana ia berkenalan dengan Frederich Engels, yang menjadi sahabat terdekatnya hingga akhir hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Engels pula, Marx melahirkan pamflet Manifesto Komunis yang sangat terkenal. Pernyataan dalam Manifesto ini bahwa agama adalah candu kerap digunakan sebagai propaganda hitam untuk menyudutkan para pengikut Marx. Padahal dalam Manifesto Komunis, Marx bicara tentang posisi kaum proletariat, mereka yang menjadi subordinat dalam relasi industri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proletariat, baginya, tidak memiliki harta; hubungannya dengan istri dan anaknya tidak lagi mempunyai persamaan dengan hubungan kekeluargaan borjuasi. Dari sinilah ia bicara bahwa perundangan, moralitas, dan agama, merupakan prasangka borjuasi, yang menyembunyikan kepentingan borjuasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Kristen, ajaran “cinta kasih” yang mengajarkan bahwa pembalasan dendam adalah hak Ketuhanan dan manusia hanya boleh memberikan pengampunan terhadap sesama, memberikan ilusi bagi kaum proletariat yang jelas-jelas diperlakukan tak adil dalam hubungan industrial. Padahal satu-satunya sikap untuk menghadapi ketidakadilan adalah melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari seluruh karya Marx, Das Kapital adalah karya monumental yang ia kerjakan sejak 1867 hingga meninggalnya. Karya yang edisi Indonesianya diterbitkan Hasta Mitra baru-baru ini, menuturkan soal kerja dan nilai lebih yang gagal dijelaskan oleh para pendahulu seperti Adam Smith dan David Ricardo. “Seluruh pemikiran Marx adalah upaya menghentikan alienasi,” ujar Emanuel Subangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis Marx, kerja telah membuat buruh terasing dari hasil kerjanya karena ia tak pernah memiliki hasil yang dikerjakannya dengan jam kerja yang panjang dan upah yang sama sekali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada merekalah, seluruh pemikiran Marx didedikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, selama berpuluh tahun, Indonesia berkubang dalam kebodohan historis, dan Marx menjadi hantu yang tak pernah ditelusuri bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 6 Mei 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-7911755938689500619?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/7911755938689500619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=7911755938689500619' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7911755938689500619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7911755938689500619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/06/menuding-marx-membodohi-sejarah.html' title='Menuding Marx, Membodohi Sejarah'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-3477944618344851171</id><published>2009-03-25T14:49:00.001+08:00</published><updated>2009-03-25T14:51:35.616+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Menimbang Sosialisme China</title><content type='html'>RABU (18/3) lalu, harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;menurunkan opini “Menimbang Ulang Kapitalisme”. Opini yang ditulis B Herry Priyono ini bicara tentang ”jalan tengah”, sebuah tata ekonomi, yang dalam istilahnya, menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, sistem ekonomi yang hanya memuja individualitas dengan mengabaikan daya sosialitas niscaya akan membawa malapetaka. Sementara tata ekonomi yang hanya merayakan kolektivitas dengan menyingkirkan daya spontanitas individual bukanlah sistem ekonomi yang sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengkritik kapitalisme, tapi juga tak setuju dengan sosialisme. Menurutnya, tatanan ekonomi yang matang dan tidak kekanak-kanakan pada akhirnya bukan penyembah kapitalisme ataupun sosialisme, melainkan tata ekonomi yang menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyono tak sendirian. Suara yang keras mengecam sisi rakus kapitalisme, tapi sekaligus menaruh kekhawatiran pada watak otoritarian sosialisme diucapkan sejumlah kalangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun lalu, sosiolog Inggris Anthony Giddens mengusung ide “jalan ketiga”, setelah menyimpulkan bahwa “kiri” dan “kanan” telah bangkrut. Menurutnya, tujuan dari politik jalan ketiga adalah memberikan arah bagi warga negara untuk melalui revolusi besar yang terjadi saat ini, yakni globalisasi, transformasi personal, dan hubungan manusia dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pendekatan kompromis di antara kapitalisme dan sosialisme, antara liberalisme pasar dan sosialisme demokratik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkatan praktik, konsep “jalan ketiga” ini menjadi kebijakan yang diambil pemerintah Amerika Serikat (di bawah Bill Clinton dan Obama saat ini), Australia, Inggris, Prancis, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita kemudian tahu, misi penyelamatan “jalan ketiga” ini juga tak menunjukkan hasil gemilang ketika krisis kapitalisme menghantam. Para penganut “jalan ketiga” tersebut kini justru “merapat” ke China, negara di kawasan Asia yang pernah membuat mereka alergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal China jelas bukan contoh “third way” seperti yang dibayangkan Giddens. Juga bukan pelaku “jalan tengah” seperti yang dikonsepkan Priyono. Meskipun sebagian besar kelompok kiri, terutama di Amerika Latin, melihat China terlalu jauh bergeser ke tengah, ada karakter khas yang melekat di China.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Percaya Diri&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Karakter ini bisa kita telusuri sejak fondasi sosialisme diletakkan di negara tersebut oleh duo Mao Tse Tung dan Zhou Enlai. Sejak itu, sebenarnya, tak ada yang sungguh berubah di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Perdana Menteri China Wen Jibao dalam konferensi pers yang jarang, Jumat (13/3) lalu, tentang confidence atau kepercayaan diri, sebenarnya “kunci” yang dimiliki China untuk bisa seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan diri, kata Wen, jauh lebih penting daripada emas dan uang. Hanya dengan kepercayaan diri yang kuat, kata Wen, China akan memiliki keberanian dan kekuatan lebih besar. Dan hanya dengan keberanian dan kekuatan lebih besar, China bisa mengatasi kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan AP mencatat, hanya dalam beberapa menit di awal pidatonya, Wen telah mengucapkan kata “confidence” sebanyak lima kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ini memang punya makna penting bagi China. Di akhir tahun 1920-an, kepercayaan diri jugalah yang membuat China–Partai Komunis China lebih tepatnya—menolak tunduk pada “dikte” Uni Soviet dan Komintern dalam strategi dan taktik mengusir Jepang dari tanah China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran di perkotaan dan hanya mengandalkan kaum buruh untuk memimpin massa, dinilai Mao, merupakan “kesalahan” dalam melihat kekuatan yang dimiliki China. Taktik gerilya, melancarkan serangan dari pedesaan, dan mengandalkan kaum tani, menjadi pilihan yang lebih tepat untuk membebaskan China dari Jepang. Kepercayaan diri yang muncul dari pembacaan yang tepat terhadap kondisi objektif masyarakat inilah yang membuat China berani menolak dikte Uni Soviet dan Komintern. &lt;br /&gt;Di akhir 1970-an, saat Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan China, setelah kematian Mao dan Zhou, kepercayaan diri pula yang membuat China berani membuka pintu bagi investasi asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan ini, menurut Deng, sama sekali tak “mengkhianati” cita-cita sosialisme yang diproklamirkan di gerbang Tiananmen pada 1 Oktober 1949. Karena di bawah Mao dan Zhou, China juga menempuh semua jalan untuk bisa memberi makan ratusan juta warganya. Ini yang membuat China, di masa Mao bisa berkompromi dengan Uni Soviet dan kemudian berbalik menjalin koneksi dengan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Daulat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;China akan melakukan apa pun untuk membuat rakyat punya daulat atas negerinya. Namun, kedaulatan ini terancam sehingga tak ada kompromi lagi. Ini mungkin bisa membantu kita memahami bagaimana China tak segan minta maaf soal kasus melamin yang terjadi beberapa waktu lalu, tapi bergeming terhadap isu Tibet, Taiwan, dan Tragedi Tiananmen 1989. Juga menolak minta maaf soal insiden dengan kapal AS di perairan China Selatan baru-baru ini serta tegas menolak proposal Coca-Cola untuk mengambil alih Huiyan Juice Group. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara dengan jurnalis Italia Oriana Fallaci di bulan Agustus 1980, Deng Xiaoping menyebut, prinsip pembangunan ekonomi China tetap akan bersandar pada formulasi yang ditetapkan Mao, yakni bersandar pada upaya sendiri dengan bantuan dari luar. Menurut Deng, tak peduli seberapa besar China membuka diri terhadap dunia luar dan menerima modal asing, pengaruhnya akan relatif kecil dan tidak dapat memengaruhi sistem sosialis mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyerapan modal asing dan teknologi–bahkan mengizinkan orang asing membangun pabrik di China—hanyalah pelengkap bagi upaya kami membangun kekuatan produksi dalam masyarakat sosialis,” ungkap Deng saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ini pula yang membuat sosialisme China tetap bertahan, saat Soviet ambruk dan tembok Berlin runtuh. Pun saat krisis kapitalisme berkali-kali menghantam dunia. Mereka punya sesuatu yang, menurut Wen, jauh lebih berharga dari emas dan uang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Selasa 24 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-3477944618344851171?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/3477944618344851171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=3477944618344851171' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3477944618344851171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3477944618344851171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/03/menimbang-sosialisme-china.html' title='Menimbang Sosialisme China'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4255499546910686657</id><published>2009-03-12T13:02:00.006+08:00</published><updated>2009-03-13T13:59:47.055+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Deng Xiaoping (3)</title><content type='html'>"Dalam analisis akhir, prinsip umum untuk pembangunan ekonomi kami masih diformulasikan oleh Ketua Mao, yakni terutama bersandar pada upaya sendiri dengan bantuan dari luar. Tak peduli seberapa besar kami membuka diri terhadap dunia luar dan menerima modal asing, pengaruhnya akan relatif kecil dan tidak dapat mempengaruhi sistem sosialis kami tentang kepemilikian publik terhadap barang-barang produksi. Penyerapan modal asing dan teknologi dan bahkan mengizinkan orang asing untuk membangun pabrik di China hanyalah pelengkap bagi upaya kami membangun kekuatan produksi dalam masyarakat sosialis. Tentu saja, ini akan membawa beberapa pengaruh kemerosotan kapitalis di China. Kami sadar soal kemungkinan ini; tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan". &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku telah melihat potret lain di China. Di Tiananmen, aku melihat potret Marx, Engels, dan Lenin dan terutama Stalin. Apakah Anda bermaksud membiarkan potret-potret itu tetap di sana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum “Revolusi Budaya”, potret-potret itu ditempatkan hanya dalam hari-hari besar yang penting. Tapi kondisi ini berubah saat “Revolusi Budaya”. Potret mereka dipasang permanen. Kini,  kami akan kembali pada aturan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Empat modernisasi akan membawa modal asing masuk ke China, dan ini mau tak mau akan mengundang masuk investasi swasta. Bukankah ini akan mengarah pada bentuk kapitalisme?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisa akhir, prinsip umum pembangunan ekonomi kami masih diformulasikan oleh Ketua Mao, yakni bersandar pada upaya sendiri dengan bantuan dari luar. Tak peduli seberapa besar kami membuka diri terhadap dunia luar dan menerima modal asing, pengaruhnya akan relatif kecil dan tidak dapat mempengaruhi sistem sosialis kami tentang kepemilikian publik terhadap barang-barang produksi. Penyerapan modal asing dan teknologi – bahkan untuk mengizinkan orang asing membangun pabrik di China-  hanyalah pelengkap bagi upaya kami membangun kekuatan produksi dalam masyarakat sosialis. Tentu saja, ini akan membawa sejumlah pengaruh kemerosotan (menjadi) kapitalis di China. Kami sadar soal kemungkinan ini; tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah itu berarti bahwa semua dalam kapitalisme begitu buruk?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kapitalisme. Semua kapitalisme lebih unggul dari feodalisme. Dan kami tidak dapat mengatakan bahwa segala hal yang dibangun dalam negara kapitalis bersifat  kapitalis. Contohnya , teknologi, ilmu pengetahuan  -bahkan managemen produksi yang maju adalah juga jenis ilmu pengetahuan- akan berguna di setiap masyarakat atau negara. Kami bermaksud mendapatkan teknologi maju, ilmu pengetahuan dan keahlian manajemen untuk menjalankan produksi sosialis kami. Dan segala hal tersebut tak punya kaitan dengan karakter kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku ingat bahwa beberapa tahun lalu, ketika bicara tentang kapling pribadi di pedesaan, Anda menyatakan bahwa manusia perlu memenuhi kebutuhan pribadi untuk berproduksi. Tidakkah ini berarti mempertanyakan soal komunisme itu sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marx, sosialisme adalah tahap pertama dari komunisme dan ini mencakup periode sejarah yang sangat panjang. Dalam rangka ini kita harus mempraktikkan prinsip “untuk setiap orang sesuai dengan pekerjaaanya” dan mengkombinasikan kepentingan negara, kolektif dan individual. Hanya dengan ini kita dapat membangkitkan antusiasme rakyat guna bekerja dan membangun produksi sosialis. Pada tahap lebih tinggi dari komunisme, ketika kekuatan produksi akan terbangun lebih besar dan prinsip “dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya” akan dipraktikkan, kepentingan personal akan diakui lebih banyak dan lebih banyak kebutuhan personal akan dipuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anda menyebut bahwa ada ada orang lain yang berkontribusi terhadap Pemikiran Mao Zedong. Siapa saja mereka?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kaum revolusioner dari generasi lebih tua, seperti Perdana Menteri Zhou Enlai, Kawan Liu Shaoqi dan Zhu De –serta kawan-kawan lain. Sejumlah kader senior punya pikiran yang kreatif dan orisinil.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa Anda tak menyebut nama Anda?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak terlalu penting. Tentu saja, aku juga melakukan sejumlah kerja. Jika tidak, aku  tak akan dihitung sebagai seorang revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang tak dapat kami mengerti adalah: Jika Gang of Four, seperti Anda katakan, adalah minoritas dan seluruh rakyat melawan mereka, bagaimana bisa mereka menguasai  seluruh negara, termasuk para pemimpin veteran? Apakah ini karena satu dari empat orang itu adalah istri Mao Zedong dan ikatan antara Mao Zedong dengannya begitu kuat sehingga tak satupun orang berani menyentuhnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah satu faktor. Seperti sudah kukatakan, Ketua Mao memang membikin kesalahan, satu diantaraya adalah lewat Gang of Four, membiarkan mereka berkuasa. Juga, Gang of Four membangun faksi sendiri dan membangun sejumlah klik – terutama mereka menggunakan anak-anak muda yang tak paham sebagai front, sehingga mereka memiliki basis yang cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah Mao Zedong dibutakan olehnya (Jiang Qing) sehingga ia tidak mau melihat apa yang ia lakukan? Dan apakah ia seorang petualang seperti Kaisar Perempuan Dowager Yehonala?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiang Qing melakukan hal-hal buruk dengan menjual panji-panji Ketua Mao. Tapi Ketua Mao dan Jiang Qing hidup terpisah selama bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kami tak tahu hal itu&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiang Qing melakukan apa yang ia lakukan dengan menjual panji-panji Ketua Mao, tapi ia (Ketua Mao) gagal menghentikannya. Dalam hal ini, ia (Ketua Mao) turut bertanggung jawab. Jiang Qing sangat curang. Apapun hukuman yang dijatuhkan pada Gang of Four tidak akan cukup. Mereka telah membawa kerugian pada jutaan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana Anda akan menilai Jiang Qing? Berapa nilai yang Anda berikan untuknya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah nol. 1000 di bawah nol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan cukup puas jika aku mendapat nilai 50-50 untuk kelebihan dan kekuranganku. Tapi satu hal dapat kukatakan untuk diriku: Aku memiliki kesadaran yang jelas selama hidupku. Tolong catat kata-kataku: Aku telah membuat sejumlah kesalahan, dan aku turut bertanggung jawab untuk sejumlah kesalahan yang dibuat oleh Kawan Mao Zedong. Tapi aku membuat kesalahan dengan maksud baik. Tak ada satu orang pun yang tak pernah berbuat salah. Kita seharusnya tidak meletakkan semua kesalahan masa lalu pada Ketua Mao. Jadi kami harus sangat objektif dalam menilainya. Sumbangannya adalah yang utama, kesalahannya adlah nomor dua. Kami akan mewarisi banyak hal baik tentang pikiran Ketua Mao sementara pada saat yang sama menjelaskan dengan terang kesalahan yang ia buat.........&lt;span style="font-style:italic;"&gt;selesai&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wawancara Oriana Fallaci dengan Deng Xiaoping, 21 &amp; 23 Agustus 1980&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4255499546910686657?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4255499546910686657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4255499546910686657' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4255499546910686657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4255499546910686657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/03/deng-xiaoping-3.html' title='Deng Xiaoping (3)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4615933064719464783</id><published>2009-03-12T12:54:00.003+08:00</published><updated>2009-03-13T13:54:58.307+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Deng Xiaoping (2)</title><content type='html'>"Negara kami memiliki sejarah ribuan tahun feodalisme dan masih kekurangan dalam hal demokrasi sosialis dan legalitas sosialis. Kami sekarang sedang bekerja sungguh-sungguh untuk menumbuhkan demokrasi sosialis dan legalitas sosialis. Hanya dalam cara ini kami dapat memecahkan masalah"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku mendengar bahwa Ketua Mao sering mengeluh kalau Anda tidak cukup mendengarkan dia, dan bahwa dia tidak menyukai Anda. Benarkah? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, Ketua Mao memang mengatakan bahwa aku tak mendengarkan dia. Tapi itu tak hanya ditujukan padaku. Itu terjadi juga pada pemimpin lainnya. Itu merefleksikan sejumlah ide tak sehat dalam tahun-tahun terakhir hidupnya. Itu cara patriarkal yang pada dasarnya feodal. Ia tidak siap mendengarkan pendapat yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak dapat mengatakan bahwa semua kritiknya salah. Tapi bahwa ia tak siap mendengar koreksi bukan hanya terjadi padaku tapi juga pada kawan-kawan lainnya. Sentralisme demokratik cacat, dan juga kepemimpinan kolektif.  Jika tidak, akan sulit menjelaskan bagaimana “Revolusi Budaya” tiba-tiba terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada satu orang di China yang selalu bisa terhindar dari semua ini, dan dia adalah Perdana Menteri Zhou Enlai. Bagaimana Anda menjelaskan fakta ini?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri Zhou adalah seorang pekerja keras dan tak perbah mengeluh sepanjang hidupnya. Ia bekerja 12 jam sehari, dan kadang-kadang 16 jam atau lebih. Kami mengenal satu sama lain lebih awal, ketika kami berada di Prancis dalam program studi kerja di tahun 1920-an. Aku selalu menganggapnya sebagai saudara tua. Kami menempuh jalan revolusioner pada waktu yang sama. Ia sangat dihormati oleh kawan-kawannya dan seluruh rakyat. Beruntung ia bisa bertahan selama masa “Revolusi Budaya” ketika kami terkena. Ia benar-benar berada dalam posisi sulit setelah itu. Ia mengatakan dan melakukan banyak hal yang tak ia harapkan. Tapi rakyat memaafkannya karena jika ia tak melakukan dan mengatakan hal-hal tersebut, ia sendiri tak akan bertahan dan memainkan peran netral, yang mengurangi banyak kerugian. Ia berhasil melindungi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku tidak melihat bagaimana sebuah keburukan seperti “Revolusi Budaya” dapat dihindari atau dicegah agar tak terulang lagi? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini harus ditanggapi dengan menyelesaikan problem  dalam kelembagaan kami. Beberapa hal yang telah telah kami buat di masa lalu, dalam kenyataaanya, dinodai oleh feodalisme, seperti termanisfestasi dalam sejumlah hal seperti pemujaan personal, cara atau corak kerja patriarkal, dan jabatan seumur hidup dari kader yang duduk di kursi pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sekarang sedang mencari jalan untuk mencegah hal-hal itu terulang dan sedang mulai menyiapkan restrukturisasi kelembagaaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kami memiliki sejarah ribuan tahun feodalisme dan masih kekurangan dalam hal demokrasi sosialis dan hukum sosialis. Kami sekarang sedang bekerja sungguh-sungguh untuk menumbuhkan demokrasi sosialis dan hukum sosialis. Hanya dalam cara ini kami dapat memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anda yakin bahwa hal-hal itu akan berjalan lebih mulus mulai dari sekarang? Bisakah Anda mencapai tujuan itu? Aku dengar bahwa kelompok yang menyebut diri Maoists masih ada. Maksudku “Maoists” adalah mereka yang mendukung “Revolusi Budaya”&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Gang of Four seharusnya memang tak dipandang remeh. Namun harus juga dicatat bahwa 97 atau 98 persen rakyat sangat membenci kejahatan mereka. Ini ditunjukkan dengan gerakan massa anti Gang of Four yang meledak di Lapangan Tiananmen pada 5 April 1976, ketika Gang of Four masih popular, Ketua Mao sakit keras dan Perdana Menteri Zhou meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak penggulingan Gang of Four (tahun 1976), dan terutama dua tahun lalu, keinginan dan tuntutan rakyat telah diekspresikan dalam Sidang Paripurna CC PKC ke-3, ke-4, dan ke-5. Kami menganggap cara memecahkan masalah kami adalah dengan memperbaiki lembaga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak masalah muncul saat ini. Untuk itu, penekanan utama adalah fokus pada kerja empat modernisasi, dan ini memenangkan hati rakyat. Mereka menginginkan stabilitas politik dan persatuan. Mereka muak dengan gerakan berskala besar. Gerakan ini selalu berakhir dengan melukai sejumlah –dan dalam jumlah yang tak sedikit- orang. Gerakan yang tak henti-henti membuat upaya fokus pada konstruksi nasional menjadi muskil. Oleh karena itu, kami katakan bahwa saat ini kami tengah melakukan pembenahan, rakyat akan mendukung kami dan sejumlah fenomena seperti “Revolusi Budaya” tak akan terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gang of Four hanya dapat ditahan setelah kematian Ketua Mao. Siapa yang merencanakan penahanan mereka? Siapa yang mengusulkan ide ini? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah upaya kolektif. Namun di atas semuanya, aku pikir, itu memiliki basis massa pada Gerakan 5 April (1976). Istilah “Gang of Four” diciptakan oleh Ketua Mao, dua tahun sebelum kematiaannya. Kami berjuang melawan Gang of Four selama dua tahun, di tahun 1974 dan 1975. Dari situ rakyat melihat jelas siapa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Ketua Mao telah menunjuk penggantinya, Gang of Four menolak menerimanya. Setelah kematian Ketua Mao, Gang of Four mengambil kesempatan untuk mencoba dan mendapatkan semua kekuasaan. Situasi ini memaksa kami untuk mengambil tindakan. Mereka sangat merajalela saat itu, mencoba menggulingkan kepemimpinan baru. Dalam situasi inilah, mayoritas kawan di Biro Politik setuju mengambil tindakan terhadap mereka. Upaya yang dilakukan satu atau dua individu tidak akan cukup untuk tujuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa beberapa hal yang dilakukan setelah penahanan Gang of Four tidak konsisten dengan harapan Ketua Mao. Contohnya, pembangunan Memorial Hall untuk Ketua Mao. Ia telah mengusulkan di tahun 1950-an bahwa kami semua seharusnya dikremasi ketika meninggal dan hanya abu kami yang disimpan, dan tak boleh ada jenazah yang diawetkan dan tak boleh ada kuburan yang dibangun. Ketua Mao adalah yang pertama menandatangani usulan ini, dan kami semua mengikutinya. Hampir semua kader senior di tingkat pusat dan sejumlah daerah menandatanganinya. Kami masih memiliki buku yang berisi tanda tangan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian, mengikuti penghancuran Gang of Four, adalah panggilan dari hasrat untuk mencapai stabilitas yang relative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah ini berarti Memorial Hall Ketua Mao akan dibongkar?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak setuju mengubahnya. Sekarang, itu sudah ada di sana. Akan sangat tidak tepat untuk memindahkannya. Memang di awal, pembangunan Memorial Hall itu tidak tepat, tapi mengubahnya akan menimbulkan sejumlah pertanyaan. Banyak orang saat ini sedang bertaruh apakah kami akan membongkar Memorial Hall. Kami tak punya ide itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Katanya Anda akan mundur dari jabatan Wakil Perdana Menteri&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan satu-satunya orang yang akan mengundurkan diri. Semua kawan lain dari generasi yang lebih tua akan mengundurkan diri dari jabatan mereka secara bersamaan. Ketua Hua Guofeng tidak akan memperpanjang posnya sebagai Perdana Menteri. Komite Sentral Partai telah merekomendasikan Kawan Zhao Ziyang sebagai kandidat untuk pos tersebut. Jika kami kawan-kawan tua masih di pos kami, para pendatang baru akan punya kendala dalam kerja-kerja mereka. Kami menghadapi masalah soal berkurangnya rata-rata usia para pemimpin di semua level secara berangsur-angsur. Kami harus mengambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, tak ada aturan terkait. Tetapi, dalam kenyataaanya, ada masa jabatan seumur hidup dalam pos pemimpin. Ini membuat pembaharuan kepemimpinan atau promosi orang-orang yang lebih muda tak terjadi. Ini adalah cacat institusional yang tidak keliatan  di tahun 1960-an karena kami saat itu berada dalamnya. Persoalan ini  tak hanya masalah individual, tapi juga mempengaruhi lembaga lain. Bahkan akan berpengaruh pada kebijakan umum kami tentang empat modernisasi. Oleh karena itu, akan lebih baik bagi kami kawan-kawan tua untuk mengambil sikap yang lebih jelas dan menjadi contoh untuk itu..............&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bersambung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wawancara Oriana Fallaci dengan Deng Xiaoping, 21 &amp; 23 Agustus 1980&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4615933064719464783?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4615933064719464783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4615933064719464783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4615933064719464783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4615933064719464783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/03/deng-xiaoping-2.html' title='Deng Xiaoping (2)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-6908235887639153229</id><published>2009-03-12T12:35:00.007+08:00</published><updated>2009-03-13T13:51:22.262+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><title type='text'>Deng Xiaoping (1)</title><content type='html'>Gara-gara banyak politisi Indonesia yang mengaku mendapat inspirasi dari China, terutama Deng Xiaoping (tak satupun yang berani menyebut Mao Zedong), aku jadi ingat wawancara jurnalis Italia, Oriana Fallaci di bulan Agustus 1980 dengan Deng Xiaoping. Bagi Deng, hanya sosialis yang bisa menyelematkan China. Dan Mao adalah peletak dasar dari semuanya itu, meski ia pernah bikin kesalahan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oriana Fallaci: Akankah potret Ketua Mao akan tetap diletakkan di atas gerbang Tiananmen?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Deng Xiaoping&lt;/span&gt;: Ya. Selamanya. Di masa lalu, ada begitu banyak potret Ketua Mao. Dipasang dimana-mana. Itu sama sekali tak tepat dan tak menunjukkan penghargaan terhadap Ketua Mao. Memang benar bahwa ia pernah membikin kesalahan di masa tertentu, tapi bagaimanapun juga ia adalah pendiri dasar Partai Komunis China dan Republik Rakyat China. Saat mengevaluasi jasa-jasa dan kesalahannya, kami menemukan kesalahannya lebih sedikit. Apa yang ia lakukan untuk rakyat China tak pernah bisa dihapuskan. Dalam hati kami, rakyat China, akan selalu mengenangnya sebagai pendiri Partai dan negara kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kami, orang Barat, menemukan banyak hal yang sulit dipahami. Gang of Four disalahkan untuk semua kegagalan. Aku diberitahu bahwa ketika orang China bicara tentang Gang of Four, kebanyakan dari mereka menunjukkan lima jari&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus jelas membedakan antara kesalahan dasar Ketua Mao dan kejahatan Lin Biao serta Gang of Four. Dalam kebanyakan waktu hidupnya, Ketua Mao melakukan hal-hal baik. Berulang kali ia menyelamatkan Partai dan negara dari krisis. Tanpa dia, rakyat China akan menghabiskan lebih banyak waktu meraba-raba dalam kegelapan. Kontribusi terbesar Ketua Mao adalah bahwa ia menerapkan dasar-dasar Marxisme-Leninisme untuk mewujudkan revolusi rakyat China, menuju kemenangan. Bisa dikatakan bahwa sebelum tahun 1960-an atau akhir 1950-an, banyak pemikirannya membawa kemenangan bagi kami, dan prinsip-prinsip dasar yang ia majukan sepenuhnya tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia secara kreatif menerapkan Marxisme-Leninisme untuk setiap aspek dari revolusi China, dan ia memiliki pandangan kreatif tentang filsafat, ilmu politik, ilmu kemiliteran, sastra dan seni, dan lain-lain. Sayangnya, di akhir masa hidupnya, terutama selama “Revolusi Budaya”, ia membuat kesalahan –dan ini bukan kesalahan sepele- yang membawa kerugian untuk Partai, negara, dan juga rakyat kami. Seperti Anda tahu, selama hari-hari Yan’an, Partai kami meringkas pemikiran Ketua Mao dalam berbagai bidang menjadi ‘Pemikiran Ketua Mao Zedong’, dan kami menjadikan itu sebagai ideologi pembimbing kami. Kami meraih kemenangan besar revolusi secara tepat karena kami bersandar pada ‘Pemikiran Mao Zedong’. Tentu saja, ‘Pemikiran Mao Zedong’ tak diciptakan hanya oleh Kawan Mao sendiri. Kaum revolusioner dari generasi lebih tua memainkan peran dalam membentuk dan membangunnya. Namun yang paling utama, ‘Pemikiran Mao Zedong’ mencakup sebagian besar pemikiran Kawan Mao. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kemenangan ternyata membuatnya kurang berhati-hati. Sehingga di tahun-tahun terakhir hidupnya, beberapa segi yang tak wajar dan ide yang tak sehat, terutama yang “Kiri”,  mulai muncul. Contohnya, ia menentang idenya sendiri, menolak usulan yang tepat dan baik yang pernah ia ajukan sebelumnya, dan menentang corak kerja yang pernah ia anjurkan sendiri sebelumnya. Pada saat itu, ia kehilangan sentuhan dengan realitas. Contohnya, ia tidak konsisten mempraktikkan sentralisme demokrasi dan garis massa, dan ia gagal melembagakan hal itu dalam hidupnya. Ini bukan semata kegagalan Kawan Mao Zedong. Kaum revolusioner dari generasi yang lebih tua lainnya, termasuk aku, juga turut bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ketidakwajaran muncul dalam kehidupan politik Partai dan negara kami. Ccorak kerja patriarchal terbentuk, dan pemujaan individu meluas; secara umum kehidupan politik sangat tidak sehat. Pada akhirnya hal-hal ini mengarah pada “Revolusi Budaya”, yang adalah sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda menyebut bahwa di tahun-tahun akhir hidupnya, kondisi kesehatan Ketua Mao memburuk. Tapi saat penahanan Liu Shaoqi dan saat ia meninggal di penjara, kesehatan Mao tidak begitu buruk. Dan ada sejumlah kesalahan lainnya. Bukankah “Loncatan Jauh ke Depan” adalah sebuah kesalahan? Bukankah meniru model Soviet adalah sebuah kesalahan? Dan apa sesungguhnya yang diinginkan Ketua Mao dengan “Revolusi Budaya”?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan mulai terjadi pada akhir 1950-an.  Loncatan Jauh ke Depan, misalnya. Tapi itu bukan semata-mata kesalahan Ketua Mao. Orang-orang di sekelilingnya turut terlibat. Kami melakukan pelanggaran hukum objektif, berusaha mendorong ekonomi dalam sekejap. Dan ketika harapan subyektif kami berlawanan dengan hukum objektif, kerugian pun tak terelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Mao memang bertanggung jawab terhadap  Loncatan Jauh ke Depan. Tapi ia kemudian tak lama  –hanya beberapa bulan- ia mengakui kesalahannya. Ia melakukannya sebelum kami semua,  serta mengusulkan perbaikan. Dan pada tahun 1962, ketika karena sejumlah hal, koreksi ini belum terlaksana sepenuhnya, ia melakukan kritik diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tak banyak pelajaran yang bisa diambil dari. Dan sebagai akibatnya, meletuslah “Revolusi Budaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Ketua Mao soal “Revolusi Budaya” sebenarnya dalam upaya mencegah pemulihan kapitalisme. Tapi ia keliru memperkirakan situasi China yang sesungguhnya. Pertama, target dari revolusi itu salah definisi, yang mengarah pada upaya mengejar “para penunggang kapitalis di dalam Partai”. Serangan itu mengenai kader-kader terkemuka di semua level yang telah berkonstribusi pada revolusi, termasuk Kawan Liu Shaoqi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun sebelum meninggal, Ketua Mao mengatakan bahwa “Revolusi Budaya” telah salah dalam dua perkara: pertama adalah “menggulingkan semua”, dan kedua adalah melancarkan “perang sipil dalam skala luas”. Dua hal ini sendiri menunjukkan bahwa “Revolusi Budaya” tak dapat disebut benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan Ketua Mao adalah kesalahan politis, dan ini bukan kesalahan kecil. Namun di sisi lain, ada yang mengambil keuntungan dari hal ini, yakni dua klik kontra-revolusi yang dikepalai oleh Lin Biao dan Gang of Four, yang punya rencana jahat untuk merampas kekuasaan.Oleh karena itu, kita harus membuat garis antara kesalahan Ketua Mao dan kejahatan Lin Biao dan Gang of Four. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi kita semua tahu bahwa Ketua Mao sendirilah yang memilih Lin Biao sebagai penerusnya, dalam cara yang sama seperti kaisar memilih ahli warisnya&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah apa yang sudah kusebut sebelumnya sebagai cara yang tak tepat. Seorang pemimpin yang memilih sendiri penerusnya telah melakukan praktik feodal. Ini adalag gambaran ketidaksempurnaan dalam lembaga kami yang kusebut beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejauh mana Ketua Mao akan ditempatkan dalam Kongres Partai berikutnya yang akan Anda gelar?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan membuat penilaian objektif terhadap kontribusi Ketua Mao dan juga kesalahannya. Kami akan menegaskan bahwa kontribusinya adalah yang terpenting dan kesalahannya adalah nomor dua. Kami akan mengadopsi pendekatan realistik terhadap kesalahan yang ia buat di akhir hidupnya. Kami akan melanjutkan untuk bersandar pada ‘Pemikiran Mao Zedong’, yang mewakili bagian paling tepat dari hidup Ketua Mao. ‘Pemikiran Mao Zedong’ bukan hanya memimpin kami pada kemenangan revolusi di masa lalu; tapi ini –dan akan terus berlanjut-  adalah harta karun yang dimiliki Partai Komunis China dan negara kami. Inilah mengapa kami akan selalu memasang potret Ketua Mao di Gerbang Tiananmen sebagai simbol negara kami, dan kami akan selalu mengingatnya sebagai pendiri Partai dan negara kami. Selain itu, kami akan bersandar pada ‘Pemikiran Mao Zedong’. Kami tidak akan memperlakukan Ketua Mao seperti apa yang dilakukan Krushchov terhadap Stalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah Anda mengatakan bahwa nama Ketua Mao mau nggak mau akan muncul ketika Gang of Four diadili dan saat  Anda menggelar Kongres Partai berikutnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya akan disebut. Bukan hanya pada kongres Partai mendatang tapi juga pada dalam kesempatan lain. Pengadilan terhadap Gang of Four tidak akan menurunkan wibawa Ketua Mao. Tentu saja, ia bertanggung jawab menempatkan mereka dalam posisi itu. Namun kejahatan yang dilakukan Gang of Four sendiri lebih dari cukup untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka........&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bersambung&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;* Wawancara Oriana Fallaci dengan Deng Xioping pada 21 &amp; 23 Agustus 1980&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-6908235887639153229?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/6908235887639153229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=6908235887639153229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6908235887639153229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6908235887639153229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/03/deng-xiaoping-1.html' title='Deng Xiaoping (1)'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-6055919366144960254</id><published>2009-02-26T12:07:00.004+08:00</published><updated>2010-05-18T16:20:47.351+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Seorang Amerika di Bumi Taliban</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SaYV53mzaDI/AAAAAAAAASc/LbKVREiTXSw/s1600-h/Three+Cups+of+tea.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SaYV53mzaDI/AAAAAAAAASc/LbKVREiTXSw/s200/Three+Cups+of+tea.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306953294826137650" /&gt;&lt;/a&gt;APA yang bakal dilakukan seorang pendaki gunung gagal yang nyasar ke kampung terpencil di pelosok Pakistan? Menyesali diri? Bersyukur karena nyawanya tak melayang? Atau beriba hati karena kemiskinan yang seperti tak bosan membelit penduduk di daerah pedalaman?&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Mortenson, seorang pendaki gunung asal Amerika Serikat, mengambil hikmah yang akan mengubah seluruh alur hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Sir Edmund Hillary –pendaki gunung asal Selandia Baru  yang  memutuskan membangun sekolah untuk anak-anak Sherpa, sebuah kawasan terpencil di lereng Pegunungan Everest yang masuk kawasan Nepal- Mortenson menetapkan janji membangun sekolah bagi anak-anak di desa Korphe, Pakistan, tempat dimana dia tersesat setelah gagal mendaki puncak K2 di Karakoram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak seperti Edmund Hillary yang mendapat dukungan dari banyak sponsor –ini juga terkait keberhasilannya mendaki puncak Everest- Mortenson harus kehilangan seluruh harta bendanya untuk mewujudkan janjinya membangun sekolah tersebut. Ia bahkan hanya mendapatkan balasan selembar cek dari  580 pucuk surat yang ia kirim ke berbagai tempat untuk minta bantuan dana bagi pembangunan sekolah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untunglah, selembar cek senilai US$ 12.000 yang dikirimkan oleh Jean Hoerni itu menjadi awal yang baik bagi mimpi Mortenson. Hoerni adalah pendaki gunung kelahiran Swiss yang sudah sering bolak-balik ke Karakoram dan juga ilmuwan yang dihormati di kalangan para pendiri “Silicon Valley”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoerni pula yang memperingatkan Mortenson bahwa tak gampang menarik simpati warga AS kepada komunitas Muslim. Mereka lebih gampang jatuh iba pada komunitas Buddha. &lt;br /&gt;“Three Cups of Tea” adalah kisah perjalanan Mortenson tentang mimpinya membangun sekolah di Korphe, juga puluhan sekolah lainnya yang ada di desa-desa terpencil di Pakistan dan juga Afghanistan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh David Oliver Relin, seorang jurnalis AS yang sering kelayapan ke berbagai penjuru dunia, dan dilengkapi oleh Mortenson, buku ini menyajikan kisah yang sangat inspiratif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi politik di Pakistan dan Afghanistan, juga kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat di kawasan tersebut, turut terekam baik dalam buku ini. Terlebih, alur kisah ini bermula dari tersesatnya Mortenson di Korphe pada tahun 1993, meletusnya konflik di Afghanistan setelah AS mengkampanyekan perang melawan teroris pasca 11 September 2001, hingga reaksi warga AS serta komunitas Islam di Pakistan dan Afghanistan terhadap AS dan Taliban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penuturannya, pembaca dapat menemukan bahwa Relin tak hendak menjadikan Mortenson  sebagai “juru selamat” bagi kaum miskin papa di Pakistan maupun Afghanistan. Relin juga sama sekali tak berniat menjadikan Mortenson sebagai seorang pahlawan Amerika yang tanpa cela dan bisa mengubah dunia hanya dengan membalik telapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Relin, Mortenson menjadi manusia biasa yang juga punya cacat. Ia bukan manager yang baik dan tak pernah bisa tertib mengatur jadwalnya. Ia juga kerap limbung dan gagal mendelegasikan tugas karena keterikatan emosional yang terlalu kuat dengan warga di desa-desa terpencil yang kerap ia kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang paling menarik dari buku ini adalah bagaimana Mortenson menghadapi situasi saat komunitas Muslim di Pakistan dan Afghanistan mencurigainya, sementara penduduk Amerika Serikat menudingnya sebagai pengkhianat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morteson, lewat Central Asia Institute (CAI), lembaga yang ia didirikan bersama Jean Hoerni, mencoba membangun kepercayaan publik bahwa apa yang ia lakukan adalah justru melenyapkan “terorisme” dari akarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, terorisme lahir karena kemiskinan di negeri-negeri tersebut, distribusi ekonomi yang tak adil, dan pendidikan yang tak terjangkau bagi anak-anak miskin, terlebih anak-anak perempuan, di kawasan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski narasi dari buku ini tak mengalir lancar, pembaca bisa merasakan denyut kisah yang cukup inspiratif dari buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, buku ini tak pernah sempat mampir di rak Hong Kong Central Library. Belasan calon peminjam sudah mendaftarkan diri jauh-jauh hari. Di Indonesia, buku ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul sama oleh penerbit Hikmah. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-6055919366144960254?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/6055919366144960254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=6055919366144960254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6055919366144960254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6055919366144960254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/02/seorang-amerika-di-bumi-taliban.html' title='Seorang Amerika di Bumi Taliban'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SaYV53mzaDI/AAAAAAAAASc/LbKVREiTXSw/s72-c/Three+Cups+of+tea.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4183976684861186051</id><published>2009-02-12T12:56:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T12:59:42.608+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>"Nasionalisme", Langgam Baru Kapitalisme Global</title><content type='html'>PERTENGAHAN Januari lalu, untuk ke-15 kalinya, Indeks Kebebasan Ekonomi (Index of Economic Freedom) yang dikeluarkan oleh Wall Street Journal dan Heritage Foundation, menempatkan Hong Kong di peringkat pertama negeri dengan ekonomi paling bebas di dunia (&lt;em&gt;the world’s freest economy&lt;/em&gt;).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian ini muncul karena Hong Kong dianggap sebagai tempat yang mengenakan pajak paling rendah dan regulasi yang longgar terhadap investasi asing. Survei yang dilakukan tiap tahun ini melibatkan 179 negara dengan mempertimbangkan 10 faktor ekonomi, seperti kendala perdagangan, hak milik, pajak, dan regulasi pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga negara di kawasan Asia-Pasifik yang turut masuk dalam peringkat 10 besar adalah Singapura (2), Australia (3), dan Selandia Baru (5). Sementara Indonesia berada di peringkat 131, persis di bawah Bolivia dan di atas China dengan indeks 53,4 dari rentang nilai 0-100. Bersama Bolivia dan China, Indonesia masuk dalam kategori mostly unfree (cukup tidak bebas).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Amerika Serikat (AS) turun ke peringkat 6 dengan indeks 80,7. Penurunan peringkat AS ini, menurut analis di Wall Street, mulai terjadi sejak tahun 2000 karena tiga faktor, yakni aturan soal hak milik, besarnya pengeluaran pemerintah untuk merangsang pasar, dan banyaknya regulasi yang dibuat. Dua hal terakhir tersebut makin tampak menonjol di akhir pemerintahan George W Bush. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei ini dihimpun pada Juni 2008, sebelum krisis global membuat pemerintahan dari berbagai penjuru dunia mengucurkan dana talangan bagi institusi keuangan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para inisiator indeks ini memercayai bahwa sistem kapitalis bebas adalah satu-satunya resep yang bisa menyelematkan dunia. Intervensi pemerintah dalam sistem ini, menurut mereka, akan menjadi sebuah ancaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bahwa ada saat pasang dan ada saat surut itu benar, tapi untuk jangka panjang, kebebasan ekonomi yang lebih besar akan menghasilkan lebih banyak kesejahteraan bagi lebih banyak orang,” demikian kata Edwin Feulner, Presiden Heritage Foundation, sebuah lembaga think-tank yang berbasis di Washington. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keyakinan Feulner dan juga para pendukung teguh sistem kapitalisme bebas, sepertinya bakal makin sering diuji saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetujuan Presiden AS Obama baru-baru ini terhadap RUU tentang penggelontoran paket stimulus sebesar US$ 827 miliar dinilai bakal membuat berantakan sistem ekonomi pasar bebas. Kebijakan tersebut dinilai menjurus pada proteksionisme, terlebih adanya klausul ”Buy American” dalam RUU tersebut membuat AS–dalam sindiran para analis ekonomi kapitalis--mulai sulit dibedakan dengan Prancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengusulkan agar pemerintah membantu industri otomotif di dalam negeri yang mempertahankan pabriknya di dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paket Stimulus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kini, selain AS dan Prancis, hampir semua negara menggelontorkan paket stimulus guna menyelamatkan ekonomi dalam negeri. Pemerintah Indonesia sendiri saat ini telah menyiapkan paket stimulus fiskal sebesar Rp 71,3 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi situasi ini, anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bahkan merasa perlu menggelar pertemuan di Geneva, Swiss, Senin (9/2). Mereka khawatir banyak negara akan beramai-ramai menempuh langkah proteksionis. Sebuah kebijakan ekonomi yang membatasi perdagangan antarnegara, antara lain dengan cara memberlakukan tarif tinggi pada barang impor dan pembatasan kuota. Proteksi dimaksudkan untuk mempertahankan lapangan kerja bagi penduduk lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Inggris, para pekerja mogok, menuntut agar pekerjaan di Inggris diberikan kepada warga Inggris. Di Prancis, lebih dari 1 juta turun ke jalan pada 29 Januari lalu dan menuntut pekerjaan dan upah yang layak. Di Yunani, polisi terpaksa menggunakan gas air mata guna mengatasi demonstrasi petani yang menuntut pemberian subsidi lebih besar. Di Malaysia, pemerintah menginstruksikan perusahaan memprioritaskan pekerja non-Malaysia yang di-PHK duluan jika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terelakkan dan mulai membatasi masuknya aliran tenaga kerja asing. Di Indonesia, demonstrasi ribuan buruh juga nyaris menjadi pemandangan setiap pekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem ekonomi pasar bebas sepertinya memang sedang kocar-kacir dan tengah mencari cara untuk bertahan. Dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri China Wen Jiabao secara implisit mempromosikan keberhasilan sistem kapitalisme mereka yang berada di bawah kontrol negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, yang akhir-akhir ini tak henti memuji keberhasilan ekonomi China, bahkan lebih dari sekali ia mengatakan bahwa ”pasar bebas” diperlukan, tapi bukan ”pasar yang bebas nilai”. Sementara itu, Menteri Ekonomi Jepang baru-baru ini, di depan parlemen mengatakan perlunya menciptakan ”kapitalisme yang lebih berperasaan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun para pendukung fanatik pasar bebas melihat bahwa kecenderungan ini, mengotak-atik formula paten kapitalisme, akan memperparah resesi global karena negara akan mempersulit keran impor dan menekan ekspor. Modal tidak akan lagi punya sayap untuk terbang ke tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hong Kong, meskipun bersama Kelompok 15 Negara telah mengeluarkan pernyataan menolak proteksionisme, kota berpenduduk 7 juta yang dinobatkan sebagai the world’s freest economy ini juga mulai goyah dengan hantaman krisis global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pengangguran meningkat hingga enam persen pada Desember 2008. PHK terjadi hampir tiap pekan. Meskipun ada harapan pemerintah akan mempercepat proyek infrastruktur dan menyediakan lapangan kerja untuk 50.000 hingga 60.000 orang, tapi memasuki tahun 2009, belum ada tanda krisis akan berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Hong Kong tampaknya tak akan lagi sekadar sebagai fasilitator pasar. Pemerintah mengambil peran yang lebih besar untuk menyelamatkan keadaan. &lt;br /&gt;Sejumlah investor kini mulai memindahkan uangnya dari bank komersial ke bank milik pemerintah karena janji dukungan yang bakal diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kritik dilancarkan tentang mulai besarnya peran pemerintah di Hong Kong, Chief Executive Hong Kong Donald Tsang menjawab singkat: ”Akankah mereka memberi makan kita ketika kita bangkrut?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 11 Februari 2009&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4183976684861186051?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4183976684861186051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4183976684861186051' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4183976684861186051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4183976684861186051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/02/nasionalisme-langgam-baru-kapitalisme.html' title='&quot;Nasionalisme&quot;, Langgam Baru Kapitalisme Global'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-8101656820952548014</id><published>2009-01-05T11:37:00.003+08:00</published><updated>2009-01-05T11:46:07.324+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Sejarah Belum Berakhir</title><content type='html'>KETIKA China mengetuk palu bagi jalan reformasi di tahun 1978, dunia merasa yakin bahwa hanya kapitalisme yang bisa menyelamatkan China. Keyakinan ini menebal ketika Uni Soviet runtuh, tembok Berlin jebol dan Francis Fukuyama mengeluarkan “maklumat” bahwa “sejarah telah berakhir”. Jalan keselamatan satu-satunya untuk dunia adalah kapitalisme dan demokrasi liberal. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keyakinan ini menjadi acak adul ketika krisis, untuk kesekian kalinya, mengguncang dunia tahun ini, dan justru diawali dari jantung kapitalisme global: Amerika Serikat. Lalu majalah sekelas The Economist pun mendadak berujar bahwa ternyata bukan kapitalisme yang menyelamatkan China, tapi justru China-lah yang agaknya bakal menjadi penyelamat kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi China jelas contoh “cacat” dari sebuah negeri kapitalis yang ada dalam bayangan Fukuyama. Secara ekonomi, bisa jadi apa yang terjadi di China paska 1978 masuk dalam bayangan Fukuyuma, yakni sebuah negeri yang terbuka dengan modal asing dan fokus pada pertumbuhan ekonomi. Namun tidak dari sisi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah demokrasi liberal a la Barat yang dimimpikan Fukuyuma akan mengikuti akhir evolusi ideologi manusia tak terjadi di China. Negeri itu tetap saklek dengan pemerintahan yang dipimpin oleh satu partai tunggal: Partai Komunis China (PKC). Mereka juga tetap selektif dalam mengontrol aliran informasi yang bisa diakses oleh rakyat, membatasi kebebasan bicara, dan juga tak segan bersikap tegas terhadap tuntutan yang dianggap bisa menghambat gerak maju yang tengah mereka rancang. Bahwa untuk semua tindakan itu China dikecam sebagai tak demokratis, anti-HAM, dan otoriter, sama sekali tak membuat China goyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti ini, maka “maklumat” Fukuyuma agaknya mesti ditinjau ulang. Keyakinan kaum liberal yang mengandaikan ada kesinambungan antara ekonomi pasar bebas, demokrasi liberal, dan partisipasi masyarakat sipil, ternyata tak cukup kuat untuk bertahan sebagai sebuah akhir sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China telah muncul sebagai alternatif terhadap dunia yang tengah berlari tunggang langgang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penganut liberalisme, dan tentu saja pendukung neoliberalisme, merasa perlu mengutak-atik kembali rumusan awal. Mereka khawatir bahwa resep ala China ini bakal diikuti oleh negara tetangga. Mereka khawatir bahwa gaya otoriter China bakal diikuti oleh pemerintahan negara lain karena toh dengan pemerintahan diktator dan kontrol negara yang ketat, pertumbuhan ekonomi berlangsung mengagumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga khawatir bahwa resep Washington Consensus bakal diacak-acak dengan Beijing Consensus. Terlebih sejumlah media yang terbit di China, termasuk  Hong Kong, mulai gemar menggunakan  istilah “Beijing Consensus”. Meskipun pemerintah China sendiri menghindari menyebut istilah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Joshua Cooper Ramo, seorang peneliti asal Amerika yang bekerja untuk lembaga think-tank Inggris, Foreign Policy Centre, yang turut memunculkan antusiasme ini. Apa yang terjadi di China, menurutnya, bukan hanya model untuk China, tapi telah mulai menjadi warna bagi pembangunan internasional, termasuk ekonomi, masyarakat, dan juga politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika analisa Ramo benar, maka itu adalah “kiamat” bagi para pemercaya akhir sejarah yang diramalkan Fukuyama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuat The Economist, dalam edisi terbarunya, mulai mengubah arah harapannya. China terlalu banyak “cacat” untuk ditahbiskan sebagai penyelamat kapitalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memainkan India &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harapan kaum liberal kini tertuju pada India. Meski dalam hal pertumbuhan dan kemajuan ekonomi, India masih beberapa langkah di belakang China, tapi setidaknya arah  politik India tak se-“aneh” China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;India juga diprediksi bisa menjadi “anak manis” untuk mengikuti metode penyelamatan kapitalisme seperti dalam logika yang dipikirkan kaum liberal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih Oktober lalu,  Kongres  Amerika Serikat telah meneken persetujuan kerja sama nuklir dengan India. Dan AS tampaknya bakal mendapatkan loyalitas India. Karena sepekan sebelum kerja sama itu disetujui Kongres,  Perdana Menteri India Mahmohan Singh tak sungkan menyampaikan “cinta” warganya kepada Presiden AS, George W. Bush. Ia mengatakan bahwa orang-orang India sangat mencintai Bush dan apa yang telah dilakukan Bush selama ini telah membuat hubungan kedua negara menjadi lebih dekat. Dan bukan tak mungkin relasi dekat ini semakin kuat usai serangan teroris di Mumbai akhir November lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Emmot, penulis buku “Rivals” dan juga mantan editor The Economist, menilai bahwa kerja sama soal nuklir tersebut membuat apa yang dilakukan Bush seperti mengulang moment Richard Nixon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita tahu, Nixon menandatangani kesepakatan kerja sama dengan China di tahun 1972 dengan harapan bisa menggunakan China untuk mengimbangi kekuatan Uni Soviet di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah muncul asumsi bahwa apa yang dilakukan AS terhadap India sebenarnya juga upaya untuk menahan laju pengaruh China di dunia. Para penganut doktrin liberal jelas tak akan membiarkan China menjadi poros baru kekuatan ekonomi jika sistem politik yang dimiliki negeri berpenduduk 1,3 miliar itu, dalam pandangan mereka, tergolong “salah jalur”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi China tampaknya tak peduli dengan kritik ini. Saat dunia menuntut mereka bersikap lebih “demokratis”, China justru kembali menutup akses sejumlah situs berita di Internet dan mendesak perusahaan-perusahaan swasta asing yang berada di China untuk mengizinkan buruh dan karyawannya berserikat. Sementara Partai Komunis China di bawah pimpinan Hu Jintou memperluas pembentukan sel-sel partai hingga ke perusahaan-perusahaan milik swasta, dan Hu Jintou mewajibkan para kadernya untuk kembali mempelajari sosialisme dengan lebih tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tampaknya memang sama sekali belum berakhir. AS akan melantik presiden kulit hitam pertamanya Januari nanti, setelah bulan ini Bush mendapat “ucapan perpisahan” ak terlupakan lewat lemparan sepatu di Irak. Sementara India akan menggelar pemilu pada bulan April atau Mei 2009. Sedangkan China akan merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat. Sejarah seperti apa yang akan mewarnai dunia setelah itu? Kita akan tunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;em&gt;Versi panjang/sebelum edit dari tulisan berjudul "30 Tahun reformasi China, Sejarah Belum Berakhir" yang dimuat di Sinar Harapan, 19 Desember 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-8101656820952548014?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/8101656820952548014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=8101656820952548014' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8101656820952548014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8101656820952548014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2009/01/sejarah-belum-berakhir.html' title='Sejarah Belum Berakhir'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-8212033590753532771</id><published>2008-12-03T14:50:00.006+08:00</published><updated>2010-05-18T17:01:34.857+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>G30S, Sebuah Dalih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYs5C4uxQI/AAAAAAAAAR4/7-2lJwGDKV0/s1600-h/dalih.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 98px; height: 144px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYs5C4uxQI/AAAAAAAAAR4/7-2lJwGDKV0/s200/dalih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275453372050097410" /&gt;&lt;/a&gt;PAGI tadi, persis tujuh detik sebelum tram berhenti di ruas Johnston Road, tepat di depan MTR Wanchai exit A3, kututup lembar terakhir “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto”- John Roosa. Buku itu “menghantuiku” sejak pertama kali kuterima lewat titipan seorang kawan yang kembali dari Jakarta.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roosa mengulas secara menarik apa yang sebenarnya terjadi pada subuh 1 Oktober, 48 tahun lampau. Sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “G30S”.&lt;br /&gt;Apa yang bercokol di kepalaku selama bertahun-tahun tentang peristiwa itu seolah mendapat “amin” dari bukti dan analisa yang disodorkan Roosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Komunis Indonesia (PKI) memang “terlibat” dalam Gerakan 30 September. Tapi terlalu sederhana jika menyimpulkannya sebagai “dalang”.Jalinan belikat peristiwa itu akan membuatnya tampak terlalu sederhana jika diserahkan hanya pada satu dalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku putih milik Angkatan Darat, tegas menyebut PKI sebagai dalang G30S. Benedict Anderson dan Ruth McVey dari Cornell University lewat analisanya yang dikeluarkan Januari 1966 -popular dengan nama Cornell Paper- menyebut bahwa G30S adalah konflik internal Angkatan Darat, sebuah kudeta yang dilakukan perwira-perwira bawahan karena tak puas dengan gaya borjuis perwira atasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Indonesianis dan pengamat militer asal Australia, Harold Crouch, menilai bahwa G30S adalah gabungan gerakan yang dilakukan perwira bawahan yang tak puas dan juga PKI. Sedangkan Indonesianis dan sosiolog asal Belanda, W.F. Wertheim menyodorkan analisa bahwa Suharto dan para jenderal Angkatan Darat nonkomunis lah yang berada di balik gerakan ini dengan menggunakan Sjam Kamurazzaman sebagai agen ganda, guna menciptakan dalih untuk menyerang PKI dan menggulingkan Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roosa, melalui buku ini, berhasil menelusuri dan menutup “lubang” yang ada dari setiap analisa tersebut dan membentuk argumentasi baru. Tak sepenuhnya baru memang, tapi setidaknya paling mendekati argument yang paling masuk akal dari peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengandalkan dokumen Supardjo, seorang Brigadir Jenderal Angkatan Darat yang ada dalam lingkaran gerakan tersebut yang diseret ke Mahmilub pada tahun 1967. Selain juga mengandalkan pengakuan dari seorang kader tinggi PKI yang masih hidup hingga sekarang, dan sejumlah dokumen yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat terkait peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKI, dalam analisa Roosa, terlibat sejauh pemikiran bahwa G30S memang diperlukan untuk menyelamatkan Sukarno. Mereka tahu bahwa sejumlah perwira Angkatan Darat telah menjalin hubungan mesra dengan AS. Mereka memprediksi dan mempercayai bahwa Angakatan Darat punya ambisi untuk menyingkirkan PKI, sebuah partai ke-4 terbesar dalam Pemilu 1955 yang memiliki kader dan massa di setiap pabrik dan perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, PKI sebagai sebuah partai politik dengan disiplin dan organisasi baik, salah membaca situasi. Politibiro sebagai pengambil putusan penting dalam partai tak tahu soal rincian gerakan yang bakal digelar. Mereka pasrah sepenuhnya pada sang ketua sentral komite: Aidit yang sialnya lagi memiliki orang kepercayaan sejenis Sjam Kamaruzamman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Biro Khusus, yang diyakini keberadaannya oleh Roosa, Aidit dan Sjam menjalin koneksi dengan para perwira progresif di Angkatan Darat. Para perwira Sukarnois yang mulai gerah dengan perwira-perwira “kapitalis-birokrat” di tubuh Angkatan Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKI, sebagai sebuah partai, hanya bisa menunggu dampak dari G30S. Mereka berharap para perwira “kanan” ini segera sadar kalau mereka telah dibuat keblinger oleh AS dan kembali pada loyalitasnya terhadap Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, rencana tak berjalan mulus. Sikap “sok tahu” Sjam dalam membaca situasi lapangan membuat gerakan amburadul. Tim penculik yang amatir gagal membuat para jenderal “kanan” tetap dalam kondisi hidup saat hendak diserahkan ke Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan situasi berubah cepat. Suharto mengambil alih kepemimpinan dan dalih pun tercipta untuk membumihanguskan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dalih yang sama sekali tak sepadan dengan jutaan nyawa yang dijagal dan jutaan lainnya yang kehilangan kebebasannya selama belasan tahun di kamp-kamp tahanan tanpa pernah diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 6 dan 7 dari buku ini menjadi “inti” dari uraian Roosa. Bahwa Suharto dan perwira AD antikomunis sebenarnya sama sekali tak bereaksi spontan setelah kegagalan G30S. Mereka telah menunggu dalih itu sejak lama. Sebuah dalih agar mereka punya alasan untuk menghantam PKI, sebuah partai yang membuat aliran modal asing selalu terhambat masuk ke tanah air. Dan pada 1 Oktober 1965, dalih itu muncul di depan mata saat “Biro Khusus” yang tak professional itu bikin sebuah gerakan yang amburadul. Sebuah gerakan yang tak pernah melibatkan partai sebuah organisasi solid dengan massa yang luas. Sebuah petualangan yang ceroboh dan setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang dikatakan Marshal Green, Dubes AS di Indonesia pada masa itu, tentang peristiwa tersebut: "Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu. Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai.” Dan ia benar sebenar-benarnya…, itulah wajah Indonesia saat ini, sebuah negeri yang selalu berada di bawah dikte sang penunggang ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Dalam “Dreams from My Father”-nya Barack Obama, dikisahkan bagaimana Ann Durham, sang ibu, marah dengan suami Indonesianya yang juga ayah tiri Obama, Lolo Soetoro, karena bermanis-manis muka dengan para bule AS yang berniat investasi minyak di Indonesia. Padahal, dalam pandangan Ann Durham, AS –negeri kelahirannya- turut bertanggung jawab terhadap tragedi berdarah yang melenyapkan ribuan jiwa di tahun 1965-1967. Rezim Indonesia di bawah Suharto, di mata Ann Durham, berdiri di atas tragedi tersebut. Dan kita tahu kemudian bahwa segera sesudah itu, di tahun 1967, sebuah Undang-Undang Penanaman Modal Asing segera diteken. Dan anak sulung dari perempuan yang marah itu kini adalah Presiden AS ke-44. Akankah ia memiliki “kemarahan” sang ibu? Atau menyerah pada sistem yang sebenarnya mulai aus itu?)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hong Kong, 2 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-8212033590753532771?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/8212033590753532771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=8212033590753532771' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8212033590753532771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8212033590753532771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/12/g30s-sebuah-dalih.html' title='G30S, Sebuah Dalih'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYs5C4uxQI/AAAAAAAAAR4/7-2lJwGDKV0/s72-c/dalih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1109404548135236081</id><published>2008-12-03T14:46:00.004+08:00</published><updated>2010-05-18T17:11:02.113+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Menggugat Monoteisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYr6r7F5GI/AAAAAAAAARw/ejqfC5GcoB8/s1600-h/Bilangan+Fu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYr6r7F5GI/AAAAAAAAARw/ejqfC5GcoB8/s200/Bilangan+Fu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275452300734096482" /&gt;&lt;/a&gt;SPIRITUALISME kritis, demikian Ayu Utami menamai Bilangan Fu, novel terbaru yang ia luncurkan.Ini seperti sebuah jawaban tuntas yang diberikan Ayu kepada para “pengkritiknya” selama ini. Orang-orang yang menuding ia hanya bermain-main dengan syahwat, tapi dihargai sebagai seorang penyokong reformasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dianyam sebagai fiksi, Bilangan Fu mau tak mau menampilkan sikap jelas Ayu Utami terhadap para pembela fundamentalisme agama yang berkibar-kibar.&lt;br /&gt;Melalui dua tokoh utama dalam novel ini, Sandi Yuda dan Parang Jati, Ayu seperti ingin memblejeti keegoisan para dogmatis agama yang menepuk diri sebagai satu-satunya pembawa kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam kaca mata Ayu, kebenaran (karena berada di langit) bisa ditunda, sementara kebaikan (karena berada di bumi) mesti disegerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parang Jati adalah representasi dari para pengikut “agama bumi”. Mereka yang menilai bahwa kebaikan adalah tindakan pertama yang mesti dilakukan untuk membuat wajah dunia menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan jenis ini diajarkan oleh semua “agama bumi” atau agama-agama yang muncul lebih dulu sebelum agama-agama wahyu yang dibawa oleh Islam maupun Kristen.&lt;br /&gt;Di Indonesia, agama bumi ini “hanya” diakui sebagai aliran kepercayaan. Padahal di sejumlah pelosok Tanah Air, pengikutnya tak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama-agama ini digeser perannya hingga sekadar tampak sebagai “pertunjukan takhyul”. Padahal -di sinilah sosok Parang Jati berperan- agama-agama tersebut juga mengajarkan sesuatu yang penting: harmoni semesta atau menjalin keterikatan antara manusia dan alam. Lewat ritus sesaji mereka –yang kerap dipandang sebelah mata oleh para pengikut rasionalitas dan sekaligus pemercaya agama wahyu- para pengikut agama bumi ini justru sedang menghormati dan merawat bumi yang mereka pijak. Mereka tahu persis hukum alam raya, bahwa semakin banyak yang diambil dari alam tanpa dikembalikan, maka makin banyak petaka yang diperoleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah Parang Jati, sosok pemanjat dinding yang menolak menggunakan paku dan bor untuk melubangi dinding panjat, mencoba meyakinkan Sandi Yuda –sang pemanjat rasionalis yang kerap skeptis terhadap berbagai hal- tentang makna harmoni semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan-obrolan panjang antara Parang Jati dan Sandi Yuda, juga kontemplasi pribadi mereka, menjadi sebuah proses pencarian religiusitas yang menarik dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga saat konflik muncul antara Parang Jati dan Kupu-kupu. Yang terakhir ini adalah sosok yang mewakili kaum agamawan puritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, karena terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan, Bilangan Fu terjebak dalam “kotbah” yang bertele-tele dan menggurui. Sejumlah wacana yang muncul dalam novel ini juga tak sama sekali baru dan cenderung mengulang apa yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan untuk menyampaikan “sesuatu” ini pula yang membuat “kelincahan” Ayu Utami dalam menyusun narasi, seperti tampak dalam Saman, nyaris hilang. Ia seperti terkesan “terengah-engah” dengan plot yang ia bikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai sebuah “protes” terhadap banalitas kehidupan beragama di Indonesia, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Terlebih sebelum atau sesudah membaca Bilangan Fu, Anda juga membaca “The Great Transformation: The Beginning of Our Religious Traditions” karya Karen Armstrong. Ini buku tentang sejarah perjalanan religiusitas umat manusia sejak zaman kapak yang membuat kita tak gampang menjadi “hakim” terhadap laku religi seseorang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1109404548135236081?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1109404548135236081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1109404548135236081' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1109404548135236081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1109404548135236081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/12/menggugat-monoteisme.html' title='Menggugat Monoteisme'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/STYr6r7F5GI/AAAAAAAAARw/ejqfC5GcoB8/s72-c/Bilangan+Fu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2125992584601837638</id><published>2008-11-28T10:42:00.000+08:00</published><updated>2008-11-28T10:44:34.522+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Saat Kelas Menengah Dipaksa Jadi Gelandangan</title><content type='html'>NOVEMBER 2008 adalah awal musim dingin di Hong Kong. Suhu udara berkisar 18-22 derajat Celcius. Tak terlalu dingin memang, tapi cukup membuat menggigil jika kita berada di ruang terbuka tanpa penutup kepala dan baju berlengan panjang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam musim seperti itu, berada di rumah bersama keluarga sambil menghirup segelas cokelat hangat akan menjadi saat-saat nyaman yang dirindukan setiap orang. Sebuah kenyamanan yang sebenarnya sama sekali tidak muluk bagi penduduk Hong Kong yang pendapatan rata-ratanya sekitar HK$ 11.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, November kali ini, bagi sebagian orang, kenyamanan seperti itu menjadi sesuatu yang muluk. Di pinggiran Dermaga Tsim Sha Tsui, tempat para turis biasa menonton pertunjukan Symphony of the Light, sejumlah orang tidur tanpa alas. Mereka menggeletak begitu saja, tanpa selimut atau baju yang cukup tebal untuk bertahan dari ”gigitan” udara musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan ”gelandangan” yang menggeletak tidur begitu saja di tempat terbuka di Hong Kong sebenarnya bukan hal aneh. Namun, jumlahnya umumnya tidak banyak dan biasanya didominasi oleh kaum lelaki usia paruh baya atau para pecandu narkoba. Mereka bisa ditemui di taman atau pasar di sejumlah distrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, November ini, jumlah mereka membengkak. Kali ini mereka pun tidak hanya dari kalangan para lelaki paruh baya dan pecandu narkoba. Lembaga sosial di Hong Kong memperkirakan fenomena ini berkaitan erat dengan dampak krisis global. Mereka menjumpai bahwa para ”gelandangan baru” ini terdiri dari kaum muda yang punya latar pendidikan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Kesejahteraan Sosial Hong Kong mengakui, jumlah gelandangan meningkat dari 327 orang pada akhir Desember 2007 menjadi 351 orang pada 30 September 2008.&lt;br /&gt;Namun, organisasi sosial yang berkecimpung dalam urusan para warga tak berumah ini menyebutkan, angka yang disampaikan pemerintah tersebut tidak akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lepas dari persoalan angka tersebut, dampak krisis ekonomi global mulai terasa di Hong Kong. Selama pekan ini, berita pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawan di sejumlah perusahaan di Hong Kong seperti tidak pernah berhenti. Rabu (19/11) lalu, bank investasi di Hong Kong, Morgan Stanley, memecat 100 karyawannya dan diperkirakan 700 karyawan lagi akan jadi korban pemecatan sebelum Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Senin (17/11), Hong Kong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) juga memecat 450 karyawannya. Berita pemecatan di HSBC ini bersamaan dengan kabar PHK yang dilakukan Citigroup terhadap 130 pegawainya di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bank investasi Eropa UBS juga berada di bawah tekanan untuk merumahkan karyawannya guna memangkas ongkos biaya operasional. Diperkirakan 30 persen staf UBS Hong Kong akan menelan pil pahit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Padat Karya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Hong Kong jelas dibuat pening dengan kondisi ini. Ini belum ditambah jumlah pengangguran baru yang muncul akibat berhentinya proyek-proyek konstruksi. Minggu (16/11) lalu, sekitar 1.000 buruh konstruksi mendatangi kantor pemerintah Hong Kong dan mendesak supaya pemerintah mempercepat 10 proyek konstruksi yang telah dicanangkan, agar mereka tidak menjadi pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan ini, Kamis (20/11) petang, pemerintah menjanjikan akan mempercepat proyek konstruksi berskala kecil untuk menciptakan lapangan kerja bagi 700 orang dalam bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target untuk menciptakan lapangan kerja seluas mungkin ini juga sempat dikemukakan pemerintah dengan sejumlah anggota Legislative Council di Legco Building, pekan sebelumnya. Uniknya, pernyataan ini muncul saat mereka tengah membicarakan levy atau pajak yang dibayarkan oleh majikan Hong Kong yang mengambil pekerja rumah tangga asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2003, juga atas nama krisis ekonomi, pemerintah Hong Kong menetapkan levy bagi warga Hong Kong yang mengambil pembantu rumah tangga (PRT) asing. Jumlah levy yang dikutip adalah HK$ 400/bulan. Penetapan levy ini diprotes, bukan hanya oleh majikan, tapi juga oleh PRT asing karena seiring dengan penetapan levy tersebut, standar upah minimum PRT asing turun dari HK$ 3.860 menjadi HK$ 3.460. Kini, meski gaji PRT asing telah naik menjadi HK$ 3.580, pemerintah dianggap tak adil dengan keputusan soal levy itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan terus-menerus, Juli 2008 lalu, pemerintah memutuskan membebaskan kutipan levy bagi majikan selama dua tahun hingga Juli 2010. Keputusan ini direvisi pada 11 November lalu dengan memperpanjang bebas levy hingga Juli 2013, setelah mayoritas anggota parlemen terus mendesak agar levy dihapus secara permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan parlemen, pemerintah berargumen bahwa mereka telah melakukan kompromi paling maksimal. Tujuannya, di satu sisi agar tidak membebani kelas menengah Hong Kong dengan levy selama periode krisis ekonomi, dan di sisi lain membuka lapangan kerja bagi para warga lokal yang dipastikan jadi pengangguran akibat krisis ini. Dana levy yang dihimpun dari tahun 2003 hingga Juli 2008 mencapai HK$ 4,19 miliar dan dana ini rencananya akan dipakai untuk memberikan pelatihan kerja bagi warga lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika levy dihapus secara permanen, pemerintah dipastikan akan kehilangan anggaran untuk proyek pelatihan kerja bagi warga lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, langkah ini menjadi ironis karena uang itu diambil dengan memangkas upah PRT asing. Diperkirakan, ada 300.000 PRT asing yang bekerja di Hong Kong saat ini dan 120.000 di antaranya adalah PRT asal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Senin 24 November 2008 dengan judul "Kabar Buruk Jelang Natal"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2125992584601837638?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2125992584601837638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2125992584601837638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2125992584601837638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2125992584601837638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/11/saat-kelas-menengah-dipaksa-jadi.html' title='Saat Kelas Menengah Dipaksa Jadi Gelandangan'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-9035442585445911255</id><published>2008-10-10T17:06:00.003+08:00</published><updated>2008-10-10T17:09:50.446+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Rumah Kartu Itu Bernama Kapitalisme</title><content type='html'>MOHAMMAD Hatta bisa jadi memang tak pernah menyukai Partai Komunis, tapi setidaknya ia pernah terpesona dengan sosialisme dan bersetuju dengan Karl Marx. Dalam buku setebal 89 halaman terbit tahun 1935 berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme, Hatta secara tidak langsung membenarkan analisis Marx, bahwa kapitalisme pada akhirnya menggali lubang kuburnya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku yang ditulis tahun 1934 dari balik jeruji penjara di Glodok, sebelum kemudian ia ia dibuang ke Digul, Hatta menyimpulkan bahwa krisis ekonomi memang ”penyakit” bawaan kapitalisme. Dampak depresi besar di Amerika Serikat tahun 1929 yang dirasakan Indonesia, menjadi salah satu pemicu penulisan buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta menyebut krisis ekonomi dalam kapitalisme ini sebagai konjunktur, di mana satu &lt;br /&gt;kali gelombang perekonomian naik, akan segera diikuti dengan satu kali gelombang turun. Dan makin lama, waktu konjunktur ini akan semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx sendiri dalam Das Kapital menyebut bahwa krisis dalam kapitalisme tak terhindarkan karena pengejaran kapital, perluasan pasar, meningkatnya komoditas, tak diikuti dengan kuatnya daya beli masyarakat. Krisis overproduksi dipastikan bakal terjadi di tengah rendahnya tingkat konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang terjadi di AS sekarang, juga dalam depresi besar tahun 1929. Investasi besar-besaran di sektor perumahan, tak diimbangi dengan daya bayar yang cukup dari masyarakat. Sementara pasar perumahan oversupply, nilai perumahan anjlok, sehingga nasabah pun gagal bayar ke investor keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari situasi ini tak hanya melanda AS, tapi juga dunia. Sejumlah perbankan di luar AS yang turut mendanai sektor perumahan AS mengalami kelesuan. Akibatnya, sejumlah perbankan diserbu nasabah. Kepanikan nasabah menghasilkan efek domino berupa rentetan kebangkrutan bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, kepanikan juga melanda. Mereka menyerbu perbankan untuk menarik uang mereka. Hampir setiap hari, ada pertemuan dan demonstrasi, baik di ruang terbuka maupun tertutup, mulai dari halaman bank yang dituju hingga kantor polisi dan gedung parlemen, untuk menuntut pengembalian uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;International Monetary Fund (IMF), sang penganjur neoliberalisme, bahkan ”terpaksa” mengakui bahwa dunia kini sedang memasuki sebuah penurunan aktivitas ekonomi yang serius dan di ambang kejutan ekonomi paling berbahaya sejak peristiwa depresi besar.&lt;br /&gt;Peraih nobel ekonomi, Joseph Stiglitz, bahkan memperkirakan krisis saat ini berbentuk ”L”, artinya tak jelas kapan pulihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konjunktur, seperti dikatakan Hatta, diibaratkan gelombang ombak berbentuk ”U”, di mana ada saat pasang dan saat turun kemudian pasang lagi, di mana waktu pasang lagi ini bisa jadi butuh waktu lama. Namun jika analisis Stiglitz benar, sepertinya tak ada masa depan bagi kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Rapuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme pada akhirnya hanyalah sebuah sistem yang rapuh. Ia mirip rumah kartu yang mudah roboh. Pertumbuhan ekonomi yang dikejar dengan kemajuan teknologi dan menggenjot industrialisasi, tak diikuti dengan distribusi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah Hatta, kapitalisme menjadi sekadar nafsu untuk mengejar keuntungan dan menjadikan penumpukan modal/kapital sebagai tujuan itu sendiri.&lt;br /&gt;Kapitalisme pada akhirnya menciptakan kontradiksi dalam dirinya sendiri dan menjadikan hasil dari kontradiksi sebagai lubang kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi Besar AS di tahun 1930-an membuat pengangguran dan tunawisma meroket dalam jumlah tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan satu dari empat orang jadi pengangguran mengikuti krisis tersebut. Ekonomi pertanian kolaps dan para petani terpaksa menjual lahan-lahan mereka dan menjadi buruh di perkotaan. Namun, sektor industri kolaps lebih parah. Industri tekstil dan batu bara menjadi korban pertama, sebelum kemudian diikuti sektor lainnya. Buruh pun tak menerima upah yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Arkansas, warga yang kehilangan rumah berjubel di gua-gua, sementara di California, warga terpaksa tinggal di gorong-gorong karena tak ada lagi rumah untuk berteduh. Tingkat kelahiran menurun drastis, sementara angka kematiaan akibat bunuh diri melonjak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para lelaki dan perempuan yang kelaparan mengantre di jalan untuk mendapat jatah makan, dan para tunawisma berdesakan di setiap sudut kota. Demonstrasi ribuan warga yang marah dan lapar menjadi pemandangan hampir tiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya AS menanggulangi krisis ini, dengan kebijakan New Deal yang ditelorkan Roosevelt, tak cukup bisa mengendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keselamatan” pada akhirnya terjadi saat Perang Dunia II meletus dan para warga yang lapar dikirim ke medan perang dan industri yang mempekerjakan buruh dalam jumlah besar digenjot lagi habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti diramalkan Marx dan disetujui Hatta, krisis ekonomi yang jadi penyakit bawaan kapitalis akan terus terjadi. Dan sayangnya ”mukjizat keselamatan” untuk krisis kali ini, diperkirakan Stiglitz, tak jelas kapan datangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi pemerintah untuk menyelamatkan krisis lewat dana talangan dipastikan tak akan membawa dampak signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan pemerintah saat ini, seperti dikatakan Majalah Economist edisi terbaru, hanyalah sebuah langkah pragmatis. AS tak hendak mengubah kiblat ke sosialisme hanya karena negara terpaksa melakukan intervensi terhadap pasar yang–dalam dogma kapitalisme--mestinya bisa mengurus dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiglitz dengan tepat menggambarkan, bagaimana negara menjadi sebuah ”kepentingan” yang sangat pilih kasih. ”Kita menyaksikan sebuah bentuk baru kongsi antara publik dan swasta, di mana publik menanggung semua risiko dan sektor swasta mendapatkan semua keuntungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuat China, yang saat ini menjadi tumpuan harapan ”penyelamatan” krisis, memilih tak meninggalkan sosialisme, meski sang penerus kebijakan ekonomi baru, Deng Xioping, membuka lebar pintu masuk untuk investasi asing. Dan, menegaskan juga ketakpeduliannya soal ”warna kucing” yang akan menangkap ”tikus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China sepertinya tahu persis bahwa harus ada ”sesuatu” yang tetap menjadi kontrol jika kelak ”nafsu mencari untung” ini berada pada laju supercepat. China tak ingin nafsu tersebut memakan anak-anaknya sendiri, menciptakan kontradiksi yang tak terjembatani, dan menciptakan kubur bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuat Presiden China yang juga Sekjen Partai Komunis China (PKC), Hu Jintao, mulai fokus pada pembangunan di kawasan pedalaman. Ia tahu persis bahwa pertumbuhan ekonomi yang digenjot China sejak 30 tahun lalu akan jadi batu sandungan jika tak diikuti dengan pemerataan distribusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurang kaya-miskin yang menganga sebagai dampak pengejaran pertumbuhan bisa menjadi liang kubur jika tak ada antisipasi yang dilakukan. Di sinilah intervensi negara menjadi sebuah kontrol efektif. Dan guna menghindari negara bersikap pilih kasih, ada kontrol lain yang digunakan China, yakni sebuah partai politik yang tak pernah disukai Hatta. Sebuah parpol yang diharapkan mengeluarkan suara peringatan ketika ”nafsu mencari untung” itu menjadi tak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Jumat 10 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-9035442585445911255?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/9035442585445911255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=9035442585445911255' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/9035442585445911255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/9035442585445911255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/10/rumah-kartu-itu-bernama-kapitalisme.html' title='Rumah Kartu Itu Bernama Kapitalisme'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5014981731292271409</id><published>2008-10-03T14:02:00.010+08:00</published><updated>2008-10-03T14:16:54.351+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>When The Sky So Grey</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOW4KJlBGTI/AAAAAAAAAN0/BWUzCwnyGTw/s1600-h/grey+sky.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOW4KJlBGTI/AAAAAAAAAN0/BWUzCwnyGTw/s200/grey+sky.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252807024906934578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu, &lt;br /&gt;menjelang musim dingin, &lt;br /&gt;ingatan mengetuk pintu,&lt;br /&gt;tanpa kabar pendahulu atau tanda pembuka&lt;br /&gt;Begitu saja, &lt;br /&gt;mengetuk pintu &lt;br /&gt;Berdiri dengan sikap gamang, &lt;br /&gt;mengulur tangan, &lt;br /&gt;dan mengajak menebas jarak, &lt;br /&gt;Selalu begitu,&lt;br /&gt;setiap kali musim dingin datang, &lt;br /&gt;dan langit berwarna abu-abu &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Damien Rice membuat ‘teror’ dalam hitungan tak masuk akal)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hong Kong, 3 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5014981731292271409?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5014981731292271409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5014981731292271409' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5014981731292271409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5014981731292271409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/10/when-sky-so-grey.html' title='When The Sky So Grey'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOW4KJlBGTI/AAAAAAAAAN0/BWUzCwnyGTw/s72-c/grey+sky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-6437527156758528973</id><published>2008-09-30T16:07:00.003+08:00</published><updated>2008-09-30T16:13:55.365+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>China, Setelah 59 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOHfo1Af8ZI/AAAAAAAAANk/7FiozeKp_co/s1600-h/patriot.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOHfo1Af8ZI/AAAAAAAAANk/7FiozeKp_co/s200/patriot.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251724533007643026" /&gt;&lt;/a&gt;“RAKYAT China telah bangkit. Tidak seorang pun yang merendahkan kita lagi.” Kalimat yang diucapkan Mao Tse Tung, 59 tahun lampau, di depan gapura utama Kota Terlarang, Beijing, saat mengumumkan berdirinya China Baru, seolah mendapatkan gemanya kembali saat Zhai Zigang melambaikan bendera di ruang angkasa, Sabtu (27/9) lalu.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhai menjadi orang China pertama yang berjalan di ruang angkasa. Ia menjadikan China sebagai negeri ketiga, setelah Rusia dan Amerika Serikat, yang berhasil menempuh ekspedisi ruang angkasa berawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Zhai “hanya” 20 menit menapak ruang angkasa, pencapaian itu adalah segalanya. Sebuah mimpi yang dibangun berpuluh tahun oleh negeri yang pernah disebut Mao sebagai “selimut rombeng dengan banyak lubang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang angkasa, dalam komunikasi langsung dengan Presiden China Hu Jintao yang memantau dari pusat kendali bumi di Beijing, Zhai menyatakan kebanggaannya sebagai China. “Dalam keluasan angkasa ini, saya merasa bangga dengan tanah air kita,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, tak hanya Zhai dan Hu Jintao yang bangga dengan pencapaian yang menjadi –dalam istilah Perdana Menteri Wen Jibao - “lompatan jauh ke depan” bagi pembangunan teknologi China tersebut. Warga China memiliki kebanggaan serupa. Di Hong Kong, puluhan orang berkerumun di depan TV layar lebar yang dipasang di sudut-sudut keramaian, menyaksikan misi Shenzhou VII yang membawa Zhai menapakkan kakinya di ruang angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Tianjin, Kou Zuomin, seorang mantan insinyur, usia 74 tahun, yang menyaksikan momentum bersejarah itu dari dalam rumahnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah mimpi beberapa generasi China. Ketua Mao merencanakan pesawat ruang angkasa sejak tahun 1970-an. Sekarang, mimpi itu menjadi nyata. Saya begitu bahagia melihat China menjadi satu dari yang terbaik dalam hal ini. Karena program luar angkasa berawak merefleksikan tingginya tingkat riset pengetahuan dan teknologi sebuah negara,” ungkapnya seperti diberitakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;South China Morning Post.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terencana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan yang dicapai China saat ini, jelas tak dibangun hanya dalam tempo belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1970-an, duo pemimpin China, Mao Tse Tung dan Zhou Enlai, mulai memikirkan bahwa Amerika Serikat dapat membantu modernisasi China. Ini dilakukan setelah Uni Soviet terlalu banyak memberikan dikte dan mencoba menjadikan China sebagai satelit mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas inisiatif Zhou, sejumlah pakar sains China yang tengah belajar di AS dihubungi, diminta kontribusi, ditanya tentang apa yang mereka butuhkan. “Kita memerlukan setiap orang China yang patriotis,” demikian pesannya untuk memanggil “pulang” para ilmuwan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Henry Kissinger datang ke China pada Juli 1971, bayangan normalisasi hubungan kedua negara pun muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalisasi hubungan pun kemudian dikukuhkan saat Presiden Richard Nixon dan Mao Tse Tung menandatangani Komunike Shanghai pada 27 Februari 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transfer sains dan teknologi pun terjadi. Hal sama seperti tahun 1950-an saat China menjaring bantuan dari Uni Soviet agar bisa membuat pabrik pesawat, artileri, tank, radar, dan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sama seperti terhadap Uni Soviet, China tak serta merta menjadi “murid yang patuh” terhadap AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China dan AS memiliki cara pandang berbeda dalam membentuk masyarakat mereka. Ini pula yang membuat Mao minta AS mengubah draf komunike Shanghai karena jelas mereka memiliki cara pandang beda yang tak mungkin disatukan. Dan perbedaan ini tak bisa dikompromikan.Cukup hal-hal tertentu saja, yang bisa dikompromikan, bisa diambil langkah maju. Tapi bagi yang tak bisa dikompromikan, lebih baik tak dipaksakan.&lt;br /&gt;Januari 1975, Zhou di depan Kongres Rakyat Nasional ke-4 menyampaikan empat modernisasi yang mesti dipeluk oleh China, yakni modernisasi komprehensif bidang pertanian, industri, pertahanan nasional, serta sains dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kepemimpinan Deng Xioping, modernisasi ini dikejar seperti laju kuda terbang. Ia menetapkan fokus pada pertumbuhan ekonomi. Sebuah target yang terpenuhi dengan menakjubkan. Kesimpulan bahwa China saat ini baru memasuki “sosialisme tahap awal” pun dipatok dalam Kongres ke-15 PKC tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat Jiang Zemin memegang tongkat kepemimpinan, upayanya memasukkan kelompok pengusaha baru menjadi anggota PKC (pemikiran “Tiga Perwakilan”), membuat target pertumbuhan ekonomi mendapat gerak pendorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada dampak yang muncul saat pertumbuhan ekonomi digenjot maksimum. Jurang kaya-miskin menganga tak terjembatani. Sejumlah pejuang veteran bernostalgia tentang masa lalu, saat distribusi ekonomi terjadi secara merata. Sehingga meskipun tak ada yang kaya, tapi setidaknya tak ada yang sama sekali miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beruntung China punya “kerendahan hati” untuk mengoreksi diri. Di bawah kepemimpinan Hu Jintao – sebagai Presiden sekaligus Sekjen PKC - China melihat bahwa konsep pembangunan yang terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi bisa menjadi batu sandungan. Bisa-bisa, cita-cita sosialisme yang dipancangkan saat China berdiri, hanya akan jadi dongeng pengantar tidur. Hu, juga PKC, tampaknya menolak itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kongres ke-17 PKC pada Oktober 2007 lalu, piagam partai pun diamendemen. Pemikiran Hu tentang model ekonomi China yang baru dimasukkan. Pemikiran itu diistilahkan "pembangunan ilmiah" yang dimaksudkan untuk memberi perhatian lebih besar pada persoalan lingkungan, kemiskinan, kesenjangan pendapatan di China, dan tidak sekadar terfokus pada pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, para generasi muda China, mulai melihat dengan bangga hasil dari proses yang terencana itu, eksperimen jatuh bangun selama berpuluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Selasa 30 September 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-6437527156758528973?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/6437527156758528973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=6437527156758528973' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6437527156758528973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6437527156758528973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/09/china-setelah-59-tahun.html' title='China, Setelah 59 Tahun'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SOHfo1Af8ZI/AAAAAAAAANk/7FiozeKp_co/s72-c/patriot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-8956093091563388730</id><published>2008-09-26T12:50:00.003+08:00</published><updated>2008-09-30T16:14:41.600+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Quo Vadis China?</title><content type='html'>PEKAN ini, mata dunia tertuju pada dua raksasa, China dan Amerika Serikat. Yang pertama karena skandal produk susu dengan kandungan melamin, yang kedua karena guncangan di bursa saham Wall Street.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden pertama menyebabkan 54.000 bocah terinfeksi dan empat bayi meninggal, serta menyebabkan kepanikan jutaan orang tua di dunia terhadap keselamatan anak-anak mereka. Dan yang kedua membuat jutaan orang di seluruh dunia takut kehilangan sumber penghasilan, apartemen, serta tabungan mereka di bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, dari kedua insiden tersebut, ada hal sama yang disorot, yakni peran negara. Di AS, formula yang dikeluarkan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher soal neoliberalisme mendadak ”mentah” ketika kini pemerintah serta kongres tengah tawar-menawar seputar rencana pengucuran dana talangan ke pasar finansial sebesar US$ 700 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di China, negara jadi ”terdakwa” karena terlalu banyak bikin aturan dalam mengarahkan pasar dan terlalu tersentral hingga membuat pasar menjadi porak-poranda. Negara menjadi ceroboh karena target pertumbuhan ekspor yang hendak dicapai membuat mereka menjadi ”sah” mengabaikan kualitas keselamatan produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard Suttmeier, seorang pakar keamanan produk China dari University of Oregon menilai, China membutuhkan reformasi luas. Dengan demikian kualitas keamanan pangan bisa terpenuhi dan konsumen bisa menggugat perusahaan yang bermasalah secara langsung. Dan ini hanya bisa dilakukan jika China membuat kemajuan dalam pengembangan kelembagaan sebagai bagian dari transisi sistem ekonomi sosialis ke kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme, dalam kaca mata argumen tersebut, jika dikelola dengan baik akan menjadi sebuah sistem yang benar-benar membawa kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya formula apa yang dipakai China untuk membangun fondasi ekonomi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China, saat ini, menjadi negeri yang sukar “dirumuskan.” Sepak terjangnya dalam pembukaan investasi asing, menggenjot pertumbuhan ekspor dan ekspansi produknya ke seluruh dunia, mulai dari jarum pentul hingga komputer jinjing, membuatnya tidak hanya memenuhi syarat lengkap sebagai negeri kapitalis, dalam konteks yang dirumuskan Marx, tapi juga tahapan lebih maju dari itu, yakni imperialisme. Namun, rumusan ini kembali menjadi “mentah” ketika melihat kontrol ketat yang dilakukan negara, di bawah kendali Partai Komunis China (PKC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, apa yang dilakukan negara saat skandal susu bermelamin itu mencuat ke permukaan. Pemerintah langsung mengambil alih Sanlu Group Co, perusahaan susu yang 43 persen sahamnya dimiliki oleh Fonterra Cooperative yang berbasis di Selandia Baru, dan membekukannya. Pemerintah juga memecat pejabat tinggi yang bertanggung jawab terhadap pengawasan dan pengamanan produk makanan, memecat pejabat di tingkat daerah, menangkap pengusaha di tingkat lokal yang berkontribusi terhadap penambahan melamin, serta memberikan ganti rugi kepada peternak yang terpaksa hilang penghasilan setelah mencuatnya skandal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri China Wen Jiabao dalam pernyataannya di New York, Selasa (23/9), mengatakan bahwa pemerintahannya akan memastikan kualitas dan keamanan semua produk bikinan China. Tapi, ia juga mengatakan bahwa seharusnya jangan pernah ada upaya mengejar keuntungan perusahaan atau pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan kesehatan dan kehidupan rakyat. Seriuskah China?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan waktu untuk menunggu bukti dari keseriusan tersebut. Tapi berharap China akan mengubah sama sekali sistem ekonominya dan mengurangi peran negara dalam mengontrol pasar, akan menjadi harapan yang terlalu prematur. Terlebih saat krisis finansial mengguncang AS, seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analis Philip Bowring melihat bahwa dunia mungkin akan terpengaruh dengan krisis ini, tapi China dan Jepang agaknya bisa bertahan. Ini pula yang membuat sejumlah spekulasi muncul bahwa krisis finansial saat ini bisa membuat bandul globalisasi ekonomi bergerak ke arah Asia, dipimpin Asia Timur dan diikuti Asia Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ke arah mana globalisasi ekonomi ini akan dibawa, sangat tergantung pada perkembangan yang bakal terjadi di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah China akan teguh dengan empat prinsip dasar yang dipancangkan para pendiri mereka (sosialisme, diktatur proletar, partai komunis China memimpin, marxisme-lenisme dan pikiran Mao Zedong), atau larut dalam lautan neoliberalisme tak bertuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, Kamis 25 September 2008, dengan judul "Skandal Susu, Quo Vadis China"? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-8956093091563388730?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/8956093091563388730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=8956093091563388730' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8956093091563388730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/8956093091563388730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/09/quo-vadis-china.html' title='Quo Vadis China?'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-3617384915385831192</id><published>2008-09-22T17:24:00.008+08:00</published><updated>2008-09-23T09:21:26.903+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Nasionalisme &amp; Kaum Muda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SNdlZPWUXOI/AAAAAAAAANc/S8UuDKGqLOI/s1600-h/China.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SNdlZPWUXOI/AAAAAAAAANc/S8UuDKGqLOI/s200/China.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248775375014878434" /&gt;&lt;/a&gt;DI atas tram siang tadi, kukeluarkan postmagazine yang tak tuntas kubaca semalam. Kubuka cepat halaman 24. Seorang pemuda dengan setangan merah di leher dan bendera China di tangan kanannya. Tangan kirinya disembunyikan dalam saku celana. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu bernama Tang Jie. Umurnya 28 tahun. Dia seorang mahasiswa filsafat yang pernah terpesona dengan “Sophie’s world”-nya Jostien Gaarder. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam artikel tentangnya yang ditulis Evan Onos di postmagazine dengan judul “Stand-up guys” itu, bukan minat filsafat Tang Jie yang diulas, tapi hal lain yang lebih menggetarkan. Sebuah getar yang masih tersisa saat artikel itu usai kubaca, majalah kututup, dan kususuri lorong jalan di Wanchai menuju ke kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang Jie adalah pemuda yang membuat video pendek bertajuk ""2008 China Stand Up".&lt;br /&gt;Video itu beredar luas di internet sejak 15 April,  paska blow-up besar-besaran media mainstream terhadap ricuh di Tibet. Tang Jie menggunakan nama “CTGZ”, sebuah akronim yang ia ambil dari potongan puisi klasik “changting” dan “gongzi” yang artinya “the noble son of the pavilion”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang Jie dan sejumlah kawannya tak rela bahwa “Barat” mendeskreditkan China secara keterlaluan, terlebih atas nama demokrasi dan hak azasi manusia. Apalagi pendeskreditan ini diperparah dengan penyajian fakta yang ngawur dari media mainstream seperti CNN yang selama ini identik sebagai media propaganda Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang Jie bukan komunis. Ia juga tak pernah menjadi simpatisan, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, terhadap ideologi besar yang diusung Partai Komunis China. Ia hanya seorang pemuda yang gelisah dan kerap jengah dengan perspektif “Barat” tentang negerinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video mini yang ia bikin muncul dari kegelisahan tersebut. Hasilnya? Dahsyat. Gelombang nasionalisme menerjang China seperti air bah. Sejumlah aksi protes yang diikuti ratusan hingga ribuan orang China digelar di depan pusat perbelanjaan Careefour setelah Prancis sempet mengeluarkan pernyataan untuk memboikot Olimpiade Beijing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara CNN dibuat keder dengan bukti yang disodorkan China bahwa media massa besar itu telah melakukan manipulasi terhadap fakta ricuh di Tibet. Hingga memaksa mereka untuk mengeluarkan permintaan maaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan-jalan, para pemuda mengenakan kaos dengan tulisan garang di dada “Love China, Oppose Divisions, Oppose Tibetan Independence.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang “kebanggaan sebagai China” menerjang seperti badai, melumat siapa saja, termasuk generasi pemudanya yang sejak tragedi Tiananmen Juni 1989 nyaris tak pernah terlihat batang hidungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun uniknya (atau barangkali ini juga sebuah antisipasi yang wajar),  PKC merasa perlu untuk “berhati-hati” dengan nasionalisme jenis ini. Mereka tak mau nasionalisme menggebu ini menjadi bumerang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme yang berlebihan bisa-bisa membuat China akan berhenti sebagai fasis, chauvinis, dan menjadi batu sandungan terhadap proyek besar sosialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sejauh ini, agaknya PKC tak perlu terlalu khawatir. Para pemuda sejenis Tang Jie, yang muncul bagai cendawan musim hujan, bukan generasi naïve yang asal membangun kebanggaan sebagai China hanya karena merasa terluka atau dilukai oleh “Barat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah generasi yang tak segan untuk belajar dari sejarah. Yang tak malas untuk mengumpulkan data dan menganalisa fakta. Yang memiliki ketekunan untuk “membaca” masa.  Mereka adalah anak-anak zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu salah satu alasan yang membuat mereka bisa melihat tragedi Tiananmen secara lebih jernih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peristiwa 4 Juni (tragedi Tiananmen) tidak dapat dan seharusnya memang gagal pada saat itu. Jika gerakan itu berhasil, maka China akan bertambah buruk, tidak lebih baik,” ungkap Liu Yang. Ia adalah pemuda seperti Tang Jie. Usianya baru 26 tahun, seorang mahasiswa teknik lingkungan. Dia bukan kader komunis. Simpatisan pun bukan. Dia menyebut dirinya sebagai seorang liberal. Tapi lihatlah…,betapa kuat analisanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi pada akhirnya, di mata generasi muda China, hanyalah  kegenitan kelas menengah. Terutama jika yang dipakai adalah formula standar ganda si Paman Sam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Sungguh, kutulis ini dengan lamunan penuh tentang Indonesia…)&lt;br /&gt;Hong Kong, 22 September 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-3617384915385831192?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/3617384915385831192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=3617384915385831192' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3617384915385831192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3617384915385831192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/09/nasionalisme.html' title='Nasionalisme &amp; Kaum Muda'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SNdlZPWUXOI/AAAAAAAAANc/S8UuDKGqLOI/s72-c/China.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1327068343146603851</id><published>2008-09-09T17:54:00.004+08:00</published><updated>2008-09-09T18:01:33.435+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis'/><title type='text'>Membaca Angin Perubahan di Hong Kong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SMZJEbBf0vI/AAAAAAAAANU/w2oITmH45hs/s1600-h/DSC_00321729DSC_0032.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SMZJEbBf0vI/AAAAAAAAANU/w2oITmH45hs/s200/DSC_00321729DSC_0032.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243959156441862898" /&gt;&lt;/a&gt;PARA politisi boleh berkalkulasi soal kemenangan mereka, para analis politik boleh berprediksi soal siapa yang mengambil keuntungan paling besar dari iklim politik yang ada, tapi rakyat selalu punya logikanya sendiri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, hasil pemilihan anggota legislative council (legco) yang digelar Minggu (7/9) menunjukkan bahwa rakyat punya caranya sendiri untuk mengontrol kehidupan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 30 kursi legco yang diperebutkan, 19 diantaranya dimenangi oleh pan-demokrat, kubu yang selama ini dikenal  vokal terhadap kebijakan yang ditetapkan pemerintah, juga segala hal terkait dengan dengan kebijakan Beijing. Sementara sisanya dimenangi oleh kandidat dari kubu yang dinilai loyal terhadap Beijing dan kandidat independen. &lt;br /&gt;Sebenarnya ada 60 kursi yang ada di legco, namun separuhnya langsung diisi oleh perwakilan fungsional, dan hanya separuhnya lagi yang diperebutkan lewat jalur pemilihan satu orang satu suara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 19 kursi yang didapatkan pan-demokrat lewat pemilihan yang digelar Minggu lalu, maka total kursi yang diperoleh pan-demokrat di parlemen adalah 23 kursi. Sementara 30 dimiliki oleh kubu loyalis Beijing dan tujuh kursi lainnya ditempati oleh mereka yang tak berafiliasi pada keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total kursi yang diperoleh oleh pan-demokrat ini membuat kalangan pro-demokratik di Hong Kong berlega hati karena setidaknya pan-demokrat masih punya kekuatan veto terhadap keluarnya kebijakan yang mereka anggap merugikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelegaan ini cukup beralasan karena sebelumnya sempat muncul kekhawatiran dari kubu pan-demokrat bahwa mereka tak akan banyak mendapatkan kursi. Patriotisme yang berkembang di Hong Kong menjelang dan paska pesta Olimpiade Beijing menjadi penyebab kekhawatiran ini. Terlebih tahun sebelumnya, Beijing menjanjikan, kalau tak bisa dikatakan memastikan, bahwa universal suffrage (hak pilih bersama) untuk memilih Chief Executive akan digelar pada 2017 dan pemilihan langsung untuk semua anggota legco akan digelar pada tahun 2020. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun janji ini masih jauh dari desakan pan-demokrat yang meminta agar universal suffrage sepenuhnya dilakukan di tahun 2012, tapi isu soal universal suffrage nyaris tak menjadi isu utama di Hong Kong sepanjang kampanye para kandidat legco tahun ini. Padahal di tahun 2004, isu ini mampu menaikkan popularitas para kandidat dari kubu pan-demokrat. Juga isu soal otorititarian Beijing dengan keluarnya pasal antisubversi dalam undang-undang dasar di tahun 2003. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan Rakyat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, kondisi politik di Hong Kong tahun ini, sebenarnya tak cukup kondusif bagi kubu demokrat. Kecurigaan rakyat Hong Kong terhadap Beijing berkurang drastis. Ini pula yang barangkali menjadi penyebab penurunan jumlah pemilih hingga sekitar 10 persen dibanding di tahun 2004. Janji-janji kampanye yang diusung pan-demokrat barangkali sudah tak menarik lagi karena toh Beijing akan memutuskannya secara bertahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah ini berarti bahwa warga Hong Kong telah sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Beijing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat hasil pemilihan Minggu, maka dari sudut persentase perolehan kursi, pan-demokrat jelas masih memenangkan hati rakyat dengan memperoleh 19 kursi dari 30 yang diperebutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Liberal Party yang merupakan bagian dari kubu pro-Beijing dalam parlemen, kalah telak dalam perebutan kursi. Kampanye mereka tentang kebijakan pro-bisnis, nyaris tak laku di publik. Menariknya, Democratic Alliance for the Betterment and Progress of Hong Kong (DAB) yang juga masuk dalam kubu pro-Beijing, justru meraih kursi lebih banyak. Kampanye mereka yang fokus soal kesejahteraan rakyat dan pelayanan publik agaknya menjadi daya tarik utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu pan-demokrat yang gencar mengusung isu-isu akar rumput, termasuk soal penetapan upah minimum, jaminan sosial, dan sebagainya, juga menjadi penarik simpati publik. &lt;br /&gt;Ini artinya, warga Hong Kong tak lagi melihat peta politik di parlemen sebagai pro-Beijing atau anti-Beijing. Mereka lebih melihat pada siapa yang bisa membawa perubahan lebih baik bagi kesejahteraan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran warga Hong Kong ini juga bisa menjadi kontrol terhadap Beijing yang oleh kelompok kiri dinilai terlalu “mesra” dan banyak “bermain api” dengan kebijakan neoliberal. Sementara di sisi lain, oleh kelompok kanan, dinilai terlalu otoriter sehingga menciptakan situasi yang “tak ramah” terhadap pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 9 September 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1327068343146603851?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1327068343146603851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1327068343146603851' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1327068343146603851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1327068343146603851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/09/membaca-angin-perubahan-di-hong-kong.html' title='Membaca Angin Perubahan di Hong Kong'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SMZJEbBf0vI/AAAAAAAAANU/w2oITmH45hs/s72-c/DSC_00321729DSC_0032.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-492190278421884614</id><published>2008-08-27T10:28:00.004+08:00</published><updated>2008-08-27T10:33:34.277+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Yang Bersemi setelah Pesta Usai</title><content type='html'>OLIMPIADE Beijing usai. Pesta olah raga yang melibatkan atlet dari 205 negara itu ditutup, Minggu (24/8) malam, dengan perayaan yang hampir sama indahnya dengan pesta pembukaan 8 Agustus lalu.China berhasil membuktikan kepada dunia bahwa negeri dengan penduduk 1,3 miliar itu bisa menjadi tuan rumah yang luar biasa. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sanggup menggelar pesta pembukaan dan penutupan indah yang melibatkan puluhan ribu penari serta fasilitas olah raga yang lengkap, tapi juga mampu menyabet 51 medali emas yang menempatkannya sebagai negara dengan peraih emas terbanyak setelah 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di atas semua itu, pencapaian paling luar biasa adalah apa yang pernah diinginkan Presiden China, Hu Jintao, saat mengunjungi Hong Kong setahun lalu. Ia minta, kalau tak bisa disebut memohon, agar generasi muda Hong Kong memiliki kebanggaan sebagai bagian dari China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan Hu Jintao ini disampaikan dalam peringatan 10 tahun kembalinya Hong Kong kepangkuan Republik pada 2007 lalu. Sebuah permintaan yang bahkan pemerintah Hong Kong pun merasa perlu untuk ”melukiskannya” dalam pijar kembang api di atas dermaga Tsim Sha Tsui, dengan karakter China yang terbaca sebagai ”Orang China”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan ini wajar melihat selama bertahun-tahun, warga Hong Kong enggan disamakan dengan warga China daratan. Mereka lebih suka menyebut diri sebagai ”Hongkongers” dibanding sebagai ”Chinese”. Mereka merasa lebih ”beradab”, lebih metropolis, lebih ”internasionalis, dibanding warga China yang ”udik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fermy Wong, seorang aktivis perjuangan hak-hak minoritas, mengakui bahwa bukan cerita aneh jika warga China daratan kerap kali mengalami perlakuan diskriminatif di Hong Kong, bahkan jauh lebih banyak dibanding warga etnis minoritas lain, seperti Filipina, Indonesia, atau Nepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kejadian buruk atau tindak kriminal yang terjadi di Hong Kong, seperti adu jotos di jalan, menolak antrean, melanggar lampu merah, membuang sampah sembarangan, pencurian, ataupun perampokan, selalu dikaitkan dengan warga dari China daratan. Warga Hong Kong menyebut mereka ”Tai Lok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sisi lain, para penentang diskriminasi, yang juga gigih memperjuangkan upah layak bagi warga pendatang asal China daratan, tak suka dengan kebijakan politik pemerintah China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak henti menuding sikap otoritarian China terhadap Tibet, sikap keras kepala China yang tak pernah minta maaf atas tragedi Tiananmen, sikap sewenang-wenangan China memberangus hak bersuara dan kegemarannya melanggar HAM. Intinya, di mata aktivis HAM dan kubu Pan-demokratik di Hong Kong, China adalah negeri besar yang keras kepala dan otoriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;China bukan tak paham tudingan ini. Ini juga tampaknya yang membuat Hu Jintao ”memohon” generasi Hong Kong memiliki sedikit saja rasa nasionalisme, sebuah kebanggan menjadi China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan Hu Jintao jelas tak hanya ditujukan kepada mereka yang memandang warga imigran China daratan dengan sebelah mata, tapi juga kepada kubu pan-demokrat yang selama ini tak lelah mengkritik sikap keras kepala China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seolah merasa tak cukup dengan permintaan yang diucapkan dalam pidato 10 tahun kembalinya Hong Kong ke China, Hu mencoba ”mengulang” permintaan itu dengan sebuah pesta olah raga dunia yang disiapkan sangat megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, tampaknya ia tak menepuk angin. Angin nasionalisme berembus ke Hong Kong sejak obor Olimpiade melewati bekas koloni Inggris ini pada Mei lalu. Puluhan ribu orang berdiri di pinggir jalan, menyaksikan obor melintas dengan antusiasme yang menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pro-Tibet yang digelar sejumlah aktivis HAM dan kubu pan-demokrat nyaris tak terdengar. Di beberapa tempat, para aktivis bahkan mendapat kecaman dari warga yang menunggu dengan tak sabar obor yang bakal melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Olimpiade digelar, ribuan warga Hong Kong juga memenuhi Olympic Live Site, dengan bendera China di tangan dan meneriakkan yel: ”Chung Kok, Kayo!” Mereka juga antusias mengikuti pertandingan berkuda, bagian dari pertandingan Olimpiade Beijing 2008, yang mengambil tempat di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang paling menakjubkan, saat menyaksikan sekitar 600 warga Hong Kong berdiri serentak di depan layar lebar yang menyiarkan siaran langsung penutupan Olimpiade Beijing 20008 di Olympic Live Site, Victoria Park, Minggu (24/8) malam. Mereka berdiri serentak, tanpa ada yang memberi komando, saat di layar tampak bendera China dikibarkan dan lagu kebangsaan dilantunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin terlalu sederhana jika menyimpulkan bahwa nasionalisme yang diharapkan Hu Jintao bakal tumbuh bak jamur di Hong Kong, hanya dengan melihat antusiasme warga yang muncul selama penyelenggaran Olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun barangkali pula ini merupakan sebuah awal, seperti yang diharapkan oleh Hu Jintao. Ia tampaknya tahu persis bahwa pesta megah Olimpiade Beijing tak semata pertunjukan ”pamer” pada dunia, tapi lebih sebagai ”pupuk” yang ia siramkan kepada warganya sendiri, juga Hong Kong dan Makao, untuk tak malu menjadi China.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 25 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-492190278421884614?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/492190278421884614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=492190278421884614' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/492190278421884614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/492190278421884614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/08/yang-bersemi-setelah-pesta-usai.html' title='Yang Bersemi setelah Pesta Usai'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1800601739221400827</id><published>2008-08-26T11:13:00.001+08:00</published><updated>2008-08-26T11:15:44.595+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Mimpi Perempuan</title><content type='html'>UMURNYA sudah lebih 80 tahun. Tubuhnya bongkok. Jalannya tertatih. Tapi jangan tanya semangat hidupnya. Ia tak ingin mati sebelum menyaksikan ada sebuah gerakan perempuan dengan progresifitas seperti dulu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menolak disebut dengan nama sebenarnya. Namun sejarah mencatat bahwa ia adalah Sekretaris Front Nasional yang dikirim ke Papua tahun 1960-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dengannya untuk keperluan wawancara sekitar tiga tahun lalu di rumahnya di kawasan Bekasi. Fisiknya renta, tapi matanya adalah masa muda yang tak pernah lekang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Organisasi-organisasi perempuan yang bermunculan sekarang hanya organisasi ‘pendamping’ bapak-bapak. Rapat-rapat mereka hanya berisi gerakan mode show,” ungkapnya getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tengah mengkritik Dharma Wanita, juga organisasi sejenis yang hanya berkutat pada urusan “kewanitaan”, bukan pada sebuah perjuangan yang lebih prinsip, seperti organisasi yang ia masuki dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tersebut, di masa lalu, adalah salah satu pengurus Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) di Jawa Tengah. Sebuah jabatan yang memungkinkannya untuk dipromosikan sebagai Sekretaris Front Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenangannya, Gerwani adalah organisasi perempuan dengan keberpihakan yang jelas. Tak semata hanya meributkan soal-soal “emansipasi”, tapi lebih pada upaya memblejeti sistem tak adil yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap praktik poligami yang dilakukan Gerwani, diikuti juga dengan kritik keras terhadap keberadaan Peraturan Pemerintah No.19/1952 yang memberi hak  kepada pegawai negeri untuk menunjuk istri yang akan menerima pensiunnya. Aturan ini dianggap tak adil  untuk perempuan pertama yang dinikahi pegawai laki-laki tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain soal poligami, Gerwani juga dikenal concern terhadap isu-isu masyarakat kelas bawah, terutama kalangan buruh pabrik dan petani penggarap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bahkan membangun TK gratis dan tempat penitipan anak hingga di tingkat kecamatan, supaya para ibu tani dan buruh bisa tenang bekerja dan tak perlu khawatir anak-anaknya bakal telantar. Mereka juga bergabung dan bekerja sama dengan organisasi dan serikat tani di desa serta serikat buruh di kota, untuk mendesakkan program tanah buat petani, upah layak bagi kaum buruh, dan kondisi kerja yang layak bagi buruh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, setelah Gerakan 30 September/1965 meledak di Jakarta, Gerwani bersama sejumlah ormas lain yang dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan terlarang oleh rezim yang berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang saya temui di Bekasi tersebut menjadi salah satu korban. Ia ditangkap, disiksa habis-habisan, dan dibuang ke Plantungan selama 11 tahun sebagai tahanan, tanpa pernah diadili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamanya, ribuan perempuan juga mengalami hal serupa, menjadi pesakitan selama bertahun-tahun di kamp tahanan maupun di balik jeruji penjara yang ada di seluruh pelosok Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, sebuah organisasi perempuan termaju yang pernah dimiliki oleh Indonesia tutup cerita. Bahkan sampai sekarang, untuk beberapa kalangan, nama Gerwani masih disebut dengan nada najis karena dongeng Orde Baru tentang perempuan telanjang yang menari di atas jasad tujuh perwira Angkatan Darat di tahun 1965 , dipercayai sebagai kisah nyata. Dongeng yang dikekalkan di Monumen Lubang Buaya tersebut menyebut-nyebut Gerwani sebagai sang penari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak Bisa Eksklusif  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah Soeharto jatuh dari kekuasaan, dan iklim demokrasi terbuka lebih lebar, ormas dan partai politik tumbuh seperti cendawan di musim hujan. &lt;br /&gt;Sayangnya, organisasi perempuan yang diimpikan oleh para kader Gerwani, belum juga terlihat bentuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada memang organisasi perempuan yang bicara soal buruh, juga soal petani, tapi mereka hanya muncul sesekali jika ada isu yang mesti ditanggapi, tapi kemudian pergi. Juga sejumlah organisasi nonpemerintah (ornop) yang gencar memperjuangkan kuota keterwakilan perempuan di parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebuah organisasi perempuan dengan konsolidasi hingga ke kecamatan dengan garis politik serta ideologi yang jelas, belum terlihat hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dibutuhkan waktu lebih panjang, seiring juga dengan konsolidasi partai politik yang benar-benar merupakan wadah aspirasi politik rakyat dan bukan sekadar mesin untuk menaikkan orang ke kursi legislative maupun eksekutif setiap lima tahun sekali. &lt;br /&gt;Mantan Ketua Umum Gerwani, Umi Sardjono, di tengah penyakit yang menggerogoti tubuh rentanya, ternyata  juga mimpi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih mau hidup. Aku belum mau mati sebelum melihat ada organisasi wanita seperti yang kita punya dulu,” katanya kepada mantan Sekjen Gerwani Kartinah Kurdi, saat secara tak sengaja, saya mencuri dengar pembicaaran mereka di sebuah rumah sakit di Jakarta, tiga tahun lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saya, Umi tegas mengatakan, bahwa organisasi perempuan tak akan bisa jalan kemana-mana jika hanya mengusung isu perempuan. Organisasi perempuan juga harus terlibat dalam persoalan riil rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena alasan ini pula, Gerwani saat itu terlibat  dalam aksi-aksi anti-imperialis, juga mengirimkan kader-kader terbaik mereka untuk pembebasan Irian Barat (1957-1962) dan selama Konfrontasi dengan Malaysia (1963-1964). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi perempuan, pada akhirnya, memang tak bisa eksklusif. Umi Sardjono, seperti halnya pemimpin gerakan perempuan di Rusia Alexandra Kollontai, menyadari penuh hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita tahu, di mata Kollontai,  emansipasi perempuan adalah bagian dari perubahan sosial secara lebih luas dan saling berhubungan, karena kemenangan kaum perempuan tergantung pada kemenangan perjuangan kaum buruh. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1800601739221400827?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1800601739221400827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1800601739221400827' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1800601739221400827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1800601739221400827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/08/mimpi-perempuan.html' title='Mimpi Perempuan'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-3530160588782276314</id><published>2008-08-18T18:08:00.000+08:00</published><updated>2008-08-18T18:09:42.801+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Tan Malaka</title><content type='html'>SEBUAH kebetulan kembali mempertemukanku dengannya. Lelaki kelahiran Suliki yang oleh kawan masa kecilnya dipanggil Ipie. Kebetulan itu datang secara berurutan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam mampir ke blog-ku dan mengaitkan Ipie dengan kerajinan sholat-nya. Ia, aktivis HMI itu, merasa lega karena sang komunis itu ternyata seorang religius (sebuah kelegaan yang sulit dicerna otakku karena komunisme sebagai sebuah kritik terhadap sistem kapitalisme ia campurbaurkan dengan atheisme). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun tak setujunya aku dengan pendapat aktivis itu, “perjalanan” nyasarnya ke blogku, kembali mempertemukanku dengan Ipie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tak sampai sepekan, seorang penyair berambut gondrong yang kini bermukim di Belanda, mampir ke Hong Kong. Ia meluncurkan kumpulan puisi karyanya, bertajuk “50% Merdeka”. Nama penyair itu Heri Latief. Ia juga yang membantu menerbitkan naskah Kembang Kembang Genjer lewat penerbitan yang ia miliki, Lembaga Sastra Pembebasan pada Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru bertatap muka dengannya di Hong Kong. Hubungan kami selama ini, termasuk proses penerbitan Kembang Kembang Genjer, hanya berlangsung via email maupun messenger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti aku sama sekali asing dengannya. Jalur pikirnya bisa kupahami sejak ia memutuskan menerbitkan naskah Kembang Kembang Genjer dan lewat sejumlah puisi yang biasa ia posting di milis Sastra Pembebasan yang ia kelola. Tapi saat ia memberikan analisa tentang Tan Malaka, suatu siang, di bawah terik matahari di kawasan Causeway Bay, aku mulai lebih paham apa yang melintas dalam pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang Tan Malaka, gelar datuk yang diberikan pada Ipie sejak tahun 1912,   ini berlanjut menjelang peluncuran bukunya di Kowloon Park, Minggu pagi tanggal 10 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, ia kecewa dengan sikap tak hormat para generasi penerus gerakan yang begitu saja menyingkirkan dan mengabaikan Ipie hanya karena ia menolak rencana pemberontakan yang diputuskan di Prambanan pada Desember 1925. Kudeta yang berlangsung November 1926 hingga Januari 1927 itu terbukti gagal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, saat berbincang dengan Heri, kupikir hanya aku yang mendengar keluh kesahnya soal Ipie dan mencoba kembali menyusun puzzle tentang negeri bernama Indonesia.  Namun ternayata, sebuah kebetulan yang lain, benar-benar memaksaku untuk kembali bergumul dengan  Ipie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan itu datang lewat seorang lelaki setengah baya yang telah bermukim puluhan tahun di Hong Kong. Ia pergi dari Indonesia sepekan sebelum insiden meletus di Jakarta pada subuh 1 Oktober 1965. Ia ada di antara aku dan Heri Latief saat perbincangan tentang Tan Malaka di Kowloon Park, pagi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah putra Ketua Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), Siaw Giok Tjhan. Ia tak banyak bicara. Ia sabar mendengar kemarahan yang dilontarkan Heri soal perlakuan buruk yang diterima oleh Tan Malaka.  Namun mendadak sebuah gumam keluar dari bibirnya, “Kalau dilihat sekarang, banyak yang benar dari Tan Malaka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takjub mendengarnya. Aku pernah meraba sikap politiknya. Tapi tak urung gumamnya masih mengagetkanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal, aku bersepakat dengannya soal China. Dan ketika ia menggumamkan Tan Malaka, aku tahu bahwa itu tak lepas dari perkembangan China sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah negeri yang membentang dari utara ke selatan dengan etnik yang begitu beragam, dengan budaya yang beraneka, juga agama. Dengan penduduk yang lebih dari semiliar. &lt;br /&gt;Sebuah negeri yang tak henti dihajar perang saudara, juga jajahan para pencari kapital. Sebuah negeri yang pernah dilanda kelaparan terburuk dalam sejarah dan dijarah sumber dayanya hingga kemiskinan menjadi hal yang akut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, setelah proses tak kenal menyerah dari para peletak pondasi Republik Rakyat, negeri itu bisa tampil dengan gagah dan mengundang decak kagum dunia. Ia memiliki caranya sendiri, dalam politik dan juga ekonomi, untuk tidak menjadi bebek dari dikte dunia yang berkiblat ke kanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kiri bisa menghujatnya sebagai si kompromis yang mengenaskan jika melihat manuver ekonomi yang dilakukan China. Sementara kelompok kanan bisa mengutuknya sebagai diktator yang menjijikkan dengan partai tunggal yang memegang kendali untuk semua kebijakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun China memiliki alasannya sendiri. Baginya, sosialisme pada awalnya selalu membutuhkan “rumah”. Di rumah inilah, bekal seluruh perjalanan bakal disiapkan. Sosialisme bukan perjalanan tempuh semalam dengan pesawat jet super cepat. Ia adalah jalan panjang yang tak mulus. Dibutuhkan bekal cukup untuk bisa sampai ke tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang pernah melintas di benak seorang lelaki Sumatera, Ibrahim Datuk Tan Malaka, bahwa sebuah revolusi selalu membutuhkan “rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ia tewas di tangan seorang tentara yang gemas. Diikuti  dengan kutukan dari kawan-kawan segaris  bahwa ia hanya seorang “petualang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di flat sempit di jantung Hong Kong, membaca laporan khusus Tempo tentang dia, membuat pertemuanku dengannya menjadi lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubongkar ulang berkas  “Naar de Republiek Indonesia” dan  “Massa Actie” yang pernah kukenal 10 tahun lampau. Membacanya ulang membuat gumam lelaki Tionghoa di Kowloon Park itu  seperti mendapatkan pembenarannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hong Kong, 18 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-3530160588782276314?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/3530160588782276314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=3530160588782276314' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3530160588782276314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3530160588782276314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/08/tan-malaka_18.html' title='Tan Malaka'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4274404874726074212</id><published>2008-08-11T17:27:00.002+08:00</published><updated>2008-08-11T17:32:25.747+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Aku Ingin Melihatnya Menangis</title><content type='html'>IA tak pernah menangis. Tidak saat suaminya hilang, tidak saat ia diseret ke meja interogasi bersama bayinya yang masih merah, tidak juga saat berbagi tikar dengan ketujuh anaknya di dalam sel sempit yang sudah dipenuhi  17 perempuan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya menangis satu kali. Saat sore yang basah, sang kakak datang jauh-jauh dari  Jawa, menjemputnya di penjara dan membawanya pulang bersama ketujuh buah hatinya ke arah timur dengan kereta kelas ekonomi yang sesak dengan penumpang bertujuan sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam gerbong kereta, di antara bau keringat dan ludah yang tercecer di sepanjang lorong, keikhlasan kakaknya  membuat matanya panas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menangis. Tak sampai menjadi isak, namun ia sadar bahwa ia menangis. Mula-mula ia merasakan panas di belakang telinganya, kemudian merambat naik ke kepalanya dan turun menggumpal di kedua lubang hidungnya. Lalu ia merasa matanya panas dan tiba-tiba satu bulir air jatuh di pipinya. Begitu saja. Keharuan itu menyergapnya tanpa mengucapkan salam pembuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal selama setahun lebih, saat orang beramai-ramai menudingnya sebagai pesakitan, ia tak pernah menangis. Dan bertahun-tahun setelah bulir air matanya jatuh di stasiun kereta api senja itu, ia kembali tak bisa menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu dengannya dalam suatu senja yang lain, di sebuah rumah petak di ujung gang sempit di pingiran Jakarta. Ia berjalan tertatih dan menyambut salamku dengan senyum yang berpendar di matanya. Senyumnya manis, sangat manis. Hingga sulit bagiku membayangkan ekspresi tangis dalam wajahnya pada senja di stasiun kereta, 40 tahun lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendar di wajahnya malah menunjukkan sebuah getar cinta pertama seorang remaja yang menyimpan cintanya diam-diam karena darah biru yang mengalir di urat nadinya melarangnya menampilkan luap emosi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian aku tahu, bahwa lelaki yang memendarkan bola matanya itu bukan catatan cinta pertamanya. Laki-laki itu hanya catatan kedua, meski jejak yang ditinggalkannya lebih dahsyat dari cinta pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada lelaki terakhir itu, ia mempercayakan seluruh hidupnya. Tanpa bertanya untuk apa dan bagaimana dia bakal bertahan. Budaya aristokrat Jawa mengajarinya untuk menanggung segala hal tanpa banyak pertanyaan. Menyimpan rahasia di sudut hatinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia memutuskan menerima pinangan lelaki itu, ia hanya tahu bahwa rasa sayang yang membimbingnya ke sana, bukan yang lain. Tapi barangkali juga deretan puisi dan dendang lagu “ngak-ngik-ngok” yang dilantunkan sang pemuda saat dentang bel sekolah menyudahi jam pelajaran yang membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin sentimentalitas itu yang mendekatkannya pada pemuda tersebut. Hingga ia hanya bisa mengangguk saat pinangan itu dilontarkan. Anggukan yang sama ketika pemuda itu menyemaikan tujuh benih dalam rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak menduga bahwa anggukan itu menyeretnya dalam sebuah labirin tak berkesudahan. Ruang yang ia tak paham kapan ia memasukinya, tapi mendadak terjebak di sana. Mula-mula ia merasa gamang, namun kemudian ia mulai terbiasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda yang telah menjadi suaminya, yang membawanya pada labirin tersebut, tak pernah menceritakan apa-apa dan perempuan itu juga tak berniat bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tahu bahwa rumah dinas yang lama ditinggalinya tiba-tiba  harus ia tinggalkan, saat jalanan Jakarta mendadak lengang dan sunyi seperti kuburan, padahal matahari masih tinggi di atas kepala. Sementara lelaki yang ia ucapkan kata iya, tengah berada jauh di ujung Sumatera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seorang sopir yang memiliki iba, ia singgahi deretan rumah kenalan, dengan lima anak di kedua tangan, si buyung di gendongan dan janin dalam kandungan. Namun tak ada pintu terbuka, saat situasi membuat setiap orang berubah menjadi curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak pernah menangis,” ucapnya dengan senyum di mata saat langit di luar berubah jingga. Ia telah menyinggahi sejumlah kota dalam status sebagai terdakwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh bocah yang pernah lahir dari rahimnya, memanggilnya mama dan baru ia jumpai setelah belasan tahun tersekap dalam penjara, tanpa pernah menghadiri sidang pidana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bocah lelaki menghampirnya, menyorongkan buku sejarah dan menunjuk gambar tujuh pemuda yang telunjuknya menuding ke depan, tampak gagah dengan burung besar dari beton di belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan si Bung akan ada di pelajaran sekolahku?” tanyanya, menarik daster perempuan di depanku yang ia panggil eyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak menjawab. Hanya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengamatainya tanpa berkedip. Berharap ada genangan air di kedua matanya. Jarum jam bergerak dalam tik tak yang pasti, namun penantianku ternyata sia-sia. Genangan air itu tak kutemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia mengada-ada,” ujarnya padaku sambil mengusap kepala si bocah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang belakang, bunyi sendok beradu dengan tepi gelas. Aroma kopi memenuhi ruangan dan seorang perempuan paruh baya menyuguhkan minuman di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buyung berharap eyang kakungnya muncul di buku sejarah, tapi mama selalu menggangap hal itu tak mungkin,” ujarnya dan segera menarik buah hatinya itu ke dalam kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia sudah pergi,” ujar perempuan itu kembali. Seolah mengabaikan percakapan yang baru saja terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu mencintainya?,” tanyaku hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali tersenyum, sekali lagi dengan matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membawa perempuan itu ke Gambir, mengenang jejak yang pernah ia lintasi 40 tahun lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua berubah,” ucapnya saat melihat antrean panjang penumpang kereta berbaju rapi dan wangi. Ia asing dengan kereta berlokomotif putih yang meruapkan dingin AC itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan sepurku,” ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku membawanya ke Senen. Di bangku peron yang kumuh dengan aroma apek itu, ia duduk diam-diam. Matanya lurus mengawasi penumpang yang berjubel di depan pintu gerbong kereta yang menuju ke timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, aku menunggu genangan air di matanya. Namun penantianku  kembali sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak pernah menangis,” ujarnya seolah membaca penantianku, saat kusodorkan segelas air mineral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena ibu yakin, ia tak bakal kembali?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku tak punya pilihan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadanya datar, tak ada tekanan kemarahan, bahkan kesedihan pun tak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku ingin sekali melihatnya menangis. Sekali saja. Agar aku punya alasan membenci bapakku, lelaki yang mengaku membunuh si Bung atas perintah&lt;br /&gt;komandannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin aku menemui perempuan itu, menyampaikan maaf, setelah jiwanya tak juga tenang, hingga ajal menjemputnya bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana seandainya ibu tahu siapa sebenarnya yang membunuh si Bung?” tanyaku sambil menggeser duduk, menjauh. Takut ia mendengar detak jantungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menoleh ke arahku. Mengusap pipiku. “Aku tak akan menangis,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat dingin mengucur di tubuhku, suara lokomotif membuat pendengaranku pekak, lalu semuanya gelap. Bayangan wajah pucat bapak di depan pintu setelah eksekusi itu melintas dalam ingatanku. Baju lorengnya meningalkan bercak warna coklat, ia datang dari timur dengan kereta sama yang membawa perempuan itu pulang ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hong Kong, Desember 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4274404874726074212?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4274404874726074212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4274404874726074212' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4274404874726074212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4274404874726074212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/08/aku-ingin-melihatnya-menangis.html' title='Aku Ingin Melihatnya Menangis'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1688412193956826568</id><published>2008-07-24T18:02:00.005+08:00</published><updated>2010-05-18T17:02:15.453+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Red Star Over China</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SIhUVRE7j7I/AAAAAAAAANM/J89it5onbKs/s1600-h/Snow.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SIhUVRE7j7I/AAAAAAAAANM/J89it5onbKs/s200/Snow.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226520091901530034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, 24 Juli 2008, seorang teman menyodoriku kabar: China tak lagi garang. Negeri besar yang akhir-akhir ini dikecam habis soal Tibet dan dikasihani karena gempa Sichuan itu, mengumumkan izin demonstrasi saat pesta Olimpiade 2008 digelar di Beijing, bulan depan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, langgam politik China akhir-akhir ini susah dimengerti. Bagi kalangan kanan, Republik Rakyat yang berdiri tahun 1949 itu terlalu sosialis, tak demokratik, cenderung otoriter, dan keras kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagi kalangan kiri, negeri bekas jajahan Jepang itu terlalu lembek, terlalu kompromis, dan upaya main apinya dengan ekonomi pasar telah membuatnya terbakar. Kaum kiri bahkan mulai menuding China telah kehilangan roh sosialisme dan benar-benar telah mulai mengubah haluan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak hendak mengamini salah satu dari kedua pendapat itu. Setidaknya, hingga saat ini. Catatan yang ditulis Edgar Snow, jurnalis asing pertama yang berhasil menembus basis tentara merah China di tahun 1936, memberiku gambaran lebih lengkap tentang China, termasuk untuk mengeja apa yang tengah terjadi saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul “Red Star Over China” itu kutemukan di Hong Kong Central Library, lusuh dan telah berjahit. Banyak tangan yang tampaknya telah menjamah buku bersampul separuh kepala Mao Tse Tung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Grove Press, New York, buku yang kupinjam itu merupakan edisi revisi yang terbit tahun 1968 atau empat tahun sebelum kematiaan Snow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi pertama terbit di London tahun 1937 atau setahun setelah Snow mangkal di basis tentara merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snow mendapatkan akses masuk ke basis tentara merah melalui jaringan bawah tanah milik gerilyawan komunis. Saat “undangan” itu tiba, ia tengah berada di Beijing, menetap dengan istrinya, Helen Foster Snow, dan mengajar sebagai dosen jurnalisme di Yenchang University. Selain juga bekerja sebagai jurnalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditemani seorang mahasiswanya (Wang Rumei atau Huang Hua) yang membantu sebagai penerjemah dan juga seorang dokter asal Amerika Serikat (George Hatem atau Ma Haide), Snow masuk ke basis tentara merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 21 Juli 1936, dalam ingatan Huang Hua, Snow pun mendapat sambutan selamat datang yang hangat dari orang kuat kedua di basis gerilyawan komunis:  Zhou Enlai. Sambutan hangat itu terjadi di Yenan, setelah Snow  menempuh 300 km perjalanan dari Xian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, Snow kemudian mendapat “surat sakti” untuk bisa bertemu dengan Mao Tse Tung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enlai menawarkan jadwal kunjungan yang bisa dilakukan Snow dalam tempo tiga bulan, jika ingin meng-cover apa dan siapa “Bandit Merah” (sebutan yang dipopulerkan oleh Kuomintang). Namun -ini yang menarik- Enlai memberi tekanan bahwa jadwal tersebut hanya usulan. Jika Snow tak mematuhinya, juga tak masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sinilah, petualangan Snow dimulai. Ia berjumpa dengan ratusan simpatisan dan kader partai komunis. Dari Enlai, Mao, Peng Duhai, Zhu Dhe, Lin Biao, dan lain-lain. Ia mewawancarai banyak orang, merekam setiap kejadian, dan membuat analisa terhadap banyak hal. Ia tidur dan makan bersama mereka. Merasakan kebersamaan, menikmati solidaritas, menjumpai kesederhanaan tapi sekaligus semangat meluap yang nyaris tak ia pahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, ia sempat dibuat bingung oleh gelora hasrat meletup-letup dari generasi muda terhadap sesuatu yang baginya tampak abstrak: ideologi. Sebuah gelora yang di negeri barat hanya dimiliki oleh para pecandu sepak bola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tak habis pikir bagaimana ribuan orang rela melakukan “Long March”, sebuah ide sinting untuk menghindar, bertahan, dan sekaligus menyerang “Bandit Putih” dan Pemerintahan Reaksioner Chiang Kai-Sek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga dibuat takjub dengan  disiplin tentara yang  tetap terjaga meski pasokan senjata dan amunisi nyaris tak ada  karena Uni Soviet memilih memberi bantuan ke Chiang Kai-Sek dan menuding PKC melakukan pembelotan. Padahal jelas-jelas Kuomintang lah yang gemar berburu kader PKC dan menumpahkan darah mereka daripada tertib menjaga front bersama untuk melawan Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamp-kamp tentara yang dikunjungi, Snow nyaris tak menemukan pesta seksual atau mabuk-mabukan seperti jamak ditemui dalam setiap kamp tentara. Partai menggariskan bahwa tak ada perempuan yang bisa ditiduri tanpa dikawini terlebih dulu, tak ada opium yang boleh diisap, dan tak ada tentara yang boleh minum saat bertugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di wilayah-wilayah yang telah dikuasai PKC, angka melek huruf naik dan pelacuran nyaris tak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di atas semua itu, keputusan PKC untuk kembali membangun front bersama dengan Kuomintang (meski PKC telah dikhianati dalam pembantaian habis-habisan di tahun 1926), merupakan hal “teraneh” yang ditemukan Snow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik sikap keras kepala yang selalu “dikutuk” oleh Komintern, PKC memiliki kecantikan bermain dengan garis sosialisme mereka sendiri.  Analisa mereka kongret. Tak membebek, tak textbook, tapi juga tak sekadar aktivisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Humanis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Snow meninggalkan basis tentara merah pada Oktober 1936, molor beberapa pekan dari jadwal. Ia sempat pergi ke front di Ningxia, sebelum kemudian balik ke Beijing.&lt;br /&gt;Dan saat buku itu diluncurkan di London pada tahun 1937, dunia terkejut dengan goresan Snow setebal 400 halaman itu. Menghindari sensor, buku itu terbit pertama kali dengan judul “Perjalanan ke Barat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan langsung menuding bahwa jurnalis AS itu telah menjadi pemuja PKC. Terlebih beberapa waktu kemudian, Mao Tse Tung dengan bangga menyebut Snow sebagai “juru bicara”-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurutku, buku itu sama sekali jauh dari propaganda. Snow masih disiplin dengan verifikasi data. Ia mewawancarai ratusan orang, tanpa arahan dari siapapun apalagi petunjuk partai, untuk melengkapi tulisannya. Ia melihat dan mendengar langsung pendapat penduduk lokal terhadap apa yang dipropagandakan Kuomintang sebagai “the Red Bandit.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikapun kemudian dalam goresannya Snow tampak sangat terlibat, aku melihatnya lebih karena fakta yang terhampar di hadapannya telah menyentuh atau bahkan menghantam sisi humanisme-nya. Karena itu pula yang kurasakan saat selesai membaca buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan melalui Red Star Over China, aku mulai paham kenapa China ngotot untuk bisa masuk ke WTO, kenapa Hong Kong dan Macau dibiarkan dengan sistem kapitalisme,  kenapa investasi asing dibiarkan masuk,  tapi di sisi lain PKC tetap memegang kendali pemerintahan, dan foto Mao Tse Tung tak juga diturunkan dari lapangan Tiananmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama, China telah merancang keadaan seperti saat ini. Jauh sebelum Republik Rakyat China didirikan pada Oktober 1949. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep itu telah digagas di gua-gua, tempat para kader komunis tinggal saat bertahan dari kejaran para pimpinan boneka Jepang. Mereka memimpikan sebuah bangunan sosialisme yang tahan terhadap panas dan hujan, yang kokoh dan tak gampang roboh, yang benar-benar menjadi tempat bernaung dan bukan sekadar tempat pamer untuk membuktikan siapa yang paling radikal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bangunan kokoh seperti itu, tak bisa dibangun hanya dalam tempo semalam, sepekan atau setahun. Bangunan kokoh seperti itu membutuhkan bahan yang berkualitas dan  waktu yang panjang dan sebuah ketelitian dalam “tawar-menawar” agar tak terjebak dalam arus yang boyak. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hong Kong, 24 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1688412193956826568?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1688412193956826568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1688412193956826568' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1688412193956826568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1688412193956826568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/07/red-star-over-china.html' title='Red Star Over China'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SIhUVRE7j7I/AAAAAAAAANM/J89it5onbKs/s72-c/Snow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-999043396306962302</id><published>2008-07-10T14:09:00.009+08:00</published><updated>2010-05-18T17:09:40.569+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Enlai in Bandung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SHWqAfBEeOI/AAAAAAAAAM8/t1W0BkrruCg/s1600-h/zuoenlai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SHWqAfBEeOI/AAAAAAAAAM8/t1W0BkrruCg/s200/zuoenlai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221266268308666594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanpa Mao Tse Tung, tak akan pernah ada api revolusi yang berkobar di China yang mampu  membentuk sebuah republik yang kuat yang menyatukan rakyat dari berbagai etnis dari Selatan hingga Utara. Namun tanpa Zhou Enlai, api revolusi itu bisa membakar apa saja dan menjadikan China hanya sebagai puing.&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SABTU lalu, 5 Juli 2008, aku pergi ke Hong Kong Film Archive di Sai Wan Ho. Sudah lama kutunggu hari itu. Tak sabar melihat visualisasi dari sosok lelaki yang “meracuni” kepalaku akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan ada sisipan dokumenter sosoknya, saat berjalan bersisihan dengan Soekarno, di Bandung, April 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harapanku berlebihan. Tak kutemui sosok aslinya di film besutan Wei Lian ini.&lt;br /&gt;Aku juga baru tahu kemudian bahwa film ini sudah diputar di Bandung dan Jakarta, tiga tahun lalu. (benar-benar kusesali sikap abaiku yang keterlaluan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, film dengan judul “Zhou Enlai in Bandung” itu diputar dalam bahasa putonghua dan subtitle berkarakter China. Tamatlah riwayatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soultan Saladin  yang berperan sebagai Presiden Soekarno dan  Ali Abdullah yang berakting sebagai Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pun ikut-ikutan bicara dengan bahasa Mandarin. Juga PM India Jawaharal Nehru dan putrinya Indira Gandhi, PM Burma U-Nu, Presiden Gamal Abdulnaser, dan juga wartawan-wartawan asing berwajah bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya percakapan berbahasa Inggris yang terdengar dalam film berdurasi 1,5 jam itu hanya dialog singkat antara Zhou Enlai dan si kecil Megawati Soekarnoputri di halaman Istana Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kata Indonesia, hanya terdengar “apa kabar” dan “terima kasih” dari perwakilan delegasi Tiongkok kepada Ali Sastroamidjojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagu-lagu berbahasa Indonesia, juga musik angklung, memenuhi film ini. Dari “Padamu Negeri”, “Rayuan Pulau Kelapa”, hingga “Halo-Halo Bandung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah penonton di deretan kursi belakang ikut menyenandungkan “Halo-halo Bandung”.&lt;br /&gt;Aku mendadak yakin bahwa mayoritas penonton yang memenuhi ruang pemutaran film ini adalah etnis Tionghoa asal Indonesia yang telah berpuluh tahun menetap di Hong Kong.&lt;br /&gt;Seorang lelaki usia 60-an yang duduk persis di kursi depanku, jelas lahir dan besar di Indonesia. Aku sempat ngobrol dengannya sebelum memasuki ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enlai itu ganteng sekali. Saya waktu itu ikut nyambut dia di Jakarta. Saya masih SD,” ujar lelaki yang bersikeras menolak menyebut nama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di layar, aku menyaksikan adegan anak-anak sekolah berseragam putih-putih, berjajar di pinggir jalan, sambil melambaikan bendera RI dan RRC, saat mobil delegasi RRC melintas di jalanan Jakarta dan juga Bandung. Barangkali itu yang dimaksud si bapak tentang cerita penyambutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang diproduksi oleh Beijing Film Studio dan China Film Group Corp. itu berkisah tentang kunjungan Perdana Menteri RRC Zhou Enlai ke Bandung pada April 1955 guna menghadiri Konferensi Asia-Afrika yang diikuti 29 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku sudah membaca biografi Enlai yang ditulis Han Suyin dan menelusuri sejumlah artikel dan buku yang menulis tentang Enlai. Sehingga meski gagal sama sekali menangkap arti kalimat apapun yang nyerocos dengan bahasa Putonghua itu, setidaknya aku bisa menangkap maksudnya, termasuk adegan “kecil” saaat Enlai mematikan kipas angin menjelang kunjungan Soekarno ke wismanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wang Tie Cheng, aktor yang langganan memerankan sosok Enlai, tampil memukau. Raut wajahnya, cara bicaranya, gaya berjalannya, sikap tubuhnya, benar-benar mirip Enlai. Ia berhasil menampilkan sosok Enlai yang tegas, simpatik, dan diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan  meledaknya pesawat terbang India, Princess&lt;br /&gt;Kashmir, yang membawa delegasi pertama China  ke Indonesia untuk menghadiri&lt;br /&gt;KAA. Pesawat itu meledak selepas Hong Kong, di atas Laut China Selatan pada 11 April 1955. Seluruh penumpang dan awak pesawat tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku Suyin diceritakan bahwa Enlai sebenarnya dijadwalkan untuk menaiki pesawat yang sama. Namun mendadak dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah tragedi tersebut, pemerintah China mengumumkan bahwa pesawat terbang telah disabotase oleh agen rahasia Kuomintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Investigasi lebih lanjut menyebutkan bahwa pesawat itu dipasangi bom oleh seorang karyawan Hong Kong Aircraft Engineering Corporation bernama  Chow-Tse-ming alias Chou Chu. Menurut laporan yang diperoleh Kantor Kolonial Inggris, Chou didekati oleh mereka yang punya hubungan dengan organisasi intelijen Kuomintang dan ditawarkan hadiah sejumlah uang untuk melakukan teror tersebut. Paska tindkan itu, ia melarikan diri ke Formosa/Taiwan dan pemerintah Taiwan menolak menyerahkan Chou kepada&lt;br /&gt;Kepolisian Hongkong untuk diadili).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enlai sendiri tak gentar dengan teror tersebut. Ia memutuskan tetap pergi ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Hegemon King in the Air, milik India Airlines.&lt;br /&gt;Ia sempat mampir di Rangoon, ibukota Burma, untuk bertemu PM U Nu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, Enlai disambut hangat. Di Kedutaan Besar RRC, ia keluar untuk menemui dan  berdialog dengan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang digambarkan menunggunya dengan sabar, bahkan tak peduli dengan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, warga Tionghoa seolah terpecah menjadi tiga golongan.&lt;br /&gt;Golongan pertama, hoakiauw, yakni mereka yang mempertahankan kewarganegaraan&lt;br /&gt;China. Golongan kedua, mereka yang ingin menjadi warga negara Indonesia,&lt;br /&gt;karena lahir dan besar di Indonesia. Golongan ketiga adalah adalah Kuomintang yang berkiblat ke Chiang Kaishek, Presiden Taiwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno sempat bicara dengan Enlai soal politik dwi kewarganegaraan bagi kalangan Tionghoa, dan Enlai  memberi solusi yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari keseluruhan film tersebut, paling menarik adalah reaksi Enlai menanggapi phobia komunis yang dilontarkan seorang delegasi KAA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film itu digambarkan bagaimana Perdana Menteri Irak Mohammad F. Gamal dengan lantang bicara di podium. Mengenakan setelan jas hijau gelap, pria berbadan&lt;br /&gt;besar dan berkacamata itu menyatakan adanya kekuatan ketiga, di luar kolonialisme dan zionisme, yang menyebabkan pergolakan di dunia. "Kupikir kalian semua sangat menyadari ini, yaitu komunisme!" katanya, sembari mengacungkan jari telunjuknya ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sempat ada kontroversi soal pelontar isu komunisme ini. Menurut kesaksian Ali Sastroamidjojo dan Roeslan Abdulgani, delegasi yang melontarkan isu komunis ini bukan PM Irak, tapi PM Sri Lanka Sir John Kotelawala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pun gaduh. PM Ali Sastroamidjojo yang memimpin sidang berulang kali minta hadirin tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ini, film tersebut berhasil menggambarkan ketenangan yang ditunjukkan oleh Enlai. Meski terkejut atas pernyataan itu, Enlai berusaha tenang. Ia mengambil pena dan menulis di kertas, dua karakter China (beruntung aku sudah tahu artinya di sinopsis yang kubaca) yang berbunyi: Tahan Amarah. Kertas itu disorongkan ke anggota delegasi RRC lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAA sendiri akhirnya berjalan mulus karena keberhasilan Enlai meyakinkan para delegasi dari 28 negara bahwa China tak hendak menciptakan permusuhan dan menjadikan negara-negara tersebut sebagai komunis. Apa yang menjadi tujuan China adalah turut menciptakan dunia damai dengan tatanan yang adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayak nonton film ‘G30S’ ya,” ujar seorang kawan begitu keluar dari gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menengoknya takjub. Ia tersenyum lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru paham maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dibikin oleh pemerintah, film itu memang terkesan sebagai film propaganda, menempatkan posisi Enlai sebagai sentral dan penentu utama keberhasilan KAA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari judulnya aja udah jelas: ‘Zhou Enlai in Bandung’. Coba kalau diganti ‘Soekarno in Bandung’, tentu jadi lain,” jawabku tak kalah sembarangan. Aku tak bisa terima kalau film itu disejajarkan dengan “Pengkhianatan G30S/PKI” apapun alasannya. Jadi kupilih untuk membandingkannya dengan Soekarno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, belum ada film yang menggambarkan tentang sosok Soekarno secara utuh di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film soal Enlai sendiri ada beberapa seri. “Zhou Enlai in Bandung” adalah satu dari enam film tentang Enlai yang diputar di Hong Kong untuk memperingati 110 kelahirannya. Lima film lainnya adalah “Zhou Enlai in China’s Foreign Relations”; “Zhou Enlai”; “Chong Qing Negotiation”; “The First of August”; dan “Qing  Gui Zhou Enlai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan menuju pulang, sosok laki-laki itu masih membayangiku. China betul-betul beruntung memiliki sosok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu bahwa tanpa Mao Tse Tung, tak akan pernah ada api revolusi yang berkobar di China dan tak akan berdiri sebuah republik yang kuat yang menyatukan rakyat dari berbagai etnis dari Selatan hingga Utara. Namun tanpa Zhou Enlai, api revolusi itu bisa membakar apa saja dan menjadikan China hanya sebagai puing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hong Kong, 10 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-999043396306962302?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/999043396306962302/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=999043396306962302' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/999043396306962302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/999043396306962302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/07/enlai-in-bandung.html' title='Enlai in Bandung'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_gC-SdKTX-CE/SHWqAfBEeOI/AAAAAAAAAM8/t1W0BkrruCg/s72-c/zuoenlai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-7777922404367622383</id><published>2008-07-04T14:50:00.000+08:00</published><updated>2008-07-04T14:52:11.942+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembang Genjer'/><title type='text'>Rumah Tua Depan Pabrik Gula</title><content type='html'>KEDUA rumah itu masih menunjukkan kesan angker. Pohon beringin besar yang terletak di tengah halaman menambah suasana muram. Warna putih dinding mulai kusam, juga cat hijau yang tersapu di sepanjang kusen jendela dan pintu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua rumah itu berada persis di seberang Museum Pabrik Gula Gondang Baru, Klaten, Jawa Tengah. Berada di ruas jalan raya yang selalu ramai yang menghubungkan Solo dan Yogyakarta,  rumah itu tampak tua dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satupun manusia yang muncul begitu sepeda motor saya parkir persis di depan rumah.  Namun saya meyakini bahwa dua rumah bernomor 37 dan 38 itu masih berpenghuni. Daun jendela setinggi  dua meter yang terbuka ke arah jalan setidaknya menunjukkan hal ini. Saya bisa  melihat foto tua yang dipajang dan sebuah kemeja  yang terkait di kapstok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mulai condong ke arah barat dan saya bersijingkat saat mengetahui dugaan saya benar. Suara air mancur terdengar dari halaman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui lubang sebesar separuh telapak tangan yang ada di pintu seng yang menghubungkan halaman depan dan belakang, saya melihat seorang perempuan dengan daster kuning tanpa lengan tengah mencuci mobil dari selang yang ia pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mendadak tarikan tangan di kaos, membuyarkan konsentrasi. “Kalau orang itu nanti mendadak melihat dan bertanya apa yang sedang kita lakukan disini? Apa yang akan  kita jawab?.” Pertanyaan itu  dilontarkan kawan dari Syarikat –sebuah organisasi yang memperjuangkan rehabilitasi bagi para eks tahanan politik 1965- yang menemani saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, apa yang akan saya jawab? Mungkinkah saya menjawab ingin melihat rumah yang 40 tahun lampau pernah digunakan sebagai tempat penyiksaan? Barangkali orang dalam rumah itu tak percaya, barangkali ia curiga, barangkali ia tahu tapi mencoba melupakan, barangkali ia menjadi ketakutan dan mulai membayangkan hantu yang bergentayangan, tapi barangkali juga ia tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun 40 tahun lalu, seorang perempuan bernama Mukinem pernah diseret di halaman di mana saya berdiri saat ini. Terus diseret, melintasi tempat perempuan yang tengah mencuci mobil itu, dan menempati kamar kecil di sudut belakang rumah. Sendirian. Seluruh badannya ngilu bekas siksaan. Kupingnya merah bekas gigitan. Dadanya  tergambar  jejak belasan tangan. Tangan-tangan tersebut tak sekadar menjamah, tapi meremas dan memulir putingnya hingga kata sakit sepertinya tak cukup mewakili apa yang ia rasakan. Ia kemudian dilempar dalam keadaan telanjang di sel yang gelap dan sempit dengan darah yang terus mengucur dari vaginanya selama empat bulan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu saya sadar tak mungkin punya anak dari rahim sendiri. Secara fisik dan psikis, saya benar-benar dihancurkan,” ujarnya saat saya menemuinya suatu siang di  bulan Juli 2006 di rumahnya di desa Jatinom, Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih terlihat cantik di usia 60-an (ia tak tahu persis kapan ia dilahirkan). Berperawakan kecil dengan tinggi sekitar 160, saya membayangkan bahwa ia pasti kembang di desanya ketika masih muda dulu. Jalannya masih tegak dan tampak sehat. Bulir air menitik dari matanya saat mengisahkan detail penyiksaan itu. Tapi sorot matanya berpijar saat jelujur kisahnya berhenti di masa muda, pada sebuah kenangan yang membuat hati dan jiwanya lekat pada seorang mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami selalu pulang bersama-sama dengan sepeda, dari Yogya ke Klaten. Ia sudah mahasiswa, sedangkan saya murid SGTK (Sekolah Guru Taman Kanak-kanak),” ucapnya. Ruas jalan Yogyakarta-Klaten tahun 1960-an meninggalkan jejak  romantisme di dada Mukinem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari SGTK, Mukinem mengajar sebagai guru TK desanya, dusun Manisrenggo Prambanan. Sang kekasih menemaninya dengan mengajar di sebuah SMP di desa yang sama. Namun terkadang, lelaki pujaan Mukinem ini masih sering bolak-balik Yogya-Klaten untuk meneruskan kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, kisah Mukinem dan sang kekasih bisa berakhir indah jika saja sebuah peristiwa tragis pada subuh 1 Oktober 1965 di desa Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta tak terjadi. Namun malang memang tak dapat ditolak. Dampak kematian enam jenderal dan seorang perwira Angkatan Darat tersebut menjalar hingga ke Yogya, juga ke dusun Manisrenggo tempat Mukinem mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya diambil tentara pagi-pagi ketika tengah menyapu di halaman,” ujarnya mengenang penangkapan tahun 1965 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukinem tak pernah tahu apa salahnya. Namun ia tak bisa menolak panggilan itu. Ia hanya minta izin kepada sang pembawa agar diperbolehkan berpamitan dengan anak muridnya yang tengah belajar di TK Manisrenggo. Ia bilang kepada bocah-bocah tersebut bahwa hari itu ia tak bisa mengajar karena harus rapat dengan “bapak-bapak tentara”. Murid-muridnya yang masih bocah itu diminta untuk tidak nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para “bapak tentara”, Mukinem dibawa ke kantor kecamatan. Ditanya-tanya soal aktivitasnya, termasuk soal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang menurut harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha di Jakarta dikabarkan telah mencungkil mata dan mengiris penis para jenderal dalam pesta “Harum Bunga” di Lubang Buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Mukinem, ini tentu informasi  yang aneh. Gerwani yang ia kenal adalah sebuah organisasi perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan dengan kaum lelaki. Sejumlah diskusi dan pertemuan yang diselenggarakan Gerwani di Yogya yang ia hadiri melulu bicara soal persamaan hak, menolak poligami, dan memberikan pendidikan gratis bagi kaum miskin. TK Melati yang dibentuk Gerwani hingga ke tingkat daerah, juga tempat penitipan anak, ditujukan agar para ibu-ibu buruh maupun petani bisa menjalankan aktivitasnya dan melakukan pendidikan anak tanpa terbebani urusan ongkos pendidikan yang kerap tak terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tidak bisa diterima nalarnya bahwa organisasi perempuan dengan program seperti itu bisa menyuruh kadernya melakukan sebuah pembunuhan seseram itu.Mukinem menolak menjawab pertanyaan. Para petugas pun tak bertindak lebih jauh. Perempuan itu dibiarkan pulang hari itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mukinem tak pernah menyangka bahwa pemanggilan itu berujung pada hilangnya status dia sebagai pengajar. Ia tak diperbolehkan lagi mengajar di TK yang ia cintai. Ia dipaksa untuk menjadi pengangguran. Untungnya, Mukinem adalah perempuan yang kuat. Berganti status dari guru menjadi penjual sayur keliling  kampung bukan masalah besar baginya. Ia mengayuh sepeda yang dimilikinya untuk menjual dagangan. Baginya, hidup yang masih berpihak padanya dan kekasih yang selalu ada di sampingnya adalah sesuatu yang lebih dari cukup dibandingkan kehilangan pekerjaan atas tuduhan tak berdasar. Sebuah kebahagian yang terbandingkan nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata kebahagiaan yang dimiliki Mukinem tak berumur panjang. Seorang murid SMP –dimana sang kekasih mengajar- mendatanginya pada suatu hari. Dengan berbisik, ia memberitahukan bahwa Sukarmo –nama kekasih Mukinem- telah diambil paksa dari tempat kost-nya di Yogyakarta. Aktivitasnya di Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) menjadi dalih penangkapan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah lelaki berseragam dan senjata di tangan menggiring Sukarmo  bersama sejumlah kawan-kawannya. Mereka dinaikkan di atas truk, berjejalan dan tak tahu dibawa ke mana. Kemungkinan besar Sukarmo ditembak. Tapi tak jelas kemana mayatnya dibuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang dibawa bocah SMP ini membuat Mukinem lemas. Impiannya untuk membangun rumah tangga dengan Sukarmo kandas. Bayangan bahwa mereka kelak bisa pergi ke sawah berdua dengan iringan canda anak-anaknya menjadi ilusi yang semakin kabur. Hati Mukinem patah. Ia benar-benar kehilangan lelaki tersebut setelah enam tahun menjadi pasangan jiwa yang begitu dekat. Kesedihannya mengharu biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia diambil pada hari lahir saya, Sabtu Kliwon. Jam enam sore –saya tahu kemudian- ia ditembak mati,” ujarnya pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hati patah Mukinem tak cukup menjadi tumbal bagi situasi sosial dan politik yang tengah bergolak. Kekuasaan Orde Baru membutuhkan tumbal lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu –dua tahun setelah panggilan pertamanya- saat tengah menyongket di rumahnya yang adem, Mukinem kembali didatangi tentara.  Dengan sopan, tentara itu minta dia segera bergegas karena pemerintah membutuhkan keterangannya. Berpikir bahwa dia akan kembali dibawa ke kantor kecamatan seperti dulu,  ia pun bersiap dengan sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan tentara tersebut,  ia mengayuh sepedanya meninggalkan desa kelahirannya.Mukinem tak pernah menyangka bahwa perjalanan kali ini cukup jauh, belasan kilometer dari kampung halamannya. Ia menuju Pabrik Gula Gondang Baru yang terletak di ruas Jalan Raya Yogyakarta-Solo. “Gondang adalah sejarah yang pahit,” ujarnya getir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Pabrik Gondang, ia digelandang ke rumah yang terletak berseberangan dengan pabrik tersebut. Di rumah itu, ia dimasukkan dalam sebuah kamar kecil, sendirian. Lalu proses interogasi pun berlangsung saat ia digelandang kembali ke Pabrik Gondang. Kali ini, ia tak hanya ditanya, tapi juga dipukul, ditendang dengan sepatu berpaku milik tentara, dan disetrum setelah terlebih dulu ditelanjangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali interogasi dengan penyiksaan membabi buta ini terjadi. Dan setiap kali usai penyiksaan, ia kembali dilempar dalam kamar kecil tersebut. Hingga suatu hari, siksaan itupun tak tertahankan. Mukinem pingsan dan nyaris mati. Sang penyiksa pun berpikir bahwa ia benar-benar mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa  jam Mukinem tergolek dalam keadaan tak sadarkan diri. Sampai kemudian ia mendengar suara: “Pssttt...., jangan bergerak. Mereka menganggap kau telah mati. Kalau kau bergerak, mereka akan tahu kau masih hidup dan kau akan disiksa lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu masuk ke telinga Mukinem sayup-sayup. Nyeri luar biasa ia rasakan saat mencoba menggerakkan tubuhnya. Pelan-pelan kesadarannya pulih, meski tak sepenuhnya yakin apakah ia masih di dunia atau sudah tiba di alam akhirat. Sampai kemudian ia merasa air mengucur deras di sela selangkangannya. Seperti berliter-liter banyaknya. Ia gerakkan tangan untuk menyentuh air yang membanjir itu dan kemudian membawa tangannya ke hidung. “Saya membaui air kencing saya dan saya sadar sepenuhnya bahwa saya masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat mencoba menggerakkan tubuhnya, penjaga segera mengetahui bahwa ia masih hidup. Dan seperti tak puas dengan keadaan tersebut, ia melempar Mukinem ke bak bekas tempat garam dan membiarkannya disitu selama tiga hari tiga malam, tanpa makan dan minum. “Kesadaran saya muncul dan hilang. Tubuh saya dikerumuni kutu. Saya terus menggaruk. Seluruh tubuh rasanya gatal. Saya pergi dari bak garam tersebut, saya hanya ingin mencari panas (matahari). Saya tidak tahu apakah saya waktu itu berjalan atau merangkak. Yang pasti, sampai di tengah lapangan, saya terkapar,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan inilah, kesadaran Mukinem mulai pulih  saat seseorang melemparkan baju padanya, meski ia tak pernah tahu siapa orang baik hati tersebut. Ia mengisahkan,  saat dilempar ke dalam kamar usai penyiksaan terakhir itu, tubuhnya masih dibalut baju. Namun begitu sampai di lapangan, ia menyadari bahwa tubuhnya sepenuhnya telanjang. “Mungkin karena berada di bekas bak garam dan dikerubuti kutu tersebut, saya tak sadar terus menggaruk tubuh saya hingga baju saya sobek dan tak sadar bahwa saya sudah telanjang. Saat itu, saya merasa tak beda dengan hewan,” ungkapnya.Namun malangnya, siksaan itu dianggap tak cukup untuk “menghukum” Mukinem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengenakan baju di tengah lapangan tersebut, Mukinem kembali digelandang di kamar sempitnya. Beberapa hari kemudian, ia diseret ke ruangan lebih besar yang terletak di bagian depan rumah. Di dalamnya sudah ada 80 laki-laki yang ditahan di tempat tersebut dengan tuduhan sama dengan dirinya: simpatisan dan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal mereka hanyalah pemuda-pemuda yang aktif dalam kegiatan Pemuda Rakyat (PR) di kampungnya atau guru yang merasa perlu bergabung dalam sebuah organisasi seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) untuk memperjuangkan nasibnya, atau seorang petani yang merasa bahwa apa yang diperjuangkan Barisan Tani Indonesia (BTI) adalah benar-benar untuk para petani kecil tanpa tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua organisasi tersebut sama sekali tak pernah menjadi onderbouw PKI dan eksistensinya sendiri sepenuhnya diakui oleh pemerintah Soekarno pada waktu itu, seperti halnya Angkatan Muda Pembaruan Golkar (AMPG) atau   Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang keberadaannya dirayakan pada zaman Soeharto. Namun di tahun 1967, para aktivis dan simpatisan PKI –apapun namanya- segera disulap menjadi pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar berisi 80 laki-laki itu, Mukinem dijebloskan dan disuruh berperan seperti pelacur. Ia disuruh memeluk dan menciumi para lelaki tersebut. Sebuah adegan yang kemudian diabadikan dalam foto oleh para penyiksanya. Foto ini disebar di Klaten dan sekitarnya, bahkan sampai ke desa tempat Mukinem dilahirkan. Pesan dari foto ini jelas: Lihatlah Sang Pelacur! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Mukinem “didandani” seperti pelacur untuk membuat skenario Orde Baru tentang perempuan PKI yang kejam, menjijikkan dan tega membunuh para jenderal di Lubang Buaya mendapat pembenarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya siapa yang menjijikkan?  Di rumah penyiksaan tersebut, Mukinem tahu persis apa makna menjijikkan ketika suatu hari sang komandan tentara yang bertanggung jawab terhadap tahanan di tempat itu nyaris memperkosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukinem ditelanjangi tanpa bisa berkutik di kamarnya yang gelap. Kemudian sang komandan mencopot baju dan celananya. Hanya dengan mengenakan kaos singlet, ia memaksa Mukinem bersetubuh dengannya. Mukinem panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan membuatnya sulit bernafas. Untung, ia tak kehilangan akal sehat. Ia ambil bantal yang terserak di kamar tersebut dan mendekapnya di selangkangan. Semakin kuat tarikan tangan sang komandan, semakin kuat ia membekap bantal. Dan saat sang komandan nyaris membobol pertahanannya, dia meneriakkan deretan doa dalam bahasa Jawa, seperti sajak yang dibaca di depan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh Tuhan, aku adalah sejelek-jeleknya manusia, bahkan lebih jelek dari binatang. Namun kenapa Bapak Komandan yang baik ini menghendakiku? Aku   berdoa agar Bapak ini seandainya memiliki pacar, maka izinkan dia memiliki pacar yang setia. Dan kalaupun sudah berkeluarga, berilah ia istri yang setia. Kalau sudah punya anak perempuan, tolong jaga agar anaknya tidak ternoda,” ulangnya dalam bahasa Indonesia kepada saya, mengenang ucapan yang ia sampaikan dalam detik-detik kritis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib, doa bersajaknya itu berhasil. Begitu Mukinem menyelesaikan kalimat yang terakhir, sang komandan menghentikan aksinya. Ia bergegas mengenakan baju dan celananya serta pergi dari kamar tersebut. Mukinem menarik nafas lega. Cobaan penderitaan itu berhasil ia lalui. Sayangnya, drama penyiksaan bagi Mukinem belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascaperkosaan yang gagal itu, beberapa waktu kemudian, Mukinem diseret dari kamar sempitnya ke ruang penyiksaan di pabrik gula. Ia kembali ditelanjangi, dipukul, ditendang, disetrum dan ditanya agamanya  ketika ia mulai melafalkan doa saat drama penyiksaan akan dimulai. Saat Mukinem mengatakan bahwa ia beragama Kristen, gerombolan penyiksa itu kemudian merentangkan kedua tangannya dan mendorongnya ke tembok, berlagak seperti tentara Romawi yang menyalibkan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menggigit telinga saya, memukul dan meremas serta memlintir puting payudara saya.” Saat mengucapkan kalimat ini, bibir Mukinem bergetar, bulir air mata jatuh di pipinya. “Setelah penyiksaan itu, saya mengalami menstruasi terus menerus selama empat bulan, nggak berhenti-henti. Delapan puluh lelaki yang ditahan bersama saya itulah yang kemudian membuatkan pembalut dari kain atau kaos mereka dan memberikannya untuk saya,” kenangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukinem kehilangan segalanya. Harapannya, mimpinya, cita-citanya, seluruh kesehatan fisik dan mentalnya. Semua direnggut untuk suatu alasan yang sama sekali tak masuk akal. Untuk sebuah “kejahatan” yang definisinya ditentukan semena-mena oleh pihak penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, ia tak kehilangan semangat. Saat “dilempar” ke Penjara Klaten, Mukinemlah yang menasihati teman-temannya untuk bersikap tegar. Ia pula yang menghibur teman-teman satu selnya dengan sebuah drama satu babak yang skenarionya ia buat sendiri. Drama itu berjudul “Perawan Kasep”, berkisah tentang seorang perempuan yang ditangkap tentara  saat usia muda, mengalami siksaan fisik dan psikis luar biasa sehingga harapan untuk punya anak harus dibuang jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan –sang tokoh cerita- tersebut tak tahu kapan ia akan keluar dari penjara. Namun kalaupun keluar, perempuan itu sudah berusia tua dan tentu saja tak mungkin mendapat lelaki ganteng dan bujang seperti impian masa remaja dulu. Juga tak mungkin lagi membangun mimpi tentang rumah yang akan diramaikan oleh celoteh anak-anak yang keluar dari rahim sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot “Perawan Kasep” pun kemudian bergulir pada pertemuan bekas tahanan perempuan yang sudah berumur itu dengan seorang duda beranak yang sudah ditinggal mati oleh istrinya. Kepada lelaki jenis inilah, sang perempuan tahanan politik menyandarkan biduknya dengan anak-anak yang tak lahir dari rahimnya, namun ia besarkan dengan kasih ibu yang sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat “Perawan Kasep” dipentaskan di depan publik terbatas, di hadapan  para perempuan yang direnggut masa mudanya secara semena-mena, maka kisah drama bikinan Mukinem melekat dalam ingatan mereka. Bahkan bertahun-tahun setelah drama tersebut dipentaskan. Bahkan setelah  Mukinem dilempar dari Penjara Klaten ke  Solo,  kemudian Bulu (Semarang) dan terakhir di Plantungan hingga tahun 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukinem tak banyak cerita tentang Solo, Bulu, atau Plantungan. Baginya, penderitaan terburuk telah dia lewati di Gondang. Setelah itu, seluruh penderitaan yang ia jalani tampak seperti prosesi yang tak terlalu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia kembali ke Manisrenggo tahun 1979, peristiwa unik terjadi dalam hidupnya. Seorang kawan perempuan yang pernah sama-sama mendekam di Penjara Klaten datang ke rumahnya, sehari setelah kepulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yu, masih ingat kisah ‘Perawan Kasep’?,” ungkap Mukinem menirukan pertanyaan kawannya waktu itu. Belum sempat Mukinem menjawab, sang kawan bercerita panjang lebar soal pamannya yang beranak lima tapi sudah ditinggal mati istrinya. Kini, paman sang kawan tersebut tengah mencari istri baru. Keinginan ini disampaikan kepada sang keponakan yang dengan segera teringat kisah “Perawan Kasep”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia menagih janji saya. Ia tanya apakah saya bersedia menerima pamannya sebagai suami,” kenang Mukinem. Model tagih janji seperti ini, tentu saja mengejutkan Mukinem. Ia tak siap. Permintaan itu terasa mendadak.  Namun sang kawan tak peduli. Sehari setelah kedatangannya, ia kembali mendatangi Mukinem. Kali ini, ia membawa pamannya serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat melihat wajah lelaki itu, saya lari ke belakang. Saya menangis. Wajah itu benar-benar mirip kekasih saya.” Ada semburat merah di pipi perempuan yang mulai keriput tersebut saat menuturkan hal ini. Matanya berkelip. Ternyata masih ada jejak manis yang melintas dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, wajah Sumianto –lelaki yang melamarnya tersebut- sangat mirip dengan cinta pertamanya. Ia sama sekali tak ragu saat memutuskan untuk menerima lamaran lelaki itu. Meski untuk menunjukkan konsistensinya, ia benar-benar minta lelaki itu untuk menunjukkan surat keterangan bahwa istrinya benar-benar telah meninggal dunia. “Soal anak, saya benar-benar tak mempersoalkan. Bahkan kalaupun ia punya anak 10, saya tetap mau menjadi istrinya,” ucapnya tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukinem akhirnya menikahi Sumianto dan menjadi ibu dari lima anak yang tidak muncul dari rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dugaan saya bahwa tak mungkin punya anak setelah penyiksaan itu, terbukti. Pernikahan saya tak menghasilkan anak,” ujarnya. Namun toh dengan lima anak tiri, Mukinem tetap bisa menikmati perasaan sebagai ibu. Ia membesarkan anak-anak tersebut di rumah suaminya di daerah Jatinom, Klaten, seperti buah rahimnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kepada Sumianto, Mukinem selalu menekankan bahwa ia menikahi lelaki tersebut karena kemiripan wajah sang suami dengan kekasih hatinya. Uniknya, Sumianto tak merasa tersinggung dengan pernyataan ini. Bahkan setiap bulan menjelang Ramadhan, Sumianto lah yang mengingatkan Mukinem untuk ziarah ke makam yang diyakini sebagai makam Sukarmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam tersebut terletak di desa Manisrenggo. Tak ada yang persis tahu apakah nisan tanpa nama yang terletak di sebuah tanah lapang di desa Manisrenggo itu benar-benar makam Sukarmo. Namun sebuah kisah yang dituturkan penduduk di sekitarnya tentang seorang lelaki yang digiring ke ke tempat tersebut dan ditembak mati setelah sempat minta air kepada penduduk, melekat dalam memori Mukinem. Ciri-ciri tentang lelaki yang ditembak tersebut, menurutnya, mirip dengan ciri kekasih hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap tahun, pada bulan Ruwah, saya selalu nyekar ke makam tersebut,” ujarnya. Namun sebenarnya, Mukinem masih menyimpan ragu tentang makam tersebut. “Saya yakin ayah Sukarmo tahu lokasi persisnya. Hanya saya dia keburu meninggal dan saya belum sempat bertanya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berniat untuk pergi ke Manisrenggo –ke rumah orang tua Sukarmo- untuk mencari tahu dimana Sukarmo dibuang atau dimakamkan pascapenembakan tersebut. Ia berharap sepupu Sukarmo yang kini menempati rumah tersebut sempat diberitahu oleh ayah Sukarmo tentang lokasi yang sebenarnya. “Saya hanya ingin memeluk jasadnya dan memakamkannya dengan layak,” ungkapnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuluh tahun setelah kekuasaan Orde Baru menghancurkan cintanya, merenggut kesehatan fisik dan psikisnya, dan meluluhlantakkan masa depannya, Mukinem hanya ingin mendekap jasad kekasihnya. Seolah dekap itu akan menyembuhkan seluruh kehilangan –cita-cita dan masa mudanya- yang meninggalkan jejak sakit berkepanjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Jatinom, Mukinem sendirian. Sang suami –Sumianto- telah meninggalkannya tahun 2002 lalu karena sakit. Namun anak-anak tiri yang ia besarkan tetap mengasihinya. Lima anak yang telah berumah tangga dan tinggal di kota yang berbeda sesekali mengunjunginya, membawa bocah-bocah kecil yang memanggilnya nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kenangan rumah tua depan pabrik gula  selalu melekat dalam ingatannya, meninggalkan getir  tak berkesudahan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-7777922404367622383?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/7777922404367622383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=7777922404367622383' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7777922404367622383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7777922404367622383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/07/rumah-tua-depan-pabrik-gula.html' title='Rumah Tua Depan Pabrik Gula'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-1558554381999955312</id><published>2008-07-04T14:47:00.001+08:00</published><updated>2008-07-04T14:50:01.155+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembang Genjer'/><title type='text'>Terseret Genjer</title><content type='html'>PEREMPUAN itu sibuk menenteng kardus ketika saya menemuinya suatu senja di bulan Juli 2006. Di halaman depan rumah, ia sibuk memberikan instruksi kepada anak dan keponakannya soal ke mana bungkusan itu harus dibagi. Ia tak mengingat saya, setelah pertemuan terakhir setahun lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf saya sedang menyiapkan kenduri, syukuran pascagempa, untuk tetangga sekitar,” jelasnya dengan bahasa Jawa halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang saya datangi itu bukan rumahnya, tapi rumah ibunya. Di rumah tersebut, perempuan bernama Sumilah itu dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di desa Kranggan, Bokoharjo, Prambanan, rumah tersebut ikut dihantam gempa yang menghajar Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006. Dibanding rumah-rumah di sekelilingnya, kehancuran rumah tersebut tak tergolong parah. Dengan dana yang dihimpun sekadarnya, ibu Sumilah bisa memperbaiki beberapa bangunan yang rusak. Dan sebagai ucapan syukur, hari ketika saya berkunjung ke sana, sang ibu tengah menyiapkan kenduri yang dibagikan ke tetangga sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu ingin bersyukur karena rumah masih  bisa ditempati dan kami semua selamat,” kata Sumilah. Ketulusan memancar dari wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tujuh tahun lalu, di rumah yang sama, kenduri juga digelar. Kala itu untuk Sumilah. Ia baru saja keluar dari Plantungan, sebuah bekas Rumah Sakit Lepra di Kendal, Jawa Tengah yang digunakan sebagai tempat tahanan para perempuan yang dituding terlibat Gerakan 30 September (G30S)/1965. Empat belas tahun masa hidup Sumilah terbuang di penjara, berpindah dari Wirogunan (Yogayakarta), Bulu (Semarang) dan Plantungan (Kendal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya, juga seluruh kerabat dan tetangga, tak pernah mengerti mengapa Sumilah -bocah perempuan umur 14 tahun- diambil dari tengah-tengah mereka dan dijadikan pesakitan. Mereka mengenal Sumilah sebagai bocah perempuan centil yang pandai menari dan suka menyanyi, riang dan sangat remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya diciduk pada 19 November 1965,” kenangnya. Detail penangkapan terekam segar dalam ingatannya. Bahkan ia ingat persis hari ketika ia ditangkap: Jumat Kliwon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi Jumat Kliwon itu, ia bersama 47 orang lainnya (tujuh perempuan) diharuskan berkumpul oleh lurah desanya di sebuah lapangan. Mereka kemudian dinaikkan ke atas truk dan dibawa ke markas Corps Polisi Militer (CPM) yang terletak di dekat monumen tugu Yogyakarta. Kini bangunan tersebut telah menjadi hotel berbintang yang mentereng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, dari Prambanan ke Yogyakarta, Sumilah mencoba mengingat apa kesalahannya, tapi tak juga ketemu.  Satu-satunya yang melintas di ingatannya adalah kesukaannya menari bersama teman-teman sepermainannya dengan iringan lagu Genjer-genjer. “Saya suka. Nada lagu itu enak sekali,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu rakyat Banyuwangi yang dipopulerkan oleh Bing Slamet itu, pada tahun 1960-an menjadi lagu yang sangat populer. Dari orang tua hingga anak-anak hafal syair lagu ini di luar kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Jawa Timur yang pertama kali mempopulerkan lagu ini lewat ansambel mereka yang bernama Gentasuri pimpinan Made Yase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah bagaimana  Wakil Ketua II Partai Komunis Indonesia (PKI) yang juga anggota Politbiro PKI Nyoto terkesima dengan lagu ini.  Ia memperkirakan bahwa Genjer-genjer bakal populer. Syairnya yang menggambarkan penderitaan kaum miskin saat menyiasati kelaparan di masa pendudukan Jepang,  sangat menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan Nyoto tak meleset. Di Jakarta, lagu ini kemudian diaransemen ulang oleh seniman M.Arief dan dinyanyikan Bing Slamet. Saat masuk dapur rekaman, Genjer-genjer langsung meledak di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pasca insiden subuh 1 Oktober 1965 (orang menyebutnya G30S) di Lubang Buaya, mendadak Genjer-genjer dinyanyikan di jalanan oleh para mahasiswa dengan syair yang berbeda. Mereka mengubah Genjer-genjer menjadi sebuah lagu pembantaian yang seolah disiapkan oleh para perempuan simpatisan dan kader PKI. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi perempuan yang paling maju pada saat itu,  mendapatkan stigma paling buruk lewat gubahan Genjer-genjer versi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja Sumilah menjadi salah satu yang terjebak dalam situasi seperti ini. Saat interogasi di markas CPM, deretan pertanyaan yang diontarkan pada Sumilah, antara lain apakah ia pengikut Gerwani, apakah ia anggota Pemuda Rakyat (PR) dan apakah ia pernah melakukan bongkar pasang senjata. Saat semua pertanyaan itu dijawab dengan kata tidak, bogem mentah langsung mendarat di wajahnya. Selama enam jam Sumilah menjalani interogasi, dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang, dikelilingi belasan  penyiksa berwajah sangar dan berperilaku kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya disabet, dikaploki dan dislomot rokok di sini,” kenangnya sambil memegang dadanya. Ya, api rokok para interogator tersebut disundutkan pada payudaranya yang telanjang. Ia dipaksa mengakui sesuatu yang sama sekali tak ia pahami.&lt;br /&gt;Setahun lalu, saat saya bertemu Sumilah dalam sebuah acara reuni para eks tahanan politik Plantungan, ia melengos saat ditanya siksaan yang ia peroleh. Ia hanya menjawab pendek-pendek dengan tatapan mata kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Septi Wulandari (32), aktivis perempuan yang kini memperjuangkan rehabilitasi para korban 1965 berkisah, Sumilah asal Prambanan ini sebenarnya menjadi korban salah tangkap. Saat itu, Sumilah yang dicari oleh penguasa adalah ibunya, seorang perempuan kelahiran Brosot yang pada tahun 1965 bekerja sebagai guru sekolah rakyat (sekarang SD) di Kalasan, dan mahasiswi tingkat III di kampus Ilmu Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumilah –ibu Septi- saat itu adalah anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) non-vaksentral, organisasi guru yang dianggap sebagai onderbouw PKI. Ia pernah mengikuti pelatihan di training center (TC) di Kulon Progo. TC ini merupakan pelatihan menghadapi Malaysia, karena saat itu Indonesia sedang berkonfrotasi dengan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika petugas mencari Sumilah Brosot, justru Sumilah asal Bokoharjo, Prambanan yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan dua Sumilah ini sebenarnya sudah mulai diketahui ketika keduanya ditahan di Wirogunan, tetapi tidak dikoreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika dikumpulkan di tahanan,  petugas memanggil Sumilah Prambanan. Sebenarnya, yang dimaksud adalah ibu saya yang memang mengajar di SR Kalasan Prambanan. Tapi yang kemudian maju adalah Bu Sumilah yang rumahnya di Prambanan itu,” kisah Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi sekolah tersebut  memang dekat dengan candi Prambanan dan tak jauh dari kampung Sumilah di Bokoharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kemudian Sumilah Prambanan yang tak tahu apa-apa menghabiskan 14 tahun umurnya di penjara dan dibuang ke Plantungan. Sementara Sumilah Brosot “hanya” ditahan di Wirogunan selama 4 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu saya hanya ditahan empat tahun dan tidak disiksa karena yang memeriksa jaksa sipil,” cerita Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiksaan secara fisik terhadap Sumilah berhenti setelah ia dipindahkan ke Penjara Wirogunan. Namun teror psikis tetap terjadi. Selama tiga bulan berada di Wirogunan, Sumilah ditempatkan di sel sempit dengan 63 tahanan perempuan lainnya. “Kami harus tidur berjejalan. Kalau mau pindah posisi tidur harus bersama-sama,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara soal makan juga bermasalah. Setiap hari, para tahanan hanya diberi makan jagung beberapa butir dan kadang-kadang sayur daun kacang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, malam menjelang hari Raya Idul Fitri, para tahanan dibagi gatot, makanan khas Jawa yang berasal dari singkong parut. Namun saat Sumilah berniat memakannya, para narapidana kriminal mengiriminya kelapa untuk campuran gatot. Ketika itu, Sumilah hanya berpikir bahwa campuran kelapa itu akan membuat gatot terasa lebih gurih. Ia sama sekali tak menyangka bahwa kelapa tersebut menyelamatkan nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saat puluhan tahanan kehilangan nyawa dan antre untuk dikubur, Sumilah sadar bahwa ada yang salah dengan gatot tersebut. Dari mulut ke mulut, ia tahu bahwa gatot tersebut beracun. “Kelapa yang mengandung minyak membuat efek racun dari gatot tersebut ternetralisir,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu persis penjelasan ilmiah soal bagaimana kelapa bisa menetralisir  racun dalam tubuh. Tapi yang pasti, dalam pandangan Sumilah, kelapa pemberian napi kriminal itulah yang menyelamatkan nyawanya, juga nyawa kawan-kawan satu selnya. Lebaran pagi itu, tanah di timur Penjara Wirogunan digali, puluhan orang dikubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1966, Sumilah dipindah ke Bulu hingga kemudian diberangkatkan ke Plantungan pada tahun 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Plantungan, Sumilah menjadi kesayangan para aktivis Gerwani yang usianya jauh di atasnya. Meski sikap manjanya terkadang bikin gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumini Martono, mantan pengurus Gerwani Wonosobo, mengisahkan pada saya bagaimana ia kerap menemukan Sumilah menangis seperti anak-anak ketika tak dikunjungi oleh keluarganya. Saat saya tanyakan hal ini, Sumilah hanya bisa terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bapak dan ibu sempat mengunjungi saya di Plantungan,” ungkapnya. Hanya saja tak bisa sesering tahanan lainnya yang keluarganya berkecukupan dan bisa melakukan kunjungan secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setiap kali para tahanan itu mendapat kunjungan keluarga, otomatis juga mendapat kiriman makanan, Sumilah selalu mendapatkan bagian. Jika tidak, ia “menyewakan” tenaganya untuk membantu para sesama tahanan agar bisa mendapatkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika di Plantungan, kalau ada yang sakit, saya hanya bisa bantu tenaga. Bantuin nyuci bajunya. Dan jika sudah kering saya lipat. Dari situ, saya dapat makan,” ungkapnya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas fisik yang ia lakukan selama di penjara inilah, secara tak sengaja, yang membuatnya tetap sehat hingga ia keluar pada 27 April 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tergambarkan kebahagiaan ayah ibunya mendengar kabar bahwa si sulung sudah bebas dari Plantungan. Sang ibu pun segera menjemput Sumilah di Semarang, kota dimana digelar upacara pelepasan bagi para eks tahanan politik yang bertempat tinggal di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Sumilah dijemput, di rumahnya sudah dipersiapkan kenduri, sebuah hajatan kecil untuk mengucap syukur bahwa “anak yang hilang” itu telah kembali. “Semacam syukuran dari orang tua saya karena anaknya yang ‘mati’ kini ‘hidup’ lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga, kerabat, dan tetangga datang menyambut kedatangan Sumilah di rumah. Hampir setiap hari, selama beberapa bulan, para tetangga menyempatkan diri untuk berkunjung sembari membawa oleh-oleh. “Selama beberapa bulan, ibu saya ndak perlu beli gula dan teh karena banyak tetangga yang memberi,” kenangnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari penjara dalam umur 28 tahun membuat Sumilah tak yakin akan mendapatkan lelaki seperti mimpi masa remajanya. Ia kemudian pergi ke Muntilan, membantu adik ibunya berjualan sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru di Muntilan inilah ia ketemu jodoh. Lelaki itu bernama Dulrahman. Gara-gara sering membeli sate di tempat Sumilah, lelaki kelahiran 10 Juni 1938 ini pun jatuh simpati. Ia pun berniat melamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, Sumilah tak menolak setelah mengetahui bahwa Dulrahman adalah “alumni” Nusakambangan. Ia juga menjadi pesakitan politik gara-gara aktifitasnya di Pemuda Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak butuh pendekatan lama, keduanya memutuskan menikah. Dikarunia dua putra, laki-laki dan perempuan, Sumilah kemudian memutuskan  menghabiskan hidupnya dengan berjualan sate di Prambanan. Sementara Dulrahman membantunya sebagai tukang kayu yang kerap dipanggil oleh tetangga di sekitarnya. Sampai kemudian, lima tahun yang lalu, Dulrahman jatuh dari atap rumah. Sumilah pada akhirnya harus berjuang sendirian untuk mengepulkan asap dapurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan ibunya, Sumilah bisa membeli warung di areal pasar Prambanan seharga Rp 1,5 juta. Dari warung kecil inilah, Sumilah melanjutkan hidup dengan berjualan sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penghasilan dari dagang sate ini ternyata tak cukup menutup biaya sekolah kedua anaknya. Jadilah dua pertiga tanah rumahnya di desa Gatak, Bokoharjo, Prambanan digadaikan dengan jaminan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup membayar pinjaman, Sumilah dan suaminya harus kehilangan tanah seluas 260 meter persegi. Mereka, bersama anak perempuan dan menantunya serta seorang cucu, harus rela tinggal di atas rumah dan tanah seluas 100 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal tanah ini dulunya dibeli dari hasil menjual tanah warisan Bapak (Dulrahman) dan ditambah dengan sumbangan dari ibu saya,” kenang Sumilah sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, rumah kecil di atas tanah seluas 100 meter persegi itu rata tanah dihajar gempa yang melanda Yogya dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengagumkan bahwa Sumilah dan Dulrahman bisa menerima cobaan itu dengan ketabahan luar biasa. “Ini kan hanya rumah, kami pernah kehilangan lebih dari itu,” ujar Sumilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tenda dari terpal didirikan di samping reruntuhan rumahnya ketika saya ke sana pertengahan Juli lalu. Sementara obrolan kami berlangsung di atas tikar yang digelar di depan rumah yang runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan menggendong anak, menyuguhkan segelas teh pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini anak sulung saya,” ucap Sumilah memperkenalkan. Perempuan muda itu tersenyum ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumilah dan suaminya sempat menyimpan kisah buram mereka kepada kedua anaknya hingga mereka duduk di bangku SMP. Sampai kemudian kunjungan dari kawan-kawan Sumilah –sesama eks tapol di Plantungan- mendatangkan tanda tanya di benak kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka dan mereka sama sekali tidak marah. Mereka dapat menerimanya dan semuanya baik-baik saja,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak tersebut semakin tahu siapa sesungguhnya ibunya saat Syarikat membuat film dokumenter “Kado untuk Ibu” yang merekam  penuturan para eks tapol Plantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anak yang besar di era reformasi itu pasti tak menyangka bahwa hanya gara-gara sebuah lagu, ibu mereka harus menghabiskan 14 tahun masa hidupnya di balik jeruji penjara.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-1558554381999955312?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/1558554381999955312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=1558554381999955312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1558554381999955312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/1558554381999955312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/07/terseret-genjer.html' title='Terseret Genjer'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5269436441246885264</id><published>2008-06-24T13:19:00.000+08:00</published><updated>2008-06-24T13:20:44.444+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Bola</title><content type='html'>Aku tak pernah menyukai bola. Seingatku, hanya sekali seumur hidupku memasuki lapangan bola dan menonton permainan bola sepak dari pinggir lapangan. Suatu sore di Jakarta. Itupun karena sebuah kebetulan dan aku menontonnya tanpa antusiasme. Sebuah permainan yang tak juga serius karena hanya sebuah liga mahasiswa.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kecilku, juga setelah waktu memangkas umurku, jikapun aku  tertarik pada sepak bola, itu hanya karena pesona sang pemain. Itupun karena gurat wajahnya mengingatkanku tentang sesuatu yang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian kutemukan kolom Sindhunata.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastur yang sosoknya kulihat sekilas di ruang redaksi Basis di Yogya itu, punya pena memukau yang membuatku betah mengikuti ulasan bola-nya, sebetah kubaca tuturnya saat menuliskan Anak Bajang Menggiring Angin ketika duduk di bangku SMA.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan catatan bola-nya bahkan kukoleksi saat Jakarta Book Fair memberi harga diskon pada buku-bukunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darinya, aku berkenalan dengan  Marco van Basten, Juergen Klinsman, Michel Platini, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Lukas Podolski, Luiz Felipe Scholari, Guus Hiddink, dan sebagainya. Aku juga mulai tahu, meski serba sedikit, soal liga, klub, transfer antarpemain, dan lain-lain. Aku juga mulai paham soal teknis, dari tendangan bebas, tendangan pojok, off side, kartu kuning, kartu merah, dan seterusnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di atas semua itu, aku mulai menemukan ada hal yang begitu menggetarkan dalam bola.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasannya soal Zidane saat ia terkena kartu merah dalam pertandingan Piala Dunia 2006, gara-gara ia menyeruduk Marco Materazzi, membuat mataku merah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata tak hanya menulis soal bola. Ada sisi lain yang ia tangkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia itu mudah pecah berserpih-serpih. Setiap serpih pecahan adalah ingatan, yang menyadarkan bahwa tidak hanya kaca  atau gelas, tetapi juga dirinya sendiri mudah pecah. Sebab, ia adalah insan, yang dapat bersalah, dan fana.” Begitu ia menulis tentang Zidane. Pemain Prancis yang dipaksa meninggalkan gelanggang karena ia tak sanggup menahan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga membuatku termangu sepersekian menit, usai menuntaskan ulasannya tentang Guus Hiddink, pelatih bertangan dingin yang bisa mengantarkan Rusia hingga semifinal di Euro 2008. Sebelumnya, ia juga berhasil merajut kebanggaan pada kesebalasan yang tak pernah diperhitungkan dunia, Korea Selatan dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola, di tangan Sindhunata, bukan sekadar permainan teknis. Permainan itu kemudian adalah juga soal integritas, passion, antusiasme, idealisme, dan humanisme. Ia juga adalah laku praksis yang membumikan ide mengawang yang membumbung tinggi. Ia menjadi hakim tunggal terhadap ketelitian sebuah kesebelasan dalam “penempatan kawan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti Sindhunata, aku jadi paham keheranan Edgar Snow, jurnalis asing pertama yang berhasil menembus basis Tentara Merah dan mewawancarai Mao Zedong di tahun 1936, saat menyaksikan semangat yang meletup-letup para kader Red Army. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terheran-heran menyaksikan ribuan pemuda begitu antusias terhadap “sesuatu” yang bukan bola. “Sesuatu” yang tak bisa dicapai dengan cara instant dan sekejap. “Sesuatu” yang membutuhkan tahapan panjang dan  proses berliku. “Sesuatu” yang kemungkinan besar tak akan ikut mereka nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku sempat berpikir bahwa Edgar Snow mengada-ngada. Bagaimana bisa ia menyamakan bola dengan “sesuatu” yang menggetarkan, sebuah ideologi yang diyakini sepenuh hati, dan diperjuangkan dengan militansi yang menakjubkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari ini, setelah menyaksikan kemenangan kesebelasan Rusia atas Belanda, aku berpikir bahwa barangkali kita butuh istirah dari “sesuatu” itu, meski sejenak. Tak ada salahnya mengambil jeda, untuk melihat seluruh langkah, juga mengambil nafas panjang, barangkali ada yang alpa dan lupa kita kerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola, melalui Sindhunata, membuatku berpikir bahwa hidup sepenuhnya tak terlalu membosankan. Ia juga menjadi penyeimbang saat ideologi terlalu menyesakkan dan membuat kita kehabisan nafas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hong Kong, 23 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5269436441246885264?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5269436441246885264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5269436441246885264' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5269436441246885264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5269436441246885264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/06/bola.html' title='Bola'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-3509335006815774020</id><published>2008-06-10T14:05:00.002+08:00</published><updated>2010-05-18T17:09:04.937+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Memahami Enlai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SE4ajHwdrOI/AAAAAAAAAMk/i8IfxNtc6PY/s1600-h/zhou+enlai.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SE4ajHwdrOI/AAAAAAAAAMk/i8IfxNtc6PY/s200/zhou+enlai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210131009594305762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TAK ada orang yang menyukai Mao Zedong, sebelum Long March 1935 dan semenjak Revolusi Budaya yang hiruk pikuk di tahun 1966. Sejumlah kader Komunis yang memuja Soviet di tahun 1920-an, melecehkannya sebagai petani sektarian yang tak akan mampu memimpin sebuah partai pelopor. Sementara para veteran Long March berebut untuk bisa menggeser posisinya, dan yang lainnya mengecamnya karena gagal bersikap terhadap Gang of Four (dipimpin si Arus Jernih Jiang Qing, istrinya sendiri) yang minta tumbal begitu banyak jiwa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, perempuan yang lahir dua tahun sebelum kematiannya, di negeri dengan dua musim dan berjarak ribuan mil dari China, juga tak menyukainya. Bukan karena ia komunis (sebuah momok yang dipasok terus menerus oleh rezim Soeharto dan mampat di kepalaku sejak usia 7 tahun), tapi karena pengkultusan terhadap dia yang tak masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit bagiku untuk menerima bahwa jasad seorang komunis diawetkan dan dimasukkan dalam mausoleum, dipuja tiap tahun, dan patung serta gambar wajahnya berjajar di toko-toko souvenir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi pengakuan dari sejumlah saksi mata, tentang Sang Ketua yang mewajibkan (kalaupun tak mewajibkan, setidaknya ia tak pernah melarang) buku saku merahnya menjadi bagian dari formalitas upacara setiap pagi dan petang, dilambaikan dan diacungkan ke udara, sebagai bentuk penghormatan kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, perempuan yang mengenal namanya pertama kali lewat buku tipis “Tentang Kontradiksi” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diedarkan terbatas semasa Rezim Anti-Komunis di Indonesia, perlahan mulai membangun ketaksukaan terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali lebih tepat jika dikatakan bahwa aku patah hati padanya. Kemarahan yang bercampur dengan kekecewaan karena pemimpin garda depan gerakan Komunis di Asia itu, tak lebih dari seorang megalomania. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian kutemukan buku Han Suyin. Terpajang di meja penerima tamu di sebuah forum tentang kaum Tionghoa di perantauan yang diadakan  di City University of Hong Kong, dua pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu berkisah tentang perjalanan hidup Zhou Enlai. Orang kuat kedua di Tiongkok yang selalu mendukung dan menemani  Mao sejak masa-masa menjelang Long March, pendirian Republik Rakyat Tiongkok hingga paska carut marut Revolusi Budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang kubaca tersebut edisi Indonesia yang baru saja diterbitkan oleh Hasta Mitra tahun ini, memperingati 110 tahun kelahiran Zhou Enlai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Enlai, aku merasa terlalu naïf untuk memahami politik hanya sebagai warna hitam atau putih. Melalui Enlai, aku pelan-pelan bisa membumikan apa yang dikatakan Lenin sebagai “kiri kekanak-kanakan” dan apa yang disebut Njoto sebagai “kesabaran revolusioner”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisme di tangan Enlai, benar-benar menjadi sebuah proses yang penuh tahapan, bukan tujuan yang bisa dibangun dalam hitungan hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang, baik kiri maupun kanan, mengecam Enlai sebagai kompromis yang menyedihkan. Tak pernah punya sikap dan cenderung menjadi “bebek” Ketua Mao. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buku itu, yang ditulis dengan wawancara mendalam dengannya, juga para kawan maupun musuh politiknya, berhasil menggambarkan bahwa ia adalah jenis manusia konsisten terhadap garis yang dipilihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberikan jalan bagi Mao untuk memimpin partai, saat ia menyadari bahwa arahan Komintern jelas gagal diterapkan di bumi Tiongkok. Ia juga menjadi pendukung gigih  Mao saat  memutuskan untuk menjadi independen dari dikte Soviet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, ia tak lelah meyakinkan Mao agar ada ruang yang diberikan pada kaum inteletektual, juga para loyalis Tiongkok yang non-komunis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga yang menjadi penyelamat ratusan, atau bahkan ribuan jiwa, yang terancam dijagal dalam Gerakan Pembetulan di tahun 50-an dan juga Gerakan Revolusi Budaya di tahun 1960-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Enlai dan Mao, di mata Han Suyin, seperti pantai dan ombak samudera. Enlai adala pantai itu. Ia tak pernah berniat untuk mengungguli deburan ombak samudera, tapi ia tak pernah sungguh-sungguh pergi. Ia menjadi pantai yang selalu menjadi tumpuan dan lemparan deburan ombak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia setia mendampingi Mao melewati masa-masa paling sulit. Bukan semata demi Mao, tapi demi kebangkitan Tiongkok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merendahkan egonya serendah bumi, demi sebuah perubahan yang jauh lebih besar. “Untuk sebuah revolusi, saya bahkan bersedia menjadi pelacur,” ucapnya suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun siapa yang berani menghakiminya sebagai pelacur ketika ia tak pernah sekalipun memberi keistimewaan kepada keluarganya saat sudah menjabat sebagai Perdana Menteri, ketika ia tak pernah membiarkan rumahnya dicat dan dihiasi porselin mahal, ketika ia tak mengizinkan istrinya menjadi pejabat partai, ketika ia tak pernah sekalipun terbukti menguntit uang negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa juga yang berani menilainya sebagai male chauvinist, ketika ia begitu menghormati dan setia hanya pada satu istri, ketika ia menggolkan UU Perkawinan dan sejumlah peraturan yang menghormati hak-hak perempuan (sebuah pemikiran yang lahir dari diskusi panjangnya dengan sang istri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humanisme Enlai, jika bisa dikatakan demikian, akhirnya tuntas saat ia memilih pergi dengan wasiat yang ditinggalkan agar abunya ditabur di atas sungai-sungai dan gunung-gunung dari negeri yang begitu dicintainya. Juga sebuah surat selamat tinggal yang dikirim kepada kawan, musuh, dan ketuanya: Mao Zedong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Enlai, aku perlahan bisa berdamai dengan kebencianku terhadap Mao. Meski sikap keras kepala petani  Hunan itu membuatku gemas karena ia tak beranjak dari tempat duduknya untuk menjenguk Enlai saat melewati masa-masa kritis penyakit kanker kandung kemih yang dideritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mao, sang ketua yang tak pernah sekalipun dikhianati  oleh perdana menterinya itu, akhirnya menangis saat menyaksikan berita televisi yang meliput kematian Enlai di bulan Januari 1976.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan bulan kemudian, ia menyusul Enlai. Jenazahnya diawetkan dan dimasukkan dalam mausoleum. Foto besarnya dipasang di Lapangan Tiananmen. Setiap tahun, ada peziarah yang datang untuk menghormatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari ini, aku baru tahu bahwa Mao tak pernah sepakat untuk dikekalkan dalam bentuk fisik. Di bulan November 1956, sebuah proposal dibuat. Isinya, semua jenazah pimpinan tertinggi partai mesti dikremasi setelah meninggal. Mao adalah salah satu yang menandatangani proposal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga memberikan persetujuan terhadap proposal empat modernisme yang ditawarkan Enlai dan Deng Xioping untuk meletakkan pondasi bagi pembangunan Tiongkok hingga seperti saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tak pernah menolak ide Enlai untuk mempertahankan Hong Kong tetap sebagai negeri kapitalis agar bisa tetap menopang pertumbuhan ekonomi Tiongkok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersama Enlai, melewati proses pahit getir untuk membangun Tiongkok dan menolak menjadi satelit Soviet. Membuat negeri itu mandiri dan menemukan sosialisme mereka sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membantu generasi muda melihat sejarah Tiongkok dengan lebih jernih. Meski Han Suyin tak bisa menghindar dari simpati mendalamnya terhadap Enlai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang mesti dari dikritik dari penulisan buku ini, lebih kepada teknis penulisanya yang meloncat-loncat, beberapa data soal tahun yang tak akurat hingga membuat alur terasa membingungkan. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-3509335006815774020?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/3509335006815774020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=3509335006815774020' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3509335006815774020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/3509335006815774020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/06/memahami-enlai.html' title='Memahami Enlai'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SE4ajHwdrOI/AAAAAAAAAMk/i8IfxNtc6PY/s72-c/zhou+enlai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2703394856337934870</id><published>2008-06-08T09:30:00.003+08:00</published><updated>2008-06-08T09:41:38.867+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Perjalanan Lelaki yang Memilih Sunyi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEs4oqd8F0I/AAAAAAAAAMc/tH9OXTwJtGo/s1600-h/Gao.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEs4oqd8F0I/AAAAAAAAAMc/tH9OXTwJtGo/s200/Gao.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209319665229895490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PERCIKAN  tinta China itu membentuk sosok tubuh manusia, sendiri, berdiri di bawah garis hitam. Sekelilingnya kosong. Gradasi abu-abu di sekitar sosok itu membuat lukisan tampak muram. Pelukisnya memberi judul Un Homme Seul atau A Lonely Man, Manusia yang Kesepian.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan itu dipajang di lantai 3 Prince Building, Hong Kong. Di sebuah galeri milik Alisan Fine Arts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar 25 lukisan dari pelukis yang sama yang dipasang di galeri tersebut. Semuanya percikan tinta China di atas kertas. Hampir semuanya muram. Bukan karena tinta China hanya memberikan warna hitam dan abu-abu, tapi karena goresan sang pelukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain A Lonely Man, lukisan lain yang dipajang di galeri itu juga menggambarkan kesunyian sama, seperti Outside, The Waiting, Backpacker, dan The Observation.&lt;br /&gt;Pelukisnya, Gao Xingjian, lebih dikenal dunia sebagai seorang novelis. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra di tahun 2000. &lt;br /&gt;Soul Mountain dan One Man’s Bible adalah dua novelnya yang menarik perhatian dunia. &lt;br /&gt;Berkisah tentang konflik psikologis yang ia alami semasa Revolusi Budaya di China, pemberontakannya terhadap otorianisme Partai Komunis, impian dan pemujaannya terhadap kebebasan individu, serta keputusannya untuk menjauh dari tanah lahirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir bulan lalu, Gao muncul di Hong Kong. Sebuah festival seni diselenggarakan atas namanya dari 22 Mei – 11 Juni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran karya lukisnya yang digelar oleh Alisan Fine Arts adalah bagian dari festival tersebut. Lainnya termasuk pagelaran teater yang melakonkan naskah terbarunya Of Mountains and Seas, pembacaan puisi, pemutaran film dan kuliah umum serta simposium yang digelar di Chinese University of Hong Kong (CUHK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melankolis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gao lahir di Jiangxi, China pada tahun 1940. Ia mulai belajar melukis pada umur delapan tahun dan menerbitkan tulisan pertamanya pada umur 10 tahun. Di bawah arahan ayahnya, ia juga mempelajari drawing, watercolor, seni patung, lukisan China dan kaligrafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mempelajari Bahasa Prancis di Beijing Institute atas dorongan keluarganya. Namun ia terus melukis dan menulis. Ia juga menulis sejumlah skenario drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses kreativitas kepenulisannya inilah, ia mulai bersinggungan dan kerap merasa jengah dengan kebijakan yang diambil Partai Komunis. One Man’s Bible, yang diyakini sejumlah kritisi sebagai biografi Gao, menggambarkan dengan detil kemarahannya terhadap otoritarianisme Partai yang membatasi kebebasan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih pada tahun 1970-an, ia kena dampak Revolusi Budaya, dengan dikirim ke Anhui untuk proses “re-edukasi”, sebuah istilah yang merujuk pada kebijakan PKC untuk mendidik para intelektual agar belajar dari rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gao kemudian memutuskan pindah ke Prancis pada tahun 1987, mendapatkan kewarganegaraan di negeri tersebut, dan menetap di sana hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi orang China pertama yang memperoleh Nobel. Sebuah penghargaan yang sempat membuat pemerintah China berang dan menudingnya sebagai sebuah manuver politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca tudingan tersebut, ditambah dengan larangan pemerintah China bahwa semua buku dan karyanya tak bisa diterbitkan dan dipentaskan di China, Gao memilih tak kembali ke negerinya seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara dengan wartawan Hong Kong baru-baru ini, ia bahkan mengaku tak lagi membaca surat kabar China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak membaca surat kabar China dan hanya tahu sedikit keadaan China sekarang. Saya terlalu berjarak dengan lingkungan (China) sekarang. Saya tak lagi peduli apakah buku-buku saya akan diterbitkan atau drama-drama saya akan dipentaskan di China. Pembaca dan audience saya ada di seluruh dunia,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbeda dengan pernyataannya yang penuh kemarahan, lukisan Gao yang dipajang di Alisan Fine Arts, tampak sangat murung dan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengamat seni rupa menggambarkan lukisan Gao sebagai bentuk ungkapan kesedihan yang teramat dalam. Barangkali itu “harga” yang harus ia bayar untuk kebebasan yang diimpikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu menggambarkan dirinya sebagai “burung yang terbang bebas”. Kebebasan sejati, menurutnya, tak punya embel-embel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 7 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2703394856337934870?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2703394856337934870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2703394856337934870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2703394856337934870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2703394856337934870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/06/perjalanan-lelakiyang-memilih-sunyi.html' title='Perjalanan Lelaki yang Memilih Sunyi'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEs4oqd8F0I/AAAAAAAAAMc/tH9OXTwJtGo/s72-c/Gao.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5102852012792165670</id><published>2008-06-04T14:55:00.004+08:00</published><updated>2010-05-18T17:08:03.355+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Menelusuri Jejak Migrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEY8_vn-SAI/AAAAAAAAAMM/_2UvO6wewHk/s1600-h/ej.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEY8_vn-SAI/AAAAAAAAAMM/_2UvO6wewHk/s200/ej.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207917084914108418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ADA yang luput dari pengamatan para jurnalis setiap kali mengisahkan tentang persoalan migrasi. Kebanyakan dari mereka terfokus pada derita buruh migran di negeri tujuan, juga perjuangan yang mereka lakukan untuk bertahan. Hanya sedikit dari mereka yang mencoba memotret soal derita anak-anak yang ditinggalkan di rumah, juga rasa kehilangan dan kemarahan mereka karena melewati masa hidupnya tanpa pendampingan seorang ibu atau ayah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonia Nazario, seorang wartawan Amerika Serikat yang sempat menghabiskan masa remaja di Argentina, adalah salah satu dari yang sedikit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berserinya di Los Angeles Times tentang anak-anak dan remaja Amerika Tengah yang menyeberangi Meksiko untuk bisa bertemu ibunya di Amerika Serikat mendapat ganjaran Pulitzer di tahun 2003.Tulisan tersebut kemudian dibukukan dalam “Enrique’s Journey” yang juga sudah diterbitkan dalam edisi Indonesia oleh Penerbit Bentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar bukunya, Sonia mengakui bahwa perbincangannya dengan seorang buruh migran Amerika Tengah yang jadi tukang bersih-bersih di rumahnya menjadi salah satu pemantik ide tersebut di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonia sudah lama tahu bahwa tiap tahun, ribuan warga Amerika Tengah berbondong-bondong memasuki Amerika Serikat secara illegal. Tapi keputusannya untuk menelusuri jejak perjalanan mereka adalah sebuah pilihan yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menemui Enrique, seorang remaja yang menyeberangi Meksiko dari tanah lahirnya di Honduras agar bisa bertemu ibunya di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah perjalanan Enrique yang melakukan perjalanan di atas gerbong kereta api, berasama ratusan anak-anak Amerika Tengah lainnya, menarik perhatian Sonia. Terlebih bahwa risiko yang dialami para remaja, dan banyak juga anak-anak di bawah umur, tak hanya muncul dari para preman, tapi juga aparat keamanan. Upaya mereka untuk bertahan hidup, dalam perjalanan yang panjang, “hanya” agar bisa bertemu ibunya, merupakan kisah yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang menakjubkan, Sonia mencoba merekam detail perjalanan itu tak hanya dari wawancara dari Enrique, ibunya, keluarganya, atau rombongan remaja lainnya yang melakukan perjalanan itu. Sonia juga melakukan rekam jejak dengan menempuh ulang perjalanan yang pernah dilalui Enrique.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berada bersama ratusan remaja dan anak-anak Amerika Tengah yang mempertaruhkna nyawa di atas gerbong kereta agar bisa bertemu ibunya. Ia menjadi saksi anak-anak dan remaja yang tewas atau cacat tergilas roda kereta; para migran yang kekurangan makan dan dipalak premen dan aparat kemanan. Ia juga mencatat dan mendatangi tempat-tempat dimana Enrique pernah singgah, juga lokasi-lokasi dimana para saksi mata berkisah tentang migran perempuan yang diperkosa dan dibunuh, baik oleh preman maupun aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonia menghabiskan waktu selama enam bulan untuk melakukan perjalanan tersebut. Tapi ia membutuhkan waktu lima tahun untuk menyusun ulang tulisannya dan menjadikannya buku. Ia melakukan wawancara berkali-kali dengan Enrique, ibunya, dan keluarganya. Ia juga bolak-balik ke Honduras dan sejumlah negara bagian di AS dimana ibu Enriqueh berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memberikan gambaran utuh tentang akar masalah migrasi dan dampaknya. Wawancara yang dilakukan Sonia dengan narasumber yang sangat luas, ketelitiannya dalam menangkap detil ruang dan suasana, juga ketekunannya membuat check dan recheck, menjadikan “Enrique’s Journey” sebagai buku yang sangat kaya, juga sebuah laporan jurnalistik yang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perlu membuat pernyataan terhadap fenomena migrasi yang terjadi, Sonia –melalui buku ini- mampu menyeret pembaca mengambil sikap jelas terhadapnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5102852012792165670?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5102852012792165670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5102852012792165670' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5102852012792165670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5102852012792165670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/06/menelusuri-jalur-migrasi.html' title='Menelusuri Jejak Migrasi'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SEY8_vn-SAI/AAAAAAAAAMM/_2UvO6wewHk/s72-c/ej.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-9202865641397868470</id><published>2008-05-29T12:09:00.003+08:00</published><updated>2008-05-29T13:07:58.544+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Perjalanan Ziarah Seorang Jurnalis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SD46G0S7jtI/AAAAAAAAAME/gYNBThkMtKQ/s1600-h/mahatma.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SD46G0S7jtI/AAAAAAAAAME/gYNBThkMtKQ/s200/mahatma.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205662108078542546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MAHATMA Gandhi adalah inspirasi, pun jika ia hanya berwujud serbuk abu. Adalah Christopher Kremmer, seorang jurnalis kelahiran Australia, yang mampu menggambarkan carut-marut konflik politik di India dengan detail sama saat ia mendeskripsikan abu dari jasad Mahatma yang ia hirup di pinggir Sungai Gangga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inhaling the Mahatma, ditulis dengan genre creative nonfiction, merupakan buku yang berhasil menggambarkan masyarakat dan situasi politik India dengan narasi yang membuat kita seolah berada di bumi dengan penduduk lebih dari satu miliar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dibuka dengan perjalanan ulang Kremmer ke lokasi di mana ia pertama dan sekaligus terakhir kalinya bertemu dengan Rajiv Gandhi, mantan perdana menteri India yang tewas karena bom bunuh diri dari aktivis gerilyawan Macan Tamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negeri dengan penduduk mayoritas Hindu, konflik politik yang terjadi di India tak bisa dilepaskan dari urusan agama dan kasta, juga jurang kaya-miskin yang makin lebar karena upaya mengejar modernitas. Dalam pusaran inilah, Kremmer menuliskan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremmer merekam dengan detail kerusuhan yang terjadi di Babri Masjid, sebuah masjid yang terletak di Ayodhya, pada tahun 1992, karena ia berada di lokasi saat kerusuhan yang merenggut ratusan korban jiwa itu meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun yang sama, ia juga berada di dalam pesawat yang dibajak oleh seorang aktivis Hindu nasionalis yang baru berusia 19 tahun dengan bom yang dililitkan di tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, Kremmer menemui aktivis tersebut, setelah dibebaskan dari penjara, dan melakukan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremmer juga bersama dengan Rahul Gandhi, anak Rajiv dan Sonia Gandhi, saat melakukan kampanye ke Amethi di Uttar Pradesh di tahun 2004. Ia juga melakukan wawancara dengan Vishwanath Pratap Singh, mantan perdana menteri India yang memandang sinis pada keluarga Gandhi, meski ia dibesarkan oleh Congress Party di mana keluarga Gandhi bernaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menarik, selain soal situasi politik India, Kremmer juga memasukkan catatan perjalanannya sendiri, dalam konteks fisik maupun spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahannya dengan seorang perempuan India di tahun 1992 membuat ia mengenal India tak sekadar lewat kaca mata sebagai seorang ”jurnalis asing”, tetapi benar-benar terlibat dan menjadi ”separuh India.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat Kremmer melihat persoalan India tak lagi hitam-putih. ”Tinggal di Civil Line menyembuhkanku dari tendensi Barat yang kerap menentukan apa yang orang lain harus pikirkan dan rasakan, mendefinisikan batas sebab dan keadilan, dan lebih suka menggurui dibanding mendengarkan.” (h.154).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memetik pelajaran falsafah dari Hari Lal Dhingra, seorang lelaki India yang mengajarinya bahasa Hindi. Laki-laki beragama Hindu itu, suatu hari menceritakan kepada Kremmer ”sebuah rahasia” yang membuat doanya selalu dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia itu adalah bahwa setiap kali berdoa, ia menyebut nama seluruh guru Sikh yang berjumlah 10 orang, juga 10 reinkarnasi Wisnu, menyebut nama Yesus dan Maria, juga Nabi Muhammad. Ia juga menyebut nama istri dan anak-anaknya, nama lima saudara laki-laki dan perempuannya, juga para ipar dan keponakannya. Kesemuanya ada 80 nama orang-orang terdekat yang ia sebutkan, selain deretan nama Tuhan dan Nabi yang ia sebut di awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi kawanku, jika kau menginginkan sesuatu, apakah untuk dirimu sendiri atau orang lain, yang tentu saja bukan keinginan untuk merugikan atau melukai orang lain, kau harus minta pertolongan Tuhan. Bisa jadi suatu saat Ia akan sibuk, tapi jika kau minta pada semua Tuhan, satu dari mereka pasti memiliki waktu. Karena ketika Muhammad datang, ketika Yesus datang dan ketika Rama (penjelmaan Wisnu-red) datang, mereka semua datang untuk tujuan sama-membantu orang menemukan jalan yang benar.” (h.37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremmer mengaku bahwa Inhaling the Mahatma, yang merupakan bagian akhir dari trilogi buku Asia yang ditulisnya, merupakan catatan perjalanan paling reflektif dan personal yang pernah ia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku nonfiksi pertamanya, Stalking the Elephant Kings (yang kemudian diperbarui menjadi Bamboo Palace) berkisah tentang perjalanannya ke Laos untuk menelusuri sejarah keluarga kerajaan Laos setelah berkuasanya pemerintahan komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara buku keduanya, The Carpet Wars, berkisah tentang kehidupan sosial politik masyarakat Afghanistan. Kremmer menyeret pembacanya untuk melihat bagaimana dunia barat memiliki kesalahpahaman yang akut terhadap komunitas masyarakat muslim.&lt;br /&gt;Yang menarik, dalam ketiga bukunya, Kremmer bisa menyajikan dua hal sekaligus, akurasi informasi dan keindahan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalamannya sebagai jurnalis di Australia Broadcasting Company, The Age, dan Sydney Morning Herald membantunya untuk tetap menjaga disiplin dalam metode pencarian informasi. Sementara itu, pengalaman awalnya sebagai penulis karya fiksi, membantunya menyajikan informasi dalam olahan bahasa yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa mendeskripsikan ruang, benda, suasana dengan sangat detail. Selain mengandalkan ingatan, ia mengaku berhasil menggambarkan detail tersebut karena bantuan catatan di memonya, tape recorder, dan juga mengunjungi ulang tempat-tempat yang ditulisnya, juga menemui kembali para narasumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Inhaling the Mahatma, Anda bisa merasakan detak jantung dari bumi yang pernah diperjuangkan Mahatma lewat gerakan swadeshi-nya itu, pun jika Anda belum pernah menginjakkan kaki di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 10 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-9202865641397868470?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/9202865641397868470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=9202865641397868470' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/9202865641397868470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/9202865641397868470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/05/perjalanan-ziarah-seorang-jurnalis.html' title='Perjalanan Ziarah Seorang Jurnalis'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SD46G0S7jtI/AAAAAAAAAME/gYNBThkMtKQ/s72-c/mahatma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2888842005686759080</id><published>2008-05-21T13:25:00.008+08:00</published><updated>2008-05-23T23:33:57.354+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Nyanyi Sunyi SK Trimurti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDO1_wHU0RI/AAAAAAAAAL8/IguXbZosZKM/s1600-h/sk_trimurti.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDO1_wHU0RI/AAAAAAAAAL8/IguXbZosZKM/s200/sk_trimurti.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202702101395067154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;KABAR duka itu kubaca di Internet, Rabu pagi ini. Ia meninggal di RSPAD Jakarta, Selasa kemaren, tepat saat Indonesia memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Ia juga pergi bersama dengan Ali Sadikin. Sebuah kebetulan yang aneh.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku jadi teringat kunjunganku ke RS. Cikini, dua tahun lampau, juga di bulan Mei. Berdiri di sisi pembaringannya, ia mendendangkan sebuah lagu Belanda untukku. Perawatnya, seorang perempuan muda, mengatakan padaku bahwa keluarga dan anak-anaknya sendiri jarang menengoknya. Yang kerap menengok justru Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, yang kemaren turut meninggal bersamanya. Ah, sebuah kebetulan yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini tulisan yang kubuat dua tahun lalu dan dipublikasikan persis di hari ulang tahunnya yang ke-94.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA – Waktu bergulir 30 menit dari pukul 13.00 WIB saat tiba di depan gerbang di area rawat inap Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat. Jam bezuk sudah habis. Petugas jaga baru saja mengunci gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak mungkin berbalik arah, saya harus menemuinya. Wajah perempuan yang terbaring di paviliun Anggrek 6 itu terbayang di mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu waktu beberapa menit membujuk petugas jaga, sebelum pintu gerbang itu dibuka. “Janji, cuma lima belas menit ya...,” ujarnya. Saya mengangguk. Tapi jelas itu anggukan tak jujur. Mana mungkin menemui mantan Menteri Perburuhan itu hanya dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan duduk berbincang dengannya membuat perjanjian 15 menit dengan petugas jaga tersebut seperti sulit ditepati. Saya membayangkan bisa mengobrol dengan kawan dekat Soekarno itu tentang peringatan 1 Mei yang meriah dua pekan lalu atau pers yang mulai gamang dalam tarik-menarik antara kepentingan publik dan desakan pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semua keinginan itu buyar ketika pintu Anggrek 6 terbuka. Tubuh renta dengan wajah pucat yang terbaring di atas kasur itu membuat ajakan berbincang dengannya terlalu muskil. Matanya terpejam, kedua tangan terikat di samping kanan dan kiri tempat tidur besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia sering menggaruk wajahnya sampai lecet,” kata seorang perempuan usia belasan yang tengah mengepel lantai di kamar tersebut, menjelaskan alasan ikatan tangan tersebut.&lt;br /&gt;Tak ada kawan dan kerabat di ruangan itu. Mira, perempuan yang dibayar oleh pihak keluarga untuk menjaganya, tengah keluar makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi yang menggantung di langit-langit ruangan memutar telenovela. Suara dialognya terlalu keras diterima gendang telinga, namun di ruang sepi ini, barangkali suara tersebut bisa jadi penghilang sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu beberapa menit sebelum menyapa perempuan yang tergolek lemah itu, memastikan bahwa ia tak tidur meski matanya tengah terpejam. “Tolong tamunya dipersilakan masuk. Mana Sainah. Tolong tamunya disuruh masuk,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berkali-kali saya katakan bahwa saya sudah berada di dekatnya, perempuan dengan nama Surastri Karma Trimurti ini tetap tak menyadarinya. Ingatannya meloncat-loncat.&lt;br /&gt;Ia merasa masih berada di rumahnya di Jalan Kramat Lontar H7, Kramat, Jakarta Pusat. Ia terus mencari Sainah, perempuan yang telah mengabdi padanya selama 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bahkan mengajak pergi ke Jakarta Selatan. Ingatannya mencatat, ada pertemuan para wartawan perempuan yang harus ia hadiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau pergi ke Selatan. Kamu jangan pulang. Nanti siapa yang akan menemaniku. Aku akan bertemu Herawati Diah dan kawan-kawan wartawan lainnya. Nanti kita bisa bicara banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawati Pejuang&lt;br /&gt;Lahir di Sawahan, Boyolali, pada Sabtu 11 Mei 1912, Surastri Karma Trimurti yang kemudian lebih dikenal dengan nama SK Trimurti menolak dibesarkan dalam alur perempuan zamannya yang dipaksa oleh sistem budaya feodal untuk sekadar berurusan dengan dandan, masak, dan beranak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memilih untuk menjadi guru setelah lulus dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru Putri. Tapi tak cuma itu, di sela-sela waktu mengajarnya, ia juga aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) dan menjadi pendengar setia pidato Soekarno yang selalu inspiratif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian, ia diminta menulis di Fikiran Ra’jat, majalah yang dipimpin oleh Soekarno. Trimurti tak sanggup menolak karena Soekarno sendiri yang memintanya. Tulisannya tajam, mengecam kekuasaan kolonial, mencurigai setiap motif penguasa di Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecaman ini ternyata berdampak. Penguasa kolonial merasa terancam, Trimurti pun dipaksa merasakan dinginnya dinding penjara. Namun, ia tak pernah surut. Ia semakin aktif menulis, bahkan membuat penerbitan sendiri dan menyebarkan pamflet antikolonialisme. Meski untuk itu, ia kembali dijebloskan di Penjara Perempuan di Bulu, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayuti Melik, sang penulis naskah Proklamasi, yang ia nikahi pada tahun 1938 menjadi pendukung utamanya. Buah cinta mereka, Moesafir Karma Boediman, pun terpaksa ia lahirkan di lorong sempit penjara Belanda gara-gara sikap kerasnya terhadap sang kolonial.&lt;br /&gt;Keluar dari penjara, pemerintahan baru Republik Indonesia di bawah kabinet Amir Sjarifuddin yang baru berusia dua tahun, menawarinya kursi Menteri Perburuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensiun jadi menteri, Trimurti menjadi anggota Dewan Nasional. Ia juga melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan tamat tahun 1960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1962 hingga 1964, ia diminta pemerintah untuk pergi ke Yugoslavia, mempelajari Worker’s Management. Ia juga pergi ke negara-negara sosialis lainnya di Eropa untuk mengadakan studi perbandingan mengenai sistem ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberpihakan Trimurti terhadap buruh sangat jelas. Tiga tahun setelah turun dari jabatan Menteri Perburuhan, ia menerbitkan ABC Perdjuangan Buruh, sebuah buku yang mengupas hakikat perjuangan buruh sebagai sebuah kekuatan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum buruh harus mempunyai kesadaran bahwa mereka bekerja untuk kepentingan kelas buruh dan kepentingan seluruh anggota masyarakat, bukan untuk kepentingan kaum kapitalis, yang menjalankan eksploitasi,” demikian dia menulis. Sebuah analisis yang kini kerap dikutip oleh sejumlah serikat buruh sebagai suatu inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, inspirator kaum buruh dan wartawati tiga zaman itu terbaring sakit. Dokter menyatakan tak ada penyakit serius yang dideritanya, hanya saja usia senja telah menggerogoti tubuhnya secara sistematis. Ia tampak demikian renta dan begitu sendirian.&lt;br /&gt;Mira, perempuan yang menjaganya, mengatakan bahwa satu-satunya putra Trimurti yang masih tersisa, Heru Baskara, kini tak lagi menjenguknya. Sementara itu, Moesafir Karma Budiman yang ia lahirkan di lorong penjara sudah lama tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya kawan yang menemani Trimurti di rumah sakit—selama sembilan bulan terakhir—hanya perempuan asal Cibinong itu yang mendapat gaji rutin dari pihak keluarga.&lt;br /&gt;Sesekali, beberapa kawan dan sejumlah pejabat datang menjenguk. Sejumlah politisi pun berkunjung, sekadar memperingati sebuah hari nasional yang membawa kenangan pada Trimurti, atau hanya membuat janji untuk memberikan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu Mega (Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri-red) pernah berjanji untuk membantu 50 persen dari biaya perawatan disini. Namun sampai sekarang, janji itu belum terealisasi,” tutur Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, pemerintah tak cuci tangan. Hingga saat ini, janji pemerintah untuk membiayai rumah sakit dan perawatan Trimurti bisa dipegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (13/5) esok, sejumlah kawan akan merayakan ulang tahunnya ke-94 yang sebenarnya jatuh Kamis (11/5) ini. “Ia selalu merindukan Herawati Diah,” ujar Mira saat Trimurti—sambil menggenggam tangan saya—menyenandungkan sebuah lagu berbahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin ke Selatan. Siapkan bajuku. Jangan pulang dulu, kau harus temani aku ke Selatan. Aku ingin bertemu Herawati Diah dan kawan-kawan. Kau harus menemaniku. Aku lupa jalan ke sana,” katanya berkali-kali saat saya mengucapkan selamat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 11 Mei 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2888842005686759080?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2888842005686759080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2888842005686759080' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2888842005686759080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2888842005686759080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/05/nyanyi-sunyi-sk-trimurti_21.html' title='Nyanyi Sunyi SK Trimurti'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDO1_wHU0RI/AAAAAAAAAL8/IguXbZosZKM/s72-c/sk_trimurti.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4230071811987999065</id><published>2008-05-20T17:53:00.004+08:00</published><updated>2008-05-20T18:05:55.347+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Pemberontakan Si Rambut Panjang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDKiMAHU0OI/AAAAAAAAALk/agyPdC8LMhw/s1600-h/Long+hair.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDKiMAHU0OI/AAAAAAAAALk/agyPdC8LMhw/s200/Long+hair.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202398846639198434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan sosok asing di Hong Kong. Hampir semua aktivitas demonstrasi yang mengusung isu demokrasi atau hak asasi manusia (HAM) melibatkan sosoknya. Terakhir kali ia terlibat dalam aksi di depan Central Government Office (CGO), Jumat 9 Mei lalu, memperingati Mother's Day. Bersama puluhan pekerja perempuan lokal, ia menyerukan tuntutan agar pemerintah Hong Kong memberikan upah layak bagi para perempuan pekerja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Leung Kwok-hung. Rambutnya panjang, perawakannya tinggi, dan gemar mengenakan jins dan berkaos oblong. Gambar sablon di kaosnya tak pernah berubah. Selalu gambar wajah yang sama, meski ia berganti kaos warna merah, putih, atau hitam. Sablon di kaosnya bergambar Ernesto "Che" Guevara, tokoh revolusioner asal Argentina yang berjuang untuk Kuba dan tewas di Bolivia. Leung sepertinya cinta mati pada sosok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap perjumpaan dengan Leung, di mana pun, ia selalu terlihat dengan kaos "Che". Sepertinya seluruh isi lemari bajunya hanya berisi kaos "Che". Dalam aksi di depan CGO, Jumat itu, ia mengenakan kaos warna hitam kusam dengan potret Che hasil jepretan Alberto Korda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, pada 5 Mei, mengenakan kaos oblong putih, masih dengan gambar Che tentu saja, Leung menggelar aksi. Bersama kawan-kawannya, lelaki yang akrab dipanggil "Long Hair" karena rambut panjangnya itu menggelar acara di Times Square, sebuah mal di kawasan Causeway Bay, dan bersitegang dengan pemilik mal tersebut. Pasalnya, acara yang digelar hari itu adalah sesuatu yang dianggap "ilegal" oleh pemerintah Hong Kong. Mereka melakukan siaran langsung dengan radio gelombang FM102.8 MHz yang frekuensinya tak direstui oleh pemerintah. Namun toh mereka bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali acara live broadcast mereka berurusan dengan polisi. Leung pun mesti keluar masuk pengadilan karena tudingan mengganggu ketertiban umum. Namun sepertinya hal itu tak membuat mereka surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di bulan Mei, tiga hari sebelum acara di Times Square tersebut Leung Hair tampak di tengah-tengah kerumunan orang yang tengah antusias menyambut pawai obor Olimpiade 2008 yang bakal melintasi Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari para penyambut yang mengenakan kaos merah dengan tulisan "Go China!" dan melambai-lambaikan bendera China serta Hong Kong sekaligus, Leung malah membawa banner berisi slogan soal HAM. Mengaitkan penerapan HAM dengan pelaksanaan Olimpiade yang bakal digelar di Beijing. "Free political prisoners now", begitu tuntutannya. Ia juga memilih kaos putih, bukan merah, masih dengan gambar kepala Che.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya Leung tampak bergabung dengan ribuan orang pekerja, baik lokal maupun migran, memperingati May Day. Di depan wartawan ia bahkan sempat mengatakan bahwa buruh migran perlu melakukan mogok jika pemerintah tetap juga abai terhadap kesejahteraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembangkang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penampilan jalanan Leung membuat orang pasti tak menyangka ia adalah anggota parlemen Hong Kong, perwakilan dari kawasan New Territories. Di parlemen, Leung anggota Finance and House Committee dan juga anggota panel untuk constitutional affairs, perumahan, ketenagakerjaan, transportasi, dan layanan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjadi anggota parlemen, lelaki kelahiran Hong Kong tahun 1956 ini memang dikenal sebagai aktivis jalanan. Ia mempoklamasikan diri sebagai Trotskyist dan bergabung dengan April Fifth Action, kelompok sosialis yang namanya diambil dari insiden Tiananmen pertama pada 5 April 1976. Kelompok ini bersuara keras terhadap kebijakan pemerintah China. Bagi mereka, selama belum ada demokrasi di China, tak akan ada juga demokrasi di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leung sendiri membikin kaul tak akan memotong rambut panjangnya sebelum pemerintah China meminta maaf atas tragedi Tiananmen tahun 1989 yang merenggut ratusan jiwa. Namun, dalam kenyataannya, ia harus memotong rambutnya saat sering keluar masuk penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terpilih menjadi anggota parlemen di tahun 2004, kebiasaan "jalanan" Leung tak juga hilang. Dalam acara pengambilan sumpah sebagai anggota parlemen ia memilih mengenakan kaos bergambar Lapangan Tiananmen di bagian depan dan Che Guevara di bagian belakang, sementara anggota perlemen lainnya tampil rapi dengan jas dan dasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat koleganya mengangkat tangan kanan dengan takzim untuk pengambilan sumpah sebagai anggota parlemen, Leung justru mengangkat tangan kirinya yang dibalut dengan pita hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap korban tragedi Tiananmen. Selain itu, saat anggota lain hanya mengucapkan sumpah standar, Leung memilih menambahkan kalimat sendiri dalam janji yang ia ucapkan. Ia mendesak pemulihan nama baik para korban tragedi Tiananmen 1989. Ia juga minta agar China membebaskan para tahanan politik dan mengakhiri kebijakan satu partai. Melengkapi "pembangkangan"-nya, hari itu Leung juga meneriakkan slogan "Hidup demokrasi!, Hidup rakyat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulah "urakan" Leung ini tak berubah hingga sekarang. Terlebih sejak tahun 2006 ia juga bergabung dengan League of Social Democrats, kelompok demokratik kiri aliran Trotskyist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam putaran pemilihan Chief Executive Hong Kong tahun lalu Leung juga berulah. Ia menggelar protes di lokasi Chief Executive Donald Tsang tengah menyampaikan pidato. Ia mengenakan topeng babi, juga jubah, untuk menggambarkan dirinya sebagai salah satu karakter dalam Animal Farm (novel satire populer karya George Orwell). Ia memprotes bahwa pemilihan Chief Executive tak demokratis karena dilakukan lewat Komite Pemilihan yang beranggotakan 800 orang. Ia dan kelompok pan-demokratik lainnya mendesak agar Hong Kong segera memiliki hak pilih universal, satu orang satu suara, baik untuk memilih Chief Executive maupun seluruh anggota parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Populer di Kalangan BMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya publik Hong Kong yang mengenal Leung. Warga Indonesia yang merantau di Hong Kong sebagai pekerja rumah tangga juga mengenalnya dengan baik. Leung bahkan pernah menjadi orator yang memimpin demonstrasi ribuan buruh migran Indonesia (BMI) saat menggelar rally ke CGO pada November 2006. Dengan mikropon di tangan Leung berteriak lantang, "Ka yan kung!" Sebuah kalimat dalam dialek kantones yang artinya naikkan upah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga membuka kantornya di Central untuk kunjungan para buruh migran, juga kelompok minoritas lainnya, yang hendak mengadukan nasib. Ia bersikap ramah kepada setiap orang yang mengajaknya bicara, juga para BMI yang berebut berfoto dengannya di tengah aksi massa dan orasi yang digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PRT asing adalah tulang punggung perekonomian Hong Kong. Adalah kewajiban pemerintah untuk memperhatikan mereka, termasuk lewat kenaikan gaji," kata Leung saat saya temui di tengah aksi massa dengan kelompok migran pada Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama beberapa anggota parlemen lainnya, Leung gencar memperjuangkan kenaikan gaji PRT asing, juga pembuatan aturan standar upah minimum bagi seluruh pekerja di berbagai sektor. Selama ini tak ada standar upah minimum untuk pekerja. Leung dan sejumlah anggota di parlemen, termasuk Lee Cheuk-yan yang juga menjabat sebagai Sekjen Hong Kong Confederation of Trade Unions (HKCTU), tengah memperjuangkan agar pemerintah menetapkan upah minimum HK$30 per jam untuk semua sektor. Satu dolar HK sama dengan Rp 1.150.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leung menekankan bahwa aturan tersebut juga mesti diberlakukan untuk PRT asing yang selama ini mendapatkan upah minimum HK$ 3.480 per bulan. "Saya hanya berharap gerakan buruh migran bisa bersatu dengan gerakan pekerja lokal di sini, sehingga tuntutan kesejahteraan bisa kita desakkan bersama-sama," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan hal tersebut sambil berdiri. Kedua tangannya menyilang di belakang punggung. menjauhkan asap dari batang rokok yang mengepul di tangannya. Sayang sisa abu dan aroma tembakau masih menempel di sekujur kaos hitamnya. Juga di nafasnya. Sebuah kebiasaan tak sehat yang gagal ia hentikan, meski Hong Kong membuat aturan ketat soal larangan merokok per Januari 2007. Sepertinya ia memang memilih menjadi "pembangkang" seumur hidup dan tak pernah menyesalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kalangan yang sinis menilai Leung hanya mencari sensasi. Tapi cobalah datang ke Hong Kong dan cari tahu tentang dia di kalangan buruh migran atau kelompok marjinal lainnya. Bagi mereka, Leung adalah pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan BMI, sikap "jalanan" Leung justru menjadi penawar sakit hati atas ulah pejabat negeri sendiri yang kerap memperlakukan mereka sebagai orang asing. Dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu, Leung tak segan berbaur dengan ribuan BMI yang tengah mendengarkan orasi di depan kantor CGO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa BMI menyapanya, "Mister Long Hair". Dan Leung menjawab dengan senyum serta lambaian tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang bungkus rokok. Sebuah arloji warna krem melilit di pergelangan tangannya, juga bergambar Che Guevara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di VHRmedia.com, 15 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4230071811987999065?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4230071811987999065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4230071811987999065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4230071811987999065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4230071811987999065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/05/pemberontakan-si-rambut-panjang_20.html' title='Pemberontakan Si Rambut Panjang'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SDKiMAHU0OI/AAAAAAAAALk/agyPdC8LMhw/s72-c/Long+hair.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4723524816925395271</id><published>2008-04-24T17:36:00.006+08:00</published><updated>2010-05-18T17:08:28.093+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulasan'/><title type='text'>Sonata for Good Man</title><content type='html'>IA melewati gerai toko buku itu seperti biasa, dengan menyeret kantong berisi ratusan surat dan kartu pos yang mesti ia antar pada setiap pintu.&lt;br /&gt;Mendadak, sudut matanya menangkap kelebat raut wajah yang akrab, intim. Sebuah potongan dari masa lalu yang telah mengubah seluruh hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia berbalik. Berdiri di depan gerai toko itu dan memastikan bahwa pandangannya tak salah. Ya, benar dia. Seorang penulis dan dramawan Jerman yang kehidupannya pernah ia ikuti karena tugas dari perintah yang absurd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, Hauptmann Gerd Wiesler, adalah seorang agen polisi dari sebuah negeri sosialis di tahun 1980-an. Tugas dari atasannya membuat ia mesti mengikuti dan merekam setiap detil jejak Georg Dreyman, sang dramawan itu, juga kekasihnya Christa-Maria Sieland, seorang aktris yang tengah bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia disuruh menemukan anasir anti-sosialis pada diri Dreyman, sehingga lelaki penulis itu bisa diseret ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak menemukan bukti. Jawaban lain justru datang kemudian. Atasan yangmenyuruhnya melakukan tugas tersebut ternyata hanya ingin menikmati sedikit kenaikan jenjang di kalangan petinggi partai. Salah satu caranya adalah menuruti perintah Menteri Kebudayaan untuk memata-matai Dreyman. Motif sang menteri, bak roman picisan. Ia jatuh cinta pada Christa dan tak ingin berbagi dengan Dreyman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiesler tahu ia menjalankan tugas yang absurd. Melakukan penyadapan untuk tujuan yang tak lebih dari sekadar kepuasan seks seorang menteri. Namun ia tak tahu cara berkelit. Hingga ia kemudian menemukan Bertolt Brecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku karya Brecht, ia curi dari atas meja Dreyman. Dibawanya pulang, dibaca diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brecht  seorang Marxist,  tapi ia tak pernah jadi anggota Partai Komunis. Ia bisa patuh pada instruksi Partai, tapi di saat bersamaan sikap fatalis dan pesimisme-nya sering membuatnya berbenturan dengan Partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini pula yang membuat Wiesler terpesona. Hingga sebuah kabar tentang kematiaan  kawan tua Dreyman, seorang dramawan yang mati bunuh diri karena  terkena blacklist Partai, membuat Wiesler menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sonata yang dimainkan Dreyman di atas tuts pianonya sampai ke telinga Wiesler dengan pesan pedih yang mengiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukan film itu di Wan Chai, dua pekan lalu.  Sebuah toko CD/DVD di pinggir jalan yang ramai pembeli. Entah mengapa, pandanganku cuma tertuju ke keping CD itu, “Das Leben der Anderen” atau “The Lives of Others”, sebuah film Jerman besutan Florian Henckel von Donnersmarck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpedulianku akhir-akhir ini membuatku baru menyadari bahwa film yang ada di gengamanku saat itu pernah menyabet Oscar untuk kategori film asing terbaik tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menontonnya dengan ritme biasa, tak terlalu malas, juga tak antusias. Ada banyak hal yang aku agak risih dengan alur cerita yang juga ditulis Donnersmarck, sang sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penghakimannya” terhadap sosialisme terlalu dangkal lewat petunjukan sikap otoriter menteri yang haus seks. Partai –di mata Donnersmarck- seolah begitu tololnya hingga bersikap tak peduli bahwa mekanisme sentralisme dimanfaatkan semena-mena oleh kadernya hanya untuk urusan –maaf- selangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun barangkali Donnersmarck memang sengaja melakukan itu untuk “memberitahu” bahwa ada sesuatu yang tak sungguh bisa lurus dalam sebuah idealisme. Ada berbagai jenis petualang yang menjadi penumpang gelap dalam perahu yang sebenarnya ditujukan sebagai sebuah perayaan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu, Wiesler, memasuki toko buku yang di etalasenya memajang novel terbaru karya Dreyman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka halaman pertama novel berjudul “Sonata for Good Man” itu. Ada pijar di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menuju kasir, menyerahkan buku, dan membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda butuh plastik?,” tanya kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Itu  untukku,” jawab Wiesler singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film berakhir.&lt;br /&gt;Dan aku terpaku, hingga 120 detik setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hong Kong, 24 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4723524816925395271?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4723524816925395271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4723524816925395271' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4723524816925395271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4723524816925395271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/sonata-for-good-man.html' title='Sonata for Good Man'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-5252510179931231589</id><published>2008-04-22T15:08:00.002+08:00</published><updated>2008-04-22T15:14:35.835+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Che</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SA2QTe4BizI/AAAAAAAAALU/Fys0qpDgOsk/s1600-h/Che1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SA2QTe4BizI/AAAAAAAAALU/Fys0qpDgOsk/s200/Che1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191964609808010034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SEORANG buruh migran berambut jabrik berjalan melintas di depanku  Minggu lalu. Ia berdandan tomboy, dengan celana komprang dan kaos merah berukuran longgar. Sablon di kaos itu bukan gambar yang asing untukku. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mendadak muncul isengku. &lt;br /&gt;Kulambai tanganku padanya. &lt;br /&gt;“Kau tahu siapa dia?,” tanyaku sambil menunjuk sablon di dadanya.&lt;br /&gt;Ia menggeleng pasti. Merasa tak bersalah dengan keterusterangannya.&lt;br /&gt;Kusebut sekilas tentang sosok tersebut. Dia mengangguk-angguk, mencoba memahami apa yang kukatakan. &lt;br /&gt;Kupilih kata yang paling sederhana untuk menggambarkan apa itu Argentina, Kuba, Bolivia, revolusi dan sang pemilik wajah itu: Ernesto Che Guevara.&lt;br /&gt;Namun tak sampai satu menit, seorang buruh migran lain yang duduk di sampingku dan mendengarku ngobrol dengan pemakai kaos tersebut, bertanya ingin tahu.&lt;br /&gt;“Apa arti Che Guevara?,” tanyanya sambil menunjuk tulisan yang tercetak di bawah gambar wajah tersebut, saat pemiliknya hendak melangkah pergi. &lt;br /&gt;Aku menahan nafas, menghitung kesabaranku, sebelum mengatakan padanya,”Itu sebuah nama.” Juga tonggak.&lt;br /&gt;Aku sendiri mengenal wajah itu, potret legendaris yang diabadikan Alberto Korda, sekitar 14 tahun lalu. &lt;br /&gt;Di sebuah kamar kost di Karang Waru, Yogyakarta. &lt;br /&gt;Potret itu berbentuk lukisan kusam dengan nuansa hijau lumut yang terpajang di dinding kamar. &lt;br /&gt;Lukisan itu menyita perhatianku. Emblem bintang di topi baretnya, juga warna hijaunya, membuatku berpikir ia seorang tentara, sebuah kata yang punya makna negatif di Indonesia tahun 1990-an.&lt;br /&gt;Namun rambut gondrong, proporsi tulang pipinya, dan sorot matanya, membuatku merasa bahwa dia sosok yang berbeda. Dia punya “sesuatu” yang aku tak bisa mendefinisikannya. Aku hanya merasa, saat itu, bahwa ia tak membuatku takut. &lt;br /&gt;Hingga kemudian salah seorang perempuan yang tinggal di kost itu, membaca keterpesonaanku. Ia menjadi orang pertama yang mengenalkanku pada  Che Guevara. &lt;br /&gt;Lalu semua tentang Che mengalir di kepalaku seperti air bah. Perjalanannya, surat-suratnya, pemikirannya.&lt;br /&gt;Semua itu sampai di tanganku lewat jilid fotokopian yang beredar dari tangan ke tangan, secara sembunyi-sembunyi, karena jaman yang tak ramah. Menyebut namanya pun mesti lirih dan dengan alias: Cak Gopar. &lt;br /&gt;Sejak saat itu, Che menjadi “kawan kedua” yang kuperbolehkan untuk masuk ke ruang tamu di kepalaku, setelah Soe Hok Gie. Bertiga, kami menghabiskan banyak waktu untuk berbincang tentang banyak hal. &lt;br /&gt;Mungkin gara-gara ini, ada umpatan yang akrab di telingaku: humanis!. &lt;br /&gt;Dan umpatan itu tak hanya masuk dari sisi kanan, juga sisi kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hong Kong, 22 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-5252510179931231589?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/5252510179931231589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=5252510179931231589' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5252510179931231589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/5252510179931231589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/che.html' title='Che'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SA2QTe4BizI/AAAAAAAAALU/Fys0qpDgOsk/s72-c/Che1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-2134157526525141228</id><published>2008-04-21T17:06:00.002+08:00</published><updated>2008-04-21T17:24:01.455+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>"Sihk Jo Faahn Meih a?"</title><content type='html'>WARGA Hong Kong dikenal tak murah senyum, terlebih kepada orang asing. Tapi ada satu kalimat “sakti” yang bisa Anda coba untuk mencairkan kebekuan mereka. Kalimat itu berupa pertanyaan sederhana, “Sihk jo faahn meih a?” atau “Apakah Anda sudah makan?” 'Faahn' sendiri artinya nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi kalangan generasi usia 50 tahun ke atas, pertanyaan itu tak sekadar sebuah pertanyaan soal sudah makan atau belum, tapi sebuah upaya meretas jarak. Sebuah upaya pemberian perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang China pernah memiliki trauma buruk soal kekurangan pangan. Jadi, sapaan soal sudah makan atau belum, punya makna yang sangat mendalam bagi orang-orang China,” ungkap Hendrick Law, seorang pengajar dialek Kanton untuk komunitas orang asing di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1958-1961, China memang mengalami bencana kelaparan terburuk sepanjang sejarah dengan angka kematian berkisar 25 juta orang. Banyak warga kemudian mengungsi ke Hong Kong yang saat itu masih berada di bawah koloni Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kontroversi soal penyebab bencana. Ada yang mengatakan bahwa iklim buruk membuat produksi pertanian menurun. Sebuah data menyebut bahwa antara tahun 1958-1962 terjadi iklim yang tak normal, diikuti dengan musim kering yang panjang dan juga banjir. Ini termasuk curah hujan 760 mm di Hong Kong selama lima hari berturut-turut pada Juni 1959, sebagi bagian dari pola sama yang melanda seluruh China Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat produksi padi di China menurun hingga 15 persen dari tahun 1958 ke tahun 1959. Penurunan 15 persen terjadi lagi di tahun 1960 dan tak ada tanda-tanda membaik hingga tahun 1962, saat pemerintah China mengakhiri penerapan kebijakan ”Loncatan Jauh ke Depan”. Kebijakan yang diniatkan untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian dan industri secara bebarengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pula yang membuat tak sedikit pihak menuding kebijakan yang ditetapkan Mao Tse Tung tersebut juga punya peran dalam memicu bencana kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas kontroversi soal bencana tersebut, sisa trauma dari masa itu ternyata masih membekas, saat stok beras di Hong Kong berkurang, pada Februari dan Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua supermarket terbesar di Hong Kong, Wellcome dan Park-n-Shop, jadi sasaran warga yang memborong beras, begitu informasi mengabarkan soal stok yang mulai minim. Mereka tak lagi peduli bahwa harga naik, yang penting bisa makan nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekurangan uang adalah sebuah persoalan, tapi kekurangan beras adalah persoalan besar bagi orang China,” ujar Chip Tsao, seorang pengamat asal Hong Kong yang juga host sebuah acara talk-show radio, seperti diberitakan Bloomberg. &lt;br /&gt;Orang-orang China, menurut Tsao, hidup di bawah bayang-bayang kelaparan yang sangat panjang. Sehingga kepanikan itu menjadi wajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilih Thailand&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, meski panik sempat melanda, warga Hong Kong masih bisa memilih jenis beras yang mereka mau beli. Mereka segan memilih beras asal daratan China. Beras Thailand tetap jadi pilihan, meski harganya naik 20-30 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, 90 persen konsumsi beras warga Hong Kong mengandalkan produk Thailand, 5 persen dari daratan China, dan 5 persen sisanya dari Amerika Serikat, Australia, dan Vietnam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April ini, pemerintah Hong Kong telah mendapat kepastian dari Thailand bahwa negeri tersebut tak akan mengurangi ekspor ke Hong Kong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Menteri Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi Hong Kong, Frederick Ma Si-hang, minta agar warga Hong Kong mulai mempertimbangkan untuk membeli beras asal China yang harganya 10 persen lebih murah dari beras Thailand. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdana Menteri China Wen Jiabao sendiri memastikan bahwa pihaknya akan menjamin suplai beras ke Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, imbauan ini seperti menampar angin. Seorang pemilik restoran di Hong Kong, misalnya, mengaku akan tetap menggunakan beras Thailand meski harganya akan naik lagi. &lt;br /&gt;Beras Thailand, menurutnya, lebih pulen sehingga orang yang makan akan merasa lebih cepat kenyang. Sementara beras asal China, bulir berasnya lebih kecil dan susah untuk dimasak. Jika tak tepat memasaknya, maka bisa menjadi terlalu keras atau terlalu lembek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memilih menaikkan harga semangkuk nasi di restorannya dari HK$ 6 menjadi HK$ 7, dibanding berganti membeli beras China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang warga Hong Kong, Nin Tang, juga mengaku tak berniat mengganti konsumsi nasinya. Desainer sebuah penerbitan di Hong Kong yang berusia 30-an ini mengaku tak pernah merasakan beras asal China seumur hidupnya. “Saya selalu beli beras Thailand,” ujarnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimuat di Sinar Harapan, 18 April 2008, dengan judul "Apakah Anda Sudah Makan?" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-2134157526525141228?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/2134157526525141228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=2134157526525141228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2134157526525141228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/2134157526525141228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/sihk-jo-faahn-meih.html' title='&quot;Sihk Jo Faahn Meih a?&quot;'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-4078329513066707835</id><published>2008-04-11T14:52:00.001+08:00</published><updated>2008-04-11T14:55:28.635+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Pencatat Perjalanan dari Selatan</title><content type='html'>SAYA berdiri di depannya, mengenalkan diri, dan menyebut nama. Ia memandangi saya, seperti tak percaya. Kemudian senyumnya mengembang. Nama panggilan saya memang persis sama dengan salah satu tokoh dalam Stalking the Elephant Kings, buku nonfiksi pertamanya yang berkisah tentang catatan perjalanannya ke Laos. Bedanya, tokoh tersebut berjenis kelamin laki-laki dan menantu putri terakhir Kerajaan Laos.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan menulis tentang Indonesia kapan-kapan. Negeri itu punya sejarah menarik," ujarnya saat saya temui pada acara makan siang yang digelar Foreign Correspondent's Club, awal Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Christopher Kremmer. Ia datang di Hong Kong untuk menghadiri Hong Kong Literary Festival 2008 yang digelar akhir Februari hingga pertengahan Maret. Empat buku yang ditulisnya telah membuat namanya populer di jajaran penulis dengan genre creative nonfiction. Buku terakhirnya, Inhaling the Mahatma, bahkan membuatnya - oleh para kritikus - disejajarkan dengan Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis Inggris kelahiran Trinidad yang punya karakter khas dalam narasi dan mendapatkan penghargaam Nobel Sastra 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremmer lahir di Sydney, Australia. Ia menyelesaikan studi sarjana di bidang penulisan di University of Canberra, sebelum terjun sebagai jurnalis media cetak dan broadcasting. Ia pernah menjadi koresponden Australian Broadcasting Corporation (ABC) untuk kawasan Asia Selatan dan Vietnam, juga menjadi kontributor tetap untuk surat kabar Sydney Morning Herald dan The Age.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Kremmer menjadi instruktur workshop penulisan nonfiksi di Australia dan sejumlah negara, serta sedang mengambil riset doktoral di University of Western Sydney untuk penulisan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda Kremmer di Hong Kong, awal Maret lalu, salah satunya juga karena undangan panitia Literary Festival 2008 agar menjadi instruktur penulisan creative non-fiction. Pesertanya dibatasi hanya 15 orang dan panitia mengutip HK$ 650 per kepala untuk workshop yang berlangsung tak sampai sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak hanya untuk itu Kremmer datang. Saat saya temui Kremmer usai meluncurkan ulang Inhaling The Mahatma dan menggelar dialog yang diikuti sekitar 50 orang. Meski dialog digelar di Hong Kong, hanya dua orang bermata sipit yang saya lihat di sekitar tempat itu. Lainnya, wajah-wajah Eropa dan orang berkulit gelap yang sekilas saya tahu berasal dari India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku terbaru Kremmer yang diluncurkan ulang hari itu memang berkisah tentang India, tentang masa-masa sulit yang mesti dilalui negeri berpenduduk lebih dari 1 miliar itu dalam memasuki modernisasi, juga konflik antaragama dan kasta yang seperti tak pernah mandek. Buku ini tak hanya informatif, lewat upaya Kremmer mewawancarai sejumlah politisi India, termasuk pertemuannya dengan Rajiv Gandhi dan Rahul Gandhi, tapi juga dituturkan dalam pilihan bahasa yang mengalir, dengan detail deskripsi yang menawan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terlibat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kremmer, dalam semua buku nonfiksinya, tak berusaha menjaga jarak dengan objek yang ditulis. Ia malah terkesan terlibat, bahkan dalam emosi yang melingkupi para narasumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Stalking the Elephant Kings - yang kemudian diterbitkan ulang sebagai Bamboo Palace - Kremmer berhasil menyeret pembaca dalam kemurungan penduduk Laos yang dipaksa melupakan sejarah para keluarga kerajaan, pasca-berkuasanya partai komunis di negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal sama terjadi dalam buku The Carpet Wars yang berkisah tentang kehidupan sosial politik masyarakat Afghanistan. Dalam narasinya, Kremmer menyeret pembaca untuk melihat bagaimana dunia Barat selama ini memiliki kesalahpahaman yang akut terhadap komunitas masyarakat muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keterlibatan Kremmer paling terlihat jelas dalam buku terbarunya, Inhaling the Mahatma. Mungkin karena dia sendiri akhirnya memutuskan menikah dengan seorang perempuan jurnalis asal India pada tahun 1992. Pernikahan yang membuat dia memiliki koneksi intim dengan keluarga India dengan seluruh sejarah dan tradisi yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kremmer menyebut tulisannya tentang India itu sebagai yatra atau sebuah ziarah. Buku itu tak hanya sebuah catatan perjalanan fisik, tapi juga spiritual. Sebuah upaya untuk memahami India bukan hanya dari kaca mata orang "bule", melainkan sepenuhnya sebagai India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman bertahun-tahun sebagai jurnalis menjadikan Kremmer tetap bisa menjaga displin perihal pencarian fakta dan akurasi data. Ini membuat semua buku nonfiksi yang ditulisnya, juga Inhaling the Mahatma, tak sekadar "asal bicara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, pengalaman awal Kremmer sebagai penulis kisah fiksi, membuat gaya bahasa yang dipakainya dalam penulisan nonfiksi mengalir seperti sebuah novel. Dia bisa mendeskripsikan ruang, benda, suasana dengan sangat detail. Selain mengandalkan ingatan, dia mengaku berhasil menggambarkan detail tersebut karena bantuan catatan di memonya, tape recorder, dan juga mengunjungi ulang tempat-tempat yang ditulis, juga menemui kembali para narasumbernya. Ia mengaku terinspirasi karya-karya Tom Wolfe - salah satu pelopor genre creative nonfiction - dan juga Vikram Seth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan pada sejarah, kisah-kisah perjalanan, politik kontemporer, dan rasa bahasa yang terasah lewat tulisan-tulisan fiksi membuat trilogi "buku Asia"-nya, Bamboo Palace, The Carpet Wars, dan Inhaling the Mahatma, bisa dinikmati laiknya novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berencana membuat novel fiksi setelah ini," ujar Kremmer saat saya tanya tentang rencana dia selanjutnya. Namun menurut dia, novel itu masih akan berkisah banyak tentang Asia. "Tapi kalau soal Indonesia, saya akan menulis nonfiksinya. Indonesia punya sejarah luar biasa," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, melihat Kremmer, saya nyaris tak percaya bahwa ia orang Australia. Selain kulit putihnya, hampir seluruh ucapan dan tindak-tanduknya menunjukkan ia orang Asia. Perjalanan ke negeri-negari Asia dan interaksi dengan penduduk setempat membuat Kremmer jauh dari sekadar sebagai pengamat. Dan lewat buku-bukunya, agaknya dunia dipaksa untuk melihat perjalanan manusia-manusia Asia secara lebih adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di VHRmedia.com, 11 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-4078329513066707835?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/4078329513066707835/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=4078329513066707835' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4078329513066707835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/4078329513066707835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/pencatat-perjalanan-dari-selatan.html' title='Pencatat Perjalanan dari Selatan'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-7126591240423530716</id><published>2008-04-07T18:03:00.003+08:00</published><updated>2008-04-07T18:06:59.718+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Celoteh Sedih dari Seberang Kasino</title><content type='html'>Ribuan perempuan Indonesia terdampar di Makau. Pulang ke kampung tak pernah jadi pilihan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN yang tak bundar perlahan bergerak ke atas. Udara mulai terasa sejuk. Hembusan angin menciptakan riak di bawah dermaga kayu dan sesekali membuat gigil. Jam di pergelangan tangan telah sejak tadi bergeser dari angka satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendang shalawat dengan iringan rebana berbaur dengan musik hip-hop yang mengalun dari tape recorder yang ditaruh sembarangan di atas dermaga. Logat Jawa Timur sesekali terdengar di antara hiruk-pikuk bunyi rebana dan tape recorder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Mulai dingin ya, Kak," ujar Oki (24), perempuan berambut jabrik yang tadi siang menjemput di Macau Ferry Terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oki bukan nama pemberian orang tuanya, tapi demikianlah ia biasa dipanggil oleh kawan-kawannya. Tubuhnya kurus dan berdandan seperti lelaki. Tapi raut wajah dan senyum kekanakannya tetap menyisakan jejak feminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari dua tahun Oki tinggal di Makau. Ia nge-break kontrak dari majikan saat kerja di Hong Kong, meski baru 1,5 bulan. Tak jelas mengapa ia memutuskan berhenti kerja, padahal belum ada sepeser pun uang yang dikantonginya. Seperti pekerja migran lain yang bekerja di sektor rumah tangga, Oki malah harus membayar biaya penempatan dirinya ke agen sebesar HK$ 21.000 yang dibayar lewat potongan gajinya selama tujuh bulan berturut-turut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan keputusannya untuk nge-break kontrak, tak jelas urusannya dengan biaya tersebut. Ia memilih tak bercerita. Saya hanya khawatir ia pernah mengalami nasib seperti Afriani (24). Pekerja asal Malang yang saya temui di sebuah penampungan di Hong Kong itu tiap hari menangis karena ayahnya di kampung terus-menerus diancam orang-orang suruhan PJTKI untuk meminta bayaran Rp 9 juta. Gara-garanya Afriani belum menyelesaikan potongan biaya agen, tapi keburu diputus kontrak oleh majikan karena sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oki hanya berkisah bahwa statusnya sudah overstayed alias visa kerjanya habis sejak dua tahun lalu, dua pekan persis setelah ia memutuskan kontrak dengan majikannya di Hong Kong. Ia sebenarnya pergi ke Makau dengan harapan dapat majikan baru. Namun ini bukan soal mudah, terlebih ia tak selesai kontrak dengan majikan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Oki tak berniat pulang ke kampungnya di Ponorogo. Sebagai sulung dari tiga bersaudara, ia ingin menjadi tulang punggung keluarga. "Saya usaha apa saja di sini untuk hidup," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama rekannya, setiap hari Oki berjualan nasi, soto, bakso, gorengan, dan es campur di Leal De Senado Square, lapangan di jantung kota Makau yang menjadi tujuan wisata turis mancanegara. Di lapangan yang juga populer dengan sebutan San Malo ini wisatawan dimanjakan dengan pemandangan gedung-gedung tinggi berarsitektur Eropa dan juga bangunan tua gereja Katolik. Sementara lorong-lorong kecil di sela gedung-gedung tinggi tersebut, juga gerai-gerai toko yang memasang pengumuman sale di depan pintu masuk, menjadi  daya tarik tersendiri. Lurus ke arah belakang lapangan ini, sebuah reruntuhan bangunan dari gereja St Paul selalu dijejali pengunjung setiap kali liburan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di tengah lalu-lalang para turis, Oki dan sejumlah perempuan asal Indonesia mesti bertahan hidup dari receh yang mereka kumpulkan dengan berdagang nasi dan bakso. "Di sini lebih bebas. Orang boleh dagang. Nggak dikejar-kejar seperti di Hong Kong," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dagangannya itu Oki bisa menghidupi dirinya. Omzetnya sekitar HK$ 3.000 per minggu. Setelah penghasilan dibagi dengan sang kawan, ia masih bisa mencukupi hidupnya, termasuk menyewa kos HK$ 20 per hari, biaya makan dan rokok, dan kebutuhan lain. Sekilas, saya juga melihat ia mengantungi dua handphone di sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tunggu Visa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun tak semua punya cerita seperti Oki. Sejumlah perempuan buruh migran asal Indonesia yang terdampar di Makau tak tahu apa yang mesti dilakukan. Mereka biasanya "dititipkan" oleh agen di sebuah  tempat dan mesti membayar HK$ 20 per hari. Mereka tidur berjejal di ruang tamu atau di kamar dalam flat dua kamar yang biasanya dihuni sekitar 20 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuni (22), perempuan yang juga berasal Ponorogo, misalnya, menjadi penghuni flat tersebut setelah memutuskan kontrak dengan majikan di Hong Kong. Agennya kemudian mencarikan majikan baru dan Yuni diminta hengkang dulu ke Makau untuk menyiasati visa kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung Yuni hanya perlu menunggu beberapa bulan untuk bisa masuk ke Hong Kong lagi. Namun Eni (21), asal Malang, terpaksa masih menunggu dengan ketidakpastian. Setiap hari, Eni mesti menghitung berapa utang yang mesti dibayar jika kelak mendapat pekerjaan setelah visanya turun. Ia, dan banyak perempuan Indonesia lainnya, terus menghitung jumlah uang sewa yang belum terbayar, juga kebutuhan lain yang mereka cukupi dari berutang. Tak ada yang gratis di Makau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kisah di mana penantian yang tak pasti ini kerap membuat mereka berstatus overstayed. Di Hong Kong, status seperti ini bisa mengantarkan mereka ke bui selama empat hingga enam bulan. Jika ketahuan identitas mereka palsu, hukuman bisa lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Makau, kasus overstayed tak pernah berakhir di bui. Pasalnya, pemerintah Makau tak cukup punya dana memulangkan mereka, tidak seperti di Hong Kong, pemerintah bertanggung jawab memulangkan mereka setelah penahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya beberapa kali pernah ketangkep waktu gerebekan. Tapi kemudian dibebasin," kisah Oki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan sejumlah pekerja overstayed yang pernah tertangkap, mereka biasanya diberi jangka waktu oleh Imigrasi untuk mencari uang guna membeli tiket pulang. Alasan ini pula yang membuat aktivitas dagang Oki berlangsung aman tanpa razia. Namun mencari uang tentu juga bukan hal gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak seseorang yang duduk di belakang saya berbisik sambil menelengkan dagunya ke arah Eni. "Ia kangen anaknya," ujarnya. Ada sisa air di mata Eni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak menyangka semuda itu ia telah meninggalkan bocah di kampung halaman yang memanggilnya ibu. Padahal, barusan dia berceloteh soal rencana untuk pergi ke kasino, main jackpot atau rollet kecil-kecilan, sembari mengambil minuman botol gratis yang biasanya tersedia di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang dermaga, terpisah oleh danau dalam, kehidupan di Lisboa, Wynn, dan Sands masih berdegup. Berselimut lampu pijar yang bergerak teratur dari lantai bawah hingga ke atas menciptakan refleksi indah di atas permukaan danau. South China Morning Post menyebut Sands yang dibuka tahun 2004 dengan modal US$ 265 juta telah meraup untung dalam jumlah menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di VHRmedia.com, 7 September 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-7126591240423530716?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/7126591240423530716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=7126591240423530716' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7126591240423530716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/7126591240423530716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/celoteh-sedih-dari-seberang-kasino.html' title='Celoteh Sedih dari Seberang Kasino'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-6906532281116749740</id><published>2008-04-07T17:54:00.002+08:00</published><updated>2008-04-07T18:02:04.030+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Romansa di Tai Po</title><content type='html'>Di ingar Hong Kong, buruh migran Indonesia dibelit sepi. Banyak yang jatuh cinta pada sesama jenis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dingin udara masih menggigilkan badan, meski pagi sudah pergi sejak tadi. Di Tai Po, kawasan pinggiran Hong Kong, sekitar 30 menit perjalanan kereta dari pusat kota Central, suhu udara bulan Maret tak beranjak dari 17 derajat Celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko Abadi terletak di lantai 2 di sebuah ruas jalan di Tai Po. Tak sulit mencari tempat mangkal buruh migran Indonesia ini. Siang itu beberapa perempuan berdiri tegang di depan bangunan tersebut. Ada pertengkaran rupanya. Terjadi adu mulut antara dua kubu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas mereka mempersoalkan apa. Namun seorang perempuan berkaca mata tergesa mengusap wajahnya. Darah menetes dari luka sobek di pipi kirinya. Ia kena pukul. Seorang perempuan berkemeja putih menjelaskan duduk perkaranya. Perempuan yang kena tonjok itu bikin ulah. Mabuk di tengah pesta. Tak sabar melihat ulahnya, seseorang melontarkan bogem mentah. Urusan pun jadi panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai 2, musik hip-hop tetap menghentak-hentak, tak hirau keributan di bawah. Dua perempuan tomboy asyik bergoyang mengikuti alunan musik. Mereka larut dalam kebahagiaan Randika (28) dan Anis (28), pasangan buruh migran Indonesia asal Jawa Barat yang baru saja “dinikahkan” oleh Vero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya cukup panjang, tapi ia akrab dipanggil Vero. Perempuan dengan setelan kemeja dan celana putih itu yang menjelaskan duduk perkara baku hantam di pesta pernikahan itu. Dari Magelang, Vero merantau di Hong Kong sejak tahun 1998. Perempuan 30 tahun ini juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan komunitas tomboy buruh migran Indonesia di Tai Po, nama Vero cukup dikenal. Sejumlah pernikahan sesama sejenis di kalangan BMI terjadi di bawah “restunya”. Namun dia menolak menyebut jumlah pasangan yang telah ia “nikahkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vero blak-blakan mengakui dirinya lesbian, meski ada dua remaja manis di kampung halaman memanggilnya mama. Suaminya juga menolak “berpisah” meski tahu si istri jatuh cinta pada sesama jenis. “Saya nggak mau munafik. Seluruh keluarga tahu kehidupan saya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah foto keluarga ia tunjukkan. Dua dara ceria dalam dekapan Vero dan seorang lelaki gondrong. Laki-laki itu suaminya, kekasih yang ia nikahi saat masih duduk di bangku SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto kehangatan keluarga itu diabadikan Desember lalu saat Vero pulang kampung. Wajahnya bahagia, juga keluarganya. “Suami saya tahu di sini saya punya pacar. Tapi baginya lebih baik saya mencintai sejenis daripada dirusak oleh orang-orang Pakistan atau Nepal,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 100 ribu perempuan Indonesia bekerja di Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Tak ada kuota untuk kaum lelaki. Pekerjaan nonprofesional untuk lelaki dikuasai buruh dari Pakistan, Nepal, dan India. Para lelaki itu gampang membujuk buruh migran yang jauh dari suami dan orang-orang terkasih. Perhatian sekadarnya membuat mereka mendapatkan cinta para perempuan rantau dengan mudah, juga tubuhnya. Tak sedikit perempuan Indonesia pulang membawa bayi tanpa bapak. Beberapa perempuan tertular penyakit kelamin, karena tak tahu soal antisipasi atau dikoyak paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bila banyak juga perempuan yang lari ke teman sejenis, karena perhatian mereka lebih dekat dan akrab. Hubungan itu juga lebih aman. Tak meninggalkan jejak, selain cinta yang masih dianggap tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Randika yang bernama asli Fahrandini salah satunya. Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, sejak kecil ia dididik seperti lelaki oleh ayahnya. Bahkan, setelah menikah dan punya anak lelaki yang kini berusia 5 tahun, ia tetap tak bisa mencintai suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat merantau di Hong Kong tiga tahun lalu dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Tai Po, ketertarikannya pada sesama perempuan pun tak terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Randika bertemu Anisa, janda beranak satu asal Indramayu, yang akrab dipanggil Anis. Suaminya pun tak mampu bilang apa-apa saat ia memutuskan “menikahi” Anis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Anis mengaku kecenderungannya menyukai sesama jenis berawal saat tinggal di Hong Kong, tiga tahun lampau. Dia sangat mencintai Randika. “Bagi saya, dia sudah benar-benar seperti lelaki. Saya merasa terlindungi bersamanya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pesta pernikahan itu Anis bergaun pengantin putih panjang. Sang “mempelai pria” mengenakan jas hitam dengan dasi biru yang melekat di kemeja putih. Sekilas Randika tampak seperti lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta pernikahan yang digelar keduanya di Toko Abadi pada Minggu awal Maret lalu menghabiskan dana lebih dari HK$ 7.000 (sekitar Rp 8 juta). Untuk pesta itu, kedua mempelai rela mengambil tabungan yang mereka sisihkan dari gaji HK$ 3.400 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tahu upacara nikah itu sama sekali tak berkaitan dengan hukum legal formal. Tak ada surat yang perlu ditandatangani. Hanya sebuah pesta pengumuman bahwa dua insan telah menjadi pasangan, sehingga orang lain tak boleh mengganggu hubungan itu. Namun, tampaknya banyak pasangan yang benar-benar menganggap itu serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruangan, Vero tercenung. Pasangan lain sudah mendaftar untuk “dinikahkan” bulan depan. Namun, ada masalah. Pasangan itu mengeluh mereka berbeda agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba bayangkan. Bagaimana mereka bisa berpikir sejauh itu? Ini kan nikah-nikahan,” ujar Vero sembari menyeruput teh hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di VHRmedia.com, 15 Maret 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-6906532281116749740?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/6906532281116749740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=6906532281116749740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6906532281116749740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6906532281116749740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/romansa-di-tai-po.html' title='Romansa di Tai Po'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-6383400813148452373</id><published>2008-04-06T19:26:00.001+08:00</published><updated>2008-04-06T19:28:23.316+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Masa Lalu Bersenandung di Mirador Mansion</title><content type='html'>Kaum eksil di Hongkong berseteru. Ada yang berpendapat bahwa PKI memang layak  dihabisi Soeharto, dan menuduh Mao itu kejam. Ada yang tak terima dan marah. Mereka terdiri dari bermacam kalangan, dari seniman sampai usahawan, dari pemain piano sampai anak ketua Baperki.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELEPON  seluler kembali bergetar dalam saku celana saya. Ini kali yang kedua, setelah getar pertama tak sempat terangkat karena kedua tangan sibuk membawa botol air mineral dan perhatian tertuju pada layar terkembang dari kapal yang hilir-mudik melintasi dermaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita bertemu hari ini?” Suara lelaki itu terdengar dari seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit di atas Star Ferry mulai semburat jingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa kalau tak bisa. CD saya titipkan di kasir Niki Eco.  Boleh di-copy dan disebarluaskan  untuk kawan-kawan,” kata suara itu lagi, setelah memperkirakan jarak antara Tsim Sha Tsui dan Causeway Bay tak mungkin ditempuh dalam 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Thio Keng Bouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dengannya pertama kali di lantai sembilan sebuah bangunan lama yang terletak di kawasan Chung King Mansion. Ini kawasan yang biasa dijadikan tempat mangkal para pekerja ilegal dari Nepal, India, Pakistan dan benua Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang buruh asal telah memberitahu saya soal aktivitas di lantai sembilan itu. Tempat reuni orang Tionghoa asal Indonesia yang rindu kampung halaman, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya penasaran dan memutuskan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan di lantai sembilan tersebut digelar rutin setiap hari Minggu selama tiga jam. Sejumlah perempuan dan lelaki berusia di atas 60an duduk di kursi lipat, mendengar lagu-lagu Indonesia, dari Rayuan Pulau Kelapa, Ayo Mama, hingga Bengawan Solo. Selain itu, diputar juga lagu-lagu dari Tiongkok maupun Amerika yang populer antara tahun 1940an sampai 1970an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu digagas Thio Keng Bouw, lelaki kelahiran Jakarta 69 tahun silam. Awalnya, dengan sejumlah kawan yang berhobi sama, Keng Bouw melepas penat dengan menyalurkan hobi musik mereka. Hingga kemudian, Keng Bouw berpikir untuk menggelar rutin acara tersebut dengan mengundang orang luar. “Ini semacam latihan yang orang luar juga bisa nikmati,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kelompok musik yang ia pimpin kerap diundang untuk meramaikan acara pernikahan atau pesta ulang tahun. Sehingga latihan menjadi sesuatu yang rutin mereka lakukan sebagai persiapan pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak April 2007, Keng Bouw dan kawan-kawannya  menggelar acara musik nonstop dari jam dua siang hingga jam lima petang di salah satu ruang di Mirador Mansion yang mereka sewa dengan tarif  HK$180 per pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengunjung ditarik ongkos HK$20 per orang sebagai sumbangan untuk membantu sewa tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RIBUAN  orang Tionghoa asal Indonesia kini bermukim  di Hong Kong, setelah sebelumnya bertahan di China.  Kebanyakan mereka hengkang dari Indonesia karena faktor ekonomi, tapi tak sedikit pula akibat situasi politik. Keng Bouw adalah salah satu yang meninggalkan Indonesia karena alasan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 27 September 1965, Keng Bouw bersama 14 orang lainnya pergi ke Tiongkok. Mereka pergi atas nama delegasi Front Pemuda Pusat untuk menghadiri acara peringatan ke-16 berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Mereka diundang Gabungan Pemuda Seluruh Tiongkok. Keng Bouw mewakili Permusyawaratan Pemuda Indonesia (PPI), sebuah organisasi pemuda bentukan Badan Permusyaratan Kewarganegaraan (Baperki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keng Bouw mengenang bahwa seluruh perwakilan organisasi pemuda dari sembilan partai politik turut serta, antara lain Pemuda Anshor (Nahdlatul Ulama), Pemuda Rakyat (Partai Komunis Indonesia), Pemuda Demokrat (Partai Nasional Indonesia) dan Pemuda Indonesia (Partindo). Kemudian ditambah wakil dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), APPI, PPI dan PPI Puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari setelah mereka tiba di Beijing, sebuah kabar datang dari Jakarta: informasi yang simpang-siur tentang kudeta yang dilakukan Dewan Jenderal. Namun, tak berapa lama tersiar kabar bahwa sebuah gerakan yang didalangi PKI telah melakukan kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mendengarkan perkembangan berita dari radio,” kisah Keng Bouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat bahwa hubungan sesama delegasi pemuda yang berangkat dari Jakarta mulai tegang pascakabar tersebut, terlebih setelah Jakarta memutuskan bahwa PKI dan organisasi yang dianggap atau dicurigai dekat dengannya dimasukkan sebagai organisasi terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Keng Bouw kebat-kebit. Organisasi yang ia wakili merupakan anak kandung Baperki, sebuah organisasi yang dianggap punya relasi intim dengan PKI. Delegasi lain, seperti dari PR, APPI, CGMI dan Pemuda Indonesia juga memiliki kecemasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saat rombongan memutuskan pulang ke Indonesia, lima delegasi pemuda memilih bertahan di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa kawan membujuk saya untuk tak kembali ke Indonesia. Katanya, saya bisa kena tangkap,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keng Bouw mematuhi nasihat itu. Ia bertahan di China. Ia bahkan memutuskan menikah dengan perempuan Tionghoa yang ia temui di Hong Kong dan tinggal di negeri tersebut hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara empat mantan delegasi pemuda lainnya hijrah ke Eropa. Salah satu bahkan meninggal di tanah asing tersebut tanpa sempat pulang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SDRI. Maria Harsono, khusus tulisan-tulisannya tgl 21 April, dengan lancang memfitnah dan menghina Pemimpin Besar Mao Tje Tung (Mao Zhe Dong) sebagai Kaisar, Tuan Budak yang telah membunuh puluhan juta Rakyat Tiongkok. Padahal, adalah kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Mao Tje Tung  selama ini tetap dihormati Rakyat Tiongkok. Dan, oleh karenanya dengan sangat menyesal, kami harus mengambil keputusan mencabut hak sdri. Maria Harsono mengirim tulisan di milis HKSIS lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan tersebut dibuat moderator milis Hong Kong Society for Indonesian Studies (HKSIS), Chan Chung Tak, pada 22 April 2007 setelah perdebatan panas soal Partai Komunis China (PKC) terjadi di milis mereka. Chan tak bisa terima saat Maria Harsono menyebut Mao sebagai kaisar, membantai jutaan jiwa, dan memporakporandakan perekonomian Tiongkok. Sebelumnya, Maria juga menyebut-nyebut bahwa Soeharto telah berjasa membumihanguskan PKI karena toh kalaupun partai komunis yang berada di bawah bayang-bayang Mao ini menang, maka bakal ada jutaan jiwa yang akan melayang dan Indonesia tak akan pernah tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan adalah anak ketiga Siaw Giok Tjhan, ketua Baperki yang meninggal di Amsterdam setelah dibui di Jakarta selama 13 tahun tanpa melalui proses pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak memuja Mao The Tung. Tapi saya tak rela kalau pendiri republik Tiongkok itu dihujat dengan sama sekali melupakan jasanya,” ujar Chan saat saya temui di pojok kedai McDonald’s di kawasan Tin Hau, Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangnya sederhana. Usianya sudah memasuki kepala enam. Ia hijrah ke Hong Kong setelah sang ayah melarangnya ke Indonesia saat ia hendak memutuskan pulang dari Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pergi ke Beijing, sepekan sebelum G30S (Gerakan Tiga Puluh September) meletus,” ujarnya. Chan saat itu adalah mahasiswa Universitas Respublika, sebuah perguruan tinggi yang dimiliki Baperki. Ia berniat melanjutkan sekolah di Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengikuti perkembangan peristiwa tersebut dari jarak jauh. Ia tak mungkin pulang, juga ketika ayahnya ditangkap pada November 1965 karena organisasi yang dipimpinnya dianggap dekat dengan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan bertahan di Beijing, menyiapkan diri untuk memasuki universitas yang diimpikannya. Pada Juli 1967, Chan berhasil masuk perguruan tinggi. Namun pada saat yang sama sebuah revolusi yang dipimpin Mao Tje Tung bergolak. Perguruan tinggi dan semua sekolah ditutup. Aktivitas belajar mengajar dihentikan. Semua pemuda dilibatkan untuk mendukung aktivitas heroik yang disebut Revolusi Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan pun larut dalam situasi ini. Ia menjadi salah satu anggota Garda Merah, sebuah unit paramiliter yang didirikan oleh mahasiswa dan dosen untuk mendukung Revolusi Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan mengingat, ia bukanlah seorang anggota yang loyal. Ada masa ketika ia tak bisa menerima saat kawan-kawannya memukuli seorang guru tua dan menyiksanya dengan tempayan bekas ludah, hanya karena dianggap pengkhianat Revolusi Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempayan besar itu dimasukkan dalam kepalanya dan dijebloskan dengan paksa,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan juga sempat memprotes sikap pengkultusan Mao yang terjadi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap pagi, kami disuruh apel dengan membawa buku kecil yang berisi ajaran Mao,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan ini, menurut Chan, justru bertentangan dengan komunisme yang dicita-citakan oleh Mao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajaran utama komunisme adalah membebaskan masyarakat. Harusnya komunisme lebih memanusiakan manusia, bukan malah mengkultuskan manusia seperti dewa sehingga membuatnya tak beda dengan agama,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Chan tak bisa memutuskan keluar begitu saja dari unit itu. Di bawah situasi politik yang tak menentu, sebuah bentuk gugatan sekecil apapun akan meminta risiko nyawa.&lt;br /&gt;Di Garda Merah ini pula, Chan kemudian ditugaskan ke pedesaan. Di bawah kebijakan Mao, seluruh mahasiswa dan pelajar diharuskan untuk belajar dari rakyat. Mereka dikirim ke desa untuk bergaul dan bekerja dengan kaum tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, Chan kemudian ditempatkan di pelayaran karena ia menguasai mesin. Namun lucunya, selama berbulan-bulan mengarungi laut, Chan tak pernah bisa menyesuaikan diri. Ia selalu mabuk laut hingga ia pun terpaksa dikirim ke rumah sakit karena terkena radang paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di rumah sakit inilah, Chan kemudian mendengar kabar bahwa Siaw Giok Tjhan, sang ayah, bakal dikirim ke Pulau Buru. Berita ini, membuat Chan pun berniat pulang ke Jakarta. Ia tak ingin ibunya tanpa penjaga, jika ayahnya benar-benar dibuang ke Pulau Buru. Selain itu, ini akan menjadi alasan tepat bagi dia untuk tak perlu kembali  berlayar, sebuah pekerjaan yang sama sekali tak ia sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, rencana ini batal setelah ia mendapat kabar susulan dari Jakarta yang menyebut bahwa Giok Tjhan hanya akan jadi tahanan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Chan  tetap tak kembali berlayar. Ia malah pergi ke Hong Kong, negeri koloni Inggris yang menjadi kawasan terdekat dari orang yang ingin hengkang dari .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, Chan kemudian menetap hingga sekarang. Bekerja, menikah, beranak-pinak, dan menghabiskan masa tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya, menurut kisah Chan, akhirnya terbang ke Amsterdam setelah dibebaskan dari tahanan dan itu berkat lobi yang dilakukan wakil presiden Adam Malik kepada pemerintah. Sang ayah meninggal di negeri tersebut karena sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAUH sebelum saya bertemu Chan, seorang lelaki Tionghoa, mantan pengusaha kayu, memberi saya sebuah majalah bernama Indonesia Focus di Jakarta. Layout-nya sederhana. Isinya pun hanya kumpulan opini, hasil wawancara atau berita yang diambil dari media lain. Sekilas tak ada yang istimewa. Majalah itu terbit tiga bulan sekali dan beredar terbatas di kalangan Tionghoa di Indonesia. Satu-satunya yang membuatnya unik adalah tulisan dalam majalah itu ditulis dalam tiga bahasa: , Inggris dan Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian menunjuk pada logo di sudut kiri majalah. Sebuah logo dan nama organisasi, Hong Kong Society for Indonesian Studies (HKSIS). Sebuah kelompok yang beranggotakan orang-orang Tionghoa asal yang bermukim di Hong Kong. Mereka bukan kelompok yang semata sibuk dengan urusan bisnis, tapi punya kepedulian terhadap roda perubahan politik di . Sebagian dari mereka hijrah karena situasi politik Indonesia yang tak menentu di tahun 1950an dan 1960an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, perjumpaan pertama saya dengan orang-orang HKSIS terjadi di tempat yang sama sekali tak terduga, wisma tinggal pejabat Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. Mereka datang untuk upacara peringatan 17 Agustus. Mereka berbaur dengan warga Indonesia lainnya, termasuk para perempuan pekerja yang merantau ke Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga, dan mengikuti upacara bendera itu dengan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal HKSIS bernama Yang Ping adalah salah satu yang paling terbuka di antara mereka. Para pejabat KJRI mengenalnya sebagai pengusaha ekspor-impor yang cukup sukses. Sementara para buruh asal mengenalnya sebagai orang tua yang baik hati. Ia intens menjalin hubungan dengan komunitas perempuan Indonesia di Hong Kong yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ping yang sering kontak kami  kalau ada acara,” ujar Mega Vristian, yang juga dikenal sebagai penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ping pula yang bersedia membantu pendistribusian buku-buku karya buruh di Hong Kong, termasuk kumpulan cerita pendek Nyanyian Imigran yang didanai Mega penerbitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vivian Wei, pengajar di City University, adalah salah seorang yang turut memfasilitasi pertemuan  komunitas HKSIS dengan  para perempuan pekerja asal itu. Sebuah ruang di kampus City University kerap digunakan sebagai tempat diskusi terbuka jika ada pembicara yang diundang dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan-pertemuan ini membuat HKSIS bukan lagi barang aneh bagi buruh , demikian juga sebaliknya. Indonesia Focus pun kemudian mulai memuat aktivitas buruh Indonesia di Hong Kong, tak hanya soal pidato konsul jenderal atau melulu isu politik elite. Dan jika ada informasi yang mesti dicari atau  foto yang mesti dipasang, terkait aktivitas para buruh, maka Ping-lah yang kerap bertugas menghubungi komunitas buruh tersebut. Di kalangan buruh inilah nama dan wajahnya lebih popular dibanding pengurus HKSIS lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pula yang membuat nama Ping disebut di urutan pertama, ketika saya bertanya tentang HKSIS kepada seorang buruh asal Indonesia di Hongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PING pergi dari 40 tahun yang lalu, setelah Chung Hwa Hui dianggap ilegal oleh Soeharto. Ia sempat ditahan di penjara Pasuruan, Jawa Timur, selama beberapa hari pascaperistiwa G30S/1965. Semua organisasi dan komunitas Tionghoa di masa 1960an yang punya aspirasi politik, oleh Soeharto diidentikkan dekat PKI, tak terkecuali Chung Hwa Hui. Lolos dari penjara Pasuruan, Ping melarikan diri ke China. Namun ia hanya bertahan 10 tahun di negeri itu. Pada 1976, ia pindah ke Hongkong dan menetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pula ia membangun bisnis keluarga. Di sela-sela kesibukannya sebagai usahawan, bersama Chan, ia mendirikan HKSIS. Ia menjabat sekretaris jenderal, sedangkan Chan menjadi ketua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Chan, HKSIS dibentuk pasca kerusuhan Mei 1998 meledak di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami gelisah karena hampir  semua komentar kaum Tionghoa di perantauan menuding bahwa kerusuhan itu menjadi bukti penguat Indonesia adalah bangsa yang barbar, bangsa yang selalu memiliki sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa," ujar Chan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh orang, termasuk Chan dan Ping, kemudian memutuskan membentuk HKSIS guna menjawab komentar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Chan dan kawan-kawannya, apa yang terjadi di Indonesia, tak semata masalah sentimen anti-Tionghoa, tapi lebih dari itu. Masalah utamanya adalah sistem yang tak adil dan jurang yang membentang terlalu dalam antara kelompok kaya dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan biaya patungan, mereka kemudian menerbitkan majalah Indonesia Focus, terbit tiga bulan sekali dan dibagikan di kalangan terbatas. Beberapa eksemplar juga dikirim ke sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk Yogyakarta dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ruang kecil di gudang perusahaan Ping di kawasan Kowloon Bay, dijadikan markas HKSIS. Sesekali, mereka melakukan pertemuan di sini, sekadar bercakap-cakap tentang situasi politik di Indonesia atau perkembangan di Tiongkok. Di sini pula mereka  menerima tamu-tamu yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu 1999, kelompok ini—bekerja sama dengan sebuah komunitas buruh Indonesia—berinisiatif mengundang Amien Rais yang menjabat ketua Partai Amanat Nasional (PAN). Saat itu Amien ditahbiskan oleh sekelompok mahasiswa di Indonesia sebagai "Bapak Reformasi" setelah Soeharto lengser dari kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Amien Rais, sejumlah tokoh yang pernah diundang HKSIS antara lain Nurcholish Madjid dan Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Chan, HKSIS tak melulu berisi orang-orang yang punya latar belakang politik. Namun, ia  tak memungkiri bahwa memang orang yang peduli dengan proses politik di Indonesia yang bergabung dalam komunitas ini. Tak heran jika milis yang mereka bangun penuh perdebatan seputar politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2005, milis ini dibikin heboh oleh Thio Keng Bouw. Ia tiba-tiba melontarkan pendapat bahwa G30S/1965 adalah kesalahan PKI. Ia menyebut  sikap avonturir Dipa Nusantara Aidit atau populer dengan sebutan DN Aidit, pemimpin PKI, menjadi penyebab jatuhnya begitu banyak korban jiwa pascaperistiwa tersebut. Soeharto, menurut Keng Bouw, sama sekali tak bisa disalahkan atas peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam peperangan, dalam revolusi dan kontra revolusi, tidak mungkin terhindar korban manusia berjatuhan,” demikian ia menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Keng Bouw, tragedi 1965 adalah perang antara kubu komunisme dan nonkomunisme. Menurutnya, tindakan yang dilakukan Angkatan Darat pascaperistiwa tersebut adalah sah dilakukan. Jika tidak, maka PKI yang justru mengambil alih kekuasaaan dan bukan tak mungkin melakukan tindak biadab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berpendapat kekejaman tahun 1965 sampai 1966 di Indonesia masih lebih ringan jika dibandingkan dengan kekejaman yang terjadi di Tiongkok, Rusia, Vietnam, Korea Utara dan  Kamboja. Menurut Keng Bouw, rezim Komunis jauh lebih kejam dibanding rezim Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal lagi, kata-kata Keng Bouw ini menyebabkan polemik tak berkesudahan di milis HKSIS. Tak hanya itu, Keng Bouw juga menyebut-nyebut penahanan pemimpin Baperki, Siaw Giok Tjhan, selama 10 tahun dapat dipahami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Chan, yang berkomentar atas pendapat Keng Bouw. Tapi juga Siaw Tiong Djin, saudara kandung Chan, ikut bereaksi. Menurut Keng Bouw sendiri, beberapa nama lain yang kemudian ikut mengecam pendapatnya adalah Asahan Aidit, adik kandung DN Aidit, dan JJ Kusni, yang pernah bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Keng Bouw, bahkan ada yang menuduhnya “anjing Soeharto”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tersebut merasa tulisan Keng Bouw telah menikam mereka. Hal ini dituturkan Keng Bouw kepada saya, di lantai dua warung yang terletak di ruas jalan Hennesey Road, Causeway Bay. Hari itu, kalender di dinding menunjuk bulan Mei 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keng Bouw berkisah, sejak itu hubungannya dengan kawan-kawannya meregang. Ia juga tak diberi akses untuk masuk ke milis HKSIS lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Keng Bouw pantang menyerah. Ia mengaku punya “anak didik” untuk melanjutkan diskusinya di milis  HKSIS. Keduanya bernama Budi Sentosa dan Maria Harsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Budi Sentosa muncul setelah Keng Bouw terkena blacklist. Pendapat yang ia lontarkan tak jauh beda dengan Keng Bouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota milis mulai curiga bahwa Budi Sentosa dan Keng Bouw adalah orang yang sama. Budi Sentosa pun mengalami nasib serupa dengan Keng Bouw: ia dicoret dari keanggotaan milis. Menariknya, setelah itu muncul Maria Harsono. Ia kembali mengulang pendapat kontroversial Keng Bouw dan Budi tentang peristiwa G30S/1965. Sesekali, ia meneruskan tulisan yang seolah dikirim oleh Budi Sentosa dan Keng Bouw ke milis HKSIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara hal ini, Maria Harsono pun dapat peringatan dari moderator milis. Namun Maria tak peduli. Pada 22 April 2007, moderator milis HKSIS memutuskan untuk mencabut hak Maria untuk mengirim tulisan ke milis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Maria, ada nama baru yang menyatakan niat untuk bergabung dengan milis HKSIS. Ia ditolak setelah menyertakan alasannya, yaitu ingin melanjutkan polemik yang pernah dirintis Maria, tapi dengan cara yang lebih santun. Kontan nama ini tak diloloskan moderator. HKSIS tak mau kecolongan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, Asahan Aidit yang pernah berseteru hebat dengan Keng Bouw, justru meminta HKSIS untuk menimbang ulang keputusan mencabut hak pengiriman tulisan Budi Sentosa dan Maria Harsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asahan tampaknya tengah sentimentil. Saat ia mengalami kesulitan finansial di Belanda, negeri perantauannya, Keng Bouw menawarkan bantuan. Jelas bukan angka bantuan yang mengusik Asahan, tapi solidaritas yang ditawarkan. Sentimentalitas ini agaknya yang membuat Asahan menulis usul pada Chan agar mencabut blacklist  Budi Sentosa dan Maria Harsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usul Asahan tak bersambut. Moderator HKSIS tetap pada keputusan awal untuk melarang Budi Sentosa dan Maria Harsono, juga Thio Keng Bouw, kembali masuk arena milis.  Tulisan ketiganya yang sebenarnya adalah orang yang sama dianggap bukan tulisan bermutu untuk didiskusikan di milis HKSIS.  Itulah alasan moderator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik TKB maupun BS dan MH tidak segan-segan menghujat, mencaci maki pribadi-pribadi yang dianggapnya masih tetap ‘membela’ PKI dan Soekarno, juga tidak segan-segan memfitnah HKSIS sebagai trompet PKI. Fitnah yang tidak bisa diterima segenap pengurus HKSIS,” demikian tulis Chan sebagai moderator HKSIS, menjawab usul Asahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memang salah sejak awal. Saya sebenarnya sudah diperingatkan untuk tak bermain di halaman rumah orang yang jelas-jelas pendukung PKI, tapi saya nekad,” ungkap Keng Bouw, sambil menyantap lontong cap go meh di warung langganannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun benarkah HKSIS atau Chan yang selama ini menjadi penjaga gerbang milis HKSIS memberi dukungan sepenuhnya pada PKI? Benarkah komunisme menjadi ideologi yang sepenuhnya mereka percayai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertemuan berbeda, di tempat berbeda, di kawasan Tin Hau, Chan bicara tentang keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak lagi percaya narasi besar, baik yang bernama komunisme maupun kapitalisme. Ia bahkan tak yakin bahwa sebuah perubahan hanya bisa dicapai lewat perjuangan kelas yang dipercayai oleh para penganut Marxisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang Ping itu memangnya berasal dari kelas mana?” ujarnya, menyebut nama kawan yang bersamanya mendirikan HKSIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perusahaan ekspor-impor yang dibangun bersama anggota keluarganya, Ping sama sekali tak bisa dikategorikan sebagai kelas proletar yang diramalkan Marx akan menjadi pelopor perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Ping justru menjadi pelopor kepedulian kelompok orang Tionghoa asal di daratan untuk tak abai terhadap proses politik di .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun, Chan sampai pada kesimpulan bahwa kapitalisme dan komunisme tidak lagi berada pada dua titik yang berhadapan. Ada titik temu di antara keduanya dan Chan menyebut perkembangan China saat ini. “Lihat Tiongkok saat ini. Keberaniannya menggunakan sistem ekonomi kapitalis membuatnya berkembang, meski secara politik tetap menganut sistem sosialis,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang membuatnya tak terlalu suka dengan kampanye gencar kelompok kelas menengah di Hong Kong yang meminta ruang demokrasi lebih lebar dengan memberi kebebasan warga untuk memilih pemimpinnya secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi, menurutnya, tak baik kalau dibuka mendadak. Ini hanya akan membuat Hong Kong bergerak dalam arus liberal yang jusru akan membuat jurang lebar antara kaum kaya dan miskin. Bagi Chan, dunia membutuhkan sesuatu yang tak tunggal, tapi sebuah kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR Juni 2007 lalu, sebuah email diterima Chan Chung Tak, berisi permintaan Thio Keng Bouw untuk menyebarluaskan informasi tentang konser musik komputernya yang akan ia gelar dalam peringatan hari kemerdekaan RI ke-62.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertempat di Mirador Mansion 54, Tsim Sha Tsui, konser tersebut berisi permainan musik yang akan dibawakan Keng Bouw dengan sejumlah penyanyi tamu. Tak ada ongkos yang diminta untuk hadir di tempat yang hanya berkapasitas 70 orang itu. Namun Keng Bouw ingin agar informasi tersebut disebarluaskan di milis HKSIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chan tak menolak permintaan itu. Bagaimanapun Keng Bouw adalah kawan yang ia kenal dekat. Padahal pada saat yang sama, sepanjang bulan Juni 2007, Keng Bouw kembali menabuh genderang perang dengan Chan bersaudara. Kali ini, ia melontarkan pendapat kontroversial soal Siauw Giok Tjhan. Medan pertempuran yang diambil tak lagi milis HKSIS yang tak bisa ia masuki, tapi berpindah ke Tionghoa-net, sebuah milis komunitas yang tak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perseteruan mereka berawal dari diskusi Chan dengan seseorang yang menyebut namanya Thongshampah. Thong mempersoalkan kekecewaannya bahwa sebagian komunitas Tionghoa yang menyatakan mengagumi Siaw Giok Tjhan menyebut Giok Tjhan sebagai “orang kiri”. Padahal, menurut Thong, Giok Tjhan harusnya menjadi milik semua komunitas Tionghoa dan kalau perlu diangkat menjadi “Bapak Tionghoa .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, Chan setuju dengan usul ini. Namun, Keng Bouw muncul dan mengusulkan agar pentahbisan Giow Tjhan sebagai “Bapak Tionghoa ” diusulkan oleh golongan kanan dan bukan oleh simpatisan Giow Tjhan atau anaknya sendiri. Meskipun begitu Keng Bouw mengakui bahwa Giow Tjhan adalah tokoh sejarah dan telah meluangkan waktu untuk menghitung tulisan di Google yang memunculkan nama Giow Tjhan. Ada 1190 tulisan yang mencantumkan nama Giow Tjhan dalam pencariannya di situs Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan pun memanas, hingga Thongshampah yang mengaku sebagai “penyambung lidah” generasi muda Tionghoa di Indonesia memutuskan mencabut usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Chan justru bertahan. Ia justru memperluas diskusi tersebut dengan mengusulkan agar pemerintah segera menghapus Tap MPRS No.25 tahun 1966 tentang Pelarangan Ajaran Komunisme dan Marxisme serta PKI. Selain itu, ia juga mendesak penghapusan Tap MPRS No.33/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno yang di dalamnya juga mengaitkan keterlibatan Soekarno dalam peristiwa G30S/1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah usulan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Keng Bouw. Ia bahkan kemudian mengirim ke milis HKSIS diskusi via email antara Siaw Tong Djin, saudara kandung Chan, dengan seseorang yang mengaku bernama Bambang Hutagalung. Dalam diskusi yang terjadi tahun 2005 ini, Bambang Hutagalung menuding keterkaitan erat Baperki–badan yang dipimpin Giok Tjhan—dengan PKI. Sehingga wajar jika beberapa kalangan menganggap Giok Tjhan lebih layak disebut Tionghoa penganut kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan diskusi ini, Keng Bouw menyatakan pendapat bahwa ia berada dalam posisi Tong Djin yang menganggap Baperki terseret karena keputusannya untuk berada di sisi Soekarno, bukan dengan kesadaran penuh untuk berada di bawah PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pernyataan persetujuan Keng Bouw terhadap pendapat Tong Djin inilah yang justru membuat Chan meradang. Pasalnya, ia mengetahui persis bahwa Bambang Hutagalung dan Keng Bouw adalah orang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AKHIRNYA berhasil juga saya bikin MCD Genjer-Genjer, setelah softwarenya diganti dengan yg baru, yang lama entah kenapa sudah ngadat, terus menerus sampai tujuh kali gagal. Siang ini saya akan ke Ji Nan Univerdisity Clubhouse, Tsim Sha Tsui. Apa bisa ketemu di MTR station untuk ambil Music CD itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu dikirim melalui email oleh Keng Bouw. Tak hanya ditujukan pada saya, tapi juga pada moderator milis HKSIS yang akhir-akhir ini rajin ia jadikan seteru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keng Bouw berinisiatif membuat CD itu setelah perjumpaan pertama kami di Mirador Mansion. Saat itu, kami bercakap-cakap soal G30S/1965 setelah pertunjukan musiknya usai. Ia menjadi antusias. Hingga aktivitas merapikan perlengkapan musik yang masih terserak, dari gitar hingga kabel microphone, ia hentikan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian duduk kembali di belakang keyboard piano. Ia mempertunjukkan keahlian yang ia pelajari sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, yang kemudian membuatnya dipercaya memimpin Ansambel Tari dan Nyanyi PPI antara tahun 1957 sampai 1959 di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas keyboard, jemarinya memainkan nada sebuah lagu lama. Seorang perempuan yang telah merantau selama 14 tahun di Hongkong sebagai pembantu rumah tangga dan berdiri di samping saya, langsung terlonjak kaget. “Itu lagu Genjer-Genjer!” serunya. Keng Bouw mengangguk dan meneruskan permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ingatan Keng Bouw, Ansambel Gentasuri dari Surabaya adalah Ansambel pertama yang mempopulerkan lagu dan tarian Genjer-Genjer. Namun Ansambel yang kerap menjadi kesayangan Bung Karno dan kerap dipanggil ke Istana Negara, adalah Ansambel Maju Tak Gentar dari Medan. Pemimpinnya juga seorang etnis Tionghoa yang Keng Bouw mengingatnya dengan nama panggilan Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih terhanyut menyimak senandung masa lalu itu, mendadak pintu terbuka. Tiga perempuan Tionghoa masuk. Keng Bouw langsung menghentikan permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu jagoan tarinya dulu,” ujarnya sambil menunjuk salah satu dari tiga perempuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keng Bouw akrab memanggilnya Acun. Tapi di kalangan perempuan yang berlatih tari di aula KJRI itu, ia dikenal dengan nama Suryanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1965, Suryanti adalah perempuan yang energik dan salah satu penari terkemuka di kelompok PPI Jakarta. Menjelang peringatan 17 Agustus di tahun 1965, Suryanti diberi tanggung jawab untuk melatih ratusan orang membawakan tarian Genjer-Genjer dan Tanduk Majeng yang akan ditampilkan dalam karnaval hari kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu itu, ratusan orang berdiri di depan Istana, menarikan Genjer-Genjer dan Tanduk Majeng. Itu dia yang melatihnya,” ujar Keng Bouw, sambil mengenalkan saya kepada Suryanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, Suryanti tak banyak bicara. Ia pendiam dan hanya menjawab pertanyaan pendek-pendek. Seorang buruh asal yang pernah berlatih tari dengannya, mengenang Suryanti sebagai guru yang sangat disiplin dan terkadang galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Minggu, berbagi tempat dengan pertunjukan musik yang digelar Keng Bouw, Suryanti berlatih tari secara rutin bersama kawan-kawannya. Ia membuka kursus bagi siapa saja yang tertarik untuk mempelajari tari tradisional . Ia dikenal sebagai guru tari yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit yang tahu bahwa Suryanti pernah menjadi guru tari Genjer-Genjer, sebuah tarian yang haram dipertunjukkan di saat rezim Soeharto berkuasa dan diidentikkan dengan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di akhir tahun 1980an, Suryanti mendadak punya ide untuk menampilkan tarian ini di depan publik Indonesia di Hong Kong. Tentu saja ia tak terus terang menyebut judul tariannya. Ia mengganti nama tarian tersebut dengan tari Petik Sayur. Keng Bouw dipilih untuk mengiringi tariannya dengan permainan piano. Tapi tentu saja, tak ada syair yang didendangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, tak satu pun penonton yang berpikir bahwa lenggok penari di atas pangung dan nada musik yang terdengar adalah Genjer-Genjer.  Kebanyakan dari mereka adalah generasi muda. Tetapi, kalaupun ada generasi tua yang tahu tarian dan lagu tersebut, barangkali mereka memilih menyimpannya untuk diri sendiri. Lagu dan tarian itu terlalu bagus untuk dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagu itu kan nggak punya salah,” ujar Keng Bouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pula yang kemudian mendorongnya merekam ulang lagu Genjer-Genjer dalam cakram digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil keping rekaman itu di Niki Eco, warung makan milik seorang pengusaha Tionghoa asal yang terletak di kawasan Causeway Bay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 12 lagu dalam satu keping cakram berwarna kuning yang di atasnya tercantum tulisan tangan Keng Bouw dengan spidol hitam: “Genjer-genjer”. Selain Genjer-Genjer, ada lagu Rayuan Pulau Kelapa, Bengawan Solo dengan irama country, 12 November, Bendera Merah dan Darah Rakyat. Tiga lagu terakhir itu, ditambah Genjer-Genjer, menurut Keng Bouw adalah lagu nostalgia perjuangan PKI yang belum seorang pun merekamnya ke dalam CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merupakan dokumentasi sejarah yang berharga untuk disimpan (jadi barang antik kelaknya),” tulisnya kepada saya dan Chan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Indonesia, Genjer-Genjer tak lagi setabu dulu. Generasi muda men-download versi rekaman awal yang dinyanyikan Bing Slamet dan Lilis Karlina melalui Internet. Mereka juga mulai rajin mencari jawab  tentang masa lalu. PKI tak lagi sepenuhnya menjadi momok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan yang menggugat sistem yang tak adil dan mencari sistem alternatif yang lebih baik masih menggeliat. Tetapi siapa yang bisa memastikan arah perubahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hong Kong, Chan masih  pesimis dengan gerakan demokratik di . Sementara Keng Bouw merasa bahwa hanya generasi bodoh yang mengikuti jejak PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat debat antarmereka kembali muncul di milis, di Indonesia, proses politik terus berlangsung dan masa lalu hanya akan menjadi sebuah peringatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Pantau, 14 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2396277197856286106-6383400813148452373?l=fransiscariasusanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/feeds/6383400813148452373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2396277197856286106&amp;postID=6383400813148452373' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6383400813148452373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2396277197856286106/posts/default/6383400813148452373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fransiscariasusanti.blogspot.com/2008/04/masa-lalu-bersenandung-di-mirador.html' title='Masa Lalu Bersenandung di Mirador Mansion'/><author><name>fransisca ria susanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05391899445095497766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_gC-SdKTX-CE/SadJWIi5KpI/AAAAAAAAATE/RbCJG9msPgQ/S220/shadow4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2396277197856286106.post-9001328152706063567</id><published>2008-04-06T19:23:00.000+08:00</published><updated>2008-04-06T19:24:58.746+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Tentang Sedih di Victoria Park</title><content type='html'>NAMA perempuan itu Suhartatik. Dia kelahiran Blitar, Jawa Timur. Usia 23 tahun. Wajah kuyu. Tatapan putus asa. Dua malam dia terdampar di sebuah taman. Dia tidur di tenda putih di Victoria Park, Causeway Bay, Hongkong.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang kebetulan melihat dia duduk mencangkung di bawah tenda itu, lalu berbaik hati membawanya ke sebuah shelter Koalisi Tenaga Kerja Indonesia atau Kotkiho di kawasan Yau Ma Tei. Agen yang berjanji mencarikan pekerjaan untuknya justru mengusir Tatik pergi dari tempat penampungan mereka, karena dia dianggap sudah tak punya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya disuruh membayar HK$ 40 per malam jika tinggal di boarding house itu. Tapi kalau ngutang, bayaran per malamnya dinaikkan jadi HK$ 45,” ungkapnya, saat saya menemuinya di shelter Kotkiho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HK$ 1 sebanding dengan Rp 1.111.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victoria Park menjadi pusat berkumpul para buruh migran asal Indonesia jika dapat jatah libur dari majikan mereka. Hari libur masing-masing buruh berbeda, tapi rata-rata libur pada Sabtu atau Minggu. Mereka inilah yang memberi Tatik sekadar uang untuk membeli makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen tersebut ternyata tak ingin urusan selesai sampai di situ. Tatik diminta tetap berhubungan dengan seseorang yang benama Muhammad dengan suatu tujuan. Muhammad orang Malaysia, pengacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia yang membantu saya menggugat majikan ke Labour Department. Tapi dengan syarat, jika kasus saya menang maka dia akan mendapatkan 30 persen dan saya 70 persen,” ujar Tatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun 70 persen ini tak sepenuhnya milik Tatik. Pasalnya, agen di Wanchai yang menyediakan tempat menginap selama satu setengah bulan itu sudah buru-buru mengultimatum Tatik untuk melunasi biaya selama dia tinggal di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bilang, akan ada tambahan bunga juga jika saya molor melunasi utangnya,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah seorang staf Asian Migrant Centre (AMC), Afandi, orang seperti Muhammad ini jumlahnya banyak dan berkeliaran di Hong Kong. Mereka adalah orang-orang yang memahami proses pengajuan gugatan ke pengadilan. Namun alih-alih memberi bantuan gratis kepada buruh migran, mereka melakukannya semata-mata untuk mengetahui kasus-kasus yang terjadi, yang bisa diajukan ke Departemen Perburuhan atau pengadilan Hong Kong. Biasanya konflik antara buruh dan majikan. Dari situ pula mereka dapat uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Afandi, sejumlah lembaga dan organisasi nonpemerintah yang selama ini membela para buruh migran dengan cuma-cuma juga tak bisa berbuat apa-apa. Semua dokumen gugatan dan bukti yang dimiliki buruh yang punya kasus tersebut biasanya dipegang para calo macam Muhammad. Proses bantuan pun jadi rumit. Satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah meminta polisi setempat mengambil paksa dokumen-dokumen itu atas permintaan langsung dari buruh yang berkasus. Namun usai pengambilan paksa, biasanya agen serta kaki tangan mereka tak segan-segan meneror buruh yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afandi juga mengeritik sikap Konsulat Jenderal Republik Indonesia atau KJRI di Hong Kong yang tak pernah bersikap tegas pada para agen yang memeras buruh. Kasus Tatik merupakan salah satu bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini, pihak KJRI ‘kan terkesan melakukan pembiaran,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Sri Setiawati, Atase Tenaga Kerja Indonesia di KJRI, membantah anggapan tadi. Dia menyatakan bahwa pihaknya hanya bisa melakukan tindakan pada agen yang terdaftar secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini banyak kasus yang dialami buruh migran dilakukan oleh agen-agen yang tak terdaftar,” kata Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agen di Wanchai tersebut memang tak masuk dalam daftar Employment Agency Profile yang dikeluarkan KJRI pada tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi banyak agen tak terdaftar yang ada di Hong Kong sebenarnya adalah sub-agen dari agen yang resmi. Sehingga sikap tegas KJRI tetap dimungkinkan,” kata Afandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TATIK sampai berurusan dengan agen di Wanchai setelah mendapat informasi dari seorang temannya. Sebelum itu, dia bekerja di Hong Kong atas penempatan sebuah agen resmi yang berkantor di Fo Tan, New Territories. Oleh agen yang bekerja sama dengan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) tersebut, Tatik ditempatkan di rumah pasangan suami-istri warga Hong Kong di kawasan Wanchai pada 26 Januari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesepakatan kerja dengan sang agen, Tatik dipaksa menerima gaji sebesar HK$ 1.800 tiap bulan atau sekitar Rp 2 juta dengan potongan yang harus diberikan ke agen sebesar lima bulan gaji. Artinya, selama lima bulan, Tatik tak menerima uang sepeser pun karena seluruh gajinya menjadi hak agen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan berarti para agen hanya menerima keuntungan HK$ 9.000 (HK$ 1.800 x 5 bulan) dari buruh. Itu masih terlalu minim buat mereka. Dalam kasus un
